Kidung Petaka

Kidung Petaka
22. Mungkin Jodoh ?


__ADS_3

Rex dan Lilian tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Lilian bergegas membersihkan diri di kamar. Setelahnya ia bergabung dengan Rex dan kedua orangtua mereka di ruang makan.


Sejak Rusminah memutuskan pulang kampung untuk menikmati masa tuanya, kini mereka hanya tinggal berempat di rumah itu.


" Gimana pekerjaanmu hari ini Li...?" tanya Ramon.


" Alhamdulillah lancar Yah. Cuma terakhir dapat pasien yang sedikit ngeselin...," sahut Lilian sambil menuang air ke dalam gelas.


" Ngeselin gimana sih maksudnya Kak...?" sela Lanni tak mengerti.


" Pasien itu remaja Bu, baru tujuh belas atau delapan belas tahun gitu lah. Dia luka karena tawuran. Nah pas dibawa ke Rumah Sakit tuh lukanya tambah banyak karena ternyata dia juga berantem di sel tahanan. Ada luka robek di lengan atas dan terus ngeluarin darah. Tapi pas Aku lagi bersihin lukanya dia malah lompat dari tempat tidur. Jelas aja gerakannya itu bikin luka yang udah Aku balut jadi terbuka lagi. Aku marahin dong. Pas Aku marahin dia malah ngeles kaya ga punya dosa gitu. Ga taunya dia lompat karena takut ngeliat Kakaknya...," kata Lilian.


" Kenapa takut, emang Kakaknya preman...?" tanya Lanni.


" Ga tau Bu. Usut punya usut ternyata Kakaknya itu galak dan sering mukulin dia. Kakaknya itu juga ngancam mau mukulin lagi kalo anak itu bikin ulah...," sahut Lilian.


" Bukannya wajar ya kalo Kakak mukul adiknya. Mungkin itu cara dia mendidik karena adiknya susah dinasehati. Apalagi keliatannya adiknya juga nakal karena ikut tawuran. Jaman sekarang hampir semua orangtua cemas saat anaknya terlibat tawuran lho Kak. Selain itu Kita kan ga pernah tau masalah sebenernya antara anak itu dengan Kakaknya, jadi Kamu ga bisa ngambil kesimpulan kalo cuma denger dari satu sisi aja...," kata Ramon bijak.


" Mungkin juga. Tapi Aku tetep ga setuju dia melakukan kekerasan sama adiknya Yah...," sahut Lilian tak mau kalah.


" Apa maksud Kakak si Bobi...?" tanya Rex tiba-tiba.


" Iya...," sahut Lilian cepat.


" Bobi ?. Bukannya Kamu bilang punya teman yang namanya Bobi saat pendidikan di Bandung kemarin Nak...?" tanya Ramon.


" Betul Yah. Tadinya Bobi mau Aku ajak mampir ke rumah, tapi dia bilang kapan-kapan aja ke sininya. Soalnya dia mau jenguk adiknya yang ditahan di kantor polisi gara-gara tawuran pelajar. Sebelumnya Bobi juga sering dapet laporan dari ibunya kalo adik laki-lakinya itu sering banget bikin ulah...," sahut Rex.


" Kok bisa kebetulan gini ya. Jangan-jangan Kamu jodoh sama si Bobi itu Li...," kata Ramon sambil tersenyum.


" Ck, apaan sih Ayah. Aku ga mau ya punya pasangan yang doyan main tangan. Sama adiknya yang sedarah aja kasar, gimana sama Aku yang ga punya hubungan darah sama sekali. Bisa babak belur Aku. Hiiiyy..., ga kebayang deh jadi apa Aku kalo nikah sama dia...," sahut Lilian sambil bergidik.


" Waaahh, jadi Anak gadis Ibu udah mulai mikirin pernikahan ya. Bagus itu. Ga nyangka ya Yah kalo pembicaraan tentang Bobi malah merembet ke pernikahan...," kata Lanni dengan wajah berbinar.


