Kidung Petaka

Kidung Petaka
198. Ga Bisa Nganter


__ADS_3

Rex dan dokter Aksara duduk berhadapan dalam diam. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sebelumnya dokter Aksara mengatakan bahwa ia terpilih untuk mengikuti pendidikan di luar negeri. Gelar S2 yang dijanjikan tanpa ia harus mengeluarkan biaya adalah point penting yang menjadi pertimbangan dokter Aksara. Ia yakin semua dokter di Rumah Sakit itu menginginkan hal serupa.


Dan imbalan dari itu semua adalah dokter Aksara bersedia mengabdikan diri di Rumah Sakit itu hingga batas waktu yang disepakati kemudian.


Setelah saling membisu beberapa saat, dokter Aksara pun membuka percakapan. Sambil bicara ia nampak mengamati wajah sang kekasih yang terlihat cuek itu.


" Kamu marah ya...?" tanya dokter Aksara hati-hati sambil menyentuh punggung tangan Rex.


" Ga marah, cuma kecewa aja...," sahut Rex sambil tersenyum kecut.


" Aku kan udah jelasin semuanya tadi. Bagian mana yang bikin Kamu kecewa...?" tanya dokter Aksara sambil menatap Rex lekat.


" Semuanya...," sahut Rex cepat.


" Semuanya...?" tanya dokter Aksara tak mengerti.


" Iya. Sekarang bayangin kalo posisi Kita dibalik. Gimana perasaan Kamu...?" tanya Rex.


" Mmm..., kalo Aku sih berusaha untuk terima. Karena sejak awal pacaran sama Kamu Aku udah siap mental untuk ditinggal tugas kapan aja. Bukannya itu resiko punya pasangan abdi negara...?" tanya dokter Aksara.


" Yakin bakal begitu...?" tanya Rex tak percaya.


" Yakin dong. Makanya sekarang Aku minta Kamu juga ngerti sama kondisi Aku. Impas kan...?" tanya dokter Aksara.


Rex terdiam sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Ok, kalo itu maumu. Aku cuma bisa suport Kamu saat ini. Karena Aku sadar hubungan Kita baru di tahap pacaran atau penjajagan dan bukan menikah. Jadi Aku ga punya hak buat ngelarang Kamu untuk melakukan ini dan itu. Apalagi ini kan berhubungan sama karirmu. Aku yakin orangtua Kamu juga bakal setuju sama keputusan Kamu Sa...," kata Rex bijak.


" Kamu betul Sayang. Papa sama Mama pasti ngedukung Aku. Tapi saat ini Aku juga punya kekasih yang harus Aku jaga perasaannya. Makanya Aku ceritain semuanya sama Kamu biar ga salah paham...," kata dokter Aksara sambil menggenggam jemari Rex dengan erat.


Rex pun balas menggenggam jemari sang kekasih. Walau hatinya kecewa namun Rex sadar jika dokter Aksara adalah wanita yang punya ambisi besar dalam karirnya. Dan ia tak ingin menghalangi niat sang kekasih mengejar mimpinya itu.


" Kapan berangkat...?" tanya Rex.


" Minggu depan...," sahut dokter Aksara cepat hingga membuat Rex membeku di tempat.


" Cepet banget sih Sayang...," kata Rex tak suka.

__ADS_1


" Aku juga ga tau. Pak Melvin udah nyiapin semuanya sebelum bilang sama Aku. Kayanya dia yakin banget kalo Aku bakal terima tawarannya itu. Aku ga enak kalo ngundur waktu keberangkatan padahal semuanya udah dipermudah. Nanti dibilang banyak tingkah, tinggal berangkat aja kok repot. Makanya Aku iya-in aja waktu dia nyuruh siap-siap..., " sahut dokter Aksara.


" Berapa orang yang berangkat...?" tanya Rex kemudian.


" Dua orang, Aku sama dokter Brian...," sahut dokter Aksara cepat namun mengejutkan Rex.


" Cowok...?" tanya Rex.


" Iya. Kenapa, cemburu...?" goda dokter Aksara sambil tersenyum.


" Dikit. Emang ga boleh...?" tanya Rex ketus.


" Boleh dong. Tapi Kamu tenang aja. Dokter Brian itu udah berkeluarga. Dia bakal boyong anak Istrinya ke sana nanti. Jadi Aku ga bakal punya kesempatan buat deket sama suami orang. Gimana, clear kan...?" tanya dokter Aksara.


" Hmmm...," sahut Rex dengan enggan.


" Jangan cemberut gitu dong Sayang. Aku mau pergi jauh lho, kok Kamu malah kaya gitu sih...," protes dokter Aksara.


