Kidung Petaka

Kidung Petaka
114. Cari Tempat Lain


__ADS_3

Setelah mengucapkan kalimat penjelasan itu, Rex pun berlalu diikuti semua rekannya. Kemudian mereka berkumpul di lapangan untuk melanjutkan kegiatan yang rutin mereka lakukan setiap pagi yaitu berolah raga.


Sedangkan Elvira nampak mematung di tengah kamar sambil menatap iba kearah suster Tami. Saat itu dokter Lita juga ada di sana dan tengah berusaha menenangkan suster Tami.


" Sabar ya Suster Tami...," kata dokter Lita sambil mengusap punggung suster Tami dengan lembut.


" Saya takut dia balik lagi dok...," rintih suster Tami.


" Kamu tenang aja, makhluk itu ga akan berani balik lagi. Kapten Rex dan pasukannya akan memperketat penjagaan nanti...," kata dokter Lita.


" Pasukan sebanyak dan sehebat apa pun ga akan mampu menandingi makhluk itu dok !. Dia siluman !. Dia bisa menghilang, datang dan pergi sesuai keinginannya...!" sahut suster Tami gusar.


Elvira dan dokter Lita tampak terkejut dan saling menatap sejenak. Kemudian Elvira keluar dari kamar untuk menemui Rex.


Elvira melihat Rex tengah duduk di pinggir lapangan sambil menatap kearah rekan-rekannya yang sedang bermain bola. Rex yang mengetahui kedatangan Elvira pun mengatakan sesuatu sebelum gadis itu mendekatinya hingga membuat gadis itu terdiam.


" Jangan mengira Kami tak peduli dengan apa yang menimpa suster Tami !. Kami harus tetap waras supaya bisa tetap menjalankan tugas dengan baik termasuk menjaga keamanan semua orang di sini...!" kata Rex dengan nada menyindir.


Ucapan Rex membuat Elvira salah tingkah dan terdiam sejenak sambil mencoba mencerna ucapan sang kapten.


" Maaf Kapten. Saya ga bermaksud meremehkan keberadaan Anda dan pasukan Anda di sini. Saya hanya panik saat mengetahui rekan kerja Saya mendapatkan pelecehan se**al di sini. Kami jauh dari rumah dan datang ke sini melakukan pekerjaan suka rela. Tapi kenapa malah mendapatkan pelecehan. Itu yang ada di kepala Saya tadi...," kata Elvira dengan suara lirih.


" Gapapa, Kami mencoba paham dengan situasi yang Anda hadapi. Tapi tak seharusnya Anda menyalahkan Kami sebelum Anda tau apa yang sebenarnya terjadi. Itu musibah yang datangnya dari sesuatu yang tak kasat mata dan dengan entengnya Anda menyudutkan Kami. Kami ini tentara yang biasa bertarung dengan sesuatu yang nyata bukan dengan yang ghaib. Dan ucapan Anda sangat ga adil untuk Kami...," sahut Rex tegas.


" Iya, tolong maafkan Saya...," kata Elvira dengan mata berkaca-kaca.


Melihat gadis di sampingnya hampir menangis membuat Rex iba. Ia menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis.


" Lupakan. Sebaiknya Anda lakukan saja tugas Anda, biar sisanya Kami yang urus. Itu pun kalo Anda percaya dengan kinerja Kami Bu guru Elvira...," kata Rex dingin.


" I... Iya Kapten. Saya percaya kok. Sekali lagi maafkan Saya, permisi...," sahut Elvira gugup lalu bergegas meninggalkan Rex begitu saja.

__ADS_1


Rex kembali menatap ke depan lalu bangkit dari duduknya saat teringat Banga. Ia bermaksud meminta salah satu rekannya menjemput Banga, namun ia urungkan saat melihat Banga berjalan cepat kearahnya.


" Selamat pagi Kapten...!" sapa Banga.


" Pagi Banga. Bagaimana, apa Kamu sudah mempersiapkan semuanya ?. Apa ada yang bisa Kami bantu...?" tanya Rex.


" Semua sudah siap Kapten. Warga banyak membantu Saya dan bekerja sama menyiapkan semuanya. Ternyata warga setuju dengan saran Kapten. Mereka ingin Kami melakukan ritual pengusiran popobawa malam ini juga...,". sahut Banga antusias hingga membuat Rex terkejut sekaligus senang.


" Oh ya. Jam berapa dan dimana akan digelar...?" tanya Rex.


" Kami biasa menggelar ritual itu di lapangan ini Kapten. Apa Kapten mengijinkan tempat ini Kami jadikan tempat ritual...?" tanya Banga hati-hati.


" Apa ga ada tempat lain selain di sini...?" tanya Rex.


