
Hari itu Rex dan pasukannya diminta mengawal team dokter yang akan berkunjung ke salah satu tempat di pinggiran Jakarta.
Bukan tanpa alasan jika team dokter meminta bantuan pengawalan anggota TNI / POLRI. Itu dikarenakan wilayah yang akan mereka kunjungi adalah wilayah yang rawan. Selain rawan bencana juga rawan dengan ancaman kejahatan dari para preman.
Team dokter yang bertugas kali ini terdiri dari tiga dokter wanita dan empat dokter laki-laki yang mahir di bidangnya masing-masing. Mereka ditemani sebelas orang perawat. Kemudian mereka dibagi menjadi tiga kelompok yang akan disebar ketiga kelurahan.
" Jadi titik kumpul di kecamatan X ya. Siapa pun yang datang lebih dulu, harus menunggu kelompok lainnya. Setelah semua berkumpul, baru Kita kembali ke Jakarta...," kata Rex.
" Siap Ndan...!" sahut semua anggota TNI / POLRI yang saat itu tengah berbaris di lapangan menunggu instruksi.
Setelahnya Rex dan sepuluh anggota pasukannya mengawal team 2, yang terdiri dari dua dokter dan empat perawat.
Rex nampak tersenyum diam-diam saat mengenali dokter wanita yang bertugas di team 2. Dia adalah dokter Aksara, sang dokter cantik nan galak yang dijumpainya pertama kali saat ia bertugas di Madura.
Perjalanan menuju kelurahan yang dimaksud berjalan lancar. Saat itu dokter Aksara dan rekannya terlihat sibuk mempersiapkan perlengkapan dan peralatan yang akan mereka gunakan. Saking sibuknya dokter Aksara tak menyadari jika salah satu perwira tentara yang mengawalnya adalah Rex.
Mobil berhenti di depan kantor kelurahan. Team dokter dan rombongan disambut oleh lurah dan stafnya dengan antusias. Warga terlihat mulai memadati halaman kantor kelurahan karena tertarik dengan program pengobatan gratis yang diselenggarakan pemerintah setempat.
Dari tempatnya berdiri Rex mengamati sekelilingnya dengan seksama. Ia melihat beberapa preman yang menyamar diantara warga dan nampaknya akan membuat kerusuhan.
" Awasi pria berambut gimbal itu, pria kurus itu dan pria berkaca mata itu. Mereka menyusup diantara warga karena akan berbuat onar...," bisik Rex pada anak buahnya.
" Siap Ndan...," sahut anak buah Rex.
Acara pengobatan gratis itu semula berjalan lancar. Namun masuk jam sebelas siang, suasana mulai kacau. Tiga pria yang disebutkan Rex tadi mulai membuat ulah dengan memprovokasi warga.
" Gimana nih, masa ngantri daritadi ga diperiksa juga. Ga dipanggil apalagi dikasih obat...!" kata pria berkaca mata membuka suara.
__ADS_1
" Betul. Udah dari pagi di sini ga dikasih apa-apa. Minuman aja ga, apalagi makan siang...," sahut pria berambut gimbal sambil mencibir.
" Gimana mau ngurusin Kita kalo mereka aja sibuk makan-makan di dalam sana. Tuh liat !. Kalo gini caranya mendingan Kita acak-acak aja sekalian...!" kata pria kurus itu sambil melemparkan deretan obat di atas meja ke tanah diikuti dua pria sebelumnya.
Suasana mendadak kacau. Warga yang didominasi wanita dan anak-anak itu pun menjerit ketakutan saat melihat tiga preman kampung itu mengacau.
Tiga pria itu dengan cepat mulai menyebar mendatangi meja berisi obat-obatan dan bersiap menghancurkan semuanya. Rex dan anak buahnya pun sigap menghalau warga yang terprovokasi dan ikut mengamuk itu agar tak merusak kantor kelurahan dan segala fasilitasnya.
Saat para tentara sibuk menghalau warga, saat itu lah preman berbadan kurus itu menerobos masuk dan mendatangi meja dimana dokter Aksara berada. Namun tiba-tiba pria itu menjerit kesakitan hingga membuat suasana yang semula kacau itu mendadak hening.
