Kidung Petaka

Kidung Petaka
215. Bantuan Lanni


__ADS_3

Setelah Shezi dipindahkan ke ruang rawat inap, Rex pun menemuinya. Tak sendiri tapi bersama Lilian karena ia tak ingin kedatangannya menjenguk Shezi seorang diri akan membuat orang lain salah paham nanti.


Saat itu Lilian telah berganti kostum. Mengenakan celana panjang hitam dan blouse warna biru cerah membuat penampilan Lilian lebih fresh. Apalagi saat itu Lilian juga memoles wajahnya hingga terlihat lebih cantik.


" Kakak dandan ya, mau kemana emangnya...?" tanya Rex.


" Suamiku mau jemput Rex. Jadi wajar kan kalo Aku tampil cantik...," sahut Lilian sambil tersenyum.


Rex ikut tersenyum bangga melihat bagaimana cara sang kakak menyenangkan Gama.


" Oh gitu. Aku harap Aku juga bisa dapat Istri yang ngerti cara menyenangkan Suami seperti Kakak...," kata Rex.


" Aamiin. Mudah-mudahan Shezi jawabannya ya Rex...," sahut Lilian.


" Ck, kenapa selalu disangkut pautin sama dia sih Kak...," kata Rex sambil melengos hingga membuat Lilian tertawa.


" Jangan terlalu antipati gitu lah Rex. Ntar kalo ternyata Kamu jodoh sama dia gimana...?" goda Lilian di sela tawanya.


" Bukan antipati Kak. Tapi Kakak liat kan sikapnya yang nyeleneh itu. Sulit banget diajak ngomong serius...," sahut Rex cepat.


" Siapa sih yang ga bisa diajak ngomong serius...?" tanya Gama tiba-tiba sambil mendaratkan ciuman di pipi Lilian.


Rex dan Lilian menoleh ke belakang lalu tersenyum melihat kehadiran Gama di sana.


" Bukan siapa-siapa. Apa kabar Gam...?" sapa Rex sambil memeluk Gama.


" Alhamdulillah baik. Kalian mau kemana sih?, pintu keluar kan di sebelah sana...," kata Gama bingung.


" Mau jenguk temennya Rex. Kamu ikut aja yuk...," ajak Lilian.


" Tapi Kita kan ada rencana dinner Sayang. Biarin aja Rex jenguk sendiri, dia kan udah dewasa...," sahut Gama.


" Kali ini Aku ga bisa biarin Rex jenguk sendirian. Karena yang mau dia jenguk tuh cewek, cantik dan single. Ntar kalo Rex macam-macam gimana...," kata Lilian.


" Aku ga mungkin macem-macem ya Kak...," sela Rex membela diri hingga membuat Lilian dan Gama tertawa.


" Kalo gitu Aku ikut deh...," sahut Gama sambil merangkul pinggang sang istri dengan lembut.


Kemudian ketiganya melangkah bersama menuju ruang rawat inap Shezi.


Saat Lilian membuka pintu, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Shezi yang tengah duduk meringkuk sambil bersandar di sandaran tempat tidur.


" Kamu kenapa Shezi...?!" tanya Lilian sambil bergegas menghampiri Shezi yang langsung menghambur ke pelukannya.


" Suster Lian, tolong Aku. Pindahin Aku ke kamar lain ya, Aku takut di sini..., " kata Shezi sambil memeluk Lilian erat.


Dari ambang pintu Rex nampak mengedarkan pandangannya dan berhenti di satu titik. Gama pun maklum jika Rex telah menemukan penyebab ketakutan Shezi.


" Ada apa Rex...?" tanya Gama.

__ADS_1


" Shezi diganggu sama penampakan arwah yang meninggal karena dibunuh...," sahut Rex cepat.


" Ya Allah. Terus Gue bisa bantu apa Rex...?" tanya Gama.


" Tolong panggil Ayah sama Ibu sekarang Gam. Minta mereka ke sini secepatnya, penting...," sahut Rex.


" Ok. Gue telephon Ayah sekarang...," kata Gama sambil mendial kontak sang ayah mertua.


Setelah memastikan orangtuanya menyanggupi permintaannya, Rex pun mendekati Shezi.


" Kamu aman sekarang Zi...," kata Rex dengan lembut.


Shezi mendongakkan wajahnya untuk menatap Rex. Saat itu Rex melihat wajah Shezi basah dengan air mata pertanda gadis itu sangat ketakutan. Shezi pun mengurai pelukannya lalu mulai bercerita.


" Cewek betambut sebahu itu terus ngikutin Saya sejak hari pertama Kita ketemu Kapten. Tapi dia ga sendiri. Dia diikuti rombongan laki-laki yang ngangkut keranda. Saya takut karena mereka berkeliaran di sekitar Saya. Itu yang bikin Saya ga fokus di jalan dan akhirnya kecelakaan tadi. Saya takut karena merasa rombongan itu juga ngejar Saya. Saya tau kalo cewek berambut sebahu itu udah meninggal walau Saya ga tau apa penyebabnya. Tapi ngeliat rombongan pengangkut keranda itu Saya yakin mereka lah yang membuat cewek itu mati. Dan jangan-jangan mereka menginginkan nyawa Saya juga...," kata Shezi sambil menangis.


" Saya paham gimana perasaan Kamu Zi. Sekarang Saya minta Kamu tenang ya. Setelah orangtua Saya datang Kita bakal selesaikan semuanya...," kata Rex.


