
Rex meminta semua orang pulang dan beristirahat.
" Biar Aku yang nemenin Nenek di sini...," kata Rex.
" Om juga mau di sini Rex, Om mau ikut merawat Nenek. Tolong kasih kesempatan Om buat nebus kesalahan Om mulai dari sekarang...," pinta Ramzi penuh harap.
" Tapi Om juga perlu istirahat. Om kan harus menjalani operasi nanti...," sahut Rex.
" Iya, tapi Om bisa istirahat di sini sambil menjaga Nenek. Yang penting bisa deket sama Nenek itu udah cukup buat Om. Lagian kan Om ga ngapa-ngapain di sini, cuma duduk dan ngawasin Nenek...," kata Ramzi.
" Biar aja Om Kamu di sini Rex...," sela Ramon menengahi karena tahu betapa keras kepalanya Ramzi.
" Iya Yah...," sahut Rex akhirnya.
Kemudian Ramon, Lanni, Tini dan Daud pulang ke rumah. Sedangkan Rex dan Ramzi menemani Rusminah di kamar rawat inap.
Saat malam hari Rex keluar dari kamar sang nenek. Ia duduk di depan ruangan sambil memeriksa chat yang masuk ke ponselnya. Ia tersenyum melihat banyak panggilan dari nomor Lilian. Kemudian Rex menghubungi Lilian karena yakin sang kakak cemas menanti kabar.
" Assalamualaikum Kak...," sapa Rex.
" Wa alaikumsalam, ya Allah Rex. Kemana aja sih Kamu. Tau ga kalo seharian ini Kakak cemas nunggu kabar dari Kamu. Ponsel Ayah sama Ibu juga ga bisa dihubungi. Kamu kenapa baru nelephon sekarang...?!" tanya Lilian lantang hingga membuat Rex menjauhkan ponsel dari telinganya.
" Sabar dong Kak. Aku baru mau cerita tapi Kakak udah emosi aja...," sahut Rex santai.
" Gimana ga emosi kalo Kamu...," ucapan Lilian terputus saat terdengar suara Gama memanggilnya.
" Sayang, jangan marah-marah dong. Ga baik buat Ibu hamil dan bayinya...," kata Gama mengingatkan sang istri.
Ucapan Gama yang sedang menenangkan Lilian membuat Rex tersenyum. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Lilian saat emosinya tertahan.
" Ok Sayang. Rex, Kamu masih di sana kan...?" tanya Lilian.
" Iya Kak...," sahut Rex cepat.
__ADS_1
Kemudian Rex mulai menceritakan semua yang ingin diketahui Lilian.
Setelah mendengar cerita Rex tentang kondisi sang nenek termasuk tentang kedatangan Ramzi, Lilian pun tersenyum bahagia.
Di saat sedang menelepon Lilian, Rex melihat arwah Fandi keluar dari kamar di samping kamar Rusminah. Kali ini Rex ingin tahu mengapa arwah Fandi terus menerus memperlihatkan diri di depannya.
" Aku tutup dulu ya Kak. Assalamualaikum..., " kata Rex lalu mengakhiri percakapan mereka.
Kemudian Rex mengikuti arwah Fandi yang melangkah ke suatu tempat.
" Kenapa Fandi, apa ada yang bisa Kubantu...?!" tanya Rex hingga membuat arwah Fandi berhenti melangkah.
" Jadi Kamu benar-benar bisa ngeliat Aku...?" tanya Fandi tak percaya.
" Iya. Bahkan sejak di mini bus itu...," sahut Rex sambil mengangguk hingga membuat arwah Fandi tersenyum.
" Hanya Kamu yang merespon Aku. Yang lain ga ada satu pun yang peduli. Bahkan mereka menggunjingkan Aku di saat nyawaku baru saja lepas dari jasadku...," kata arwah Fandi sambil tersenyum kecut.
" Jangan salahkan mereka. Itu karena mereka ga mengerti apa maumu...," sahut Rex.
" Jadi apa maumu...?" tanya Rex lagi.
Fandi tersenyum lalu menceritakan kisah hidupnya kepada Rex.
" Aku berasal dari keluarga sederhana. Kedua orangtuaku telah lama meninggal dunia. Kami lima bersaudara. Dan diantara Kami berlima, kehidupanku bisa dikatakan yang paling beruntung. Aku seorang pengusaha sukses yang memiliki aset dimana-mana...," kata arwah Fandi mengawali ceritanya.
Ucapan Fandi membuat Rex mengerutkan keningnya karena bingung.
" Jika Fandi memiliki empat saudara, terus kemana mereka saat Fandi tergolek sakit di Rumah Sakit...?" batin Rex tak mengerti.