" Ada, tapi tempatnya lebih kecil dan dekat dengan hutan. Warga kurang nyaman karena khawatir ada ular atau binatang buas lainnya yang keluar saat sedang melakukan ritual nanti. Bagaimana pun ritual itu juga bakal menarik perhatian penghuni hutan termasuk binatang liar...," sahut Banga beralasan.


" Saya keberatan karena salah satu rekan Kami juga menjadi korban popobawa semalam. Dia masih shock dan terus menangis. Kami khawatir ritual itu justru membuatnya histeris dan tak terkendali nanti...," kata Rex gusar hingga mengejutkan Banga.


" Suster Tami...," sahut Rex dengan suara tercekat.


" Ya Tuhan. Kalo gitu biar Kami gelar ritual itu di tempat lain saja Kapten. Ritual itu dilakukan untuk mengundang popobawa. Dan Saya khawatir makhluk itu akan mendatangi Suster Tami lagi nanti karena biasanya popobawa akan menerror korbannya hingga sekarat dan mati...," kata Banga gusar.


" Kalo gitu biar Kami bantu membersihkan tempat itu nanti...," kata Rex.


" Terima kasih Kapten...!" sahut Banga sambil tersenyum.


" Sama-sama. Kamu tunjukkan saja tempatnya. Saya akan ajak beberapa orang ke sana...," kata Rex yang diangguki Banga.


Kemudian Rex memanggil rekan-rekannya dan mulai membagi tugas.


" Enam orang ikut bersama Saya, sisanya tetap di sini dan melakukan pekerjaan seperti biasa. Kami usahakan cepat kembali sehingga bisa membantu pekerjaan rekan semua sebelum jam makan siang tiba...," kata Rex.

__ADS_1


" Siap Kapten...!" sahut rekan-rekan Rex bersamaan.


Kemudian Rex, Banga dan enam orang tentara naik ke mobil pick up. Namun laju kendaraan itu terhenti karena dihadang oleh dokter Farhan.


" Boleh Saya ikut Kapten...?" tanya dokter Farhan.


" Bagaimana kalo ada warga yang datang untuk berobat nanti dok...?" tanya Rex.


" Kan ada dokter Lita. Lagipula Saya yakin obat yang Saya berikan pada pasien masih cukup hingga lusa Kapten. Jadi mereka ga akan datang hari ini...," sahut dokter Farhan.


" Baik lah. Ayo naik...!" ajak Rex hingga membuat dokter Farhan tersenyum lebar.


Kemudian mobil pun kembali melaju menuju tempat yang dimaksud Banga. Di perjalanan Banga minta mobil menepi. Ia turun menemui salah satu warga dan memberitahu jika lokasi ritual akan dipindahkan. Warga tersebut mengangguk lalu mengajak warga lainnya untuk membantu membersihkan lahan.


Tak lama kemudian mereka tiba di lahan yang dimaksud. Letaknya memang berdekatan dengan hutan. Dari tempatnya berdiri Rex bisa menyaksikan jika ladang warga tampak rusak. Banyak tanaman yang tercabut dari akarnya dan teronggok begitu saja di atas tanah.


" Ladang Kami dirusak oleh babi hutan dan kera Kapten. Bahkan harimau juga berusaha menyerang beberapa warga. Makanya warga ga mau lagi berladang karena takut diserang harimau...," kata Banga.


" Kita bersihkan sekarang. Buat beberapa obor dan tancapkan di sekeliling lahan. Saat malam hari obor bisa dinyalakan untuk menakuti binatang buas itu. Hati-hati saat bekerja karena ada ular yang bisa mengintai kapan pun...!" kata Rex mengingatkan.


Semua orang mulai bekerja sambil bicara banyak hal. Sesekali tawa terdengar menggema pertanda warga merasa nyaman dengan kehadiran TNI di sana.


" Apa Anda bakal ikut ritual itu Kapten...?" tanya dokter Farhan sambil memotong kayu.


" Saya ga ikut karena ritual itu bertentangan dengan agama yang Saya anut dok. Saya akan memilih cara lain yang sesuai dengan ajaran agama Saya nanti...," sahut Rex cepat.


" Terus gimana sama keamanan warga saat melakukan ritual di sini Kapten...? " tanya dokter Farhan.


" Mereka biasa mengadakan ritual. Pasti ada orang yang akan membagi tugas supaya semua posisi terisi. Jadi kehadiran Kita ga diperlukan di sini. Selain itu Kita ga ngerti bahasa mereka. Jangan sampe kehadiran Kita justru mengganggu proses ritual mereka dok...," sahut Rex dengan santai.


Dokter Farhan nampak mengangguk mengiyakan ucapan Kapten Rex.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2