Kidung Petaka

Kidung Petaka
151. Dukungan Keluarga


__ADS_3

Ramon beserta keluarganya bangkit berdiri untuk menyambut dua orang dokter yang menghampiri mereka. Sepasang dokter itu nampak tersenyum kearah mereka.


" Apa ada kabar tentang Anak Kami dok...?" tanya Ramon yang diangguki sang dokter.


Lanni dan Ramon saling menatap cemas. Namun hanya sesaat, karena saat berikutnya mereka tersenyum mendengar ucapan sang dokter.


" Alhamdulillah pasien sudah siuman. Luka bakarnya juga hanya ada di permukaan kulit dan ga melukai organ dalam tubuhnya. Tapi masih harus dilakukan observasi pada luka bakar di kulitnya supaya Kami bisa melakukan penanganan yang tepat pada luka bakarnya nanti Pak...," kata salah satu dokter.


" Alhamdulillah..., " sahut Ramon, Lanni, Lilian dan Gama bersamaan.


" Apa itu akibat luka bakar itu kulit Rex akan rusak dok...?" tanya Lanni cemas.


" Kemungkinan begitu Bu, apalagi luka bakarnya mencapai enam puluh persen lebih. Tapi mudah-mudahan masih bisa diperbaiki nanti ya Bu...," sahut sang dokter dengan sabar.


Lanni tampak mengangguk pasrah. Ia tak bisa membayangkan anaknya hidup dalam kondisi cacat. Lalu bagaimana dengan karir dan masa depannya nanti. Mengingat hal itu membuat Lanni tanpa sadar menitikkan air mata.


" Apa Rex bisa segera dipindah ke ruang rawat biasa dok...?" tanya Gama tiba-tiba.


" Itu maksud Kami tadi Mas. Kami akan lakukan observasi pada luka bakarnya hingga dua hari ke depan. Setelah itu Kita liat, apakah pasien bisa segera dipindah ke ruang rawat inap biasa atau masih harus dirawat di ruang isolasi...," sahut dokter lainnya sambil tersenyum.


" Oh gitu...," kata Gama sedikit kecewa.


Melihat Gama kecewa Lilian pun memeluk lengannya untuk menenangkannya.


" Gapapa Sayang, yang penting masa kritisnya udah lewat. Bukan begitu dok...?" tanya Lilian sambil menoleh kearah sang dokter.


" Betul sekali Mbak...," sahut sang dokter.


" Kalo gitu Kami permisi dulu. Bapak dan keluarga bisa menjenguk sesekali nanti, tapi tetap hanya dari luar ya...," kata sang dokter mengingatkan.


" Baik dok, makasih...," sahut Ramon dan keluarganya bersamaan.


Kedua dokter itu mengangguk lalu berlalu meninggalkan Ramon dan keluarganya.


" Terus gimana Rex bisa hidup normal kalo kulitnya rusak Yah...?" tanya Lanni sambil terduduk lemas di kursi ruang tunggu.

__ADS_1


" Ibu ga usah khawatir. Kan ada operasi untuk memperbaiki kondisi kulit yang rusak Bu. Walau ga instant dan perlu dilakukan beberapa kali sesuai kadar kerusakan kulitnya, tapi hasilnya cukup memuaskan kok Bu...," kata Lilian mencoba menenangkan sang ibu.


" Beneran Kak...?" tanya Lanni tak percaya.


" Iya Bu. Buat apa Aku bohong...," sahut Lilian sambil tersenyum.


" Pasti mahal ya...," kata Lanni.


" Ga juga. Apalagi sekarang operasi bisa dilakukan di Indonesia dan ga perlu keluar negeri kaya dulu. Jadi Kita bisa sedikit menghemat biaya..," sahut Lilian hingga membuat Lanni tersenyum.


" Kalo gitu Ibu mau nganterin dan nemenin Rex saat operasi nanti ya Yah...," kata Lanni sambil menoleh kearah suaminya.


" Untuk apa ?. Jangan bilang Ibu mau ikutan operasi juga supaya lebih cantik dan awet muda...," kata Ramon ketus.


" Astaghfirullah aladziim..., Aku ga mikir ke sana Ayah. Kok bisa-bisanya Ayah ngira Ibu mau operasi kulit biar cantik dan awet muda. Emangnya menurut Ayah Ibu udah ga cantik lagi ya...?!" tanya Lanni lantang sambil membulatkan matanya.


