Kidung Petaka

Kidung Petaka
150. Rex Siuman


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan putri Kenanga, di balik dinding terlihat Pangeran Jareka sedang menahan amarah sambil mengepalkan tangannya saat mengetahui apa yang dilakukan istri keduanya kepada Hadini.


Sejak awal pangeran Jareka memang curiga pada Putri Kenanga. Hal itu karena beberapa kali ia melihat sang istri memberi isyarat tertentu pada pengawalnya yang membaur diantara para tamu.


Selanjutnya pangeran Jareka tetap tersenyum sepanjang acara walau hatinya menjerit sakit. Di sampingnya terlihat sang istri tampak sumringah menyambut kehadiran para tamu.


\=\=\=\=\=


Rex tersentak kaget saat ia diperlihatkan sebuah adegan pangeran Jareka mengejar Putri Kenanga di sebuah Padang rumput yang luas. Di kejauhan terlihat pasukan pengawal dan para dayang berdiri sambil bersorak gembira untuk menyemangati dua tuannya yang tengah berkejaran itu.


Namun Rex tahu betul apa yang terjadi. Saat itu pangeran Jareka memang sedang mengejar istrinya, bukan dengan tawa bahagia tapi dengan tatapan penuh amarah. Pria itu sengaja mengulur waktu karena ingin sang istri mengakui perbuatannya. Padahal sangat mudah untuknya menangkap sang istri lalu mengeksekusinya. Di depan sana Putri Kenanga menjerit ketakutan saat menyadari suaminya akan membunuhnya.


" Apa salahku, kenapa Kamu seperti ini...?!" tanya Putri Kenanga sambil terus berlari.


" Apa Kamu takut ?. Lalu bagaimana dengan Istriku yang sendirian saat menghadapi pasukan pemanah yang Kau utus untuk membunuhnya...?!" tanya pangeran Jareka.


Ucapan pangeran Jareka mengejutkan Putri Kenanga. Ia geram saat sang suami menyebut wanita lain sebagai istrinya.


" Kamu menyebutnya Istri, lalu bagaimana dengan Aku ?. Aku juga Istrimu. Tapi selama Kita menikah bahkan Kamu belum sekali pun menyentuhku...!" kata putri Kenanga marah.


" Aku tak tertarik dengan wanita jahat dan manja sepertimu...!" sahut pangeran Jareka sinis dan itu menyinggung perasaan Putri Kenanga.


" Jika tak menyukaiku kenapa Kamu mau menikah denganku...?!" tanya Putri Kenanga mulai menangis.


" Kamu yang memaksa Aku menikah denganmu setelah berhasil menyingkirkan semua kandidat permaisuri yang disodorkan untukku. Tapi Kamu marah saat tau Aku sudah menikahi wanita yang Aku cintai jauh sebelum Kita menikah. Dan di hari pernikahan Kita Kamu telah mengutus pasukan rahasiamu untuk membunuh Istriku. Asal Kau tau Kenanga. Bagiku wanita yang layak menjadi Istriku hanya Hadini. Hanya Hadini...!" kata pangeran Jareka lantang.


Ucapan pangeran Jareka membuat putri Kenanga marah. Ia menjerit lalu berhenti berlari. Setelahnya ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang suami.

__ADS_1


" Aku membencimu Jareka !. Kupikir dengan menikahimu maka kebahagiaan bisa Kumiliki, tapi Aku salah. Kamu bahkan ga pernah memperlakukan Aku sebagai Istrimu sedetik pun...!" kata Putri Kenanga.


" Akui perbuatanmu, maka Aku akan mengampunimu dan memberi kesempatan hidup untukmu...," sahut pangeran Jareka datar sambil menatap Putri Kenanga lekat.


" Aku melakukannya untukmu. Bayangkan bagaimana reaksi orang-orang saat mengetahui Kamu memiliki Istri lain selain Aku. Lagipula dia bukan wanita baik-baik, dia hanya seorang pembunuh...," kata Putri Kenanga mencoba membela diri.


" Itu bukan urusanmu !. Yang Kau lakukan adalah untuk dirimu sendiri. Aku lebih bangga mengakui Hadini sebagai Istriku karena dia membunuh untuk mempertahankan harga dirinya sebagai wanita dan Istri. Sedangkan Kamu, Kamu membunuh orang untuk memenuhi ambisimu dan itu dilakukan dengan cara licik...!" kata pangeran Jareka marah.


Perdebatan sepasang pengantin baru itu tak terdengar oleh para pengawal dan dayang di kejauhan. Mereka mengira jika sang tuan akan melakukan adegan romantis setelah lelah berlari. Karena tak ingin mengganggu, mereka pun menyingkir dari tempat itu.


" Aku memang membunuhnya karena Aku iri padanya. Kamu menyanjungnya setinggi langit tanpa memikirkan perasaanku...," kata Putri Kenanga lirih.


" Aku melakukannya agar Kamu mundur dan membatalkan pernikahan Kita. Tapi rupanya Kamu terlalu berambisi menjadi istriku...," sahut pangeran Jareka.


" Aku permaisurimu bukan istri biasa...!" kata Putri Kenanga.


