Kidung Petaka

Kidung Petaka
113. Jadi Korban Juga


__ADS_3

Setelah mendengar Banga menyatakan kesediaannya membantu tetangganya itu, Rex dan keempat rekannya pun kembali ke kamp.


Saat tiba di sana Rex dan keempat rekannya dibuat terkejut karena melihat semua orang berdiri sambil menatap ke satu titik. Dokter Farhan dan dokter Lita tampak tersenyum menyambut kedatangan Rex dan empat rekannya itu.


" Ehm..., Assalamualaikum. Ada apa ini, kenapa berkumpul di sini...?" tanya Rex sambil menatap semua orang satu per satu.


" Wa alaikumsalam. Untung Kapten datang. Tolong Kapten, Suster Tami kesurupan kayanya...," sahut dokter Farhan hingga mengejutkan Rex dan keempat rekannya yang baru saja kembali.


" Kesurupan...?" ulang Rex tak percaya.


" Iya. Kapten liat kan kalo Suster Tami nangis sambil menjerit histeris begitu. Ditanyain ga jawab, ya cuma nangis aja daritadi..., " sahut dokter Lita sambil menatap iba kearah suster Tami.


" Kok bisa dok. Emang awalnya gimana sampe dokter dan yang lainnya mengira kalo suster Tami kesurupan...?" tanya seorang rekan Rex.


" Awalnya Kami juga denger jeritan dari kampung sebelah yang bikin Kita semua geger tadi. Saat itu kebetulan Kami lagi ngecek obat-obatan yang kurang. Kami juga keluar kamar karena ingin tau apa yang terjadi. Nah, ga lama setelah Kapten pergi, Suster Tami kembali ke kamar sendirian. Terus ga lama kemudian dia menjerit. Saat Kami datangi Suster Tami lagi berbaring di lantai dengan tubuh kejang-kejang kaya abis ngeliat sesuatu yang menakutkan..., " sahut dokter Lita.


" Terus...?" tanya Rex sambil menatap kearah suster Tami.


" Suster Tami menjerit sambil meracau tanpa mau bilang apa yang dia liat tadi. Dia terus-menerus menjerit sejak tadi. Kami udah berusaha menyadarkannya tapi gagal. Keliatannya ada sesuatu yang bikin Suster Tami ketakutan dan histeris kaya gitu Kapten...," sahut dokter Lita.


Mendengar cerita dokter Lita membuat Rex penasaran. Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat jika kejang yang dialami suster Tami terjadi karena disebabkan oleh sesuatu.


Rex pun mendekati suster Tami dan mengamatinya dengan seksama. Rex membulatkan matanya saat melihat tanda kebiruan di leher suster Tami seperti tanda kissmark yang dibuat oleh seseorang. Namun Rex yakin jika tanda itu tidak dibuat oleh manusia melainkan oleh makhluk tak kasat mata.


" Jangan-jangan suster Tami juga diganggu sama popobawa. Kan tadi Banga bilang kalo makhluk jadi-jadian itu mengincar pria dan wanita lalu melecehkannya...," batin Rex gusar.


Melihat kegusaran di wajah Rex membuat dokter Farhan yakin jika ada sesuatu yang buruk telah menimpa sang perawat.


" Apa ada sesuatu Kapten...?" tanya dokter Farhan setengah berbisik.


" Iya dok...," sahut Rex sambil mengangguk.


" Jadi, apa yang harus Kita lakukan untuk menyadarkan suster Tami...?" tanya dokter Farhan yang sudah kehilangan akal untuk membuat sang perawat siuman dan tak menjerit lagi.


" Bius atau beri obat penenang saja dok. Saat ini Kita ga punya cara lain...," sahut Rex sambil menggedikkan bahunya santai namun cukup mengejutkan dokter Farhan.

__ADS_1


" Apa harus seekstrim itu Kapten...?!" tanya dokter Farhan.


" Cuma itu satu-satunya cara dok. Apa dokter ga kasian ngeliat Suster Tami kaya gitu ?. Dia pasti capek lho terus menerus menjerit dan kejang begitu...," kata Rex mengingatkan.


Dokter Farhan menatap suster Tami sejenak lalu menghela nafas panjang. Setelahnya sang dokter berlalu sambil menggerutu.


" Saya ga ngerti kenapa bisa berteman sama Kamu Kapten...," kata dokter Farhan sambil menggelengkan kepalanya lalu bergegas ke kamarnya untuk menuruti permintaan sang Kapten.