" Apa ga bisa kalo tanpa orangtua Kapten...?" tanya Shezi.


" Saya mau nuntasin semuanya sekaligus supaya Kamu ga terus menerus diterror sama mereka lagi nanti Zi...," sahut Rex sambil menatap Shezi lekat.


" Baik lah, Saya nurut aja sama Kapten karena Saya kan ga tau apa-apa soal ini...," sahut Shezi pasrah.


" Kalo gitu Kamu jangan nangis lagi. Kamu bisa berdzikir atau membaca surah pendek yang Kamu hapal untuk mengisi waktu. Selain itu dzikir Kamu bisa membuat Kamu lebih tenang dan makhluk halus pun takut...," kata Rex menasehati.


Shezi mengangguk lalu menghapus air matanya. Gama dan Lilian tersenyum melihat Rex berhasil membujuk Shezi.


" Kamu mau kemana Zi...?" tanya Lilian.


" Mau ke toilet Suster. Saya mau pipis sekalian wudhu...," sahut Shezi.


" Biar Saya bantu ya...," kata Lilian sambil menyibak selimut Shezi.


" Ga usah Suster Lian. Ini kan udah di luar jam kerja Suster, masa Saya masih ngerepotin Suster. Saya bisa sendiri kok...," kata Shezi hingga membuat Lilian tersenyum.


" Gapapa, udah sini...," sahut Lilian.


" Tapi Saya ga mau bayar gaji Suster ya...," gurau Shezi.


" Iya iya. Karena Kamu teman Rex jadi Saya kasih gratis deh...," sahut Lilian.


" Oh iya. Daritadi Saya mau nanya, sebenernya apa hubungan suster Lian sama Kapten Rex...?" tanya Shezi.


" Mereka adik kakak sekandung. Rex ini Adik kandung Suster Lilian. Gitu Zi...," sahut Gama sambil merengkuh bahu sang istri.


" Oh gitu. Pantesan hubungan Kalian deket banget...," kata Shezi sambil tersenyum.


" Sekarang jadi ga ke toilet...?" tanya Lilian.

__ADS_1


" Jadi dong Sus...," sahut Shezi cepat.


Lilian pun tersenyum lalu membantu Shezi pergi ke toilet.


\=\=\=\=\=


Selama menunggu kedatangan orangtuanya, Rex terus berdzikir sambil berkeliling di dalam kamar. Kadang ia berhenti di sudut ruangan untuk memastikan jika tempat aman dari gangguan hantu pengusung keranda.


Ramon dan Lanni tiba di Rumah Sakit setengah jam kemudian. Mereka bergegas. mendatangi anak dan menantunya di kamar rawat inap yang dimaksud.


Setelah Rex mengurai ceritanya, Ramon dan Lanni nampak mengangguk paham.


" Luna ada dimana sekarang Nak...?" tanya Lanni.


" Ada di sampingnya Shezi Bu...," sahut Rex cepat.


" Mau apa dia mengganggu Shezi...?" tanya Lanni.


" Bukan menggangu Bu. Tante Luna sepertinya ingin mengingatkan Shezi agar berhati-hati. Tapi karena ga tau caranya, yang ada Tante Luna justru nakutin Shezi dan bikin Shezi kecelakaan tadi...," sahut Rex.


" Ya Allah, kasian banget anak itu...," gumam Lanni sambil menatap Shezi lekat.


" Jadi sekarang Kita harus apa Rex...?" tanya Ramon tak sabar.


" Aku mau minta tolong sama Ibu supaya bantu nenangin Tante Luna, Yah...," sahut Rex.


" Gimana caranya...?" tanya Lanni.


" Ibu bakal Aku ajak berkomunikasi dengan Tante Luna. Tapi Ibu janji jangan melakukan sesuatu atau mengatakan apa pun nanti. Ibu hanya harus dengar dan nurutin semua ucapanku. Gimana Bu...?" tanya Rex.


" Insya Allah Ibu siap...," sahut Lanni hingga membuat Rex tersenyum.


Kemudian ritual pun dimulai. Kedua mata Lanni nampak berkaca-kaca saat bisa berjumpa dengan sahabatnya itu.


" Luna...," batin Lanni.


Walau diucapkan dalam hati namun arwah Luna seolah bisa mendengarnya. Ia menoleh lalu tersenyum melihat Lanni berdiri di hadapannya.


Arwah Luna pun melayang mendekati Lanni. Tangannya terulur ke depan seolah ingin menyentuh Lanni. Ibu kandung Rex tak kuasa lagi menahan tangisnya. Lanni menangis tersedu-sedu hingga membuat arwah Luna ikut menangis.


" Lanni, Kamu Lanni kan...," kata arwah Luna di sela tangisnya.


Lanni hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata pun sesuai pesan Rex tadi.


" Aku mati Lanni, Aku mati. Bapak telah membunuhku. Dan sebelum Aku mati Bapak telah membuatku seperti ini...," kata arwah Luna sambil memperlihatkan kondisi terakhirnya sebelum meninggal dunia.


Melihat wujud Luna yang mengenaskan sekaligus mendengar bagaimana cara sang Paman menghabisi Luna membuat Lanni yang tak kuasa menahan tangis itu refleks memanggil nama Luna.


" Lunaaa...!" panggil Lanni lantang.

__ADS_1


Ucapan Lanni mengejutkan Rex karena itu artinya komunikasi mereka dengan arwah Luna berakhir.


bersambung


__ADS_2