Kidung Petaka

Kidung Petaka
199. Pilihan Elvira


__ADS_3

Kepergian sang kekasih membuat satu sisi hati Rex terasa kosong. Meski pun masih bisa melakukan video call, tapi Rex merasa berbeda. Apalagi waktu mereka untuk berbincang seringkali tertunda karena kesibukan masing-masing.


Saat sedang menunggu sang kekasih merespon telephonnya, Rex pun mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Saat itu Rex teringat dengan sample lendir berbau menyengat yang diambilnya dari kamar Elvira.


Rex pun mengakhiri pembicaraannya dengan dokter Aksara lalu bergegas meraih gelas berisi barang temuannya itu.


Entah mengapa saat menyentuhnya Rex merasa tak nyaman. Ia teringat ustadz Akbar lalu segera menghubunginya. Setelah saling menyapa Rex pun bertanya tentang kondisi Elvira.


" Alhamdulillah Elvira baik-baik aja Mas...," kata ustadz Akbar.


" Gitu ya Ustadz. Tapi bisa Saya bicara sama Bu Elvira sekarang kan Ustadz. Ini penting...," kata Rex penuh harap.


Ustadz Akbar mengangguk lalu bergegas menemui Elvira dan memintanya bicara langsung dengan Rex.


" Kita video callan aja Bu...," pinta Rex.


" Iya Kapten...," sahut Elvira.


Saat melihat kondisi Elvira langsung dari layar ponselnya, Rex mengerti jika saat itu Elvira dalam keadaan tak baik-baik saja.


" Sekarang Kamu keluar dari kamar Bu Elvira...!" perintah Rex.


" Tapi Saya lagi nyiapin tugas buat anak-anak besok Kapten...," sahut Elvira.


" Sekarang...!" kata Rex lantang hingga membuat Elvira terkejut.


Elvira pun bergegas keluar dari kamar. Ustadz Akbar yang melihat wajah pucat Elvira pun terkejut dan bertanya.


" Kenapa Vir...?" tanya ustadz Akbar.


" Ga tau Pakde. Kapten nyuruh Aku keluar dari kamar, tapi kaya buru-buru gitu. Aku kok jadi takut ya Pakde...," sahut Elvira gusar.


Ustadz Akbar segera merebut ponsel dari tangan Elvira dan bicara dengan Rex.


" Ada apa Mas Rex...?!" tanya ustadz Akbar.


" Tolong jaga dia sampe Saya datang, jangan biarkan dia masuk ke kamar Ustadz. Saya ke sana sekarang...," sahut Rex lalu mengakhiri pembicaraan.


Kemudian Rex bergegas keluar dari kamar. Saat itu ia berpapasan dengan Ramon dan Lanni. Melihat sikap sang anak yang gelisah membuat Ramon cemas dan memaksa untuk ikut walau awalnya Rex menolak.


" Biarin Ayah nganter Kamu Nak. Ibu lebih tenang jadinya...," kata Lanni.


" Ok Bu. Aku pergi sekarang ya, ayo Yah...," kata Rex sambil bergegas masuk ke dalam mobil.


" Iya. Ayah nganterin Rex dulu ya Bu, Assalamualaikum..., " pamit Ramon sambil mengecup kening sang istri.


" Wa alaikumsalam, hati-hati ya...," kata Lanni yang disambut lambaian tangan Ramon dan Rex.

__ADS_1


Mobil melaju cepat menuju rumah ustadz Akbar. Di perjalanan Rex memberitahu sang ayah apa saja yang harus dilakukan nanti saat ia membantu Elvira. Ramon nampak menganggukkan kepala tanda mengerti.


Setengah jam kemudian mereka tiba di depan rumah ustadz Akbar. Rex turun dari mobil sambil tersenyum simpul.


" Kenapa senyum-senyum gitu Rex...?" tanya Ramon.


" Ga nyangka ternyata Ayah jago juga. Apa Ibu tau kalo Ayah bisa balapan...?" tanya Rex.


" Sssttt..., jangan kasih tau Ibu ya Rex. Ayah ga mau ribut. Lagian ini kan darurat, jadi gapapa dong...," sahut Ramon dengan cepat hingga membuat Rex tertawa.


Pintu rumah terbuka sebelum Rex mengetuk pintu. Wajah ustadz Akbar nampak cemas dan Rex paham itu. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan melihat Elvira yang menggelepar di lantai.


" Keliatannya Bu Elvira udah melanggar pesan Saya Ustadz...," kata Rex sambil menggelengkan kepala.


" Saya kecolongan Mas Rex. Vira masuk ke kamarnya saat Saya lagi sholat Dhuha tadi. Saya kira dia bakal nurutin pesen Saya, ga taunya...," ucapan ustadz Akbar terputus karena Rex memotong cepat.


" Gapapa Ustadz. Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Kita letakkan Elvira di tempat yang lapang biar bisa leluasa bergerak...," kata Rex yang diangguki ustadz Akbar.


" Di ruang tengah aja Mas Rex...," sahut ustadz Akbar.


Kemudian Rex dan Ramon menggotong tubuh Elvira ke ruang tengah dimana ustadz Akbar menggelar karpet. Saat diletakkan di atas karpet tubuh Elvira yang semula telentang tiba-tiba menelungkup. Kemudian dia membuat gerakan mirip hewan reptil yang sedang berjalan menggunakan dua tangan dan kakinya.


" Dia udah masuk Ustadz...," kata Rex.


" Siapa Mas...?" tanya ustadz Akbar.


" Halim...," sahut Rex cepat.


