Kidung Petaka

Kidung Petaka
65. Ledakan


__ADS_3

Sambil menunggu motor diperbaiki, Lilian duduk di kursi kosong yang ada di bengkel. Ia nampak merapatkan jaket Gama yang ia kenakan untuk mengusir hawa dingin yang menyerangnya.


Pria yang bersama Lilian bernama Riko, adalah teman Lilian yang berprofesi sebagai perawat di Rumah Sakit yang sama. Ia nampak lega karena kerusakan pada motornya tidak terlalu parah. Riko pun menghampiri Lilian dan duduk di sampingnya.


" Gimana Ko, lama ga benerinnya...?" tanya Lilian.


" Ga kok Li, cuma ganti oli aja. Sebentar juga beres...," sahut Riko.


" Oh, syukur deh...," kata Lilian sambil menggigil.


Edi datang mendekati Lilian dan Riko lalu memberikan minuman hangat. Keduanya langsung menyambut minuman itu dengan senang hati dan meneguknya perlahan. Setelahnya Edi kembali melanjutkan pekerjaannya.


" Bengkel ini ok juga ya. Servisnya memuaskan konsumen. Ini karena mereka kenal Kamu atau karena managemen bengkelnya yang bagus...?" tanya Riko dengan sinis sambil melirik Lilian.


Lilian tak menggubris ucapan Riko dan sibuk dengan minuman hangatnya. Sikap Lilian membuat Riko kesal. Ia menarik tangan Lilian hingga gelas yang dipegang gadis itu jatuh dan isinya berhamburan di lantai.


" Apa-apaan sih Ko...?!" kata Lilian marah.


" Aku tanya kenapa Kamu ga jawab...?" tanya Riko cuek.


" Pertanyaan konyol untuk apa dijawab...," sahut Lilian kesal sambil menjauh dari Riko.


Tepat di saat bersamaan Gama yang baru saja usai sholat Isya di masjid pun masuk dan melihat semuanya. Ia tersenyum tipis melihat Lilian mengenakan jaketnya.


Tak lama kemudian motor Riko pun selesai diperbaiki. Riko pun membayar jasa bengkel dan bersiap keluar saat itu juga.


" Ayo Li, Kita pulang sekarang...!" ajak Riko.


" Masih ujan Mas...," sela Riki.


" Gapapa Mas. Udah terlanjur basah biar sekalian basah. Kalo ditunda malah bikin penyakit...," sahut Riko.


Gama dan tiga karyawannya melihat sikap Lilian yang nampak enggan menerima ajakan Riko. Karenanya Gama maju dan menawarkan diri mengantar Lilian nanti.


" Biar Lilian sama Saya aja Mas. Kebetulan rumah Kami berdekatan karena Kami kan tetanggaan...," kata Gama sambil menatap Riko dengan tatapan yang mengintimidasi.


Riko menatap Lilian dan berharap gadis itu menolak tawaran Gama. Namun nampaknya Lilian lebih memilih Gama dibandingkan dirinya dan itu membuat Riko pasrah. Selain itu Riko tak ingin membuat masalah di tempat itu karena empat pria di sana tampak memasang sikap siaga seolah bersiap menyerangnya.


" Ya udah. Saya pulang duluan, titip Lilian ya Mas...," kata Riko lalu menstarter motornya.


Gama hanya mengangguk lalu menepi dan membiarkan Riko lewat. Empat pasang mata menatap kesal kearah Riko sedangkan Lilian nampak tak peduli.


" Untung cabut. Kalo ga, siap-siap aja dapet bogem mentah dari Gue...," kata Ipung kesal.

__ADS_1


" Betul. Tangan Gue juga mendadak gatal pengen nonjok orang...," sela Riki.


" Pacar kaya gitu mah putusin aja Mbak...!" kata Edi sambil melirik Lilian.


" Eh, dia bukan pacar Gue kok. Gue kebetulan aja pulang bareng sama dia...," sahut Lilian cepat sambil mengangkat kedua telapak tangannya.


Ucapan Lilian membuat semua tersenyum lega termasuk Gama. Ia bergegas mengambil kunci mobil di ruangannya dan bersiap mengantar Lilian.


" Gue balik duluan guys. Eh, hati-hati kepleset ya. Lantainya basah kena teh tadi...," kata Lilian mengingatkan sambil menunjuk lantai yang basah.


" Tenang aja Mbak, ntar Gue yang bersihin...," sahut Riki yang diangguki Ipung dan Edi.


" Ok deh. Assalamualaikum..., " pamit Lilian dan Gama bersamaan sambil menutup pintu mobil.


" Wa alaikumsalam...," sahut Edi, Ipung dan Riki.


Ketiganya melepas kepergian mobil Gama di ambang pintu bengkel.


" Eh, Kalian ngerasa ga sih kalo sikap Bos Gama tuh beda banget ke Mbak Lian...," kata Ipung tiba-tiba.


" Ga usah gosip Pung. Ntar gaji Lo dipotong lho sama Bos...!" kata Riki mengingatkan sambil membersihkan tumpahan teh.


