
Saat itu Rex dan ustadz Akbar melihat jika media santet yang diletakkan Ari telah hancur berserakan.
Namun yang mengejutkan karena di sana juga berserakan telur seukuran telur ayam dalam jumlah banyak. Rex dan ustadz Akbar yakin jika itu adalah telur biawak. Tapi bagaimana telur itu bisa ada di sana masih menjadi tanda tanya di benak mereka.
Jika Rex dan ustadz Akbar melihat telur dalam jumlah banyak, Elvira justru tak melihat apa pun. Ia mengamati ekspresi dua pria yang bersamanya itu dan yakin ada sesuatu di sana.
" Gimana Pakde, apa barang yang dicari ada di sini...?" tanya Elvira hati-hati.
" Ada Nak...," sahut ustadz Akbar cepat.
" Syukur lah. Terus apa yang bisa Aku bantu Pakde...?" tanya Elvira.
" Ga perlu bantu apa-apa, Kamu di sini aja dan jangan mendekat ke sana...," sahut ustadz Akbar sambil mendorong tubuh Elvira agar menjauh dari telur-telur itu.
Elvira mengangguk. Ia mundur dan memilih berdiri di tempatnya sambil mengamati aksi Rex dan ustadz Akbar.
Elvira melihat ustadz Akbar membuka sorbannya lalu membentangkannya di atas tanah. Kemudian Rex dan sang ustadz nampak bekerja sama memindahkan sesuatu ke atas sorban. Setelahnya ustadz Akbar mengikat sorban sedemikian rupa dan menyimpannya di balik pakaiannya.
Setelahnya Rex dan ustadz Akbar nampak khusu berdoa. Meski tak mengerti apa yang dibaca sang ustadz, Elvira ikut mengaminkan doa itu dalam hati.
" Saya rasa cukup untuk hari ini Ustadz...," kata Rex sambil menatap kearah sang ustadz.
" Kalo gitu Kita pulang sekarang ya Mas...," kata ustadz Akbar yang diangguki Rex.
" Sebentar. Apa setelah ini ga akan terjadi apa-apa sama Aku Pakde...?!" tanya Elvira panik.
" Untuk sementara Kamu aman, tapi jangan lengah ya Nak. Jaga sholat lima waktu dan dzikirmu seperti biasa. Perbanyak sedekah supaya bisa membantu melepaskan bala...," sahut ustadz Akbar.
" Iya Pakde, makasih. Makasih juga Kapten, maaf merepotkan..., " kata Elvira sungguh-sungguh.
" Ga usah sungkan Bu Elvira. Kita kan teman, sesama teman sudah selayaknya saling membantu...," sahut Rex sambil tersenyum.
Elvira pun ikut tersenyum mendengar jawaban Rex.
Setelah berpamitan, Rex dan ustadz Akbar pun meninggalkan panti asuhan itu. Elvira dan Tarsih melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh harap.
" Semoga semuanya bisa normal seperti semula ya Vir...," kata Tarsih.
" Aamiin, Iya Bu...," sahut Elvira cepat.
Kemudian Elvira memapah Tarsih menuju kamar untuk istirahat.
\=\=\=\=\=
Jika Elvira mengira gangguan mistis yang dialaminya berakhir, dia salah.
Kondisi panti asuhan Pelita Ibu setelah kedatangan ustadz Akbar dan Rex memang kembali kondusif, begitu pun Elvira. Namun ternyata itu tak berlangsung lama.
__ADS_1
Dua Minggu setelah proses ruqyah, panti asuhan Pelita Ibu kembali diterror. Kali ini oleh sepasang suami istri yang tak dikenal yang datang mencari anaknya yang hilang.
Sepasang suami istri itu datang setiap hari dengan pertanyaan yang sama. Semua penghuni panti yang sebagian besar anak-anak itu pun dibuat bingung dengan pertanyaan mereka. Ari pun tak luput dari pertanyaan mereka.
" Selamat siang Dik...," sapa sepasang suami istri itu saat melihat Ari berjalan menuju gerbang panti sepulang sekolah.
" Selamat siang...," sahut Ari.
" Apa Kamu ngeliat anak-anak Kami...?" tanya wanita itu.
" Anak-anak yang mana ya Bu...?" tanya Ari tak mengerti.
" Anak-anak yang Saya titipkan di sini...," sahut wanita itu gusar.
" Anak yang dititipin di sini kan banyak, namanya juga Panti asuhan. Aku juga dititipin di sini. Terus nama Anak Ibu itu siapa...?" tanya Ari.
" Kami belum sempat memberi nama tapi Kami memang menitipkan mereka di sini kok...," sahut wanita itu.
" Mereka, itu artinya lebih dari satu dong. Emangnya Ibu nitipin berapa anak di sini...?" tanya Ari sambil menatap lekat kearah wanita itu.
" Sebelas...," sahut wanita itu cepat hingga mengejutkan Ari.
" Kok banyak banget...?" tanya Ari tak percaya.
