Kidung Petaka

Kidung Petaka
202. Bukan Lampor


__ADS_3

Rex sedang dalam perjalanan pulang usai menunaikan tugasnya. Saat itu jalan raya lumayan lengang karena sudah melampaui 'jam sibuk'. Rex pun memacu motornya dengan kecepatan sedang karena memang tak sedang diburu waktu.


Rex berhenti di perempatan jalan tepat saat traffic light merah menyala. Rex menatap datar kearah orang-orang yang menyebrang di zebra cross.


Namun tatapan Rex membulat saat tersadar jika orang-orang yang menyebrangi zebra cross tadi tak terlihat lagi alias raib entah kemana begitu tiba di seberang jalan.


" Kemana perginya orang-orang itu, kok ga keliatan sama sekali...," gumam Rex sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Tiba-tiba traffic light berganti warna hijau hingga memaksa Rex memacu kendaraannya meninggalkan perempatan jalan itu. Rex pun mengerutkan keningnya saat menyadari dirinya hanya sendiri di jalan itu. Rex mencoba mengamati jalan di belakangnya melalui pantulan kaca spion dan tak melihat satu pun kendaraan melintas di belakangnya.


Sadar ada sesuatu yang tak biasa, Rex pun menghentikan laju kendaraannya. Kemudian Rex mengamati kondisi di sekelilingnya. Sesaat kemudian Rex menghela nafas panjang.


" Ada apa lagi ini...," gumam Rex sambil menajamkan penglihatan ke seluruh penjuru.


Saat itu lah rombongan pria sambil memanggul keranda melintas tepat di depan Rex. Dari jarak sedekat itu Rex bisa melihat dengan jelas sosok dan wajah para pria itu.


Rombongan pengusung keranda itu ternyata memiliki wajah pucat dengan kedua mata yang berupa rongga kosong. Mereka terus berjalan tanpa suara. Anehnya meski tanpa bola mata mereka bisa berjalan teratur menuju satu tempat yang sama tanpa saling berbenturan satu sama lain.


" Mirip lampor, tapi ini bukan lampor...," batin Rex sambil melantunkan dzikir panjang.


Rex melihat rombongan pengusung keranda itu berhenti tak jauh darinya. Dari jarak sekitar sepuluh meter Rex melihat para pria pengusung keranda itu menoleh serentak kearahnya. Saat melihat senyum para pria tanpa mata itu membuat bulu kuduk Rex meremang seketika.


Dan di saat yang bersamaan terdengar suara wanita bersenandung di kejauhan. Makin lama terdengar makin jelas seolah wanita yang bersenandung itu tengah berjalan mendekat kearah Rex. Saat senandung wanita terdengar makin jelas, penampakan rombongan pengusung keranda itu pun lenyap seketika tanpa jejak.


Rex mengusap wajahnya lalu menghela nafas panjang. Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sosok wanita yang telah bersenandung tadi.


Rex tersenyum saat melihat sosok wanita yang dicarinya tengah berdiri di bawah tiang traffic light yang ia lewati tadi. Wanita itu terus bersenandung lirih sambil memandang lekat kearahnya. Dan saat Rex berkedip, wanita itu pun lenyap entah kemana lalu suasana di sekitar Rex kembali normal.


Meski tak seramai biasanya, namun Rex melihat banyak kendaraan melintas di samping kanan dan kirinya. Rupanya saat itu Rex berada tepat di tengah jalan raya. Rex berdecak sebal lalu kembali menstarter motornya untuk melanjutkan perjalanan.


" Dikasih liat dimensi ghaib tapi ga harus diberhentiin di tengah jalan juga dong. Untung jalanan lagi ga rame. Coba kalo rame, bisa dimarahin orang banyak deh gara-gara berhenti di tengah jalan tanpa sebab...," gerutu Rex.


Rex melajukan motornya sambil mengamati jalan raya di belakangnya melalui pantulan kaca spion. Rex pun tersenyum saat melihat kondisi jalan raya yang kembali normal.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Seminggu kemudian lingkungan tempat tinggal Rex diramaikan dengan beredarnya berita tentang penampakan lampor. Kehebohan pun terjadi di dalam rumah saat Lanni menceritakan hal itu.


" Ya Allah, lingkungan Kita sekarang jadi ga aman Yah...," kata Lanni usai mencium punggung tangan suaminya.


" Ga aman gimana maksud Ibu...?" tanya Ramon sambil bergeser untuk memberi Lanni ruang agar bisa duduk di sampingnya.