" Bukan gosip, Gue cuma ngerasa kalo Bos Gama sama Mbak Lian tuh cocok dan bakal jadi pasangan yang hebat kalo sampe mereka married...," kata Ipung hingga membuat Edi dan Riki saling menatap.


" Ga usah kepo sama urusan orang. Siapa pun pasangan mereka kelak, kewajiban Kita ya cuma kasih suport supaya mereka bahagia...," kata Edi bijak dan diangguki kedua temannya.


Gama menatap ke jalan raya di depannya tanpa sekali pun menoleh kearah Lilian yang duduk di sampingnya. Bukan karena tak ingin, tapi karena ia tahu Lilian tak nyaman bersamanya.


Tak ada pembicaraan diantara mereka. Lilian sibuk mengecek pesan masuk di ponselnya. Ia mendongakkan kepalanya saat mobil berhenti. Rupanya Gama menepikan mobil di depan kios penjual mie ayam langganan Lilian.


" Kenapa ke sini...?" tanya Lilian.


" Udara dingin gini bikin lapar, makanya mampir buat ngisi perut. Mau ga...?" tanya Gama sambil melirik Lilian.


" Ok...," sahut Lilian cepat sambil membuka pintu lalu keluar dari mobil.


Gama tersenyum melihat tingkah Lilian yang sigap merespon ucapannya tadi.


" Gue tau Lo ga bakal bisa nolak mie ayam ini Lian...," gumam Gama lalu bergegas menyusul Lilian.


Lilian memesan dua mangkuk mie ayam lalu duduk di salah satu kursi kosong diikuti Gama. Lilian terlihat antusias saat mie favoritnya diantar ke mejanya. Gama yang duduk di hadapannya pun tersenyum melihat binar bahagia di wajah Lilian.


" Silakan, minumnya apa ya Mas, Mbak...?" tanya sang pelayan sambil meletakkan dua mangkuk mie ayam di atas meja.

__ADS_1


" Kopi susu panas kalo ada...," sahut Gama.


" Dua ya Mbak...," pinta Lilian.


" Baik, ditunggu sebentar ya...," sahut sang pelayan yang diangguki Lilian.


Gama dan Lilian pun mulai menyantap mie ayam di hadapan mereka. Namun tiba-tiba Gama mendengar suara senandung aneh di kejauhan. Gama menghentikan suapannya lalu menatap ke sekelilingnya untuk mencari sumber suara.


Awalnya Gama mengira jika itu adalah suara pengamen yang biasa datang ke tempat seperti itu untuk mencari peruntungan. Namun Gama tak melihat seorang pengamen pun di sana. Selain itu Gama juga melihat tak seorang pun terusik dengan suara itu kecuali dirinya.


Dengan sigap Gama menarik tangan Lilian hingga membuat gadis itu terkejut.


" Apaan sih Gam, Gue lagi makan nih...!" kata Lilian sambil menatap keasal kearah Gama.


" Kita harus pergi sekarang. Ayo buruan...!" ajak Gama sambil melangkah lebar menuju kasir.


Gama membayar mie dan kopi pesanannya sambil terus mencekal tangan Lilian. Setelahnya ia membawa gadis itu keluar dari tempat itu.


" Tapi mienya belum abis Gam...!" protes Lilian.


" Ntar kapan-kapan beli lagi, sama pabriknya sekalian biar Lo puas...!" sahut Gama cuek sambil mendorong paksa tubuh Lilian ke dalam mobil.


Lilian nampak kesal karena merasa Gama mengganggu kesenangannya. Lilian terus menatap Gama yang menstarter mobilnya lalu melajukannya dengan cepat hingga tak sengaja menabrak pembatas jalan.


" Astaghfirullah..., kenapa sih Gam. Lo kesurupan ya...?!" tanya Lilian lantang sambil berpegangan erat.


" Ada suara senandung aneh itu lagi. Dan Gue inget pesen Rex yang nyuruh Gue menjauh saat mendengar suara itu...," sahut Gama cepat.


" Tapi Gue ga denger apa-apa. Lo halu kali...," kata Lilian sambil melengos.


" Terserah Lo mau bilang apa. Yang penting Gue udah bawa Lo keluar dari sana karena Gue ga mau Kita celaka...," sahut Gama cepat.


" Tapi bisa ntar aja kan. Orang-orang itu juga masih asyik makan dan ga terpengaruh sama suara yang Lo denger itu...," kata Lilian tak mau kalah.


" Itu karena mereka ga denger dan ga tau...," sahut Gama.


" Tapi...," ucapan Lilian terputus saat terdengar suara ledakan di belakang mereka.


" Duaarrr...!!"


Lilian dan Gama terkejut lalu melihat kearah belakang. Jika Lilian menolehkan kepala untuk melihat apa yang terjadi, maka Gama melihat melalui pantulan cermin kaca spion.


" Gama kios itu...!" kata Lilian sambil menunjuk kearah kios mie ayam yang telah diselimuti si jago merah.

__ADS_1


Gama refleks menginjak pedal rem lalu menoleh ke belakang. Ia terpaku di tempat dengan wajah pucat karena tak bisa membayangkan jika dia dan Lilian ada di dalam kios yang terbakar itu.


bersambung


__ADS_2