
Rex memanggil suster Tami dan mengajaknya bicara empat mata di teras rumah. Mereka duduk berhadapan dan masih bisa dilihat oleh semua relawan yang ada di sana. Kemudian Rex menyampaikan ucapan Jacquel kepada suster Tami, wanita itu nampak bahagia. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali dan berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.
" Ga usah janji kaya gitu sama Saya Suster. Saya bukan orangtua atau Suami Kamu...," kata Rex sambil menahan tawa.
" Tapi Anda adalah penanggung jawab Kami di tempat ini Kapten...," sahut suster Tami.
" Itu betul. Tapi ga ada hubungannya sama perilaku Kamu sebelum dan selanjutnya kan ?. Itu adalah tanggung jawab Kamu kepada Allah Yang Maha Kuasa...," kata Rex bijak.
Ucapan Rex membuat suster Tami terdiam. Ia sadar jika musibah yang menimpanya adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Beruntung saat itu tak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka hingga suster Tami tak ragu mengatakan semuanya kepada Rex.
" Saya memang ga virgin lagi Kapten. Sehari sebelum Saya berangkat ke sini, Saya dan tunangan Saya melakukan itu di kamar kost...," kata suster Tami sambil menunduk.
" Subhanallah. Kenapa begitu Suster ?. Apa Kamu sadar kalo itu dosa...?" tanya Rex sambil menggelengkan kepalanya.
" Saya ga bisa nolak karena tunangan Saya mengancam akan membatalkan pernikahan Kami kalo Saya nolak permintaannya. Tapi setelahnya Saya menyesal. Saya berniat memutuskan hubungan Kami karena Saya telah menemukan pria lain yang lebih baik..., " sahut suster Tami hingga membuat Rex bingung.
" Mmm..., maaf Suster Tami. Saya rasa pembicaraan ini ga perlu dilanjutkan lagi. Simpan saja cerita itu untukmu sendiri. Saya ga punya kepentingan apa pun dengan Kamu selain karena Kamu adalah relawan dan masuk dalam daftar orang yang menjadi tanggung jawab Saya di sini...," kata Rex sambil bangkit dari posisi duduknya.
" Apa Kapten jijik sama Saya...?" tanya suster Tami saat Rex siap melangkah.
Rex menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah suster Tami.
" Maksudnya gimana Suster...?" tanya Rex.
" Apa Kapten ga bisa menerima kondisi Saya yang ga virgin lagi ?. Apa menurut Kapten kesucian wanita itu penting dalam pernikahan makanya Anda lebih memilih wanita yang masih suci untuk dinikahi...?" tanya suster Tami.
Rex terkejut dengan pertanyaan random sang perawat. Karena kejadian yang dialami suster Tami tak ada hubungan dengannya.
" Saya tak punya kewajiban untuk menjelaskan apa pun kepada siapa pun termasuk Anda suster Tami. Jangan coba ikut campur dalam urusan yang ga Kamu pahami apalagi itu tentang Saya...!" kata Rex dingin sambil menatap tak suka kearah sang perawat.
" Tapi pria lain yang Saya maksud itu Anda Kapten...!" sahut suster Tami dengan berani sambil menatap Rex lekat.
" Saya...?!" tanya Rex sambil menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya.
" Iya...!" sahut suster Tami mantap.
Kemudian suster Tami melangkah perlahan mendekati sang kapten. Rex tetap berdiri di tempatnya sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh wanita di hadapannya itu.
" Saya suka sama Kapten sejak Kita bertemu. Saya juga merasa tersentuh dengan perhatian yang Kapten berikan saat Saya sedang terpuruk kemarin. Saya berharap Kita bisa...," ucapan suster Tami terputus saat Rex memotong cepat.
__ADS_1
" Kembali bekerja Suster, ini masih jam kerja. Ingat, tugas utama Kita adalah membantu warga di sini...!" kata Rex tegas lalu membalikkan tubuhnya kearah lain.
" Apa itu artinya Anda menolak Saya Kapten...?!" tanya suster Tami cemas.
" Maafkan Saya Suster Tami. Saya belum tertarik untuk menjalin hubungan serius dengan wanita mana pun. Satu lagi, kembali lah bekerja karena keliatannya dokter Farhan kerepotan menghadapi pasien yang berkumpul itu Suster...!" kata Rex sambil berlalu.
" Baik Kapten...," sahut suster Tami lirih lalu bergegas pergi ke tenda kesehatan dimana dokter Farhan berada.
\=\=\=\=\=
Sejak mengungkapkan perasaannya kepada Rex, sikap suster Tami pun berubah lebih agresif.