Tak lama kemudian dokter Farhan kembali dengan alat suntik berisi obat bius. Dokter Lita yang melihatnya terkejut dan mencoba menghalangi niat rekannya itu.


" Jangan g*la Kamu Farhan...!" kata dokter Lita tak suka.


" Kali ini aja Lit. Kamu liat gimana kondisi Suster Tami, dia pasti capek karena terus menjerit dan mengejang daritadi...," kata dokter Farhan menirukan ucapan Rex.


Dokter Lita menatap sejenak sang perawat lalu menepi untuk memberi akses pada rekannya itu melakukan tugasnya.


Setelah dokter Farhan menyuntikkan obat penenang, kondisi suster Tami perlahan mulai membaik. Ia tak lagi menjerit dan berhenti mengejang. Tak Iama kemudian suster Tami pun tertidur nyenyak. Semua orang bernafas lega sambil mengucap hamdalah.


" Sekarang biarkan suster Tami istirahat ditemani dokter Lita dan Bu Elvira. Saya mewakili rekan-rekan Saya mengucapkan terima kasih pada q semuanya...," kata dokter Farhan.


" Sekarang semua kembali ke posisi masing-masing. Empat orang yang Saya tunjuk tadi tetap berjaga di depan...," kata Rex memberi perintah.


" Siap Kapten...! " sahut rekan-rekan Rex bersamaan.


Kemudian semua orang membubarkan diri satu per satu lalu kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat.


\=\=\=\=\=


Keesokan harinya semua kembali dibuat gempar dengan jeritan histeris suster Tami saat ia mulai siuman dari pingsannya. Rupanya dia mulai mengingat apa yang terjadi.


" Kenapa Sus, apa yang terjadi...?" tanya dokter Lita cemas.


" Di... dia datang. Di... dia me... le... ceh... kan Sa... ya dok...," sahut suster Tami lalu kembali menangis.


Ucapan suster Tami mengejutkan dokter Lita. Sang dokter nampak menatap tak percaya kearah suster Tami itu. Dia paham betul kemana arah pembicaraan dokter Tami.

__ADS_1


Elvira yang saat itu ada bersama dokter Tami pun terkejut lalu mencoba bertanya.


" Dia siapa Suster...?" tanya Elvira hati-hati.


" Makhluk itu Bu..., makhluk itu...," sahut suster Tami di sela tangisnya.


" Makhluk itu...?" ulang Elvira tak mengerti.


Rex yang mendengar ucapan suster Tami pun mengerti jika wanita itu telah menjadi korban keganasan siluman kelelawar yang bernama popobawa itu.


" Jangan ditanyai lagi Bu Elvira. Biarkan dia tenang dulu...," pinta Rex dari ambang pintu yang terbuka itu.


" Memang Kapten tau siapa yang dimaksud Suster Tami...?" tanya Elvira.


" Iya...," sahut Rex cepat.


" Kalo gitu Kapten harus bertindak tegas. Kejar dan hukum pelakunya. Jangan biarkan dia kabur dan lepas dari tanggung jawab. Kalo bisa suruh dia menikahi Suster Tami secepatnya...," kata Elvira gusar.


Ucapan Elvira membuat Rex dan rekan-rekannya mematung sejenak. Namun kemudian mereka saling menatap bingung sambil menahan tawa.


" Kenapa Kalian malah tersenyum kaya gitu sih...?!" tanya Elvira kesal.


" Maaf Bu guru Elvira. Permintaan Anda sangat ga masuk akal...," sahut salah seorang rekan Rex sambil menggelengkan kepalanya.


" Apanya yang ga masuk akal ?. Kalian sebagai garda terdepan penjaga keamanan negara masa ga bisa menangani masalah ini...?" tanya Elvira dengan mimik wajah tak suka.


" Ini di luar kemampuan Kami Bu...," sela Rex cepat untuk menengahi perdebatan Elvira dengan salah satu rekannya itu.


" Apa maksudnya Kapten...?!" tanya Elvira dengan nada suara meninggi.


" Karena yang melecehkan Suster Tami bukan manusia melainkan sosok siluman...," sahut Rex sambil menatap lekat Elvira.


Gadis itu terkejut bukan kepalang. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan menyadari satu hal. Ternyata hanya dirinya yang tak tahu apa pun tentang siluman yang diceritakan Rex semalam.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2