
Rex melajukan motornya dengan kecepatan sedang sambil membonceng Shezi di belakangnya. Lima menit kemudian Shezi menepuk bahu sang Kapten hingga membuat Rex menoleh.
" Kenapa Zi...?" tanya Rex.
" Berhenti di depan Kapten...," sahut Shezi sambil menunjuk tepi jalan yang ramai dengan orang.
" Kok berhenti, ada apa emangnya...?" tanya Rex tak mengerti.
" Berhenti aja dulu...," sahut Shezi cepat.
Rex pun mengangguk lalu menghentikan motornya di tepi jalan sesuai permintaan Shezi.
Saat motor berhenti, Shezi pun turun dari motor Rex. Shezi nampak sedikit kesulitan karena saat turun ia harus bertumpu di kaki kirinya yang belum pulih itu. Mau tak mau Rex mengulurkan lengannya agar Shezi bisa berpegangan di sana.
Shezi memang menyambut uluran tangan Rex. Ia memegang erat lengan sang Kapten saat turun dari motor.
" Alhamdulillah, makasih Kapten...," kata Shezi sambil menghela nafas lega.
" Sama-sama. Terus mau apa Kamu minta berhenti di sini Zi...?" tanya Rex sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
" Ya mau naik angkot lah, apa lagi emangnya. Di sini kan tempat pemberhentian angkot...," sahut Shezi santai.
Jawaban Shezi mengejutkan Rex. Kedua mata Rex bahkan terbelalak saking terkejutnya. Ia tak menyangka gadis di depannya ini memiliki pikiran yang aneh dan nyeleneh.
" Kamu mau naik angkot...?" tanya Rex tak percaya.
" Iya, emang kenapa sih. Kapten pikir Saya ga berani naik angkot...?" tanya Shezi bingung.
" Ya Allah, bukan itu Zi. Kamu kan lagi naik motor Saya. Itu artinya Saya bakal anterin Kamu pulang. Kok malah milih turun di sini dan nyambung pake angkot. Kamu waras kan Zi...?!" tanya Rex kesal.
" Kok Kapten ngatain Saya ga waras ?. Saya waras Kapten. Saya turun di sini juga ada alasannya Kapten...!" sahut Shezi dengan wajah tak suka.
" Oh ya ?. Sekarang coba kasih tau Saya apa alasannya...," tantang Rex.
" Saya ga bisa kasih tau sekarang. Maaf Kapten, angkot jurusan ke rumah Saya udah datang. Saya duluan ya...," pamit Shezi sambil bergegas melangkah menuju angkot yang berhenti tak jauh darinya.
Rex hanya bisa menatap Shezi sambil menggelengkan kepala. Rex masih menunggu angkot itu melaju dan berharap Shezi mengurungkan niatnya.
Namun rupanya Rex salah. Hingga angkot bergerak meninggalkan tempat itu, Shezi tak kembali bahkan sekedar melambaikan tangan pun tidak.
" Dasar cewek aneh...," gumam Rex lalu melajukan motornya perlahan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Rex tiba di rumah saat hampir tengah malam. Ramon yang membukakan pintu untuknya.
" Darimana Rex, kok jam segini baru pulang sih...? " tanya Ramon sambil menepi.
" Abis dari kantor Polisi Yah. Ngasih keterangan buat kasus penyekapan Shezi tempo hari...," sahut Rex.
" Oh ya, terus gimana hasilnya...?" tanya Ramon.
" Keterangan Aku dan korban masih didalami lagi Yah. Tapi Polisi udah punya bayangan pasal berapa dan berapa lama ancaman hukuman untuk cowok breng*ek itu...," sahut Rex sambil duduk di sofa ruang tamu.
" Oh gitu...," kata Ramon yang diangguki Rex.
" Tapi ada kabar bagus sih Yah. Ternyata pergelangan tangan cowok itu patah karena tendangan ku kemarin. Selain itu tangannya juga harus digips untuk upaya pemulihan...," kata Rex bangga hingga membuat Ramon tertawa.
" Mungkin itu balasan yang setimpal untuk tangan yang dipake untuk melecehkan perempuan Rex...," gurau Ramon hingga membuat Rex tertawa.
" Kayanya sih gitu Yah...," sahut Rex disela tawanya.
" Ngomong-ngomong kenapa belakangan Kamu sering banget pulang larut Rex...?" tanya Ramon.
