
Setelah melukai Amir dan menyaksikan pria itu tewas mengenaskan, pangeran Jareka pun menoleh ke ambang pintu tepat dimana Rex berdiri. Kemudian pangeran Jareka melesat cepat kearah Rex hingga membuat Rex terkejut.
Rex merasakan tubuh pangeran Jareka menabrak tubuhnya. Sangat keras hingga membuatnya terhuyung ke belakang sambil membelalakkan mata.
Rex tersentak kaget saat menyadari dirinya telah kembali ke masa sekarang. Saat itu Rex refleks meraba dadanya karena merasa sesak dan sulit bernafas.
" Ya Allah apa ini...," gumam Rex sambil meraba dadanya.
Kemudian Rex mengatur nafasnya sambil melakukan gerakan kecil untuk mengurai rasa sesak di dadanya itu. Berhasil. Rasa sesak di dadanya pun berkurang bahkan menghilang sama sekali.
Setelahnya Rex kembali duduk sambil berusaha mengingat-ingat peristiwa yang baru saja dilihatnya. Saat itu Rex didera kebingungan karena ia tak mengenal siapa pun di tayangan yang diperlihatkan tadi.
" Siapa mereka sebenarnya...?" tanya Rex dalam hati.
Dan saat itu lah Rex melihat arwah Zada melintas tak jauh dari posisinya berada. Rex pun bergegas melangkah cepat untuk mengejar arwah Zada. Agak sulit, karena Arwah Zada melayang lebih cepat dari biasanya hingga membuat Rex terpaksa berlari.
" Tunggu Zada. Ada apa sebenernya ?. Kenapa Kamu ga mau bilang apa pun tentang kematianmu...?" tanya Rex tak sabar dengan nafas terengah-engah.
Arwah Zada berhenti melayang setelah tiba di sebuah tempat lapang. Ternyata saat itu mereka tengah berada di luar area Rumah Sakit.
Rupanya tanpa Rex sadari ia telah jauh berlari mengejar arwah Zada hingga melewati koridor Rumah Sakit yang panjang dan berakhir di tanah lapang itu.
" Zada...!" panggil Rex lantang karena yakin suaranya tak akan terdengar oleh orang lain.
Wanita yang dipanggil Zada itu menoleh dan tersenyum namun membuat Rex terkejut. Bagaimana tidak, karena wajah wanita itu adalah wajah Nyai si istri pangeran Jareka. Rex ingat dengan sorot mata hitam legam milik wanita itu sama persis dengan milik istri pangeran Jareka itu. Meski pun saat ini ia mengenakan pakaian milik Zada.
" Kamu ?. Siapa Kamu sebenernya dan kenapa ada di dalam tubuh Zada...?!" tanya Rex penasaran.
Wanita itu menggeleng lalu mengatakan sesuatu yang membuat Rex mengerutkan keningnya karena bingung.
" Kamu salah Rex. Zada adalah Aku dan Aku adalah Zada...," sahut wanita itu lirih lalu lenyap begitu saja hingga membuat Rex kesal bukan kepalang.
__ADS_1
" Tunggu !. Jelaskan semuanya baru Kau boleh pergi !. Kenapa selalu meninggalkan teka-teki untukku...?!" tanya Rex sambil meninju angin.
Tak ada sahutan. Hanya keheningan malam disertai angin dingin yang berhembus yang menemani Rex saat itu. Rex masih bersabar menunggu berharap wanita itu kembali dan menyelesaikan teka-teki yang ia berikan.
Setelah beberapa saat menunggu namun wanita itu tak kembali, akhirnya Rex pun berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu.
Selama dalam perjalanan kembali ke Rumah Sakit, Rex mencoba memahami ucapan wanita itu.
" Aku adalah dia...," gumam Rex berulang-ulang sambil melangkah.
Ketika langkah Rex hampir mencapai pintu samping Rumah Sakit, Rex pun berhenti.
" Astaghfirullah aladziim. Apa itu artinya Zada adalah reinkarnasi si Nyai dan Aku adalah reinkarnasi dari Pangeran Jareka. Tapi bagaimana mungkin ?. Jangan-jangan itu terjadi karena Kami punya nama yang mirip...?!" kata Rex sambil membulatkan mata takjub.
