Kidung Petaka

Kidung Petaka
35. Keluarga Dipo


__ADS_3

Setelah Rumah Sakit Sentosa sempat dibuat geger dengan penangkapan Dipo, perlahan situasi pun kembali normal. Namun pembicaraan seputar Dipo masih terus berlanjut.


" Kasian ya Mas Dipo harus ditangkap gara-gara berkeliaran di waktu dan tempat yang salah...," kata seorang dokter.


" Tenang aja. Ini kan cuma prosedur penangkapan biasa. Polisi juga kan harus menunjukkan eksistensinya. Mereka pasti malu karena udah berhari-hari di sini tapi ga dapat apa-apa. Makanya mereka terpaksa nangkap Mas Dipo buat alibi...," sahut seorang dokter.


" Betul tuh. Masalah salah tangkap mah biasa. Ntar kan bisa diralat dan orang yang ditangkap bisa dilepasin begitu aja...," kata dokter lainnya.


" Iya ya. Lagian aneh juga sih ngeliat Mas Dipo digelandang Polisi kaya gitu. Polisi ga tau sih gimana aslinya Mas Dipo. Saya jamin Polisi langsung nyerah saat tau siapa orang yang udah mereka ringkus itu...," kata seorang dokter sambil tersenyum mengejek.


" Apalagi kalo Pak Sentosa udah turun tangan. Dia pasti bakal pake kekuasaan dan uangnya untuk membebaskan Dipo. Yah, secara semua orang kan udah tau gimana sayangnya Pak Sentosa itu sama si Dipo. Dia pasti ga rela kan kalo cucu kesayangannya dipenjara...," sahut dokter lainnya dan diangguki semua dokter kecuali Siska.


Mendengar ucapan rekan-rekannya membuat dokter Siska termenung. Ia mulai ragu dan khawatir jika bukti yang ia berikan tak cukup untuk membawa Dipo ke penjara.


" Aku sampe lupa siapa Dipo. Pasti dia bakal dengan mudah melenggang bebas tanpa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apalagi kalo uang dan kekuasaan yang bertindak. Udah banyak kan kasus berat yang berakhir damai hanya gara-gara uang...," batin dokter Siska gusar.


" Kamu kenapa Sis...?" tanya dokter Lutfi tiba-tiba.


" Gapapa, cuma lagi ga enak badan aja...," sahut dokter Siska cepat.


" Masuk angin atau...," ucapan dokter Lutfi terputus karena dokter Siska memotong cepat.


" Ya paling masuk angin, apalagi emangnya...," kata dokter Siska sambil meringis.


" Oh, Saya kirain Kamu lagi ketar-ketir karena penangkapan Dipo...," kata dokter Lutfi.


" Maksudnya gimana ya Fi...?" tanya dokter Siska panik.

__ADS_1


" Saya ga ada maksud apa-apa. Cuma Saya dengar kalo ada salah satu tenaga medis yang merekomendasikan nama Dipo ke pihak kepolisian. Walau terdengar aneh, tapi Saya percaya kabar itu...," sahut dokter Lutfi sambil menatap dokter Siska dengan lekat.


" Jadi Kamu nuduh Saya yang ngelaporin Dipo...?" tanya dokter Siska sambil balas menatap dokter Lutfi dengan berani.


" Ck, Saya cuma berharap itu bukan Kamu. Karena Saya ga mau kehilangan rival handal seperti Kamu...," sahut dokter Lutfi sambil berlalu.


Diam-diam dokter Siska mengepalkan tangannya sambil menatap dokter Lutfi yang melangkah menjauhi tempat itu. Sesaat kemudian dia menghela nafas panjang karena sadar dirinya hampir terpancing dengan ucapan rekan sekaligus rivalnya itu.


Selama ini dokter Siska dan dokter Lutfi memang kerap bersaing menampilkan yang terbaik. Walau dilakukan secara diam-diam, namun hampir semua rekan dokter mengetahuinya.


Awalnya dokter Siska hanya berusaha memberi solusi pada penyakit yang dialami seorang pasien VIP di Rumah Sakit Sentosa. Tak disangka usul dokter Siska diterima oleh owner Rumah Sakit dan kemudian dia ditunjuk untuk memimpin jalannya operasi pada pasien tersebut.


Keberhasilan dokter Siska membuatnya dipuji banyak pihak termasuk keluarga pasien. Bahkan sebagai ungkapan terima kasih, dokter Siska dihadiahi sebuah rumah mungil di tengah kota oleh keluarga pasien. Tentu saja hal itu membuat semua dokter di Rumah Sakit Sentosa terkejut sekaligus iri terutama dokter Lutfi.


Dokter Lutfi merasa jika kesuksesan yang diperoleh dokter Siska adalah hasil kerja sama banyak pihak, jadi hadiah itu tak tepat jika diberikan hanya kepada dokter Siska. Bahkan dia mengusulkan agar hadiah yang diterima dokter Siska dibagi kepada semua orang yang terlibat dalam operasi penyembuhan pasien.


