
Setelah berhasil menguasai diri, Rex pun kembali bertanya.
" Apa Kamu memutuskan pergi jauh dari hidup Suamimu dan istri barunya itu...?" tanya Rex hati-hati.
" Iya. Aku memang pergi menjauh darinya selamanya...," sahut Hadini dengan mata berkaca-kaca.
" Apa maksudmu...?" tanya Rex.
" Tunggu lah di sini, Kamu bisa liat sebentar lagi...," sahut Hadini sambil menoleh ke atas tebing.
Rex mengikuti arah tatapan Hadini dan terkejut saat melihat banyak pria berpakaian seragam, yang ia yakini sebagai seragam kerajaan, tengah mengintai Hadini.
Tiba-tiba ratusan anak panah melesat cepat kearah Hadini. Wanita itu dengan sigap menangkis hujan anak panah itu dengan pedangnya. Sayang, dari ratusan anak panah itu beberapa anak panah berhasil melukai tubuh Hadini dan membuatnya tersungkur jatuh.
" Nyai...!" panggil Rex berusaha membantu dengan cara menghadang hujan anak panah itu dengan berdiri di depan Hadini.
Namun anehnya semua anak panah itu lewat begitu saja seolah menembus bayangan.
" Nyai...!" panggil Rex panik saat melihat darah keluar dari semua mulut, hidung dan telinga Hadini.
Rupanya anak panah yang ditembakkan sengaja diolesi racun. Dan Hadini terluka dalam karena racun itu.
Sadar tak bisa membantu Hadini, Rex pun pergi menghampiri pasukan yang masih menembakkan anak panah itu. Di sana ia bisa mendengar pembicaraan para pemanah itu.
" Sampe kapan Kita terus memanah ?. Kasian wanita itu. Rasanya ga adil menyerang seorang wanita dengan cara keroyokan kaya gini. Kita kan laki-laki, sedang dia wanita. Apalagi sebagian anak panah telah dibubuhi racun...," kata seorang pemanah dengan gusar.
" Aku juga ga tega, tapi mau gimana lagi...," sahut pemanah lain.
" Emang ada dendam apa sih Putri Kenanga sama wanita itu ?. Kok bisa-bisanya nyuruh pasukan pemanah menyakiti seorang wanita saat dia duduk di pelaminan...?" tanya pemanah lain kesal.
" Sssttt..., tutup mulutmu. Tugas Kita selesai dan Kita kembali sekarang...!" kata seorang pemanah mengingatkan.
Rex mengerutkan keningnya dan melihat bagaimana pasukan pemanah yang berjumlah sepuluh orang itu mundur teratur lalu hilang di balik rimbunan pohon.
Setelahnya Rex bergegas menghampiri Hadini yang sekarat. Ia berusaha membantu Hadini namun sia-sia karena ia tak bisa menyentuh wanita itu. Tangannya seolah menyentuh bayangan dan itu membuat Rex kesal.
" Aaarrgghh..., Apa-apaan ini. Kenapa Aku ga bisa menyentuhmu Nyai...?!" tanya Rex gusar namun membuat Hadini tersenyum.
__ADS_1
" Kamu ga lupa kan kalo Kita berbeda dimensi. Kita ga akan bisa saling menyentuh Rex...," sahut Hadini.
" Lalu apa yang bisa Aku lakukan...?" tanya Rex tak enak hati.
" Sejak dulu Aku selalu penasaran siapa yang telah menyuruh mereka membunuhku...," kata Hadini lirih.
Rex mengerti apa yang diinginkan Hadini. Dengan hati-hati ia menceritakan apa yang didengarnya tadi.
" Aku ga sengaja mendengar pembicaraan para pemanah itu tadi. Mereka membicarakan seorang perempuan bernama Putri Kenanga sebagai orang yang memerintahkan mereka menyerangmu...," kata Rex ragu namun berhasil membuat Hadini terkejut.
" Pu... Putri Ke... Kenanga...?" tanya Hadini dengan suara terbata-bata.
" Iya...," sahut Rex cepat.
Entah mengapa mendengar nama itu membuat air mata jatuh berderai di wajah pucat Hadini.
" Jadi dia pelakunya. Dia..., kenapa setega ini ?. Aku telah merelakan Suamiku untuknya, tapi ternyata ini balasannya...," gumam Hadini sedih.
" Maksudmu wanita itu adalah wanita yang saat ini dinikahi Suamimu dan diangkat sebagai permaisurinya nanti...?!" tanya Rex sambil membulatkan matanya.
