Kidung Petaka

Kidung Petaka
92. Tentang Cinta


__ADS_3

Usai makan siang, Lilian pergi ke dapur untuk mencuci piring bekas mereka makan tadi. Sedangkan Rex masuk ke ruang makan untuk mengambil obat lalu meletakkannya di meja di hadapan Gama.


" Baru banget makan Rex, ntar aja kali...," kata Gama dengan wajah tak suka.


" Gue tau. Gue siapin biar Lo ga banyak alasan dan bisa minum obat di depan Gue...," sahut Rex santai.


" Lo ga percaya kalo Gue bakal minum obat itu Rex ?. Tadi aja ga ada yang ngeliatin Gue minum obat kok, masa iya sekarang ga...," kata Gama kesal.


" Tadi karena lukanya masih nyeri. Kalo udah ga nyeri pasti Lo ga bakal minum obatnya. Iya kan...?" tanya Rex sambil tersenyum usil.


" Ck, ribet banget Lo kaya Kakak Lo...," gerutu Gama sambil melengos.


" Ehm !. Tapi yang ribet kaya gini yang dicari orang Gam...!" sahut Lilian dari dapur hingga membuat Rex dan Gama saling menatap sambil membulatkan mata.


" Rasain Lo. Gue ga ikutan ya...," kata Rex setengah berbisik lalu melangkah ke teras rumah meninggalkan Gama seorang diri.


" Reexxx...!" panggil Gama juga setengah berbisik.


Tak ada sahutan. Rupanya Rex sengaja menjauh karena tak ingin mendapat omelan sang kakak.


" Kenapa obatnya belum diminum...?" tanya Lilian dari ambang pintu tengah.


" Iya, sebentar lagi. Kan baru banget makan...," sahut Gama sambil nyengir.


" Baru makan ?, itu udah lima belas menit yang lalu Gam. Lo bisa minum obat sekarang dan jangan banyak alasan ya...!" kata Lilian sambil meraih obat dari atas meja lalu menyodorkannya kearah Gama.


Gama mematung menatap Lilian yang berdiri dengan wajah galaknya itu. Untuk sesaat tatapan mereka kembali bertemu. Sadar jika dirinya diamati sedemikian rupa oleh Gama membuat Lilian sedikit gugup.


" Apa liat-liat...?! " tanya Lilian ketus.


" Ck. Ga adik ga kakak kenapa galak semua sih. Lo berdua bukan turunan serigala kan...?" gerutu Gama sambil berdecak sebal.


Ucapan Gama membuat Lilian terkejut lalu refleks menjewer telinganya hingga Gama mengaduh kesakitan.


" Sakiiitt wooiii...!" jerit Gama sambil menahan tangan Lilian yang terus mencari sasaran.


" Rasain !. Makanya kalo ngomong tuh diatur...," kata Lilian gemas sambil beralih mencubiti Gama.


Karena tak tahan dengan rasa sakit akibat cubitan Lilian ditambah nyeri pada luka di perutnya, dengan sigap Gama menarik kedua tangan Lilian hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.


Hening.


Gama dan Lilian saling menatap dalam keheningan. Jantung Gama berpacu cepat karena hampir tak bisa menguasai diri saat bersentuhan dengan Lilian. Gama juga kembali teringat dengan moment ciuman waktu itu hingga tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya ke wajah Lilian.


Lilian nampak mengerjapkan matanya saat menyadari tatapan Gama yang berbeda. Entah mengapa, menatap Gama sedekat ini membuat perasaannya kacau dan jantungnya berdetak tak beraturan.


Saat bibir Gama hampir menyentuh bibirnya, dengan cepat Lilian mendorong Gama hingga membentur sandaran sofa. Gama nampak mengusap wajahnya untuk meredakan gemuruh jantungnya yang mengg*la. Sedangkan Lilian kembali meraih obat dari atas meja karena obat yang tadi ia sodorkan sudah jatuh ke lantai.

__ADS_1


Dari tempat duduknya Gama mengamati Lilian dengan intens seolah tak ingin waktu berlalu.


" Ini, minum obatnya. Kalo udah istirahat. Jangan lupa sholat Dzuhur...," kata Lilian tanpa menatap Gama.


" Makasih...," kata Gama setelah meminum obatnya.


" Sama-sama. Kalo gitu Gue balik ya Gam. Assalamualaikum..., " kata Lilian lalu bergegas keluar dari rumah Gama.


Di ambang pintu Lilian berpapasan dengan Rex yang nampak menatap sang kakak dengan tatapan tak biasa.


" Aku pulang duluan ya Rex...," kata Lilian.


" Ok. Aku di sini dulu ya Kak, gapapa kan...?" tanya Rex.


" Gapapa. Tapi jangan sampe malam ya. Aku agak ga nyaman di rumah sendirian...," pinta Lilian.


" Iya. Sebelum Maghrib Aku udah di rumah kok...," sahut Rex yang diangguki Lilian.


Kemudian Lilian melangkah cepat menyusuri jalan di depan rumah Gama.


Rex masuk ke dalam rumah dan mendapati Gama tengah mematung dengan wajah kusut.


" Gam...!" panggil Rex hingga mengejutkan Gama.


" Eh, iya Rex...," sahut Gama gugup sambil memperbaiki posisi duduknya.


" Apa ga ada yang mau Lo jelasin ke Gue Gam...?" tanya Rex.


" Jelasin soal apa Rex...?" tanya Gama pura-pura tak tahu.


