
Saat dokter Aksara berjalan keluar menuju parkiran Rumah Sakit, tak sengaja ia berpapasan dengan Sersan Andi.
" Lho, dokter Aksara kan...?" sapa sersan Andi ragu.
" Iya, ini Sersan Andi ya...," kata dokter Aksara sambil tersenyum.
" Betul dok. Alhamdulillah dokter masih inget sama Saya...," sahut sersan Andi sambil menggaruk kepalanya.
" Gimana bisa lupa sama Sersan yang pura-pura pingsan karena dihukum sama atasannya...," kata dokter Aksara sambil tertawa.
Sersan Andi pun ikut tertawa lalu keduanya saling berjabat tangan.
" Senengnya bisa ketemu lagi sama dokter Aksara. Jadi dokter dinas di Rumah Sakit ini sekarang...?" tanya Sersan Andi.
" Ga. Saya lagi berkunjung aja, nemuin temen Saya yang juga dokter di sini...," sahut dokter Aksara cepat.
" Oh gitu...," kata sersan Andi sambil mengangguk.
" Kalo Sersan Andi sendiri lagi ngapain di sini...?" tanya dokter Aksara.
" Saya mau jenguk atasan Saya yang dulu dokter marah-marahin itu lho...," sahut sersan Andi.
" Yang Saya marahin, Kapten Rex maksudnya...?!" tanya dokter Aksara tak percaya.
" Iya, betul dok...," sahut sersan Andi senang karena ternyata dokter cantik nan galak itu juga masih mengingat Kapten Rex.
Dokter Aksara nampak terkejut. Ia berharap jika pasien dengan luka bakar enam puluh persen itu bukan lah Rex.
" Kapten Rex sakit apa...?" tanya dokter Aksara hati-hati setelah berhasil menguasai diri.
" Kapten Rex kena musibah dok. Mobil Travel yang beliau tumpangi meledak saat lagi ngantri ngisi bahan bakar di SPBU di daerah Cikampek...," sahut sersan Andi sedih.
" Korban ledakan di daerah Cikampek. Apa itu pasien yang ada di ruang isolasi ?, yang tubuhnya dibalut kaya mummi karena luka bakarnya mencapai enam puluh persen...?!" tanya dokter Aksara.
" Betul dok. Kok dokter tau sih...?" tanya sersan Andi bingung.
" Kebetulan Saya diajak temen Saya mengecek kondisi pasien itu tadi...," sahut dokter Aksara dengan suara tercekat.
" Terus gimana kondisi Kapten Rex sekarang dok ?. Apa lukanya parah ?. Udah bisa ngomong sesuatu atau belum, soalnya Saya dengar beliau belum siuman sejak semalam...?" kata sersan Andi penasaran.
" Alhamdulillah pasien udah siuman. Kalo soal lukanya masih harus diobservasi dulu Sersan...," sahut dokter Aksara.
" Alhamdulillah...," kata sersan Andi sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
" Saya juga ketemu keluarganya di dalam sana tadi. Keliatannya mereka juga cemas banget...," kata dokter Aksara.
" Oh, itu pasti Ayah dan Ibunya Kapten Rex...," sahut sersan Andi.
" Kalo gitu silakan dilanjutkan Sersan. Saya harus pulang sekarang...," kata dokter Aksara.
" Siap dok. Makasih infonya dan hati-hati di jalan. Maaf ga bisa nganter...," kata sersan Andi sambil tersenyum.
" Santai aja. Lagian Saya ga mau tunangan Kamu cemburu sama Saya Sersan...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum simpul.
" Kok dokter tau kalo Saya udah punya tunangan...?" tanya sersan Andi bingung.
" Saya ga sengaja dengar ancaman Kapten Rex waktu ngebangunin Kamu yang pura-pura pingsan waktu itu Sersan...," sahut dokter Aksara sambil tertawa.
" Ck, bikin malu aja. Beneran dok, Saya malu banget kalo inget itu. Kapten Rex tuh jail banget. Makanya ngeliatnya berbaring ga berdaya di dalam sana bikin Saya sedih...," kata Sersan Andi dengan mata berkaca-kaca.
" Doain aja supaya Kapten Rex bisa pulih seperti sediakala kala...," kata dokter Aksara bijak.
" Aamiin..., makasih dok...," sahut sersan Andi.
" Sama-sama. Udah buruan masuk sana...," kata dokter Aksara sambil menepuk lengan sersan Andi untuk mengingatkannya.
" Oh iya. Saya ke dalam dulu ya dok. Assalamualaikum...! " kata sersan Andi sambil melangkah cepat meninggalkan dokter Aksara.
