Kidung Petaka

Kidung Petaka
67. Ditelephon Polisi


__ADS_3

Keheningan yang melingkupi ruang tamu rumah Ramon pun berakhir saat ponsel Rex berdering. Rupanya ia mendapat telephon dari seseorang. Dari raut wajahnya bisa ditebak jika orang di sebrang telephon menyampaikan sebuah berita yang tak biasa.


Ramon dan Lanni saling menatap cemas. Sedangkan Gama tetap diam sambil terus mengamati sang sahabat hingga Rex mengakhiri pembicaraannya via telephon itu.


" Ada apa Rex...?" tanya Ramon dan Gama bersamaan.


Rex nampak tersenyum melihat dua pria di hadapannya berubah menjadi lebih 'kepo' dari biasanya.


" Ini Taufan. Kasus ledakan kios mie ayam itu jadi tanggung jawabnya karena berada di wilayah kerjanya...," sahut Rex.


" Terus...?" tanya Gama tak sabar.


" Sekarang Taufan lagi ngeliat rekaman kamera CCTV yang terpasang ga jauh dari lokasi kejadian. Dan katanya dia ngeliat sepasang wanita dan pria keluar dari kios itu tergesa-gesa. Waktu gambarnya dizoom, ternyata dia ngenalin mereka...," sahut Rex gusar.


" Siapa mereka...?" tanya Ramon tak sabar.


" Gama dan Kak Lian...," sahut Rex cepat sambil menatap Gama dan Lilian bergantian.


Gama terkejut hingga terlonjak dari duduknya. Sedangkan Lilian langsung mengurai pelukannya pada sang ibu lalu menoleh kearah Rex.


" Apa artinya Aku sama Gama jadi tersangka Rex...?" tanya Lilian cemas.


" Tersangka apa sih Kak. Kamu sama Gama kan cuma kebetulan makan di sana dan pergi lebih awal. Makanya Kalian tetap hidup dan selamat sampe rumah...," sela Lanni dengan mimik wajah tak suka.


" Betul yang Ibu bilang. Kayanya terlalu cepat kalo Kakak dan Gama ditetapkan jadi tersangka. Taufan cuma ngabarin Kalian bakal jadi salah satu saksi penting karena terlihat di lokasi sebelum kios itu meledak. Mungkin akan ada petugas yang datang nemuin Kalian nanti. Jangan khawatir Kak, bukan cuma Kakak sama Gama aja yang jadi saksi. Ada beberapa orang yang juga bakal dimintain keterangan sama Polisi...," kata Rex.


" Oh gitu...," sahut Gama sambil menghela nafas lega.


Jika Gama terlihat santai, hal berbeda justru diperlihatkan Lilian. Ia nampak tak siap jika ditanyai polisi tentang keberadaannya di sana.


" Terus Aku harus jawab gimana Rex...?" tanya Lilian bingung.


" Kakak tinggal jawab pertanyaan Polisi aja. Ga usah nervous Kak, santai aja...," sahut Rex cepat.


" Iya tau. Terus Kakak harus jawab pertanyaan yang mana, semuanya...?" tanya Lilian gusar.

__ADS_1


" Iya dong. Misalnya apa yang Kakak lakukan, kenapa ke sana, makan apa, kenapa pergi lebih awal, dan lain-lain. Jujur aja ga usah bohong. Karena penampakan Kakak sama Gama udah terekam kamera jadi ga usah berkelit...," sahut Rex.


" Sedetail itu...?" tanya Lilian tak percaya.


" Iya. Itu cuma contoh kecil aja Kak...," sahut Rex sambil mengangguk.


" Dan harus jujur, ga usah bohong...," ulang Lilian sambil melirik kearah Gama.


" Betul. Kakak kan emang ga melakukan apa pun di sana, jadi ga usah panik...," kata Rex tenang.


" Kakak emang ga melakukan apa pun selain makan. Cuma sayangnya mie ayam belum abis, eh udah keburu cabut...," sahut Lilian sambil melengos kesal.


" Udah Kak, jangan sesali semangkuk mie yang gagal Kamu nikmati itu. Apa menurut Kamu semangkuk mie ayam itu lebih berharga daripada nyawamu dan Gama...?" tanya Lanni dengan suara tercekat.


Ucapan Lanni membuat Lilian tersentak. Lilian merasa bod*h karena tak mensyukuri kehidupan yang masih Allah berikan untuknya. Perlahan Lilian meraih tangan sang ibu lalu menggenggamnya erat sambil mengucapkan kalimat penyesalan.