" Betul. Aku ga menyangka dia sejahat ini. Tapi gapapa, akhirnya Aku tau seperti apa Istri baru Suamiku itu. Makasih Rex. Sekarang ijinkan Aku pergi...," kata Hadini sambil menekan luka di dadanya.
" Tetap lah di sini dan Kamu akan liat semuanya Rex. Maaf Rex, Aku pergi sekarang...," kata Hadini.
Luka-luka di tubuh Hadini akibat anak panah beracun itu mengeluarkan cahaya kebiruan. Rex menjauh karena merasa silau.
Sesaat kemudian tubuh Hadini diselimuti cahaya biru itu lalu hancur berkeping-keping menjadi abu berbagai warna.
Rex mematung sambil mengamati abu warna warni itu. Tiba-tiba Rex terkejut karena telah berpindah tempat. Saat itu Rex ada di sebuah keramaian. Nampaknya sedang ada pesta besar di sana.
Rex mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan terkejut saat melihat pangeran Jareka tengah duduk bersanding dengan seorang wanita di pelaminan.
Namun Rex melihat jika pangeran Jareka saat itu terlihat gelisah. Berkali-kali ia menatap keluar gerbang seolah sedang menunggu seseorang. Rex yakin jika Hadini lah yang sedang ditunggu sang Sultan.
Kemudian Rex duduk sambil mengamati sepasang pengantin yang nampak sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu itu.
Pangeran Jareka seperti tak nyaman saat berdampingan dengan Putri Kenanga. Nampaknya dia juga curiga pada wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.
__ADS_1
Saat tengah hari, sepasang pengantin diarahkan masuk ke dalam istana untuk berganti kostum. Pangeran Jareka dan Putri Kenangan ditempatkan di ruangan yang berbeda.
Tiba di ruangan ganti Putri Kenanga meminta sang perias keluar sebentar karena dia ingin mengganti pakaiannya sendiri.
" Maaf Tuanku, tapi gaun kedua ini agak sulit...," kata sang perias pengantin.
" Aku tau. Nanti Kamu bisa bantu Aku pasang hiasan bajunya aja. Gimana...?" tanya Putri Kenangan setengah memaksa.
" Baik lah Tuanku...," sahut sang perias pengantin pasrah karena tak mungkin menentang perintah sang putri.
Setelah sang perias pengantin keluar dari ruangan, Putri Kenanga memanggil pria yang sembunyi di balik gorden jendela.
" Bagaimana...?" tanya Putri Kenangan setengah berbisik.
" Berhasil Tuanku...," sahut pria yang merupakan pengawal rahasia Putri Kenanga.
" Bagus. Bagaimana kondisi terakhirnya...?" tanya Putri Kenanga.
" Kami pastikan wanita itu mati Tuanku. Karena anak panah beracun yang Kami tembakkan sebagian tepat mengenai sasaran...," sahut sang pengawal sambil menundukkan wajahnya.
" Kalian memang bisa diandalkan. Aku bangga sama Kalian...," puji Putri Kenanga sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
" Maaf Tuanku. Jika Hamba boleh tau, siapa wanita itu sebenarnya...?" tanya sang pengawal rahasia.
" Wanita itu adalah istri pertama Suamiku...," sahut Putri Kenanga cepat.
" Istri pertama Sultan Jareka...? " tanya sang pengawal tak percaya.
" Iya. Sebelumnya Suamiku memang cerita kalo dia sudah menikah dan memiliki seorang Istri yang sangat ia cintai. Aku marah, Aku kesal. Aku ga mau kehadiran wanita itu jadi bumerang untuk rumah tanggaku kelak. Makanya lebih baik Aku menyingkirkannya sejak awal. Dan Aku senang karena akhirnya wanita itu tak akan lagi mengganggu Suamiku dan rumah tanggaku...," kata putri Kenanga sambil tertawa puas.
Tawa Putri Kenanga terhenti saat perias pengantin mengetuk pintu kamar. Putri Kenanga pun meminta pengawal rahasianya pergi secepatnya.
" Iya, masuk...!" kata Putri Kenanga sambil mematut diri di depan cermin.
" Sekarang Kami bantu menghias wajah Tuanku ya...," kata sang perias pengantin dengan santun.
Putri Kenanga hanya mengangguk dan membiarkan wajahnya kembali dirias.
__ADS_1
\=\=\=\=\=