" Ck. Jelasin sekarang atau selamanya Kita ga usah ketemu lagi. Dan jangan anggap Gue temen apalagi sahabat...," kata Rex sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat menuju pintu.


Ucapan Rex mengejutkan Gama. Ia bergegas mengejar Rex dan meraih tangannya.


" Tunggu Rex !. Ok, Gue bakal jelasin semuanya...," kata Gama sambil meringis menahan sakit akibat luka di perutnya kembali terasa nyeri.


" Ok...," sahut Rex sambil menepis tangan Gama yang tengah mencekal pergelangan tangannya.


Kemudian Rex dan Gama duduk berhadapan. Suasana dalam ruangan hening sejenak hingga akhirnya Gama buka suara.


" Gue emang mencintai Kakak Lo. Bukan sebagai adik terhadap kakak perempuannya tapi cinta yang sesungguhnya layaknya seorang pria dewasa dengan wanita dewasa...," kata Gama sambil menatap Rex lekat.


Ucapan Gama membuat Rex terkejut bukan kepalang. Rex berdiri lalu meraih kerah baju Gama dan hampir meninju wajah sang sahabat. Namun ia urungkan saat melihat Gama menatap pasrah seolah siap menerima pukulannya.


Rex menurunkan kedua tangannya sambil menggertakkan gigi karena menahan marah. Saat itu Rex merasa dibodohi karena tak tahu apa yang telah terjadi antara Gama dan Lilian.


" Jangan salahin Kakak Lo. Dia juga ga tau apa pun tentang perasaan Gue yang sesungguhnya buat dia...," kata Gama karena khawatir Rex akan memarahi Lilian nanti.

__ADS_1


Ruangan kembali hening. Rex berusaha berpikir jernih karena sadar jika cinta adalah anugrah ilahi yang datang tanpa diundang. Cinta juga tak bisa memilih kepada siapa ia akan berlabuh.


" Sejak kapan...?" tanya Rex.


" Gue ga tau persis kapan tepatnya. Tapi kalo boleh jujur, Gue memang tertarik sama Kakak Lo sejak Gue dan orangtua Gue datang berkunjung pertama kali setelah sekian lama Kita ga ketemu...," sahut Gama mantap.


" Apa Lo yakin sama perasaan Lo ini Gam ?. Lo tau kan kalo Gue ga bakal biarin cowok mana pun menyakiti hati Kak Lian termasuk Lo...!" kata Rex gusar.


" Gue tau Rex. Makanya Gue butuh waktu lama untuk mencerna perasaan ini karena Gue ga mau salah langkah dan merusak persahabatan Kita...," sahut Gama.


" Juga merusak hubungan keluarga Kita yang udah baik Gam...," kata Rex mengingatkan.


" Iya, itu juga...," sahut Gama.


" Terus...?" tanya Rex tak sabar.


" Ternyata rasa yang Gue miliki ini memang cinta Rex. Rasa ini sama seperti rasa yang Gue miliki untuk mantan-mantan Gue. Tapi kali ini berbeda karena ada rasa takut yang menyertai...," sahut Gama lirih.


" Takut...?" ulang Rex tak mengerti.


" Iya. Gue takut kehilangan dia Rex. Gue ga bisa bayangin kalo Kakak Lo itu menikah dengan pria lain. Makanya Gue langsung minta ijin sama Ayah buat deketin Kakak Lo...," sahut Gama.


" Jadi Ayah udah tau soal ini...?!" tanya Rex tak percaya.


" Iya. Ayah ngasih Gue kesempatan yang sama seperti pria lain yang ingin mengejar cinta Kakak Lo itu. Tapi Lo tenang aja Rex, Gue ga bakal maksa Kakak Lo untuk nerima Gue. Karena menurut Gue cinta itu datangnya dari hati. Jadi Kakak Lo ga perlu merasa ga enak nolak Gue kalo memang dia ga punya perasaan apa pun sama Gue...," kata Gama bijak.


" Terus tentang calon Istri yang Lo umbar ke Gue itu maksudnya Kak Lian...?" tanya Rex.


" Iya...," sahut Gama cepat.


" Ga usah kepedean Gam !. Belum tentu Kak Lian mau sama Lo. Pake beli rumah segala, mau nyogok Lo ya...!" kata Rex sambil melengos sebal.


" Kan Gue udah bilang kalo Gue ga bakal maksa dia buat mencintai Gue. Jadi apa pun keputusannya nanti, Gue terima kok. Soal rumah kan bisa diurus belakangan...," sahut Gama sambil nyengir.


Rex menghela nafas panjang mendengar jawaban Gama. Entah mengapa amarah yang sempat mampir, sirna setelah mendengar penjelasan Gama.


" Jadi please jangan halangi Gue untuk mengejar cinta Kakak Lo ya Rex...," pinta Gama sambil menggenggam kedua tangan Rex hingga membuat Rex berjingkat kaget.


" Lepasin Gam, jijay tau ga...?!" kata Rex lantang sambil menepis tangan Gama dengan kasar.


" Makanya dijawab...," kata Gama setengah memaksa.


" Iya iya, Gue ga bakal halangin Lo. Sekarang jauh-jauh sana...!" kata Rex lantang sambil menjauh dari Gama.


Gama tersenyum puas lalu kembali duduk di tempatnya semula. Wajah Gama tampak berbinar bahagia karena telah mendapat restu dari Rex untuk menggapai cinta Lilian.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2