Setelah menghela nafas panjang, dokter Aksara bergegas keluar dari area Rumah Sakit untuk mencari Taxi.
\=\=\=\=\=
Di ruang kerjanya dokter Aksara nampak termenung. Ia masih tak percaya jika pasien yang kemarin ia jenguk adalah Kapten Rex.
Entah mengapa saat mengetahui pasien itu adalah Rex, hati dokter Aksara berdenyut nyeri. Ia merasa sedih sekaligus takjub melihat kondisi pasien saat itu.
Dokter Aksara kembali teringat beberapa moment kebersamaaannya dengan sang Kapten. Dan itu membuatnya tersenyum diam-diam.
" Ehm..., senyum-senyum aja sih dari tadi...," kata rekan dokter Aksara dari ambang pintu.
" Eh, dokter Erna. Ada apa dok...?" tanya dokter Aksara sambil mendekati rekannya.
" Ada tamu buat Kamu. Aku liat masih nunggu di loby tadi..., " sahut dokter Erna.
" Cewek atau cowok...?" tanya dokter Aksara membuat dokter Erna mengerutkan kening.
" Sejak kapan Kamu sedetail ini. Jangan-jangan Kamu lagi nunggu seseorang yaa...?" tanya dokter Erna.
__ADS_1
Wajah dokter Aksara nampak merona seolah tersadar jika dia tengah mengharap kehadiran seseorang di sana.
" Apaan sih Kamu, Aku ke depan dulu ya. Makasih lho infonya...," kata dokter Aksara mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Ok, sama-sama...," sahut dokter Erna sambil tersenyum lalu melangkah menuju ke ruangannya.
Dokter Aksara menatap punggung rekannya itu sambil bergumam.
" Lagi nunggu seseorang. Emang iya sih. Tapi sayangnya yang ditunggu lagi terbaring sakit...," gumam dokter Aksara sambil tersenyum kecut.
Kemudian dokter Aksara menutup pintu ruangannya untuk menemui tamu yang dimaksud dokter Erna tadi.
\=\=\=\=\=
Di ruangan dimana Rex tengah berbaring, Rex tampak bergerak gelisah. Meski kedua matanya terpejam namun Rex seolah bisa melihat sesuatu di hadapannya dengan jelas.
Saat itu Rex seolah melihat Zada yang kini sudah berusia dewasa tengah berjalan keluar dari rumah.
Zada terlihat sangat cantik. Rambut hitamnya tergerai indah di punggungnya. Kulitnya putih, postur tubuhnya seimbang, meski jarang bicara tapi Zada selalu tersenyum.
Pagi itu Zada tampak terburu-buru. Melihat out fit yang Zada kenakan, Rex yakin jika saat itu Zada hendak pergi ke kampus.
Zada berhenti melangkah lalu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian Zada tersenyum saat melihat sebuah mobil mendekat kearahnya. Pria di dalam mobil nampak menyapa Zada dan mempersilakan gadis itu masuk ke dalam mobil. Tanpa curiga Zada mengikuti permintaan pria itu lalu duduk di samping kursi kemudi.
Saat Zada duduk mobil pun segera melaju cepat. Zada menoleh karena merasa jika yang dilakukan pria itu sedikit berbeda.
" Kenapa ngebut sih Fer, ini masih pagi dan jalanan juga lancar di depan sana. Jadi ga usah ngebut Kita juga bakal sampe di kampus sebelum bel berbunyi...," kata Zada sambil menoleh kearah pria di balik kemudi itu.
" Sorry Za. Gue belum ngerjain tugas, makanya Gue buru-buru biar cepet sampe kampus dan bisa nyontek sama temen Gue...," sahut Feri gugup.
Jawaban Feri terdengar aneh di telinga Zada karena karena Feri yang ia kenal bukan lah pria seperti itu. Feri adalah mahasiswa yang pintar dan memiliki nilai akademik yang tinggi.
" Tugas kampus sesulit apa yang bikin seorang mahasiswa sepandai Feri harus menyontek...," batin Zada gusar sambil menatap Feri lekat.
Karena penasaran Zada pun berniat bertanya. Namun gagal saat sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya dari kursi belakang. Zada berontak sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan yang ia yakini milik seorang pria karena terasa kasar dan kuat.
Melihat Zada yang kesulitan melepaskan diri membuat Feri panik sekaligus takut. Ia ingin membantu gadis itu tapi ia takut dengan ancaman pria di kursi belakang itu.
" Maafin Gue Zada...," kata Feri lirih sambil menatap iba kearah Zada.
Tak lama kemudian Zada pun terkulai lemas dengan kedua mata terpejam. Rupanya Zada pingsan karena dibius oleh pria yang duduk di kursi belakang itu.
bersambung
__ADS_1