" Kok malah Ibu yang marah. Harusnya Ayah yang marah karena Ibu ga pede dengan penampilan Ibu. Padahal menurut Ayah, Ibu itu cantik luar dalam, jadi ga perlu operasi lagi...," sahut Ramon tak mau kalah.


" Ibu tau. Lagipula selama ini Ibu merasa baik-baik aja dan ga pernah merasa ga pede kok...," kata Lanni hingga membuat Ramon bertambah kesal.


" So sweet banget sih yang lagi cemburu...," goda Lilian sambil menyenggol lengan sang ayah.


" Apaan sih Kak. Ayah ga cemburu kok, cuma mau ngingetin Ibu Kamu aja supaya ga macam-macam. Kan udah mau punya Cucu...," sahut Ramon dengan wajah merona.


" Siapa yang macam-macam sih Yah. Satu macam aja ga abis-abis kok...," sahut Lanni sambil menahan tawa.


Ramon pun tak kuasa menahan tawa mendengar gurauan istrinya. Ia merentangkan kedua lengannya lalu memeluk Lanni.


" Maafin Ayah ya Bu...," kata Ramon sambil mengecup kepala sang istri dengan sayang.


" Sama-sama Yah. Maafin Ibu juga kalo bentak Ayah tadi...," sahut Lanni sambil tersenyum.


" Iya...," kata Ramon.


Melihat ayah dan ibunya berdamai, Lilian pun ikut tersenyum.

__ADS_1


" Nah gini kan enak ngeliatnya...," kata Lilian.


Kemudian mereka bergantian menjenguk Rex. Diantara mereka Lanni lah yang terlihat paling sedih usai menjenguk Rex. Ia nampak menangis dan lagi-lagi membuat Ramon kacau.


" Kalo kaya gini terus lebih baik Ibu sama Lian pulang aja deh. Kalian tunggu kabar di rumah aja...," kata Ramon.


" Kok gitu sih Yah...!" protes Lanni dan Lilian bersamaan.


" Abis mau gimana lagi. Saat ini Rex juga butuh Kita untuk mensuport dia. Kalo kondisi Ibu kaya gini, Ayah malah khawatir bisa merepotkan semua orang nanti...," kata Ramon.


" Semua orang siapa maksud Ayah...?" tanya Lanni tak suka.


" Ya siapa aja. Bisa Ayah, Gama, perawat, dokter, security atau malah cleaning service. Kalo Ibu mendadak pingsan pasti mau ga mau semua yang ada di sini turun tangan membantu. Iya kan...," sahut Ramon cepat.


Lanni nampak termenung mendengar ucapan suaminya. Ia ingin menemani Rex, tapi ia juga sadar kondisi tubuhnya memang sedang tak baik-baik saja. Selain itu ia yakin suaminya pasti memang ingin memintanya pulang menemani Lilian yang sedang hamil muda itu.


" Ayah betul Bu. Untuk saat ini sebaiknya Ibu sama Lian tunggu di rumah aja. Nanti kalo Rex udah dipindah ke ruang rawat inap, Ibu bisa nemenin Rex sepuasnya karena ada tempat tidur lain untuk istirahat. Selain itu Aku mau nitip Lian sama Ibu selama Aku nungguin Rex di sini...," kata Gama menambahkan.


" Baik lah Ibu setuju. Ayo Kak, Kita pulang sekarang...," ajak Lanni sambil menggamit tangan Lian.


" Tapi Bu...," ucapan Lilian terputus saat Gama memotong cepat.


Selain itu Gama juga langsung merengkuh bahu sang istri untuk membujuknya.


" Sayang, sekarang bukan waktunya berdebat. Kamu harus memperhatikan kondisi bayi Kita juga kan...," kata Gama sambil menatap Lilian dengan lembut.


Mendengar ucapan suaminya membuat Lilian luluh. Ia mengangguk setuju lalu bersiap bangkit dari duduknya.


" Kalo gitu Aku antar Ibu dan Lian keluar dulu ya Yah...," kata Gama sambil menoleh kearah Ramon.


" Iya Nak...," sahut Ramon cepat.


Setelahnya Gama mengantar istri dan ibu mertuanya keluar untuk mencari Taxi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2