
Setelah berhasil mengusir makhluk hitam yang menyerupai walrus raksasa itu, Rex kembali ke kamar rawat inap sang kakak. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelahnya Rex pun berbaring di atas sofa.
Tatapan Rex tertuju ke langit-langit kamar. Saat itu lah ia kembali teringat dengan ancaman makhluk hitam besar itu.
" Mudah-mudahan ancaman makhluk itu cuma gertak sambal aja...," gumam Rex penuh harap.
Rex nampak mengusap wajahnya beberapa kali. Dan tak lama kemudian Rex pun tidur dengan nyenyak.
Lilian pun nampak menghela nafas lega saat melihat Rex tertidur di atas sofa.
" Kenapa masih belum tidur...?" tanya Gama saat ia kembali dari kamar mandi.
" Aku lagi ngeliatin Rex...," sahut Lilian.
" Kenapa diliatin, emangnya dia ngigo atau ngomong sesuatu...?" tanya Gama sambil kembali membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
" Bukan itu Sayang. Kalo ngeliat Rex tidur nyenyak banget apa itu artinya makhluk yang membuat Kita kehilangan bayi Kita itu udah pergi...?" tanya Lilian sambil menatap Gama lekat.
" Insya Allah...," sahut Gama cepat.
" Terus bisa balik lagi ga ya. Jujur Aku takut kalo inget saat-saat Aku kehilangan si kecil...," kata Lilian dengan suara bergetar.
Gama tersenyum lalu meraih Lilian ke dalam pelukannya.
" Ga usah mikirin sesuatu yang di luar jangkauan Kamu. Yang penting sekarang Kamu istirahat biar bisa cepet pulih dan Kita bisa cepet pulang...," kata Gama.
" Iya iya, Aku emang ga pernah menang debat sama Kamu...," sahut Lilian sambil mengerucutkan bibirnya hingga membuat Gama tertawa.
" Ga usah ngambek gitu. Jelek...," kata Gama sambil mengusak rambut sang istri.
" Apa sih Kamu...," protes Lilian sambil menepis tangan Gama dari kepalanya.
" Sssttt..., udah malam. Tidur yuk...," ajak Gama sambil menarik Lilian ke dalam pelukannya hingga membuat sang istri tak berkutik.
Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dan ternyata itu berasal dari Lilian. Gama nampak tersenyum sàmbil menggelengkan kepala mengetahui Istrinya lebih dulu terlelap.
" Tadi protes ga mau tidur. Eh, dipeluk sebentar malah langsung pules...," gumam Gama sambil tersenyum lalu mencium kening sang istri dengan lembut.
\=\=\=\=\=
Rex sedang dalam perjalanan menuju kesatuannya saat ustadz Akbar menghubunginya melalui sambungan telephon.
__ADS_1
Rex menepi di pinggir jalan karena merasa sedikit terganggu dengan dering ponselnya. Kemudian Rex meraih ponsel dari saku bajunya. Ia nampak mengerutkan keningnya saat melihat nama ustadz Akbar di layar ponselnya.
" Ustadz Akbar, ada apa ya...," gumam Rex sambil menekan tombol hijau.
" Assalamualaikum Mas Rex...," sapa ustadz Akbar dari seberang telephon.
" Wa alaikumsalam Ustadz. Ada apa kok kedengerannya panik gitu Ustadz...?" tanya Rex sambil mengamati sekelilingnya.
" Mas Rex dimana sekarang...?" tanya ustadz Akbar.
" Saya lagi di jalan Ustadz, mau ke kantor. Emang ada apa Ustadz...?" tanya Rex.
" Elvira hilang Mas...!" sahut ustadz Akbar.
Mendengar jawaban ustadz Akbar membuat Rex tersedak dan nyaris tertawa. Jika di Afrika ia percaya Elvira hilang karena di sana adalah tempat asing. Tapi saat Elvira hilang di tanah air, Rex merasa kabar itu terlalu mengada-ada.
" Hallo Mas Rex...!" panggil ustadz Akbar karena merasa tak mendapat respon dari Rex.
" Iya Ustadz, maaf. Gimana Ustadz...?" tanya Rex.
" Saya harus gimana Mas. Ini ga biasa banget. Elvira ga pernah kaya gini sebelumnya..., " kata ustadz Akbar cemas.
" Maaf Ustadz. Tapi kalo Saya bilang ini bukan kali pertama Bu Elvira raib, apa Ustadz mau percaya...?" tanya Rex.
" Waktu Kami tugas di Afrika, Bu Elvira juga pernah hilang Ustadz. Diculik lebih tepatnya...," sahut Rex hingga mengejutkan ustadz Akbar.
" Masa sih Mas Rex. Terus gimana...?!" tanya ustadz Akbar.
