Kidung Petaka

Kidung Petaka
175. Belum Ingin Menikah


__ADS_3

Elvira nampak ragu meminta bantuan Rex setelah mendengar penjelasan sang Kapten tadi. Sedangkan ustadz Akbar merasa jika hanya Rex yang bisa diandalkan saat ini.


" Gimana Vir, Kamu mau ga dibantuin sama Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar karena tak ingin memaksakan sesuatu pada gadis itu.


Bukan tanpa alasan ustadz Akbar meminta persetujuan Elvira. Ia merasa beban hidup gadis itu sudah lumayan berat.


Di usianya yang masih belia Elvira harus berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya agar bisa mendapat tempat yang nyaman untuk ia tinggali. Itu karena Elvira tak ingin tinggal bersama orangtuanya yang digadang-gadang akan menikah dengan orang lain. Elvira merasa tak siap beradaptasi dengan suasana baru. Selain itu Elvira masih berharap kedua orangtuanya bisa kembali rujuk dan mereka bisa kembali tinggal bersama sebagai satu keluarga seperti dulu.


Sayangnya harapan Elvira tak pernah terwujud. Kedua orangtuanya justru makin jauh. Bahkan sang ayah telah menikah dengan wanita lain dan memiliki kehidupan baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Beruntung di saat Elvira bingung mencari sandaran sekaligus tempat tinggal, Tarsih datang untuk merangkulnya. Tarsih membuka tangan lebar-lebar untuk Elvira hingga gadis itu bisa tinggal di panti sampai sekarang.


" Vira...," panggil ustadz Akbar hati-hati hingga menyadarkan Elvira.


" Eh, iya. Kenapa Pakde...?" tanya Elvira gugup.


" Gimana, Kamu mau ga dibantuin sama Kapten Rex...?" ulang ustadz Akbar.


" Aku bingung Pakde, Aku ga enak sama Kapten Rex. Kalo nantinya memberatkan Kapten, apalagi sampe memaksa Kapten menikahi Aku, lebih baik ga usah Pakde. Jujur saat ini Aku belum ingin menikah, walau pun itu hanya pernikahan pura-pura. Lebih baik Aku nunggu Pakde pulih aja nanti...," sahut Elvira tegas.


Jawaban Elvira membuat ustadz Akbar sedih namun ia sadar tak bisa memaksakan kehendak pada keponakannya yang keras kepala itu. Sementara itu Rex terlihat santai karena baginya apa pun yang terjadi ia akan siap membantu.


" Baik lah kalo itu keputusanmu. Tapi janji Kamu akan tetap menjaga diri dan jangan lengah. Jaga sholat lima waktu dan dzikirmu ya Nak...," kata ustadz Akbar.


" Iya Pakde...," sahut Elvira sambil tersenyum.


" Sekarang Pakde pulang dulu. Titip salam aja buat Bu Tarsih dan pengurus panti lainnya...," kata ustadz Akbar.


" Iya. Semoga Pakde bisa pulih lebih cepat jadi Aku ga harus sendirian menghadapi makhluk itu...," kata Elvira penuh harap.


" Aamiin. Ayo Mas Rex...," ajak ustadz Akbar.


" Siap Ustadz. Saya pulang dulu ya Bu Elvira. Assalamualaikum..., " kata Rex sambil menstarter motornya.

__ADS_1


" Wa alaikumsalam. Hati-hati ya Pakde, Kapten...," kata Elvira sambil melambaikan tangannya.


Ustadz Akbar membalas lambaian tangan Elvira sedangkan Rex hanya tersenyum sambil melajukan motornya meninggalkan panti asuhan itu.


\=\=\=\=\=


Sesuai janjinya, Rex menceritakan apa yang tengah dialami Elvira pada kedua orangtuanya.


" Kasian banget ya...," kata Lanni.


" Iya Bu...," sahut Rex cepat.


" Kenapa Kamu ga mau membantunya Nak...?" tanya Ramon.


" Insya Allah Aku bakal bantuin dia Yah. Tanpa diminta pun Aku dengan senang hati membantu. Tapi kalo membantunya dengan cara menikahi dia, kayanya Aku ga bisa...," sahut Rex sambil menggelengkan kepalanya.


" Apa hanya itu caranya membantu Elvira...?" tanya Lanni.


" Biasanya sih begitu. Bu Elvira itu sedang dicintai makhluk halus. Dan biasanya orang yang dicintai makhluk halus itu hanya bisa lepas jika orang itu sudah memiliki pasangan sungguhan alias menikah. Karena di dalam pernikahan ada ikrar antara manusia dengan Rabbnya. Makanya makhluk halus akan mundur dan ga berani mengganggu orang yang telah menikah karena ikatan mereka disaksikan Allah Tuhan semesta alam...," sahut Rex menjelaskan.


