
Gama dan Lilian tengah berkemas untuk pindah ke rumah yang dibeli Gama dan telah dijadikan mahar pernikahan mereka.
Lanni, Ramon, Mira dan Gondo nampak antusias melepas kepergian pengantin baru itu.
" Kenapa Aku merasa diusir dari rumah ini ya...," keluh Lilian sambil menatap orangtuanya bergantian.
" Itu cuma perasaan Kamu aja Kak. Ga ada yang ngusir Kamu kok. Kami cuma bahagia karena akhirnya Kalian bisa hidup mandiri dan membangun keluarga sendiri...," kata Lanni sambil mengecup sayang kening Lilian.
" Apa cuma itu Bu...?" tanya Lilian tak percaya.
" Mmm..., karena Kami berharap Kamu cepat hamil setelah ini Nak. Bukan kah Kalian bisa melakukan itu kapan pun di rumah Kalian nanti. Beda banget kalo di sini. Kalian harus nunggu waktu malam atau kondisi rumah sepi baru bisa melaksanakan ibadah ajaib itu...," sahut Lanni sambil tersenyum penuh makna.
" Ibadah ajaib...?!" tanya Gama dan Lilian bersamaan.
" Iya ibadah ajaib. Karena ibadah ini hanya boleh dilakukan oleh sepasang manusia yang telah terikat pernikahan. Dilakukan kapan pun dan dimana pun asal memperhatikan norma agama, ya sah-sah aja. Bukan kah itu namanya ajaib...?" tanya Lanni hingga membuat semua orang tertawa.
" Ibu nih bisa aja...," kata Lilian sambil mengerucutkan bibirnya.
" Gapapa Sayang. Itu artinya kedua orangtua Kita percaya kalo Kita layak dan sanggup untuk menjadi orang tua dari cucu-cucu mereka nanti...," kata Gama sambil memeluk Lilian untuk menenangkan istrinya itu.
" Cucu-cucu, artinya lebih dari satu. Maksud Kamu Aku harus melahirkan banyak anak Sayang...?!" tanya Lilian sambil membulatkan matanya.
" Iya...!" sahut Ramon, Lanni, Gondo dan Mira bersamaan hingga membuat Gama tertawa.
" Tapi Aku bukan robot. Aku juga butuh waktu untuk istirahat. Mana mungkin Aku melahirkan anak tiap tahun...!" kata Lilian gusar.
" Gapapa, Kamu ga usah khawatir soal mereka. Kami yang akan menjaga anak-anak itu saat Kamu sibuk melahirkan bayi lain nanti...," sahut Lanni santai.
" Ibu...!" sergah Lilian gusar namun membuat semua orang tersenyum.
" Betul !. Tugas Kamu saat ini hanya melahirkan Cucu yang banyak untuk Kami. Kamu tau kan kalo Mama sama Papa selalu ingin punya anak banyak. Sayangnya Allah cuma ngasih satu ya Suamimu yang nyebelin itu...," kata Mira sambil melirik kesal kearah Gama.
__ADS_1
" Tapi orang yang nyebelin ini udah bikin Papa Mama bahagia lho, jangan lupa itu Ma...," sahut Gama membela diri.
" Iya iya, Mama ga lupa itu...," sahut Mira cepat sambil melengos hingga membuat tawa kembali menggema di rumah itu.
Tak lama kemudian Gama dan Lilian pun telah selesai berkemas. Tak seperti pasangan lainnya, Gama dan Lilian tak diantar 'pindahan' ke rumah baru. Mereka hanya pergi berdua dengan membawa pakaian dan perlengkapan pribadi mereka.
Orangtua mereka beralasan jika Gama dan Lilian harus menyiapkan semuanya sendiri. Menata rumah seapik mungkin lalu mengundang mereka untuk berkunjung ke rumah mereka nanti.
" Ish, ribet banget sih...," gerutu Lilian.
" Jangan cemberut gitu Sayang. Senyum dong biar ga kaya orang diusir dari kost-kostan..., " kata Mira sambil merengkuh bahu sang menantu.