" Iya iya. Aku senyum nih...," kata Rex sambil senyum terpaksa hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


" Nah gitu dong. Tambah sayang deh jadinya...," kata dokter Aksara sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


Rex pun ikut tertawa karena sadar sudah bertingkah memalukan tadi. Kemudian Rex memeluk sang kekasih dengan erat untuk mengungkapkan perasaan sayangnya.


" Kalo Aku berangkat tolong anterin sampe bandara ya...," pinta dokter Aksara sungguh-sungguh.


Rex tak bisa berkata apa-apa selain hanya mengangguk setuju. Dalam hati ia mengucapkan insya Allah karena tak yakin bisa menepati janjinya nanti.


\=\=\=\=\=


Hari-hari Rex pun berlalu dengan cepat. Ia terlalu sibuk hingga melupakan janjinya pada Aksara. Selain tugas negara yang menjadi tanggung jawabnya, ia juga sibuk mencari solusi dari masalah yang dihadapi Elvira.


Belakangan dokter Aksara juga sibuk mempersiapkan keberangkatannya hingga tak punya waktu untuk bertemu atau ngobrol seperti biasa.


Dan hari dimana sang kekasih berangkat ke Jepang, hari itu juga Rex justru tengah bertugas di daerah Banten.


Dokter Aksara nampak menghentakkan kakinya dengan kesal saat tak berhasil menghubungi Rex.


" Kemana sih dia. Ditelephon ga diangkat, di WA ga dibaca...," kata dokter Aksara dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


" Mungkin dia lupa. Harusnya Kamu ingetin dia dari semalam, bukan sekarang. Rex itu kan perwira tentara. Tugasnya banyak, jadi wajar kalo Kamu yang harus ngingetin dia diantara jadwalnya yang bertumpuk itu...," kata Azam sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Iya Pa. Aku yang salah karena lupa ngingetin dia...," sahut dokter Aksara.


" Kok Papa malah nyalahin Sara sih. Sara juga sibuk nyiapin keberangkatannya lho Pa. Harusnya Rex yang ngerti. Emang sekali-sekali cowok ngalah ga boleh ya, atau emang ga bisa...?" sela Itje dengan wajah kesal.


" Papa ga nyalahin Sara, cuma ngingetin kalo pacaran sama perwira tentara ya emang gitu Ma. Mereka selalu sibuk, jadi Sara harus sabar...," kata Azam.


" Sesibuk apa sih sampe ga bisa nganter pacarnya yang mau keluar negeri..., " sahut Itje sambil melengos.


" Udah dong Ma, Pa. Ga usah ribut lagi ya. Aku gapapa kok...," kata dokter Aksara melerai perdebatan kedua orangtuanya itu.


Azam dan Itje pun terdiam lalu sama-sama membuang pandangan kearah lain.


Sementara itu Rex tengah disibukkan dengan urusan mengawal rombongan mentri yang berkunjung ke Banten.


Sebagai kepala satuan keamanan gabungan saat itu, Rex memang harus stand by mengatur semuanya. Bahkan ia tak punya kesempatan untuk bergeser sejengkal pun dari sang mentri.


Rex baru bisa bernafas lega dan sedikit relaks saat sang mentri kembali ke Jakarta untuk melapor kepada presiden. Tugas Rex dan pasukannya akan dilanjutkan oleh team lain nanti.


Rex pun duduk di lantai sambil meluruskan kakinya bersama anggota pasukannya. Kemudian Rex meraih ponselnya lalu mengecek notifikasi yang masuk dan terkejut saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari sang kekasih. Rex juga membaca pesan dokter Aksara yang mengatakan bahwa sepuluh menit lagi ia harus berangkat ke luar negeri.


Rex yang terkejut pun bangkit dari duduknya lalu berlari ke parkiran. Tanpa sepatah kata pun Rex segera menstarter motornya lalu melajukannya dengan cepat menuju bandara Soekarno Hatta.


Namun saat Rex tiba di bandara ia melihat pesawat yang ditumpangi sang kekasih baru saja lepas landas meninggalkan Indonesia. Rex nampak berdiri mematung sambil melepas kepergian pesawat itu.


Tak lama kemudian saat membalikkan tubuhnya, Rex berpapasan dengan Azam dan Itje. Mereka saling bertegur sapa.


" Sara udah berangkat Nak...," kata Azam.


" Iya Om, Saya tau...," sahut Rex.


" Emangnya kemana aja sih Kamu kok baru sampe hari gini...?" tanya Itje tak suka.


" Baru selesai tugas mengawal Pak mentri ke Banten Tante...," sahut Rex dengan santun.


Itje pun terdiam dan tak berkomentar apa pun hingga berpisah dengan Rex di loby bandara.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2