" Beda lah Rex. Dulu Kamu masih muda, masih kuliah, jadi masih banyak yang harus Kamu kerjain. Kalo sekarang kan Kamu justru bisa dibilang sedang berproses menikmati apa yang Kamu miliki. Tapi kenapa Kamu keliatan ga enjoy sama semua pencapaian Kamu...?" tanya Ramon.
" Jadi menurut Ayah Aku ga bahagia...?" tanya Rex.
" Bahagia atau ga bukan Ayah yang nentuin. Semua keputusan ada di tanganmu sendiri. Saat Kamu ingin bahagia, Kamu tau apa yang harus Kamu lakukan termasuk resikonya. Dan sebaliknya, saat Kamu ga bahagia mungkin Kamu harus sedikit merevisi keputusan Kamu...," sahut Ramon sambil tersenyum.
" Merevisi keputusan...?" ulang Rex sambil mengerutkan keningnya.
" Iya...," sahut Ramon cepat.
" Gimana caranya merevisi keputusan Yah...?" tanya Rex tak mengerti.
" Belajar mengamati sekeliling, liat apa aja yang kurang dan bagian mana yang lebih. Kalo ada yang kurang ditutup, kalo ada yang lebih ya dikurangi. Gampang kan...," sahut Ramon.
" Please deh Yah. Jangan ngajakin Aku main teka-teki malam-malam begini. Badan dan otakku udah capek jadi ga bisa nangkep semua sinyal yang Ayah kasih. Tolong Ayah kasih tau aja apa yang salah dan kurang dari Aku, biar bisa Aku perbaiki nanti...," kata Rex sambil memijit pelipisnya.
Ucapan Rex membuat Ramon tertawa geli. Kemudian Ramon bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang dalam. Saat melintas di samping Rex ia menepuk bahu anak kebanggaannya itu sambil mengucapkan sesuatu yang membuat Rex tertegun.
" Kirain Kamu udah ga butuh masukan dari orang lain Rex. Bukannya selama ini Kamu selalu menepis semua saran yang masuk untuk Kamu yaa...," kata Ramon sambil berlalu.
__ADS_1
Rex tersentak kaget lalu menoleh kearah sang ayah yang terus berjalan menuju ke kamar.
" Emangnya Aku kaya gitu Yah...?!" tanya Rex lantang.
" Sssttt..., pelanin suara Kamu. Ibu baru aja tidur...," kata Ramon sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
" Makanya Ayah jawab dong. Emangnya menurut Ayah Aku ga mau terima saran dari orang-orang di sekitarku...? " tanya Rex sambil mendekat kearah ayahnya.
" Mau jawaban jujur atau...," ucapan Ramon terputus karena Rex memotong cepat.
" Ayolah Yaahh...," kata Rex tak sabar.
" Jawabnya iya. Dan tentang saran yang Kamu tolak itu, Kamu pikirin aja sendiri...," sahut Ramon sambil menepuk pipi sang anak dengan lembut.
Ramon nampak tersenyum penuh makna sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Rex masih berdiri mematung di depan kamar orangtuanya hingga beberapa saat. Ia nampak memikirkan kalimat sang ayah sejenak lalu tersenyum tipis.
" Kalo yang Ayah maksud itu dia, Ayah ga usah khawatir. Dia atau siapa pun nanti, Aku harap bisa segera mengisi kekosongan ini...," gumam Rex sambil tersenyum.
Setelah menggumamkan kalimat itu Rex pun berbalik lalu melangkah menuju kamarnya. Rex lanjut membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setelahnya Rex meraih ponselnya lalu berbaring di atas tempat tidur. Ia pun membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.
Rex nampak mengerutkan keningnya saat melihat deretan pesan dari Aksara yang dikirim sejak siang hingga malam tadi.
" Assalamualaikum, dimana Rex...?"
" Jam berapa ke kantor Polisi, mau bareng ga...?"
" Aku udah sampe di kantor Polisi dianter Mama. Kamu dimana Rex...?"
" Aku udah selesai memberi kesaksian, Kamu dimana...?"
" Rex...,"
" Rex...,"
Rex meletakkan ponselnya sambil tersenyum kecut tanpa membalas pesan Aksara. Sesaat kemudian Rex memperbaiki letak bantalnya lalu memejamkan mata.
\=\=\=\=\=
__ADS_1