
Malam itu Rex, Gama dan Lilian sedang duduk di teras rumah sambil membahas nama yang disebutkan oleh Taufan tadi.
" Di Rumah Sakit Sentosa ada cleaning servis yang namanya Kunto ya Kak...?" tanya Rex membuka pembicaraan.
" Ada. Kamu kenal sama dia dimana Rex...?" tanya Lilian.
" Aku ga kenal. Tapi nama itu yang disebut sama Pak Taufan. Aku tau kalo dia cleaning servis ya dari rekaman CCTV yang dikasih liat Polisi tadi...," sahut Rex cepat.
" Terus siapa Pak Taufan...?" tanya Lilian.
" Perwira polisi yang nanganin kasus pelecehan se**al di Rumah Sakit Kak...," sahut Rex.
" Jadi Polisi mencurigai Pak Kunto...?" tanya Lilian.
" Iya. Tapi Aku sama Gama ga percaya kalo Pak Kunto pelakunya...," sahut Rex.
" Iya lah, mana mungkin Pak Kunto pelakunya. Wong dia aja ditinggal istrinya gara-gara impoten kok. Jadi mana mungkin dia bisa memperk*sa orang kalo senjatanya aja ga berfungsi. Aneh...," kata Lilian cepat.
" Darimana Kakak tau kalo Pak Kunto impoten...?" tanya Gama dengan muka jahilnya.
" Dari sesama karyawan Rumah Sakit. Kenapa emangnya ?. Kok Lo ngeliatin Gue kaya gitu...?!" tanya Lilian sambil menatap galak kearah Gama.
" Gapapa, cuma heran aja. Kok bisa ya perawat kaya Kak Lian tau masalah pribadi orang sampe sedetail itu apalagi masalah laki-laki yang dialami Pak Kunto...," sahut Gama sambil tersenyum mengejek.
" Gue kan dikasih tau bukan cari tau. Bedain itu ya Gam !. Emangnya Lo kira Gue kurang kerjaan sampe harus ngorek masalah prubadinya Pak Kunto yang ditinggal minggat istrinya itu...!" kata Lilian kesal.
" Ga usah sewot gitu dong Kak. Gue kan cuma ngomong ga nuduh...!" sahut Gama tak mau kalah.
" Tapi muka Lo tuh nuduh Gue seolah emang kenal Pak Kunto sampe ke area pribadinya...!" kata Lilian sambil menjambak rambut Gama saking kesalnya.
" Awww...!. Lepasin Kak, sakit nihh...!" jerit Gama sambil berusaha melepaskan tangan Lilian dari kepalanya.
" Ga bakalan. Dasar mulut kaleng rombeng...!" kata Lilian.
" Kalian berdua nih kenapa sih, kok malah ribut sendiri ?!. Kita kan lagi bahas orang yang dituduh pelaku kejahatan sama Polisi. Harusnya Kita cari cara supaya bisa bantu Pak Kunto lepas dari jerat hukum bukannya malah ribut ga jelas kaya gini !. Kasian kan kalo dia harus dipenjara gara-gara kesalahan yang ga pernah dia lakuin...!" kata Rex lantang.
__ADS_1
Gama dan Lilian terkejut lalu bergegas saling menjauh.
" Sorry Rex, Gue kebawa emosi. Terus gimana nih kelanjutannya...?" tanya Gama sambil merapikan rambutnya yang kusut usai dijambak Lilian.
Rex tak segera menjawab. Ia menatap iba kearah Gama yang tampak berantakan itu. Namun saat ingat bagaimana 'ceriwisnya' Gama tadi hingga membuat Lilian marah, Rex pun hanya bisa menggelengkan kepala.
" Kalo boleh tau hasil lab yang dibilang sama dokter Siska tadi punya siapa Kak...?" tanya Rex sambil menoleh kearah sang kakak.
" Oh itu punya Aura, si korban pelecehan ketiga...," sahut Lilian cepat.
Namun usai mengatakan itu Lilian nampak menutup mulutnya seolah sadar jika yang ia katakan adalah sesuatu yang tak patut ia sampaikan pada orang lain.
Rex dan Gama nampak saling menatap lalu tersenyum tipis.
" Sebenernya ini rahasia ya Rex, tapi gara-gara Kalian Kakak jadi keceplosan nih...," kata Lilian gusar.
" Gapapa Kak. Kita di sini bukan mau ghibahin aibnya si Aura. Kita justru mau bantu nangkap orang yang udah menyakiti dia...," sahut Rex.
" Betul. Kalo semua serba tertutup jadi bingung gimana ngebantunya...," kata Gama menambahkan.
