
Dokter Aksara menghubungi Rex tepat saat Rex tiba di rumah. Rex pun meraih ponselnya lalu menyapa sang kekasih.
" Assalamualaikum Sayang...," sapa Rex.
" Wa alaikumsalam. Apa yang Kamu bilang sama Mama Aku Rex...?!" tanya dokter Aksara dari seberang telephon.
" Maksud Kamu apa...?" tanya Rex tak mengerti.
" Mama bilang Kamu ngomong sesuatu yang bikin Mama tersinggung tadi...," sahut dokter Aksara.
" Omongan yang mana yang bikin Mama Kamu tersinggung...?" tanya Rex berusaha sabar.
" Mama emang ga jelasin secara spesifik omongan Kamu itu. Tapi Mama merasa Kamu nyudutin Mama dan bilang kalo Mama itu matre...," sahut dokter Aksara gusar.
" Dan Kamu percaya...?" tanya Rex.
" Iya lah. Mana mungkin Mama bohong...," sahut dokter Aksara cepat.
Mendengar jawaban sang kekasih membuat hati Rex sakit. Ia tak menduga jika dokter Aksara lebih percaya fitnah sang Mama daripada ucapannya. Di titik ini lah Rex merasa jika hubungannya benar-benar sulit untuk dipertahankan.
" Kamu masih mau denger penjelasan Aku atau cukup denger dari Mama Kamu aja...?" tanya Rex akhirnya.
" Kita bukan lagi bernegosiasi Rex. Aku tuh Sayang sama Kamu dan Mama. Jadi Aku ga bisa memihak Kamu atau Mama. Aku cuma mau Kamu ngalah sama Mama. Kurangin sedikit lah egomu itu...," sahut dokter Aksara melunak.
Ucapan dokter Aksara membuat Rex terkejut. Ia merasa sang kekasih tak menghargai usahanya untuk mengerti sikap tak ramah sang mama selama ini.
Rupanya Rex dan dokter Aksara sama-sama tahu jika Itje tak menyukai Rex. Namun Rex dan sang kekasih mencoba bersabar dan berharap suatu hari Itje akan luluh dan mau merestui mereka.
Namun sayangnya hingga dokter Aksara berangkat ke Jepang guna melanjutkan pendidikan, Itje tak jua luluh bahkan makin memperlihatkan kebenciannya pada Rex.
" Sayang...," panggil dokter Aksara saat Rex tak merespon ucapannya tadi.
" Hmmm...," sahut Rex dengan enggan.
" Kamu bisa kan turutin permintaan Aku kali ini...?" tanya dokter Aksara.
" Permintaan Kamu yang mana...?" tanya Rex pura-pura lupa.
" Yang tadi lah...," sahut dokter Aksara cepat.
" Oh, permintaan Kamu supaya Aku ngerti Mama Kamu itu atau supaya Aku ngalah dan diem aja waktu Mama Kamu menghina Aku...?" tanya Rex hingga mengejutkan sang kekasih.
" Mama menghina Kamu, masa sih Mama begitu...?" tanya dokter Aksara tak percaya.
__ADS_1
" Gapapa kalo Kamu ga percaya. Kita bahas besok lagi ya Sayang. Ini udah malem, Aku capek mau istirahat. Assalamualaikum..., " kata Rex lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Rex tak hanya menyudahi pembicaraan dengan sang kekasih tapi juga me- non aktifkan ponselnya. Rupanya Rex tak ingin ribut dengan sang kekasih apalagi hanya untuk membahas Itje.
" Salah paham. Masalah yang biasa dihadapi pasangan yang lagi LDR an...," gumam Rex sambil menggelengkan kepalanya.
Rex menatap layar ponselnya sejenak sambil tersenyum kecut kemudian masuk ke dalam rumah.
\=\=\=\=\=
Rex baru saja usai membersihkan diri saat mendengar suara keributan di luar rumah. Rex bergegas keluar kamar untuk bertanya pada sang ibu, namun tak ada siapa pun di dalam rumah.
Akhirnya Rex keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Di luar rumah Ramon, tepat di luar pagar, tampak beberapa warga tengah berkerumun. Menilik dari pakaian mereka sepertinya mereka baru saja pulang dari sebuah acara pengajian.
Karena penasaran Rex pun mendekat dan mendengar kedua orangtuanya tengah bicara dengan warga.
" Di sebelah mana Bu, tadi Kami juga lewat sana tapi ga ada apa-apa kok. Iya kan Yah...," kata Lanni.
" Iya Bu...," sahut Ramon cepat.
" Masa Pak Ramon sama Bu Lanni ga ketemu. Kita semua ketemu lho, makanya Kita lari...," kata salah satu warga.