" Tapi kenapa Kamu ga mau menikahi dia, apa dia ga menarik...?" tanya Ramon.


" Bukan itu Yah. Bu Elvira itu menarik kok, cantik dan jago berantem. Saat ini dia masih ingin bebas dan belum ingin menikah...," sahut Rex.


" Bu Elvira, Bu Elvira. Kenapa Kamu memanggilnya dengan sebutan Ibu. Bukannya Elvira itu masih muda ya...?" tanya Lanni sedikit kesal.


" Dia itu seorang guru Bu. Aku udah biasa manggil dia Bu Elvira untuk menghormati profesinya...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Oh gitu. Soalnya Ibu merasa terganggu denger cara Kamu menyebut namanya...," kata Lanni ikut tersenyum.


" Jadi apa Kamu ga tertarik sama Bu guru Elvira itu Rex...?" tanya Ramon sungguh-sungguh bahkan kali ini disertai tatapan menyelidik.


" Aku hanya menganggapnya teman Yah, ga lebih...," sahut Rex dengan enggan.

__ADS_1


" Hanya itu...?" kejar Ramon tak percaya.


" Iya. Apalagi emangnya...?" tantang Rex.


" Ayah kira Kamu udah punya calon makanya Kamu menolak Elvira...," kata Ramon santai namun membuat Rex salah tingkah.


" Bukan calon Yah. Kalo gebetan aja sih ada...," sahut Rex sambil tersenyum malu-malu.


" Masa sih, siapa namanya ?. Kerja atau...," ucapan Lanni terputus karena Rex memotong cepat.


" Dia dokter Bu. Tapi sayangnya agak sulit buat masuk ke dalam lingkungan keluarganya. Mungkin karena dia baru aja putus sama tunangannya, makanya orangtuanya sedikit membatasi dia untuk menjalin hubungan baru dengan cowok lain termasuk Aku. Padahal Aku maunya kalo menjalin hubungan ya harus direstui sama orangtua masing-masing biar lancar jalannya. Kalo orangtuanya belum ngasih restu, ya Aku mau bilang apa. Mungkin saat ini hanya bisa menunggu sambil berdoa supaya hati kedua orangtuanya bisa segera luluh...," kata Rex panjang lebar.


Lanni dan Ramon nampak saling menatap lalu tersenyum. Mereka merasa iba dengan nasib percintaan Rex yang nampaknya tak berjalan mulus. Selalu ada batu sandungan yang menjegal langkahnya.


" Sabar ya Nak. Kalo Kamu dan dia berjodoh pasti akan ada jalannya nanti...," kata Lanni sambil mengusap kepala Rex dengan lembut.


" Aamiin. Makasih ya Bu...," kata Rex sambil memeluk sang ibu.


" Sama-sama...," sahut Lanni sambil tersenyum.


" Saran Ayah, ga ada salahnya Kamu juga membuka hati untuk wqnita lain. Daripada Kamu mengharap sama satu orang dan berakhir kecewa, setidaknya Kamu masih punya orang lain yang bisa Kamu andalkan untuk jadi penggantinya andai dia pergi nanti...," kata Ramon.


" Apa boleh begitu Yah...?" tanya Rex.


" Boleh, siapa bilang ga boleh. Kamu kan belum memiliki ikatan apa pun sama gebetanmu itu atau gadis mana pun. Jadi Kamu masih bebas memilih. Andai Ibu jadi Kamu, Ibu juga bakal ngambil sikap yang sama seperti yang Ayah bilang...," sahut Lanni cepat.


" Betul kata Ibu. Yang salah itu kalo Kamu udah punya pacar atau tunangan, eh Kamu malah tebar pesona sama cewek lain. Kalo kaya gitu ga usah mereka yang marah, biar Ayah aja yang ngasih Kamu pelajaran...," kata Ramon sambil meniup kepalan tangannya beberapa kali hingga membuat Lanni tertawa.


Meski pun itu hanya gurauan, tapi Rex tahu jika sang ayah serius dengan ucapannya. Karena itu Rex hanya diam sambil tersenyum kecut melihat cara sang ayah mengancamnya.


" Hidup ini terus berjalan Nak. Daripada berharap pada sesuatu yang ga pasti, lebih baik membuka hati dan pikiran untuk yang lain...," kata Lanni sambil mengusap punggung Rex dengan lembut.


Ucapan lembut Lanni mempu membuat sisi hati Rex tersentuh. Ia nampak berpikir untuk segera mengambil sikap.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2