" Iya Bu..." sahut Ramon sambil tertawa.


" Bukan itu maksudku Bu...," sahut Lilian salah tingkah.


" Cieee... cieee..., yang udah mikirin married mah beda ngomongnya. Iya kan Yah...," kata Rex menggoda sang kakak.


Ramon mengangguk sambil mengunyah makanan hingga membuat Lilian kesal bukan kepalang.


" Kenapa Ayah sama Rex terus mojokin Aku sih...," rengek Lilian berharap mendapat dukungan dari sang ibu.


" Tapi apa yang Ayah bilang tadi ada benarnya lho Li...," kata Lanni.


" Ibu juga ikut mojokin Aku nih ceritanya...," kata Lilian tak suka.


" Bukan mojokin, Kita emang ga boleh terlalu membenci sesuatu atau seseorang. Bisa-bisa Kamu ketulah dan justru jatuh cinta setengah mati nanti...," kata Lanni sambil mengusap kepala Lilian dengan sayang.

__ADS_1


Ucapan Lanni membuat Ramon dan Rex tertawa keras sedangkan Lilian nampak mengerucutkan bibirnya. Akhirnya Lilian memilih melanjutkan makan malamnya tanpa bicara karena tak mau terus menerus disudutkan oleh tiga orang di hadapannya itu.


\=\=\=\=\=


Setelah dua hari dirawat di Rumah Sakit Sentosa, Oki pun diijinkan pulang. Sebelumnya Bobi juga telah mengurus kepulangan Oki di kantor polisi dengan menandatangani surat perjanjian. Bobi juga menjadi penjamin untuk kebebasan Oki.


" Abang harap setelah ini Kamu ga bikin ulah lagi Ki...," kata Bobi sambil memapah sang adik.


" Aku ga janji Bang...," sahut Oki cuek.


" Apa mau Kamu sih Ki ?. Apa Kamu ga kasian sama Ibu dan Oliv. Mereka sayang sama Kamu dan selalu nangisin Kamu. Mereka khawatir Kamu mati saat tawuran...," kata Bobi sambil menatap Oki lekat.


" Apa Abang juga khawatir sama Aku...?" tanya Oki.


" Jangan mulai lagi Ki...," sahut Bobi sambil mendorong Oki masuk ke dalam Taxi hingga sang adik mengaduh.


" Ssshhh..., sakit Bang...!" jerit Oki.


" Ga usah cengeng !. Berani tawuran kok luka segitu aja teriak...!" hardik Bobi kesal sambil membanting pintu Taxi.


Oki pun terdiam. Dia memilih diam karena takut sang kakak memukulnya.


Taxi melaju perlahan meninggalkan halaman Rumah Sakit. Saat itu tak sengaja mereka berpapasan dengan Lilian di gerbang Rumah Sakit. Dari tempat duduknya Bobi menatap Lilian lekat tanpa berkedip dan itu tak lepas dari pengamatan Oki.


" Ehm, biasa aja dong ngeliatnya...," sindir Oki.


" Ini nih yang bikin Aku kesel sama Abang. Aku tuh udah mau dua puluh tahun Bang. Itu artinya Aku bukan anak kecil lagi...!" kata Oki lantang hingga mengejutkan Bobi dan supir Taxi.


" Hampir dua puluh tahun ?. Bukannya Kamu masih delapan belas ya. Itu juga masih dua bulan lagi...," sahut Bobi santai.


" Abang...!" protes Oki tak suka.


" Ga usah teriak Ki, kasian tuh sama Pak supir. Bisa-bisa dia jantungan dengerin suara Kamu yang fals itu...!" kata Bobi dengan nada suara tinggi.


Oki pun terdiam dan tetap seperti itu sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Saat Taxi berhenti tepat di depan rumah Oki bergegas turun tanpa menghiraukan Bobi.