Semua mata menatap kearah preman berbadan kurus yang mengerang kesakitan sambil memegangi lengannya itu. Rupanya sebuah pipet lengkap dengan jarum suntiknya menancap di lengannya. Karena dilakukan secara asal maka darah nampak mengalir keluar dari bekas jarum suntikan itu.
Warga menjerit tertahan melihat kejadian langka itu. Di samping preman berbadan kurus itu berdiri dokter Aksara sambil menatap galak kearahnya. Rupanya dokter Aksara lah yang telah membuat preman itu menjerit kesakitan.
Preman berbadan kurus itu nampak sangat marah. Ia berniat mencabut jarum suntik itu namun tak sanggup menanggung rasa sakit dan ngilu di tulang lengannya. Kemudian pria itu menoleh kearah dokter Aksara dan bersiap memukulnya.
Namun sebuah tangan sigap menghalangi dan langsung mendorong tubuh pria itu dengan keras hingga terjengkang di lantai. Tangan itu adalah milik Rex Aldan, sang kapten yang terkenal kejam saat berhadapan dengan musuh negara.
Dua preman lainnya maju untuk menyerang Rex karena tak terima melihat temannya dilumpuhkan.
Rex sigap menyambut kedua preman itu lalu memberinya bogem mentah gratis. Jerit kesakitan terdengar saat pukulan Rex mendarat di wajah mereka. Rupanya pukulan itu membuat hidung dan mata kedua preman itu terluka dan mengeluarkan darah. Dokter Aksara yang menyaksikan semuanya dari dekat tampak bergidik ngeri saat melihat luka di wajah kedua preman itu.
Tak lama kemudian empat orang tentara maju untuk meringkus ketiga preman itu lalu membawanya menjauh dari arena pengobatan.
" Anda gapapa kan dok...?" tanya Rex sambil menoleh kearah dokter Aksara yang berdiri mematung di sudut ruangan sambil memegang pisau bedah dan pinset.
" Oh, eh iya. Sa... Saya gapapa kok. Makasih Kapten...," sahut dokter Aksara gugup.
__ADS_1
" Sama-sama. Kalo gitu silakan lanjutkan tugas Anda, ketiga preman itu biar jadi urusan Kami...," kata Rex sambil berlalu.
Dokter Aksara hanya mengangguk karena masih shock dengan apa yang hampir menimpanya tadi.
" Dokter Aksara...!" panggil dua perawat bersamaan.
" Kalian darimana, kenapa ga nemenin Saya di sini...?" tanya dokter Aksara sedikit kesal.
" Maaf dok. Kami lagi ngamanin obat yang ada di dus supaya ga ikut dihancurin sama preman itu. Tapi dokter gapapa kan...?" tanya salah seorang perawat.
" Alhamdulillah Saya gapapa...," sahut dokter Aksara cepat.
" Untung ada Pak Kapten. Kalo ga, selain ngobatin warga mungkin Kita juga harus ngobatin dokter Aksara lho...," sahut perawat lain sambil tersenyum penuh makna.
" Apaan sih Kalian ini. Saya bisa jaga diri kok. Kalian liat kan preman itu jatuh di lantai karena Saya berhasil melukai lengannya tadi...?" tanya dokter Aksara dengan bangga.
" Kami percaya dok. Tapi ngomong-ngomong obat apa yang dokter suntikkan tadi...?" tanya salah seorang perawat.
" Itu CTM. Saya sengaja siapkan waktu mereka mulai mengamuk. Jadi pas dia mendekat langsung Saya suntikkan ke lengannya. Ternyata sedikit melenceng dan mengenai tulangnya. Tapi bukan salah Saya dong. Kan dia sendiri yang bergerak saat jarum disuntikkan tadi...," kata dokter Aksara dengan santai namun membuat dua perawat itu tertawa.
" Jadi bisa dipastikan preman itu bakal langsung tidur pulas ya dok...," kata seorang perawat di sela tawanya.
" Betul. Dan begitu membuka mata dia bakal kaget karena terbangun di sel tahanan...," sahut dokter Aksara sambil tertawa.
Ucapan dokter Aksara juga didengar oleh Rex. Ia pun ikut tertawa membayangkan reaksi preman berbadan kurus itu nanti.
" Ada-ada aja akalnya...," gumam Rex sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Kemudian Rex kembali melangkah untuk menemui ketiga preman itu dan 'berbincang-bincang' dengan mereka.
\=\=\=\=\=