
Dalam tidurnya Lilian memang bermimpi buruk. Awalnya ia melihat sosok pria berpakaian lusuh tengah berdiri di bawah pohon sambil menatap kearahnya seolah sedang mengamati pergerakannya.
Lilian mencoba memutar arah dan mencari jalan lain agar tak berpapasan dengan pria itu. Namun tiap kali Lilian berhasil menemukan jalan lain, pria itu akan tampak menunggu di ujung jalan. Dan itu membuat Lilian panik bukan kepalang. Lilian yakin jika pria itu punya niat tak baik padanya.
Dan entah mengapa Lilian teringat pada kasus 'human traficking' yang hampir menjeratnya beberapa tahun yang lalu. Lilian ingat saat mantan sahabatnya menjebaknya. Juga saat seorang pria menemuinya dan bersiap melecehkannya.
Lilian makin panik saat melihat pria berpakaian lusuh itu mendekat kearahnya lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahnya. Lilian menjerit lalu terbangun dari tidurnya.
" Ya Allah, Ya Allah. Apa itu. Astaghfirullah aladziim..., " kata Lilian berulang-ulang sambil mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangannya.
Sebuah ketukan terdengar di pintu. Lilian menoleh dan yakin jika itu ulah sang adik yang memang gemar mengusilinya. Namun entah mengapa kali ini Lilian merasa keusilan Rex adalah obat dari kegundahannya.
Lilian bergegas turun dari tempat tidur lalu melangkah cepat menuju pintu dan membukanya.
" Rex...!" panggil Lilian.
Sunyi. Tak ada siapa pun di balik pintu. Seluruh ruangan sama heningnya hingga membuat tengkuk Lilian menebal sesaat.
Tiba-tiba Rex berlari dari luar rumah dan langsung menemuinya.
" Kenapa Kak...?" tanya Rex cemas.
" Kamu... Kamu darimana...?" tanya Lilian ragu.
" Aku di depan rumah lagi mandiin si golden blue...," sahut Rex cepat.
Golden blue adalah nama motor kesayangan Rex. Sebuah moge merk terkenal berwarna biru metalik. Rex sengaja memberi nama golden blue walau tak ada warna gold di sana. Alasannya karena warna biru yang mencolok seperti emas lah yang membuat moge miliknya terlihat istimewa.
" Daritadi di luar...?" tanya Lilian.
" Iya. Kenapa sih Kak...?" tanya Rex tak sabar.
" Ada yang ngetuk pintu kamarku. Aku kira itu Kamu...," sahut Lilian.
" Masa sih...?" tanya Rex tak percaya.
" Iya. Ngapain Aku bohong. Selain itu Aku juga mimpi aneh Rex...," kata Lilian sambil menggigit bibirnya.
" Mimpi aneh gimana...?" tanya Rex penasaran.
" Mmm..., Aku mimpi diikutin cowok ga dikenal Rex. Cowok itu berpakaian lusuh, wajahnya sih ga keliatan jelas tapi Aku yakin ga kenal sama dia. Dia nungguin Aku di ujung jalan gitu. Aku udah coba nyari jalan lain tapi selalu aja ketemu sama dia lagi. Terakhir dia malah deketin Aku dan kaya mau nangkep Aku. Hiiiyy..., serem ga sih...," kata Lilian sambil bergidik.
" Jadi itu yang bikin Kakak teriak manggil Aku tadi...?" tanya Rex.
__ADS_1
" Aku ga teriak...," sangkal Lilian sambil melangkah menuju ruang makan.
" Iya ga teriak. Cuma manggil pake suara yang volumenya lebih tinggi dari biasanya...," sahut Rex sambil mencibir.
Ucapan Rex membuat Lilian tertawa. Kemudian Lilian duduk di kursi, lalu menuang air putih ke dalam gelas dan meneguknya.
" Aku mau jenguk Gama Kak. Mau liat keadaannya. Kakak mau ikut ga...?" tanya Rex sambil duduk di samping Lilian.
Lilian melirik jam dinding sebelum menjawab pertanyaan sang adik.
" Sebentar lagi Rex. Dia pasti lagi istirahat sekarang. Pengaruh obat yang dikasih dokter Siska bakal bikin dia tidur. Kita ke sana pas jam makan siang aja. Sekalian bawain makanan biar dia bisa makan dan minum obat...," kata Lilian.
" Ok deh. Kalo gitu Aku lanjutin mandiin si golden blue dulu ya Kak...," sahut Rex sambil melangkah ke depan rumah.
" Jangan lupa mandi Rex...!" kata Lilian mengingatkan dengan lantang.
" Ga usah, cuma ke rumah Gama kok pake mandi segala...," sahut Rex cuek.