" Katanya udah dewasa, tapi dibentak dikit aja ngambek. Dasar ABG labil...," gumam Bobi sambil menggelengkan kepala.


" Yang sabar ya Mas. Usia segitu mah emang usia ajaib...," kata supir Taxi sambil tersenyum.


" Iya Pak. Makasih udah diingetin...," sahut Bobi.


" Ini uangnya kebanyakan Mas...," kata supir Taxi sambil menghitung jumlah uang yang diberikan Bobi.


" Gapapa Pak. Ambil aja kembaliannya untuk anak Bapak...," sahut Bobi sambil menutup pintu Taxi.


" Makasih ya Mas...!" kata supir Taxi dengan wajah berbinar.


" Sama-sama Pak...," sahut Bobi lalu bergegas menyusul Oki masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Di dalam rumah terlihat Oki sedang dipeluk oleh ibu dan adiknya. Ketiganya nampak menangis bersama. Oki berkali-kali meminta maaf pada ibu dan adiknya hingga membuat Bobi menghela nafas panjang melihat pemandangan yang mengharukan itu.


\=\=\=\=\=


Bobi sedang duduk di ruang tamu rumah Ramon saat langkah kaki Lilian memasuki rumah. Gadis itu terkejut melihat kehadiran Bobi di sana.


" Kamu...?!" kata Lilian sambil membulatkan matanya.


" Apa kabar Suster Lilian...," sapa Bobi sambil tersenyum ramah.


" Ga usah basa basi. Ngapain Kamu di sini...?!" tanya Lilian galak.


Bobi bersiap menjawab pertanyaan Lilian namun urung dilakukan karena suara Rex memotong cepat.


" Jangan marahin Bobi Kak. Aku yang ngundang Bobi ke sini...," kata Rex tiba-tiba.


Lilian menoleh dan melihat Rex sedang membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring makanan ringan.


" Mau apa Kamu ngajak dia ke sini...?" tanya Lilian tak suka.


" Lho, kenapa emangnya...?" tanya Rex tak mengerti.


" Ck, Kamu pasti tau alasannya kan Rex...?" tanya Lilian sambil berdecak sebal.


" Kenapa sih Kakak marah-marah kaya gini. Lagi PMS yaa...?" goda Rex sambil menyentuh bahu Lilian dengan lembut.


" Reeexxx...!. Kamu tuh nyebelin sama kaya dia tau ga...?!" kata Lilian kesal sambil menghentakkan kakinya lalu menghilang ke dalam rumah.


Tingkah Lilian membuat Rex dan Bobi tertawa. Kemudian Rex duduk di hadapan Bobi.


" Maafin Kakak Gue ya Bob...," kata Rex sungguh-sungguh.


" Santai aja Rex. Gue maklum kok. Mungkin dia masih kesel sama kejadian di UGD Tempo hari...," sahut Bobi sambil tersenyum.


" Kayanya sih gitu. Udah Gue jelasin tapi masih ngeyel aja...," kata Rex tak enak hati.


" Repot juga ya. Padahal Gue punya niat buat deketin dia lho Rex...," kata Bobi sambil menggaruk kepalanya.


" Serius Lo Bob...?!" tanya Rex tak percaya.


" Serius lah. Itu juga kalo diijinin dan kalo Kakak Lo belum punya pasangan ya...," sahut Bobi cepat.


" Tenang aja Bob. Kakak Gue itu masih jomblo. Tapi Lo harus tahan banting ya ngadepin dia. Orangnya moodian soalnya...," kata Rex mengingatkan.


" Insya Allah Gue siap Rex. Gue tertarik sejak pertama kali ngeliat Lilian. Karena Gue niat serius, makanya Gue bilang sama Lo...," kata Bobi mantap.


Rex pun tersenyum mendengar ucapan Bobi. Dalam hati Rex berharap Lilian bisa berjodoh dengan Bobi.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2