" Kita mundur sedikit Ustadz. Biar Rex bisa leluasa membantu Elvira...," bisik Ramon sambil menepuk bahu ustadz Akbar.


Ustadz Akbar mengangguk lalu bergeser menjauh. Dari jarak tiga meter ia bisa menyaksikan bagaimana Rex berusaha menyelamatkan keponakannya dari dimensi ghaib.


Tubuh ustadz Akbar melemah seolah tak bertulang saat menyaksikan kondisi Elvira yang mengenaskan. Air mata pun mengalir di sudut matanya. Ia menjadi rapuh saat itu. Ramon menepuk punggung sang ustadz dengan lembut untuk memberi suport. Ustadz Akbar menoleh dan tersenyum lalu mengalirlah dzikir dari bibirnya.


" Subhanallah walhamdulillah wala ilaha ilallah Allahu akbar. Laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim..., " gumam ustadz Akbar berulang-ulang.


Saat ustadz Akbar berdzikir, Ramon membaca beberapa surah pendek sesuai pesan Rex tadi. Di depan sana Rex nampak berdiri tegak setelah berhasil melukai siluman biawak itu.


" Berhenti mengganggunya atau Kau akan rasakan akibatnya...! " kata Rex marah.


" Dia milikku. Dan tak seorang pun bisa mencegah Aku untuk menjemputnya...!" sahut siluman biawak dengan tubuh yang penuh luka.


" Kalian berbeda dan dia tak ingin bersamamu...!" kata Rex.


" Kenapa Kau begitu yakin jika dia tak ingin bersamaku...?" tanya siluman biawak sambil tersenyum sinis.


" Apa maksudmu...?" tanya Rex tak mengerti.

__ADS_1


" Tanya padanya, apakah dia menolakku atau justru ingin ikut denganku...," sahut siluman biawak dengan santai sambil melirik Elvira.


Rex pun menoleh kearah Elvira. Ia menyaksikan gadis itu kepayahan dan hampir tak sanggup bertahan. Rex bergegas mendekati Elvira dan bertanya padanya.


" Apa yang Kamu inginkan Elvira...?" tanya Rex.


Elvira nampak menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tubuh Elvira yang telungkup itu nampak mulai melemah, nafasnya pun tersengal-sengal, keringat membanjiri sekujur tubuh dan wajahnya, suara geraman halus pun terdengar dari bibirnya dan Rex tahu Elvira tengah kesakitan.


" Dia bilang dia datang untuk menjemputmu. Apa Kamu mau ikut sama dia Elvira...?" tanya Rex dengan suara bergetar.


Di luar dugaan, Elvira nampak menganggukkan kepalanya dan itu membuat Rex terkejut bukan kepalang.


" Lihat lah. Kau tau Aku tak memaksanya. Dia merasa nyaman bersamaku karena Aku memberinya rasa bahagia, sesuatu yang tak pernah dia miliki selama ini...," kata siluman biawak dengan angkuh.


Rex menoleh dan menatap siluman biawak itu dengan tatapan tajam hingga membuat nyali siluman biawak itu menciut.


" Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku membawanya untuk menjadikannya permaisuri karena Aku mencintainya. Jadi Kau tak perlu khawatir Aku akan menyia-nyiakan hidupnya...," kata siluman biawak itu.


Tiba-tiba tubuh Elvira mengejang hebat. Rupanya Elvira menerima lamaran sang siluman biawak itu dan kini ruhnya tengah berusaha lepas dari raganya.


Rex memberi isyarat kearah ustadz Akbar yang kemudian bergerak mendekati Elvira.


" Elvira, bangun Nak. Jangan pergi ya, masih ada Pakde di sini...," kata ustadz Akbar dengan suara parau.


" Aaarrrggghhh...," sahut Elvira sambil menatap sang ustadz dengan wajah bersimbah air mata.


" Baik lah Nak. Pergi lah jika Kamu ingin pergi. Sekarang ikutin Pakde ya. Laa ilaha ilallah Muhammadur Rosulullah...," bisik ustadz Akbar dengan air mata berlinang.


Elvira nampak menggerakkan bibirnya mengikuti ucapan sang ustadz walau tak ada suara yang keluar dari bibirnya.


Setelah mengucapkan kalimat tahlil itu, Elvira memejamkan matanya. Ustadz Akbar menunduk dalam lalu mengucap istirja.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., " gumam ustadz Akbar dengan air mata berderai.


Ramon nampak menghela nafas panjang saat mengetahui Elvira meninggal dunia. Setelah mengucap istirja, Ramon membantu ustadz Akbar membalikkan tubuh Elvira yang telungkup itu agar bisa telentang.


Rex masih berdiri di posisi semula sambil menatap nanar kearah satu titik. Di sana ia melihat Elvira tersenyum bahagia di dalam pelukan Halim, pria jelmaan siluman biawak itu. Bahkan sebelum pergi keduanya menoleh kearah Rex.


" Makasih Kapten. Maaf telah membuatmu repot...," kata Elvira sambil tersenyum.


" Sama-sama. Berjanjilah untuk bahagia Elvira. Dan ingat, Kamu ga akan pernah bisa kembali ke sini lagi walau Kamu menangis darah sekali pun...," kata Rex mengingatkan.


" Aku tau...," sahut Elvira cepat.


" Aku janji akan menjaganya dan membuatnya bahagia Rex...," kata siluman biawak sambil memeluk Elvira dengan erat lalu lenyap bersama angin.


Rex mengusap wajahnya dengan gusar lalu melirik kearah jasad Elvira.

__ADS_1


" Semoga Kamu bahagia dengan pilihanmu Elvira...," batin Rex sambil tersenyum penuh makna.


bersambung


__ADS_2