Semua orang termasuk Ramon dan Lanni menoleh kearah Rex yang baru saja membuka pintu pagar.
" Kamu udah pulang Nak...?" tanya Lanni.
" Iya Bu, baru aja abis mandi. Ini ada apaan sih Bu...?" tanya Rex.
" Bapak-bapak sama Ibu-ibu ini bilang kalo abis ketemu sama hantu yang mirip lampor itu di jalan sebelah sana. Padahal sebelumnya Ayah sama Ibu juga lewat sana, tapi Kami ga ngeliat apa-apa. Aneh kan...," sahut Lanni.
" Hantu orang yang ngusung keranda hitam itu...?" tanya Rex.
" Iya...," sahut warga bersamaan.
" Dimana ketemunya...?" tanya Rex penasaran.
" Di jalan dekat kebun mangganya Pak Hanif itu lho Mas Rex...," sahut salah satu warga.
" Terus Bapak sama Ibu lari...?" tanya Rex tak percaya.
" Iya lah, wong hantunya serem gitu Mas...," sahut seorang ibu sambil memperbaiki letak kerudungnya.
__ADS_1
" Serem gimana maksudnya Bu ?. Kan cuma rombongan orang lagi ngusung keranda, dimana seremnya...?" tanya Rex pura-pura tak tahu.
" Mas Rex salah !. Kalo ngusung kerandanya siang hari mungkin Kita masih bisa maklum. Ini kan malam hari...," sahut seorang warga.
" Betul. Apalagi penutup kerandanya bukan hijau tapi hitam. Dan yang bikin ngeri itu karena pengusungnya laki-laki berwajah pucat kaya mayat dan ga punya mata Mas...!" sahut seorang warga sambil bergidik.
" Mereka emang tersenyum tadi, tapi pas tau mereka ga punya mata Kita kaget dan langsung lari Mas...," kata seorang warga menambahkan.
" Kayanya Kita harus adain ruqyah massal deh buat ngusir hantu keranda itu dari kampung Kita...," kata seorang warga.
" Kok ruqyah massal ?. Kan warga gapapa Pak, ga kesurupan juga...," sahut seorang warga.
" Mungkin maksudnya ruqyah tempat kaya ruqyah desa gitu Bu...," kata Ramon menengahi.
" Oh gitu. Kalo itu Saya setuju Pak Ramon. Tempat-tempat yang udah pernah dilewati sama hantu pengusung keranda itu harus diruqyah biar ga bikin apes alias bawa sial...," sahut warga.
" Kalo gitu biar Saya bicarakan ini sama Ustadz dulu ya. Kapan waktu meruqyahnya insya Allah nanti Saya kabarin deh...," kata Ramon.
" Dishare di grup aja Pak biar praktis...," kata beberapa warga.
" Siap Pak...," sahut Ramon sambil tersenyum.
" Saya juga mau ikut nemuin Ustadz Pak Ramon...," kata seorang warga.
" Boleh. Kita atur waktunya nanti ya Pak. Sekarang sebaiknya Bapak dan Ibu pulang dulu supaya bisa istirahat. Ntar keburu malam malah ketemu mereka lagi kan gawat...," gurau Ramon.
" Ish, Pak Ramon pake ngingetin segala. Amit-amit jabang bayi, mudah-mudahan ga ketemu lagi...," kata seorang wanita dengan kenesnya hingga membuat semua orang tertawa.
" Kalo gitu Kami pulang dulu ya Pak Ramon, Bu Lanni, Mas Rex...," kata warga saling bersahutan.
" Iya, hati-hati semuanya...," sahut Ramon mewakili anak dan istrinya.
Setelah warga berlalu, Ramon dan Lanni pun masuk ke halaman Rumah. Sedangkan Rex masih berdiri di ambang pintu pagar sambil mengamati jalan di depan rumah.
" Kamu ga masuk Rex...?!" tanya Lanni.
" Iya Bu, sebentar lagi...," sahut Rex.
" Biarin aja Bu. Mungkin Rex lagi mau nanya sama hantu pengusung keranda itu apa maunya mereka menerror warga. Mudah-mudahan bisa dapat jawaban yang memuaskan dan Kita tau cara menghadapi hantu pengusung keranda itu...," kata Ramon sambil merengkuh bahu sang istri lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Rex tersenyum melihat kemesraan kedua orangtuanya itu. Ia pun kembali menoleh kearah jalan di depan rumahnya. Sayup-sayup terdengar suara senandung lirih itu lagi di kejauhan. Rex pun nampak berdiri siaga sambil menunggu makhluk apa yang akan menyapanya nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1