" Iya. Kami titipkan mereka di sini saat mereka masih bayi. Sekarang Kami kehilangan mereka. Tolong bantu Kami, katakan dimana mereka...," kata wanita itu sambil menangis dan memegangi tangan Ari
Beruntung saat itu Elvira datang dan melihat semuanya. Ia melihat dari kejauhan bagaimana sepasang suami istri itu 'mengeroyok' Ari yang masih berusia sembilan tahun itu.
" Lepaskan Adikku...!" kata Elvira lantang sambil berlari mendekati Ari dan sepasang suami istri itu.
" Kakak...!" panggil Ari dengan wajah berbinar.
Melihat kehadiran Elvira, sepasang suami istri itu pun melepaskan Ari lalu pergi begitu saja. Elvira hampir mengejar mereka namun dicegah oleh Ari.
" Ga usah Kak !. Kita masuk aja yuk, Aku takut...," rengek Ari.
Elvira menoleh dan melihat tangan Ari yang mencekal tangannya nampak sedikit gemetar. Elvira yang iba pun langsung menggendong Ari lalu membawanya masuk ke dalam panti.
Elvira langsung membawa Ari ke ruang makan, mendudukkannya di kursi lalu mengambil segelas air.
" Minum dulu ya Ri...," kata Elvira sambil menyodorkan gelas berisi air.
Ari menyambut gelas itu lalu meneguk isinya hingga tandas. Elvira tersenyum lalu mengusap kepala Ari dengan lembut. Di saat bersamaan beberapa anak panti memasuki ruang makan.
" Ari kenapa Kak...?" tanya salah seorang anak panti.
" Kakak juga belum tau. Kakak ketemu Ari di depan gerbang sana lagi diganggu sama Ibu-ibu dan temannya...," sahut Elvira.
__ADS_1
Jawaban Elvira mengejutkan anak-anak itu. Mereka saling menatap sejenak lalu mengangguk.
" Apa mereka nanyain anaknya Ri...?" tanya anak-anak itu bersamaan.
" Iya. Kok Kalian tau...?" tanya Ari.
" Soalnya mereka juga nanyain anaknya sama Kami...," sahut seorang anak panti.
" Tunggu deh. Apa Kalian juga diganggu sama mereka ?. Kok ga bilang sama Kakak. Apa Ibu tau tentang ini...?" tanya Elvira.
" Maaf Kak. Kami belum sempet cerita...," sahut anak-anak.
" Belum sempet atau emang ga mau cerita ?. Kan Ibu pernah bilang harus cerita apa pun supaya kalo ada apa-apa Kita bisa cepet bertindak...," kata Elvira mengingatkan.
Anak-anak panti mengangguk lalu mulai menceritakan apa yang mereka alami. Elvira terlihat gusar karena yakin jika apa yang dicari oleh sepasang suami istri itu berkaitan dengan hal mistis yang pernah ia alami.
Elvira meraih ponselnya bermaksud menghubungi ustadz Akbar. Tapi ponsel ustadz Akbar tak bisa dihubungi dan itu membuat Elvira panik.
Karena tak ingin memperlihatkan kegelisahannya di depan anak-anak panti asuhan, Elvira pun menoleh dan membujuk mereka melakukan sesuatu.
" Sekarang Ari ganti baju dulu ya. Kalo udah sholat, terus makan siang. Yang lain boleh makan siang kalo udah sholat Dzuhur..., " kata Elvira.
" Iya Kak...," sahut anak-anak panti bersamaan.
Elvira tersenyum lalu melangkah keluar dari ruang makan. Ia kembali mencoba menghubungi sang pakde tapi gagal. Karena tak mau mengulur waktu, Elvira pun terpaksa menghubungi Kapten Rex.
" Assalamualaikum. Kenapa Bu Elvira...?" tanya Rex dari seberang telephon.
" Wa alaikumsalam Kapten...," sahut Elvira lalu mulai menceritakan semua pengalaman anak-anak panti.
Cara Elvira bercerita membuat Rex bingung.
" Pelan-pelan aja Bu Elvira. Saya ga ngerti kalo kaya gitu ceritanya..., " kata Rex sambil menahan tawa.
" Maaf Kapten. Saya panik karena ini melibatkan Adik-adik Saya...," sahut Elvira cepat.
" Maksudnya gimana Bu...?" tanya Rex tak mengerti.
Elvira kembali menceritakan pengalaman anak-anak panti, kali ini lebih perlahan hingga mudah dipahami oleh Rex.
" Apa Ustadz Akbar udah dikasih tau...?" tanya Rex.
" Saya ga bisa menghubungi Pakde, Kapten...," sahut Elvira gusar
" Biar Saya hubungi nanti. Sekarang sebaiknya Bu Elvira tenang dan ga usah panik. Lakukan semuanya seperti biasa. Insya Allah Saya dan Ustadz Akbar ke sana nanti...," kata Rex.
Elvira mengangguk lalu mengakhiri percakapan mereka. Sedangkan Rex harus menjawab pertanyaan keluarganya yang saat itu tengah menatap kearahnya dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
bersambung