" Ish, jorok banget sih !. Pokoknya mandi, kalo ga Aku siram pake air kopi nih...!" ancam Lilian sambil membawa gelas berisi kopi milik Rex dan bersiap menyiramkannya ke tubuh sang adik.
" Iya iya, Aku mandi. Jangan disiram dong Kak...," sahut Rex sambil menjauh dari Lilian.
Mendengar jawaban Rex membuat Lilian tersenyum puas. Ia meletakkan gelas berisi kopi di atas meja lalu masuk ke dalam rumah.
\=\=\=\=\=
Gama sedikit kesulitan membuka pintu rumah. Karena saat mengangkat tangannya otot perutnya seolah tertarik dan itu menimbulkan rasa nyeri pada lukanya.
Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Gama berhasil membuka pintu.
" Assalamualaikum..., " kata Gama lirih lalu kembali menutup pintu.
Kemudian Gama duduk di atas sofa sambil meluruskan kedua kakinya. Ia nampak meringis saat rasa nyeri itu datang lagi.
Gama memejamkan matanya mencoba mengingat kejadian naas yang menimpanya pagi itu. Sedetik kemudian Gama tersenyum saat mengingat kekhawatiran di wajah Lilian tadi. Apalagi saat Lilian menggenggam lengannya dan berusaha membujuknya agar ia mau memeriksakan lukanya. Ada rasa hangat yang mengalir di hatinya dan itu membuat Gama membeku di tempat untuk sesaat.
Gama membuka matanya lalu meraba perban yang menutupi lukanya.
" Ternyata ada hikmahnya juga terluka kaya gini. Gue jadi bisa ngeliat kecemasan di wajahnya...," gumam Gama sambil tersenyum.
Kemudian Gama bangkit dan menyeret langkahnya ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya di sana lalu memutuskan menelephon bengkel.
" Assalamualaikum Pung...," sapa Gama.
__ADS_1
" Wa alaikumsalam Bos...," sahut Ipung.
" Hari ini Gue ga ke bengkel, lagi meriang nih. Tolong awasin bengkel ya. Uang bengkel kirim aja ke rumah...," kata Gama.
" Ok Bos, semoga cepet sembuh ya Bos. Insya Allah uang bengkel Gue antar ke rumah ntar...," sahut Ipung.
" Thanks ya Pung. Assalamualaikum..., " kata Gama mengakhiri percakapan mereka.
" Sama-sama Bos, wa alaikumsalam...," sahut Ipung.
Setelah menelephon perasaan Gama jauh lebih tenang. Ia pun meraih obat yang diberikan dokter Siska tadi lalu meminumnya.
" Insya Allah abis ini enakan. Gue cuma perlu istirahat aja sebentar...," kata Gama menyemangati dirinya.
Gama terbangun saat mendengar ketukan pintu disertai suara Rex yang memanggilnya berulang kali.
Gama bangkit lalu melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya. Saat melihat Rex dan Lilian di balik pintu, Gama pun tersenyum.
" Lagi tidur ya, diteriakin daritadi ga nyaut...," kata Rex sambil menatap Gama dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Iya. Masuk deh...," kata Gama sambil membuka pintu lebar-lebar.
" Assalamualaikum...," kata Rex dan Lilian bersamaan sambil melangkah masuk ke dalam rumah Gama.
" Wa alaikumsalam...," sahut Gama sambil tertawa geli karena merasa aneh dengan sikap formal kedua kakak beradik itu.
" Kok ketawa sih...?" tanya Lilian sambil menatap kesal kearah Gama.
" Gapapa, lucu aja ngeliat Lo berdua bersikap santun kaya gini...," sahut Gama sambil nyengir.
" Ck, apaan sih Lo. Udah makan belum...?" tanya Lilian sambil meletakkan kantong kresek berisi tiga bungkus nasi di atas meja.
" Makan siang sih belum, kan baru bangun...," sahut Gama sambil duduk di atas sofa.
" Gue ambilin piring, Lo berdua tunggu di sini...," kata Lilian sambil melangkah ke dapur lalu kembali dengan membawa tiga piring beserta sendok dan garpu.
Gama mengangguk dan tersenyum melihat Lilian yang sigap melakukan semuanya.
" Makan dulu Gam, abis itu minum obatnya...," kata Lilian sambil menyerahkan piring beserta nasi dan lauknya.
" Gama doang Kak, Aku ga diambilin...," protes Rex.
" Manja banget sih Rex...," gerutu Lilian sambil meraih nasi milik Rex lalu menyiapkannya sama persis seperti yang ia lakukan untuk Gama tadi.
__ADS_1
Rex tersenyum lalu mulai melahap makanannya.
\=\=\=\=\=