" Maaf ya Bu. Aku emang bodoh karena ga bersyukur. Padahal orang lain yang ada di lokasi yang sama aja ga bisa selamat, eh Aku malah sibuk meratapi semangkuk mie ayam. Maaf ya Bu...," kata Lilian.


" Bagus kalo Kamu mengerti. Tapi apa Kamu udah bilang terima ksaih sama Gama yang udah jadi mediator yang Allah pilih untuk menyelamatkan Kamu...?" tanya Lanni sambil menatap Lilian lekat.


" Aku lupa Bu...," kata Lilian salah tingkah.


" Gimana sih Kamu. Masa hal sederhana kaya gini aja masih harus diajarin...?" tanya Lanni kesal.


" Iya Bu, maaf...," sahut Lilian.


" Maaf, maaf. Ibu minta Kamu bilang terima kasih sama Gama bukannya malah berkali-kali minta maaf sama Ibu Lian...!" kata Lanni gusar.


Lilian pun segera melepaskan genggaman tangannya lalu memperbaiki duduknya. Kemudian perlahan ia mengangkat wajahnya dan mengarahkannya kearah Gama yang terlihat cuek itu.


" Gama...!" panggil Lilian.


" Hmmm...," sahut Gama cepat.


" Makasih ya udah nolongin Gue. Maaf kalo sempet marah-marah dan salah paham tadi...," kata Lilian sambil menautkan jari tangannya dengan gelisah.

__ADS_1


" Iya sama-sama...," sahut Gama sambil tersenyum.


Entah mengapa melihat senyum Gama membuat Lilian kesal lalu membuang pandangannya kearah lain. Ramon, Lanni dan Rex pun tersenyum melihat aksi Lilian. Ternyata di balik sikap judesnya itu Lilian adalah sosok yabg lembut. Meski pun memendam kesal tapi Lilian masih bisa bersikap sebagaimana mestinya pada Gama, pria yang telah menyelamatkan hidupnya itu.


\=\=\=\=\=


Rex mengantar Gama keluar dari rumah. Mereka berbincang sejenak di ambang pintu pagar sebelum Gama pergi.


" Taufan bilang ga kapan Gue sama Kakak Lo bakal dipanggil untuk ditanyain sama Polisi...? " tanya Gama sambil menghentikan langkahnya.


" Ga sih. Kenapa emangnya...?" tanya Rex.


" Gapapa, nanya doang...," sahut Gama sambil nyengir.


" Kalo Polisi tanya-tanya nanti, tolong diskip aja soal senandung ghaib itu ya Gam...," pinta Rex.


" Lho kenapa ?. Apa ga sebaiknya Kita kasih tau pihak Kepolisian aja ?. Siapa tau mereka bisa bantu. Kan selama ini Kita juga nyari pemilik suara itu. Kali aja bisa cepet ketemu kalo ngelibatin Polisi...," kata Gama.


" Jangan Gam. Belum saatnya atau justru ga perlu Polisi tau...," sahut Rex.


" Kenapa...?" tanya Gama tak mengerti.


" Gue pikir ini semacam tanda atau firasat yang dikasih oleh seseorang atau sesuatu kepada Kita. Tujuannya jelas supaya Kita bisa berhati-hati. Bukannya tiap kali suara ini terdengar pasti ada bencana yang terjadi di sekitar Kita...?" tanya Rex dengan mimik wajah serius.


" Mmm..., iya juga sih. Tadi aja Gue langsung ngeh kalo suara itu adalah sinyal yang dikirim untuk Gue. Yah, walau sejujurnya ngedenger suara itu bikin bulu kuduk Gue merinding. Abisnya suaranya itu aneh sih. Dibilang jauh tapi deket. Dibilang nyanyi lagu sedih juga ga. Kadang Gue masih bisa nikmatin senandung yang dibawain si penyanyi. Tapi inget sama pesen Lo tempo hari makanya Gue milih langsung cabut dari kios mie itu...," kata Gama sambil nyengir.


" Jadi kesimpulannya Kita sangat terbantu mendengar senandung ghaib itu. Itu artinya Kita punya detektor bencana ampuh yang bisa bikin Kita lebih waspada. Iya kan Gam...?" tanya Rex sambil menatap Gama.


" Iya...," sahut Gama setuju.


" Jadi Kita deal ya...," kata Rex sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Gama dengan cepat.


" Ok. Kalo gitu Gue balik sekarang ya. Capek nih Gue, mau istirahat...," pamit Gama.


Rex pun mengangguk lalu melepas kepergian sahabatnya itu sambil tersenyum.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2