" Calon permaisuri...," sahut pangeran Jareka menegaskan.


Ucapan Putri Kenanga membuat pangeran Jareka terdiam. Mengira jika sang suami telah luluh dan memaafkannya, Putri Kenanga pun maju mendekati sang suami. Kemudian dia mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami sambil mendaratkan ciuman di wajah pangeran Jareka.


Putri Kenanga makin berani saat merasakan pangeran Jareka membalas pelukannya. Ia pun mencium bibir sang suami dengan rakus. Saat Putri Kenanga sedang terlena dengan ciuman memabukkan itu, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang amat sangat di punggungnya. Bagian dadanya pun terasa lembab seolah ada air membasahi pakaiannya.


Putri Kenanga mengurai pelukannya. Ia terkejut saat menyadari cairan yang membasahi bagian depan pakaiannya adalah darah yang berasal dari dadanya. Dan rasa sakit yang ia rasakan tadi berasal dari belati milik pangeran Jareka yang tertancap di punggung hingga menembus dada.


" Ke... kenapa...?" tanya Putri Kenanga sambil menatap nanar kearah sang suami.


" Aku membiarkanmu menciumku untuk memenuhi hakmu sebagai istriku. Tapi Aku tak bisa memaafkan perbuatanmu yang telah membunuh Hadini...," sahut pangeran Jareka dingin.

__ADS_1


Putri Kenanga jatuh berlutut sambil menangis. Ia merasa pengorbanannya sia-sia. Seolah bisa membaca pikiran sang istri, pangeran Jareka membungkukkan tubuhnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Putri Kenanga.


" Yang Kamu lakukan dengan membunuh para kandidat permaisuri dan juga istriku bukan lah pengorbanan tapi kejahatan. Karenanya Kamu tak layak untuk jadi Istriku apalagi permaisuriku...," bisik pangeran Jareka sambil mencabut belatinya dari punggung Putri Kenanga.


Saat belati dicabut dari punggungnya, Putri Kenanga melenguh kesakitan lalu jatuh ke tanah dalam posisi menyamping. Darah makin deras mengalir dari dua lubang bekas belati sang pangeran.


" Aku telah membalaskan kematianmu Sayang. Maafkan Aku karena telah membuatmu menderita selama menjadi Istriku. Aku mencintaimu Hadini, selalu dan selamanya...," gumam pangeran Jareka sambil menatap ke langit.


Tak terasa air mata mengalir membasahi wajah sang pangeran. Saat ia menoleh ke samping, ia mendapati Putri Kenanga telah meninggal dunia dengan posisi menyamping dan kedua mata terbuka. Setelahnya pangeran Jareka pergi meninggalkan tempat itu tanpa mau menoleh lagi.


Rex menghela nafas panjang menyaksikan pembunuhan di depan matanya. Saat Rex mengerjapkan matanya ia telah berada di tempat lain.


Rex terkejut melihat debu warna warni yang ia temui saat jasad Hadini hancur tengah berada di sekitar Zada.


Rex melihat Zada remaja sedang berlari menghindari kejaran Tako, sang ayah tiri. Saat itu Zada sedang berada di dalam rumah dan hampir dilecehkan oleh Tako. Rex melihat debu jelmaan jasad Hadini itu melindungi Zada dari jangkauan Tako bahkan membantunya keluar dari rumah melalui pintu yang terkunci itu.


Zada terlunta-lunta di pinggir jalan dalam kondisi lapar dan pakaian yang lusuh. Warga pun tampak tak bisa berbuat apa-apa karena Zada akan mengamuk jika didekati. Namun saat Rusminah datang mendekatinya, Zada nampak tersenyum. Bahkan Zada menerima pemberian Rusminah dengan senang hati. Setelahnya Zada mengikuti Rusminah diam-diam dan mengamatinya dari jauh. Itu sebabnya Zada sering terlihat di sekitar rumah Rusminah dulu.


Rex tersenyum menyaksikan kebaikan sang nenek ternyata mampu 'menyentuh' Zada. Saat itu Rex yakin jika misteri Kematian Zada akan segera terungkap setelah ini.


Namun tiba-tiba Rex merasa sakit di sekujur tubuhnya seolah ada sesuatu yang menariknya dengan kasar. Rex tersentak kaget lalu membuka matanya.


Saat itu Rex mendapati dirinya ada di sebuah ruangan serba putih seorang diri. Rex bingung saat menyadari tubuhnya dibalut perban seperti mummi. Sesaat kemudian ia melihat dua dokter masuk ke dalam ruangan dan melakukan berbagai pemeriksaan pada tubuhnya.


" Alhamdulillah pasien siuman. Kondisinya pun stabil. Kita bisa kabari keluarganya sekarang...," kata salah satu dokter sambil tersenyum.


" Betul dok. Setelah ini pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa...," sahut dokter lainnya.

__ADS_1


Rex tak bisa mengenali kedua dokter itu karena keduanya mengenakan masker di wajah. Rex kembali memejamkan mata karena merasa sangat mengantuk. Meski pun begitu kedua telinga Rex tetap bisa mendengar suara apa pun yang ada di sekitarnya.


bersambung


__ADS_2