" Tapi kondisinya emang kaya gitu kan Ma. Aku sama Gama masih betah tinggal di sini, gantian tinggal di rumah Mama atau Ibu. Tapi sekarang Kami malah disuruh pergi...," sahut Lilian sambil menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal.
" Udah ga usah banyak drama. Masuk mobil dan cepat beresin rumah Kalian. Kalo udah siap kabarin yaa...," kata Lanni sambil membuka pintu mobil dan mendudukkan Lilian di sana.
Gama dan Lilian saling menatap pasrah lalu mengangguk. Sesaat kemudian mobil Gama melaju meninggalkan rumah diiringi tatapan haru empat orangtua yang berbahagia itu.
\=\=\=\=\=
" Ternyata Pak Bahar menepati janjinya untuk bikinin taman yang cantik di sini...," gumam Gama sambil menatap kagum ke taman mungil di depan dan samping rumahnya itu.
Sebelumnya Lilian memang belum pernah datang ke rumah itu. Selain karena sibuk mempersiapkan pernikahan mereka yang dipercepat itu, Lilian juga sibuk bekerja.
" Ayo Kita masuk Sayang...," ajak Gama sambil menggamit tangan Lilian dengan lembut.
" Rumahnya bagus banget, Aku suka...," kata Lilian sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
" Alhamdulillah. Aku seneng dengernya. Tapi perlengkapan rumah tangga di rumah ini masih belum lengkap. Nanti Kita belanja dulu ya. Kita beli semua perabotan yang sesuai sama selera Kamu Sayang...," kata Gama sambil memeluk pinggang Lilian dari belakang.
" Sesuai selera Aku. Ini kan rumah Kita, jadi yang ada di dalam rumah ini ya harus sesuai sama selera Kita dong Sayang...," sahut Lilian meralat ucapan suaminya.
__ADS_1
" So sweet banget deh Istriku ini, jadi tambah sayang deh...," kata Gama sambil mendaratkan ciuman mesra di kening Lilian hingga membuat sang istri tersenyum.
" Bisa aja Kamu. Terus dimana kamar tidur dan dan dapurnya...?" tanya Lilian.
" Dapurnya di sebelah sana. Tapi Kita ke kamar dulu yuk...," ajak Gama sambil menatap Lilian penuh hasrat.
" Kamu tuh ya. Pantesan Kita diusir dari rumah Ibu dan Mama...," kata Lilian dengan wajah merona.
Gama pun tertawa mendengar ucapan sang istri. Lalu dengan sigap Gama menggendong Lilian dan membawanya masuk ke kamar tidur mereka. Lilian tak kuasa menolak karena sejak menikah Gama menjadi lebih posessif dari sebelumnya.
\=\=\=\=\=
Pagi itu Gama dan Lilian sedang jogging mengelilingi perumahan tempat mereka tinggal. Selain berolah raga, Gama juga ingin memperlihatkan lingkungan mereka tinggal kepada sang istri.
" Ada apa di sebelah sana Sayang...?" tanya Lilian.
" Oh itu taman. Baru dibuat kayanya. Soalnya terakhir Aku ke sini sama Rex tempat itu belum jadi...," sahut Gama.
" Apa Kita boleh masuk ke sana...?" tanya Lilian.
" Boleh dong. Tuh, udah banyak orang juga yang olah raga di taman...," sahut Gama sambil menunjuk beberapa orang yang asyik senam di dalam taman.
Kemudian Gama dan Lilian menyusuri taman sambil berlari kecil. Mereka berhenti tepat di samping danau buatan yang ada di tengah taman.
Lilian menghampiri kursi taman dan duduk beristirahat di sana. Sedangkan Gama masih melanjutkan jogging dengan berlari mengelilingi taman beberapa kali.
Saat sedang asyik berlari, Gama mendengar suara orang menangis. Semula samar tapi lambat laun terdengar jelas.
Gama menghentikan larinya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Dan Gama melihat sosok pria berpakaian basah tengah berdiri di belakang kursi yang Lilian duduki.
Pria itu nampak menangis. Yang mengejutkan Gama adalah karena saat pria itu menangis air matanya berwarna merah seperti darah. Dan yang membuat Gama makin gusar adalah karena Lilian nampak tak menyadari kehadiran pria itu.
__ADS_1
bersambung