Kidung Petaka

Kidung Petaka
122. Gusar


__ADS_3

Rex melihat pria berbaju putih itu, yang kemudian diketahui bernama Herdin, nampak sedang berkemas. Di ambang pintu kamar terlihat seorang wanita paruh baya yang diyakini sebagai ibu Herdin nampak sedang bicara.


" Jangan pergi Herdin. Ibu merasa kalo Kusmanto itu bukan orang baik-baik..., " kata ibu Herdin.


" Bukan orang baik-baik gimana sih Bu. Ibu kan juga kenal Kusmanto. Dia teman Aku sejak kecil lho Bu...," kata Herdin sambil menoleh kearah sang ibu.


" Iya. Tapi Kusmanto yang sekarang beda sama Kusmanto yang dulu Nak...," sahut ibu Herdin gusar.


" Beda gimana sih maksud Ibu. Oh, maksud Ibu Kusmanto sekarang ga lusuh lagi, ga kucel dan miskin kaya dulu. Gitu kan Bu...?" tanya Herdin sambil mendekati sang ibu.


" Bukan itu Herdin...," sahut ibu Herdin.


" Terus beda apanya dong Bu...?" tanya Herdin tak sabar.


" Sinar mata Kusmanto licik, dia seperti orang yang menyimpan sesuatu yang jahat. Ibu khawatir Kamu...," ucapan ibu Herdin terputus karena sang anak memotong cepat.


" Gapapa Bu. Apa pun kata Ibu Aku setuju. Nah sekarang Aku pamit ya Bu. Aku mau ikut Kusmanto ke Jakarta biar jadi orang sukses kaya Kusmanto...," kata Herdin sambil mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim.


" Jangan pergi Herdin...," kata ibu Herdin sambil mencekal tangan sang anak.


" Maaf Bu. Aku udah terlambat nih. Ibu baik-baik di rumah ya. Tunggu Aku pulang bawa mobil nanti. Dan saat itu terjadi Kita bakal terkenal bahkan sampe ke kampung tetangga Bu...!" kata Herdin lantang sambil melambaikan tangannya.


Ibu Herdin hanya bisa melepas kepergian anak bungsunya itu dengan tatapan sedih. Di luar rumah terlihat Kusmanto datang menjemput Herdin dengan mobil bagus. Namun entah mengapa naluri keibuannya mengatakan jika Herdin tak akan baik-baik saja saat bersama Kusmanto nanti.


Setelahnya Rex diperlihatkan sebuah peristiwa dimana Herdin tengah diikat. Herdin menjerit sambil menangis menghiba memohon agar Kusmanto mau membebaskannya dari sergapan orang-orang berbadan besar itu.


" Tolong Aku Kusmanto. Tolong bilang sama mereka kalo Kamu mengenalku dengan baik dan Aku adalah temanmu...!" kata Herdin lantang.


" Iya Herdin. Aku udah bilang kalo Aku mengenalmu dan tau betul kalo kondisi tubuhmu sangat baik dan sehat. Karena itu mereka senang dan akan membayar mahal untuk tiap organ penting yang diambil dari tubuhmu itu...," sahut Kusmanto sambil tersenyum lebar namun membuat Herdin terkejut.

__ADS_1


" Apa maksudmu Kusmanto...?!" tanya Herdin panik.


" Maksudku, Aku telah menjual tubuhmu kepada mereka Herdin...," sahut Kusmanto.


" Jadi ini kah pekerjaan yang Kau bilang enak itu Kusmanto?. Kau menjual organ tubuh manusia untuk mendapatkan uang. Jangan-jangan teman-teman Kita yang lain juga Kamu jual Kus...?!" tanya Herdin sambil mulai menangis.


" Betul !. Aku butuh uang cepat Herdin. Dan cara ini adalah salah satu cara cepat dan gampang yang bisa Aku kerjakan. Maafkan Aku Herdin. Kamu harus mati karena mengikuti Aku. Tapi Kamu tenang aja, semua organ tubuhmu nanti akan bermanfaat untuk menolong orang lain yang membutuhkan Herdin...," kata Kusmanto sambil tersenyum sinis.


" Dan mereka akan membayar mahal untuk tiap organ tubuhmu ini anak muda...," sela seorang pria berbadan besar itu sambil tertawa.


" Sayangnya bukan Kamu atau keluargamu yang menikmati hasil penjualan organ tubuhmu ini, tapi Kami dan Kusmanto tentunya...," kata pria lain di sela tawanya.