" Saya keberatan...," kata dokter Siska.


" Saya ga egois. Hadiah itu memang hak Saya karena Saya adalah pencetus ide sekaligus eksekutor utama dalam upaya penyembuhan pasien...," sahut dokter Siska.


" Tapi jangan lupa kalo Kamu ga sendirian mengerjakan operasi itu dokter Siska...," kata dokter Lutfi.


" Tentu, Saya ingat itu. Tapi Kamu juga ingat kan kalo semua orang yang terlibat dalam operasi penyembuhan pasien sudah menerima hadiahnya masing-masing dan Saya ga pernah meminta bagian sedikit pun. Jadi apakah adil jika hadiah yang Saya peroleh harus Saya bagi-bagi sama mereka ?. Bukan kah apa yang mereka dan Saya lakukan adalah tugas dan kewajiban Kita sebagai tenaga medis. Kami ga pernah mengharap imbalan. Tapi jika ada, itu Kami anggap bonus. Apa itu salah...?" tanya dokter Siska sambil menatap dokter Lutfi.


" Tapi hadiahmu terlalu besar dokter Siska...!" kata dokter Lutfi lantang.


" Saya ga minta hadiah itu. Dan bukan Kamu yang berhak menentukan besar kecilnya hadiah yang diberikan kepada Saya...!" sahut dokter Siska tak kalah lantang.

__ADS_1


" Tapi Saya terpanggil untuk memberi keadilan pada mereka semua yang sama lelahnya dengan Kamu...," kata dokter Lutfi.


" Kamu hanya iri dengan pencapaian Saya dokter Lutfi...," kata dokter Siska sambil tersenyum mengejek.


" Saya ga iri, Saya hanya ingin membantu menegakkan keadilan...," sanggah dokter Lutfi.


" Oh begitu. Sekarang Kamu bisa tanya sama mereka semua yang membantu operasi, apakah mereka keberatan dengan hadiah yang Saya terima...," kata dokter Siska sambil melirik semua perawat yabg terlibat dalam operasi besar itu.


" Mmm..., maaf dok. Kami merasa apa yang diterima dokter Siska adalah hal yang wajar karena dokter Siska adalah aktor utama di balik keberhasilan operasi itu. Kami menerima hadiah Kami dengan senang hati karena hadiah itu sesuai dengan porsi keterlibatan Kami dalam operasi besar itu...," sahut seorang perawat mewakili rekan-rekannya.


Ucapan sang perawat membuat dokter Lutfi membeku di tempat. Ia malu karena upayanya mengikis kebahagiaan dokter Siska gagal.


Dengan wajah merah padam dokter Lutfi meninggalkan tempat itu diiringi tatapan para perawat dan dokter yang hadir karena panggilannya tadi.


Sejak saat itu dokter Lutfi terlihat memusuhi dokter Siska dan selalu berupaya menjatuhkan nama baik dokter Siska.


\=\=\=\=\=


Dipo adalah anak pemilik Rumah Sakit Sentosa. Ayah Dipo bernama Deri Sentosa yang merupakan anak laki-laki tunggal dalam keluarga besarnya. Nama Rumah Sakit Sentosa diambil dari nama ayah Deri yang bernama Sentosa.


Kehidupan keluarga Sentosa bisa dibilang sangat makmur. Selain keturunan bangsawan di Kalimantan, mereka juga pemilik perusahaan tambang terbesar di sana. Kekayaan mereka berlimpah dan aset mereka tersebar di berbagai penjuru Indonesia.


Deri Sentosa adalah anak bungsu dalam keluarga Sentosa. Ia lahir dari istri ke empat yang dinikahi Sentosa. Sebelumnya Sentosa telah memiliki banyak anak dari ketiga istrinya. Namun sayang semuanya adalah perempuan. Kemudian Sentosa memutuskan menikahi wanita berusia belia yang seusia dengan anak perempuannya dan lahir lah Deri Sentosa.


Kelahiran Deri membawa kebahagiaan tersendiri bagi Sentosa. Bagaimana tidak. Deri adalah anak yang digadang-gadang bisa melanjutkan semua bisnis yang dimilikinya. Tentu saja itu membuat ketiga ibu tiri dan semua kakak tiri Deri marah dan membencinya.


Berbagai upaya menjatuhkan reputasi Deri dilakukan oleh ibu dan kakak tiri Deri. Mulai dari menjebak Deri dengan alkohol, wanita, bahkan judi yang menghabiskan banyak uang.

__ADS_1


Namun Sentosa yang sangat menyayangi Deri dengan mudah memaafkan semua kesalahan sang anak. Rupanya Sentosa tahu jika Deri dijebak oleh istri dan anak-anaknya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2