Setelah mengungkapkan dugaannya pada angin malam, Rex menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam area Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
" Maass...," panggil Ramzi lirih namun cukup terdengar di telinga Ramon.
" Ramzi, Kamu udah siuman. Gimana keadaanmu, apa ada yang sakit...?" tanya Ramon beruntun.
Pertanyaan Ramon membuat Ramzi terharu. Ia teringat kebersamaan mereka saat remaja dulu. Ramon sangat posessif dan selalu berusaha melindunginya, dimana pun dan dalam keadaan apa pun.
" Aku baik-baik aja Mas. Ini..., kenapa Aku ada di sini ?. Mamak mana...?" tanya Ramzi sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
" Mamak udah pulang ke rumah. Sekarang Kamu yang menggantikan Mamak tidur di sini. Kamu juga baru aja menjalani operasi pengangkatan sel kanker yang menyerang ususmu itu. Apa Kamu ga ingat sama sekali Ramzi...?" tanya Ramon.
" Operasi...?" tanya Ramzi tak percaya.
" Iya. Waktu Aku dan Rex sampe di kamar, Kamu udah semaput di pelukan Istriku. Dia panik, Mamak juga. Yang bikin panik istriku adalah karena Mamak nekad turun dari tempat tidur gara-gara pengen nolongin Kamu...," sahut Ramon sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
" Ya Allah, maaf Mas. Padahal Aku janji jagain Mamak, kok justru Aku yang bikin repot...," kata Ramzi tak enak hati.
" Gapapa Ramzi, Kita kan saudara. Kami semua ga merasa direpotin kok...," sahut Ramon cepat.
Ramzi mengangguk lalu kembali memejamkan mata. Sejujurnya ia masih merasa canggung saat berada dekat dengan sang kakak. Ia sadar telah membuat Ramon terluka dengan sikapnya yang selalu membantah ucapan sang kakak. Bahkan ia berani melawan ibu mereka dan meninggalkannya dalam keadaan menangis dulu.
Ramzi juga merasa bersalah karena selama ia menjauh, sang ibu kerap sakit karena terlalu rindu padanya.
" Lalu bagaimana dengan biayanya Mas...?" tanya Ramzi sambil menatap Ramon lekat.
" Kamu ga usah pikirin itu Ramzi. Yang penting Kamu cepat pulih dan bisa memenuhi janjimu untuk menjaga Mamak...," sahut Ramon mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Gimana ga dipikirin Mas. Biaya operasi itu kan lumayan mahal. Makanya Aku sengaja menunda operasi karena harus mengumpulkan uang untuk biaya operasiku nanti. Sekarang saat Aku siuman Aku malah udah dioperasi. Artinya ada seseorang yang membiayai Aku kan...?" tanya Ramzi.
" Kamu tenang aja Ramzi. Aku ga mengeluarkan uang sepeser pun untuk membiayai operasimu. Aku ga rela uangku dipakai mengobati orang tak tahu diri sepertimu. Sayangnya Kamu punya dua keponakan yang terlalu menyayangimu dan berinisiatif membiayai operasimu tadi...," sahut Ramon ketus.
Ucapan Ramon membuat Ramzi terkejut sekaligus terharu. Ia tak menyangka jika Rex dan Lilian bersedia mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk membiayai operasinya.
" Lian dan Rex...," gumam Ramzi sambil menundukkan wajahnya.
" Iya...," sahut Ramon cepat.
" Kamu beruntung memiliki mereka Mas. Mereka anak-anak yang baik. Kamu dan Mbak Lanni pasti bangga sama mereka. Iya kan Mas...," kata Ramzi sambil mengusap matanya yang basah.
" Kenapa Kamu ngomong kaya gitu Zi...?" tanya Ramon tak mengerti.
" Aku punya anak tapi tak satu pun peduli padaku. Jika ditaksir usia mereka pasti udah lumayan dewasa untuk bisa mencari Aku. Apa ini hukuman untukku karena dulu menjauh dari Mamak dan Abah Mas...?" tanya Ramzi sedih.
Ramon tak menjawab. Ia masih kesal jika mengingat perilaku Ramzi dulu. Ramzi memang dibutakan oleh cintanya pada sang istri. Ia lebih memilih mengikuti istrinya hijrah ke kota lain dan memutuskan hubungan dengan keluarganya atas permintaan sang istri.
\=\=\=\=\=
__ADS_1