Mendengar ucapan dua pria berbadan besar itu membuat air mata Herdin makin deras mengalir. Saat itu ia teringat ibunya. Wanita yang melahirkannya itu sangat tak ingin dia pergi. Meski tak bisa menjelaskan dengan gamblang tapi sang ibu sudah memiliki firasat buruk tentang Kusmanto. Sayangnya Herdin terlambat mengetahuinya. Dan penyesalan Herdin pun kini sudah tak berarti karena maut sudah berdiri di depan matanya.


" Udah Bang, kerjain deh. Gue tunggu di luar ya...," kata Kusmanto yang diangguki dua pria berbadan besar itu.


Dalam penglihatannya Rex melihat bagaimana kedua jagal itu mengambil organ penting di dalam tubuh Herdin. Kemudian mereka bergeser ke wajah Herdin lalu mencongkel kedua bola matanya.


Setelah mengambil organ penting milik Herdin, kedua jagal itu melempar tubuh Herdin ke pojok ruangan. Membiarkannya di sana beberapa saat hingga ada orang lain yang akan datang dan mengurus jasadnya nanti.


Jasad Herdin yang bersimbah darah itu dibersihkan lalu dibawa pergi dengan mobil dan dibuang ke danau buatan di taman itu.


Rex melihat suasana saat itu gelap gulita. Nampak seorang oknum security di perumahan itu memberi akses pada para penjahat itu untuk masuk dan membuang jasad Herdin di sana. Rex melihat pria itu menerima amplop tebal setelah para penjahat itu menyelesaikan pekerjaan kotornya.


Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat jasad Herdin yang diberi pemberat itu dengan mudah tenggelam ke dalam danau. Dan Rex melihat kepala Herdin yang telungkup itu bergerak lalu menoleh kearahnya sambil mengucapkan sesuatu.


" Toooloonngg..., tooloonngg...," kata Herdin lirih sebelum akhirnya jasadnya benar-benar tenggelam ke dasar danau.


Rex tersentak kaget lalu membuka matanya. Ia mengusap wajahnya yang berpeluh itu dengan kasar sambil mengucap istirja.

__ADS_1


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun..., " gumam Rex sambil mengerjapkan mata.


Kemudian Rex meraih ponselnya dan segera menghubungi Taufan untuk memberi tahukan isi mimpinya tadi. Namun sayang ponsel Taufan tak bisa dihubungi.


Rex nampak mengacak rambutnya karena kesal tak bisa membantu arwah Herdin dengan maksimal.


" Sabar lah Herdin. Sebentar lagi kejahatan mereka akan segera terungkap dan Kamu bisa kembali ke pelukan Ibumu...," batin Rex sambil memejamkan mata.


Namun niat Rex untuk melanjutkan tidurnya terusik dengan kehadiran suster Tami di kamarnya. Meski pun tak menyangka dengan keberanian sang perawat, namun Rex berusaha bersikap tenang.


" Ada apa Suster Tami...?" tanya Rex.


" Kita harus bicara Kapten. Ini penting...," sahut suster Tami.


" Apa sangat penting sampe Kamu ga bisa menunggu pagi dan bicara di tempat lain yang lebih terbuka...?" sindir Rex.


" Saya ga peduli Kapten. Saya hanya mau Kita selesaikan semuanya sekarang...," sahut suster Tami.


" Tak ada yang perlu diselesaikan karena diantara Kita memang tak terjadi apa-apa. Ini masih dini hari Suster. Apa Kamu ga khawatir orang lain akan menuding Kamu sebagai wanita yang tak bermoral karena datang ke kamar laki-laki di jam segini...?" tanya Rex gusar.


" Saya yakin bukan hanya Saya yang bakal dicap ga bermoral Kapten. Setelah ini semua orang akan tau betapa tak bermoral nya Kapten Rex...," sahut suster Tami sambil tersenyum sinis lalu mulai membuka kancing blousenya satu per satu.


" Berhenti atau Kamu akan menyesal Suster !.Saya sudah merekam aksimu ini dan sebentar lagi semua orang akan datang dan melihatmu di sini...," kata Rex sambil memperlihatkan layar ponselnya yang dalam mode merekam itu.


Suster Tami terkejut bukan kepalang apalagi beberapa tentara mulai menampakkan diri satu per satu. Ada yang di luar jendela, di ambang pintu juga di kolong meja kerja Rex.


Suster Tami tampak malu luar biasa karena niat jahatnya diketahui banyak orang. Suster Tami tak berkutik dan hanya bisa pasrah saat digelandang keluar kamar oleh para tentara itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2