Wanita yang biasanya pendiam itu berubah jadi sosok yang ceria. Relawan lain mengira suster Tami berubah karena sedang berusaha melupakan kejadian buruk yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Suster Tami juga makin berani menunjukkan perhatiannya kepada Rex seperti malam itu.
" Mau kemana Suster...?" tanya salah satu rekan Rex.
Saat itu suster Tami terlihat membawa secangkir kopi lalu melangkah menuju tenda dimana Rex berada.
" Mau ngasih kopi buat Kapten Rex. Kasian udah malam begini masih kerja. Saya pikir secangkir kopi bisa membuat Kapten lebih fresh dan ga ngantuk lagi nanti...," sahut suster Tami sambil tersenyum.
" Perhatian banget sih. Kami juga mau lho dibikinin dan dibawain kopi kaya Kapten...," kata salah seorang tentara.
" Tenang aja. Udah Saya bikinin di dapur kok. Tapi Kalian bawa sendiri ya. Yang ini khusus buat Kapten Rex...," sahut suster Tami sambil bersiap masuk ke dalam tenda.
Namun langkah suster Tami terhenti di ambang pintu tenda karena terhalang oleh tubuh Rex yang berdiri menjulang di sana.
" Kap... Kapten...," panggil suster Tami lirih.
" Ada keperluan apa di sini Suster Tami ?. Ini sudah larut lho, ga baik seorang wanita ada di tengah kumpulan pria...," tegur Rex dengan mimik wajah tak suka.
" Maaf Kapten. Saya ke sini cuma mau ngasih kopi ini buat Kapten...," sahut suster Tami sambil menyodorkan cangkir berisi kopi kearah Rex.
" Ok, terima kasih...," kata Rex sambil menerima cangkir berisi kopi itu dengan enggan.
" Sama-sama..., " sahut suster Tami sambil tersenyum.
" Terus ngapain masih di sini...?" tanya salah satu rekan Rex mencoba menggoda suster Tami.
__ADS_1
" Saya nunggu Kapten minum kopi buatan Saya sekarang...," sahut suster Tami malu-malu.
" Nanti Saya minum Suster, Saya baru aja minum kopi. Sebaiknya Kamu kembali ke dalam sekarang...," kata Rex tegas.
" Baik Kapten...," sahut suster Tami lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Semua rekan Rex menggelengkan kepala melihat tingkah absurd suster Tami. Mereka tahu jika wanita itu tertarik dengan sang kapten.
" Nekad banget yaa...," kata seorang tentara.
" Cinta mati banget kayanya...," sahut tentara lain sambil melirik kearah Rex.
" Tapi sayangnya Kapten Kita ga tertarik sama Suster Tami...," kata tentara lain sambil mengulum senyum.
" Suster Tami bukan typenya Kapten lah...," sela tentara lain disambut tawa semua tentara.
" Sudah cukup tertawanya...?" tanya Rex dengan mimik wajah serius hingga membuat rekan-rekan Rex terkejut. Mereka bangkit lalu memasang sikap sempurna.
" Siap Kapten...!" sahut rekan-rekan Rex bersamaan.
" Saya ga peduli apa yang Kalian bicarakan tentang Saya dan Suster Tami atau wanita mana pun. Satu pesan Saya. Jangan biarkan orang lain selain tentara masuk ke dalam tenda atau kamar Saya. Paham...?!" kata Rex dengan wajah datar.
" Siap Kapten...!" sahut semua rekan Rex.
" Ijin bertanya Kapten...," kata seorang tentara tiba-tiba.
" Ya. Apa yang mau Kamu tanyakan...?" tanya Rex.
" Apa diantara tiga relawan wanita itu ga ada yang menarik Kapten...?" tanya sang tentara hingga mengejutkan Rex dan tentara lainnya.
" Kalo Saya ga mau jawab apa Kamu bakal menghukum Saya Sersan...?" tanya Rex sambil menahan tawa.
" Siap, Saya ga berani Kapten...!" sahut sang tentara salah tingkah.
" Ok. Sekarang sudah larut, waktunya Kita istirahat. Yang piket lanjutkan dan selamat malam semuanya...!" kata Rex sambil berlalu.
" Malam Kapten...!" sahut semua rekan Rex.
Saat Rex menjauh semua tentara pun tertawa geli. Mereka menertawakan pertanyaan bodoh yang diajukan rekan mereka tadi. Sedangkan sang sersan nampak menggaruk kepala bingung.
__ADS_1
\=\=\=\=\=