" Mmm..., iya sih. Awalnya dokter Siska berniat ngambil sample cairan sp**m* pelaku di bagian organ int*m Aura secara diam-diam. Eh, ternyata Aura keburu siuman. Yang melegakan adalah karena dia ga marah dan justru minta supaya kasusnya diungkap dan pelakunya ditangkap. Aku sama dokter Siska setuju dan dengan senang hati mengabulkan permintaan Aura...," kata Lilian menjelaskan.
" Iya Rex, tapi Aura minta agar itu dirahasiain dari keluarganya..., " kata Lilian.
" Lho kenapa begitu...?" tanya Rex tak mengerti.
" Ayahnya Aura terlanjur ngamuk dan memutuskan memindahkan pengobatan Aura keluar negeri. Saat itu Aura ga berani ngomong apa-apa karena tau Ayahnya sedang emosi. Tapi pas Ayahnya keluar dia malah minta supaya dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya. Dia ga mau ada wanita lain yang mengalami hal itu ke depannya. Bahkan dia juga bersedia menjadi saksi kalo diperlukan nanti...," sahut Lilian.
Rex dan Gama nampak mendengarkan dengan seksama cerita Lilian hingga selesai. Mereka merasa sangat terbantu dengan informasi yang diberikan Lilian.
" Jadi Kita harus bergerak cepat sebelum Polisi nangkap Pak Kunto. Bukan begitu Rex...?" tanya Gama.
" Betul banget Gam. Ngomong-ngomong Kakak tau ga dimana rumahnya Pak Kunto...?" tanya Rex.
" Mana Aku tau, Aku kan ga deket sama Pak Kunto. Tapi Aku denger dia tinggal di daerah Sawangan Depok. Emangnya Kamu mau ke sana Rex...?" tanya Lilian.
__ADS_1
" Belum tau nih Kak. Tapi makasih ya udah mau ceritain semuanya. Aku sama Gama bakal cari info tambahan lain nanti...," kata Rex.
" Sama-sama, tapi Kalian harus hati-hati ya. Jangan gegabah dan serius dikit lah. Kakak harap ga ada orang penting yang terlibat dalam kasus ini...," pesan Lilian sebelum masuk ke dalam rumah.
" Iya Kak...," sahut Rex dan Gama bersamaan.
\=\=\=\=\=
Di sebuah ruangan tampak dokter Siska dan Lilian sedang duduk berhadapan. Keduanya baru saja selesai 'menjemput' hasil lab milik Aura.
Lilian dan dokter Siska memang sengaja melakukan uji lab di Rumah Sakit lain. Mereka hanya ingin originalitas sample darah dan hasilnya tetap terjaga sehingga bisa mendapat petunjuk yang akurat.
" Kenapa dokter keliatan bingung...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Saya khawatir jika ini bocor ke publik maka Rumah Sakit Sentosa yang kena getahnya Suster...," sahut dokter Siska.
" Kok gitu dok. Kalo boleh tau emang gimana hasilnya dok...?" tanya Lilian penasaran.
" Saya ga berani bilang sama Kamu karena Saya takut Sus...," sahut dokter Siska gusar.
" Maksud dokter hasilnya di luar perkiraan dan dokter kenal sama pemilik cairan sp**m* itu...?" tanya Lilian hati-hati.
" Iya...," sahut dokter Siska lirih.
Lilian pun terkejut lalu menegakkan tubuhnya. Saat itu ia pun merasa khawatir dengan keselamatannya dan dokter Siska. Tiba-tiba Lilian tersenyum saat teringat adik kebanggaannya.
" Kita ajak Rex buat jadi saksi dok. Kebetulan dia kan PM di TNI Angkatan Darat. Dia pasti paham bagaimana mengawal kasus ini sampe selesai tanpa membahayakan Kita...," kata Lilian antusias.
" Rex adik Kamu itu...?" tanya dokter Siska yang diangguki Lilian.
" Sebetulnya dia dan Gama juga lagi nyelidikin kasus ini secara diam-diam. Kayanya pas deh kalo Kita serahkan hasil lab ini sama mereka. Selanjutnya biar mereka yang urus. Gimana dok...?" tanya Lilian.
" Ok, Saya setuju. Bisa panggil mereka ke sini kan Suster Lian. Saya ga berani keluar dari sini dengan membawa bukti penting ini...," pinta dokter Siska.
" Baik dok...," sahut Lilian lalu segera meraih ponselnya untuk menghubungi Rex dan Gama.
__ADS_1
Dari seberang telephon terdengar jika Rex dan Gama bersedia menyusul ke tempat itu sscepatnya.
\=\=\=\=\=