" Tadi di pengajian Ibu-ibu pada ngomongin lampor Yah...," sahut Lanni sambil membuka hijab yang menutupi kepalanya.


" Lampor...?" ulang Ramon sambil mengerutkan keningnya.


" Iya lampor. Masa Ayah ga tau lampor sih...," kata Lanni heran.


" Mmm..., lampor itu bukannya cerita mitos yang ada keranda terbangnya gitu ya Bu...?" tanya Ramon ragu.


" Iya Yah. Betul banget...," sahut Lanni sambil tersenyum.


" Terus kenapa sama lampor itu...?" tanya Ramon.


" Petaka kaya gimana maksud Ibu...?" tanya Ramon.


" Mmm..., sejenis wabah yang menyebabkan orang meninggal dunia gitu lah pokoknya...," sahut Lanni.


" Wabah yang bikin orang meninggal dunia tuh wabah apa ?. Penyakit gitu...?" tanya Ramon.


" Iihh Ayah kok malah ngejar Ibu sih. Sana keluar cari info supaya jelas apa yang dimaksud petaka lampor sama orang-orang...," sahut Lanni sambil melengos hingga membuat Ramon tersenyum.


" Kan Ibu bilang kalo ada penampakan lampor artinya bakal ada wabah yang bikin orang meninggal dunia. Nah sekarang Ayah tanya, di lingkungan Kita ada yang meninggal dunia ga dalam beberapa hari ini...?" tanya Ramon.


" Ga ada Yah...," sahut Lanni cepat.


" Kalo gitu berita yang Ibu denger tadi hoax dong, cuma gosip recehan...," kata Ramon sambil meraih cangkir berisi kopi di atas meja lalu meneguk isinya.

__ADS_1


" Ini bukan gosip Yah. Pak Doni sama anaknya ngeliat hantu lampor itu kemarin malam. Terus Bu Eva yang bandar bawang itu juga ketemu sama hantu lampor itu pas pulang belanja di pasar induk...," kata Lanni.


" Masa sih...?" tanya Ramon tak percaya.


" Yang diliat Pak Doni sama Bu Eva itu bukan hantu lampor Bu...," kata Rex tiba-tiba.


" Kamu tau darimana kalo itu bukan lampor Nak...?" tanya Lanni sambil menoleh kearah Rex.


" Aku udah pernah ketemu sama hantu itu beberapa hari yang lalu Bu...," sahut Rex sambil memakai sepatunya.


" Ketemu dimana...?" tanya Lanni.


" Di jalan raya Bu, pas pulang dari acara seminar waktu itu...," sahut Rex.


" Wujudnya kaya gimana Rex...?" tanya Ramon penasaran.


" Wujudnya ya beberapa laki-laki menggotong keranda yang ditutupi kain hitam polos. Ga tau deh isi kerandanya apaan, karena Aku ga bisa ngeliat jelas apa yang ada di balik kain hitam itu. Tapi laki-laki pengusung keranda itu semuanya berwajah pucat dan ga punya mata Yah. Rongga matanya tuh kosong melompong ga ada bola matanya...," sahut Rex.


" Ya Allah serem banget sih...," gumam Lanni sambil bergidik.


" Terus mau apa hantu itu masuk ke lingkungan perumahan Kita Rex...?" tanya Ramon.


" Aku belum tau Yah...," sahut Rex cepat.


" Mudah-mudahan bukan sesuatu yang buruk ya Nak. Soalnya kata Ibu-ibu tadi kalo ada penampakan hantu yang bawa-bawa keranda gitu biasanya bakal ada musibah kematian yang panjang di sekitar Kita...," kata Lanni cemas.


" Insya Allah Aku cari tau dulu nanti ya Bu. Untuk sementara Ibu ga usah cerita apa-apa dulu sama warga. Aku khawatir orang pertama yang nyebarin cerita itu justru diincar untuk jadi target pertama nanti...," kata Rex sambil melangkah ke dalam kamar.


" Orang pertama yang nyebarin cerita bakal diincar jadi target pertama, itu artinya kan Kamu Rex...!" kata Lanni lantang.


Rex hanya melambaikan tangannya dengan santai lalu menutup pintu kamar.


" Gapapa, yang penting itu bukan Ibu. Kan Rex bisa berinteraksi dengan hal ghaib, dia pasti tau gimana cara menghandlenya. Jadi Ibu ga usah khawatir ya....," kata Ramon sambil menepuk punggung istrinya dengan lembut untuk menenangkannya.

__ADS_1


Lanni pun mengangguk lalu tersenyum.


bersambung


__ADS_2