" Mereka ga tau kalo Aku sakit. Mereka juga ga tau kalo Aku dioperasi lalu meninggal dunia setelahnya...," sahut arwah Fandi seolah bisa membaca apa yang ada di benak Rex.
" Kenapa bisa begitu...?" tanya Rex penasaran.
__ADS_1
" Semua salahku...," sahut arwah Fandi lirih.
" Salahmu...?" ulang Rex hati-hati.
" Iya. Dulu Aku bersikap terlalu tertutup pada semua saudaraku. Aku menganggap mereka ga perlu tau kehidupan pribadiku termasuk tentang aset yang Aku miliki. Karena saat itu Aku berpikir semua yang Aku miliki adalah hasil jerih payahku. Keempat saudaraku ga tau menau soal itu dan ga ikut andil dalam tiap usahaku mengembangkan perusahaan ku hingga jadi sukses seperti sekarang...," sahut arwah Fandi sambil menerawang.
" Dan Kamu terlalu pelit untuk berbagi dengan mereka karena Kamu menganggap mereka hanya benalu di hidupmu. Padahal di dalam rezekimu ada hak orang lain di sana termasuk saudaramu jika kondisi mereka benar-benar jauh dari kata makmur..., " kata Rex sambil mencibir.
" Aku ga pelit !. Aku juga sering berbagi dengan mereka. Aku juga selalu membantu mereka jika mereka datang padaku dan mengeluhkan kesulitan mereka karena Kami tinggal di lingkungan yang sama dan hanya berbeda rumah...!" sahut Fandi membela diri.
" Itu bagus. Terus apa masalahnya...?" tanya Rex bingung.
" Karena Aku ga pernah memberitahu keempat saudaraku tentang semua aset yang Aku miliki, itu yang membuatku ga bisa pergi dengan tenang...!" sahut arwah Fandi gusar.
Rex terkejut mendengar pengakuan arwah Fandi. Biasanya orang yang meninggal akan bergentayangan karena tak rela harta yang ia miliki menjadi harta warisan yang akan diperebutkan oleh keluarganya. Tapi Fandi berbeda. Ia justru gentayangan karena keluarganya tak tahu menahu soal harta yang ia miliki yang notabene menjadi milik mereka saat Fandi meninggal !.
" Kamu aneh Fandi...," kata Rex sambil menggelengkan kepalanya.
" Iya. Dan Aku menyesal karena menyembunyikan semuanya dari keluargaku. Bagaimana pun mereka berhak atas hartaku itu karena mereka adalah saudaraku. Dalam tubuh Kami mengalir darah yang sama. Dan Aku ingin keempat saudaraku tahu bahwa mereka memiliki saudara yang telah meninggal dunia dan mewariskan banyak harta untuk mereka...!" kata arwah Fandi putus asa.
Rex tertegun sejenak. Ia tak menyangka jika orang sebaik Fandi pun masih terganjal kepergiannya hanya karena menyembunyikan hak keempat saudaranya di dalam harta miliknya.
" Masya Allah. Jadi itu sebabnya...," kata Rex dengan suara tercekat.
" Iya. Sebaik apa pun Aku semasa hidupku, tapi saat Aku menyembunyikan hak saudaraku, maka surga pun jauh dari jangkauanku...," sahut arwah Fandi sedih.
" Masuk akal !. Bukan kah saudara kandung seiman dan yang tak mampu, lebih layak dibantu daripada orang lain yang tak punya hubungan darah dengan Kita...!" kata Rex antusias.
" Betul !. Aku memang sering berbagi dengan saudaraku dan semua orang yang tak mampu. Tapi kadar dan jumlahnya sama. Jika Aku memberi seratus ribu kepada tetangga yang membutuhkan, maka jumlah yang sama juga Aku berikan pada empat saudaraku. Harusnya Aku memberi lebih karena mereka adalah saudara kandungku satu Ayah dan satu Ibu...!" sahut arwah Fandi dengan nada menyesal hingga membuat Rex kembali terkejut mendengar pengakuannya.
" Sekarang apa maumu...?" tanya Rex pura-pura tak tahu.
" Aku mau minta tolong sama Kamu, sampaikan be... berita kematianku ini ke... pada keempat Saudaraku. A... Aku..., Aku butuh doa mereka sekarang. Karena Aku tau doa mereka tulus dan tanpa pamrih. Tolong sampaikan pada mereka jika Aku sangat menyesal telah mengabaikan ikatan persaudaraan diantara Kami padahal doa tulus mereka lah yang bisa meringankan langkahku...," sahut arwah Fandi terbata-bata.
__ADS_1
Kemudian Rex mengangguk mengiyakan permintaan arwah Fandi. Mengetahui Rex menyanggupi permintaannya, arwah Fandi pun tersenyum lalu menghilang entah kemana.
\=\=\=\=\=