" Waktu itu Saya dan pasukan yang menjemput. Ternyata Bu Elvira diculik oleh warga sipil yang menginginkan sejumlah uang untuk tebusan. Terdengar miris karena saat itu justru Kami sedang berusaha membantu mereka lepas dari kelaparan...," kata Rex sambil tersenyum kecut.
" Tapi kali Saya khawatir kalo hilangnya Elvira ada hubungannya dengan makhluk ghaib yang pernah menerror Elvira itu Mas. Saya nelephon Mas Rex karena Saya yakin cuma Mas yang bisa mengendus keberadaan Elvira yang raib karena dikerjai makhluk ghaib itu...," kata ustadz Akbar cemas.
Mendengar ucapan sang ustadz membuat Rex terdiam sejenak. Ia baru ingat dengan janjinya untuk membantu Elvira. Rupanya karena kesibukannya Rex lupa akan janjinya.
" Gini aja Ustadz. Saya ke kantor dulu ya, nanti Saya usahakan pulang cepat supaya bisa bantu nyari Bu Elvira...," kata Rex akhirnya.
" Kalo gitu Saya tunggu ya Mas. Maaf udah merepotkan lagi...," sahut ustadz Akbar.
" Jangan bilang gitu Ustadz. Insya Allah Saya bakal tepati janji Saya untuk membantu Bu Elvira. Sekarang Saya pamit dulu ya. Assalamualaikum..., " kata Rex di akhir kalimatnya.
Rex pun bergegas memasukkan ponselnya ke saku baju. Namun saat akan menstarter motornya, tiba-tiba Rex mendengar keributan tak jauh dari tempatnya menepi. Ia pun mengedarkan pandangannya dan melihat kerumunan orang dimana suara gaduh itu berasal.
__ADS_1
Awalnya Rex ingin mengabaikan kegaduhan itu namun sisi hati kecilnya menahannya untuk pergi. Rex pun mengikuti kata hatinya dan melangkah menuju kerumunan orang.
Semakin dekat dengan kerumunan orang itu, Rex tahu jika ada seseorang yang mencoba bunuh diri di jalan itu.
" Jangan nekad Mbak !. Bahaya buat Mbak juga buat orang lain...!" kata seorang pria.
" Betul Pak !. Dia enak langsung mati, lah yang nabrak dong yang bakal panjang urusannya. Bisa ditangkep Polisi, dipenjara pula. Terus gimana nasib keluarganya kalo dia dipenjara...?!" kata seorang wanita dengan ketus.
" Iya. Masih muda kok mau bunuh diri. Istighfar Mbak, istighfar...! " kata warga lainnya saling bersahutan.
" Lepasin...!" kata suara seorang wanita dengan lantang.
Rex terkejut lalu bergegas masuk ke dalam kerumunan warga saat mengenali suara wanita itu. Ternyata itu adalah suara Elvira, keponakan Ustadz Akbar yang dikabarkan hilang.
" Bu Elvira...!" panggil Rex lantang hingga membuat semua oramg termasuk Elvira menoleh kearahnya.
" Kapten Rex...," gumam Elvira sambil menatap lekat kearah Rex.
" Jadi Pak tentara kenal sama dia...?" tanya wanita yang memarahi Elvira tadi.
" Iya Bu. Ini temen Saya...," sahut Rex sambil mendekati Elvira.
" Apa dia ga punya keluarga Mas ?, atau lagi ada masalah ya ?. Kok bisa-bisanya lari di tengah jalan yang rame sama kendaraan yang melintas. Untung berhasil ditangkap warga, kalo ga kan bahaya Mas...," kata seorang pria.
" Iya. Maafin temen Saya ya Pak, Bu. Makasih udah membantu...," kata Rex dengan santun sambil menggamit lengan Elvira.
Warga yang semula memegangi Elvira pun melepaskan cekalan mereka pada tangan Elvira. Mereka nampak lega saat seorang tentara menghandle Elvira. Perlahan kerumunan warga pun terurai menyisakan Rex dan Elvira.
" Ada apa Bu Elvira ?. Kenapa seperti ini ?. Ustadz Akbar cemas nyariin Kamu lho. Saya antar Kamu pulang sekarang ya, ayo ikut Saya...," kata Rex hati-hati.
" Lepasin Saya Kapten. Saya bisa jalan sendiri...," kata Elvira ketus.
" Iya iya. Saya lepas tapi jangan...," ucapan Rex terputus.
Karena saat ia melepaskan cekalan tangannya, saat itu lah Elvira langsung lari ke tengah jalan raya untuk menghadang laju bus malam yang melintas cepat.
" Elviraaaa...!" panggil Rex lantang hingga mengejutkan semua orang.
" Braaakkk...!"
Suara benturan dan decit kendaraan yang direm terdengar memenuhi jalan raya saat itu. Semua mata menatap nanar kearah jalan raya yang mendadak macet karena ulah Elvira.
__ADS_1
\=\=\=\=\=