
Kemudian Rex diperlihatkan situasi di rumah orangtua Luna.
Ayah Luna nampak mulai membeli barang-barang bagus. Rumah yang semula hanya berdinding papan diganti dengan bata merah. Pembangunan rumah berlangsung cepat. Hanya dalam waktu dua Minggu rumah sudah berdiri kokoh. Meski tak mewah, namun rumah itu cukup mencuri perhatian karena warnanya yang mencolok dan proses pembangunan yang cepat. Rex tahu jika proses pekerjaan pembangunan dibantu oleh makhluk halus.
Rex juga bisa melihat bagaimana Luna menolak semua makanan yang dibeli dengan uang ayahnya. Dan tentu saja itu membuat sang ayah murka.
" Bagaimana Kamu bertahan hidup tanpa makanan...?" tanya Rex bingung.
" Kenapa bingung. Aku punya Lanni dan Ramon yang selalu mentraktirku makan siang...," sahut arwah Luna santai.
" Tapi gimana kalo Ayah atau Ibu ga ketemu Kamu...?" tanya Rex.
" Mereka selalu memberiku uang. Walau jumlahnya tak banyak karena Kami sama-sama mahasiswa. Tapi sejak Ramon bekerja, dia punya uang banyak. Lanni terang-terangan membagi uang pemberian Ramon padaku di depan Ramon langsung. Dan Ramon ga keberatan sama sekali. Jadi Aku ga perlu bingung soal uang untuk membeli makanan...," sahut arwah Luna sambil tersenyum.
Rex mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban arwah Luna.
Kemudian Rex dibawa pada situasi dimana ayah Luna sekarat karena sakit. Saat itu tak ada seorang pun yang berada di sampingnya. Akibat sikap arogannya ia ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya.
Ayah Luna nampak terbaring lemah di atas tempat tidur. Saat itu kondisinya bak mayat hidup. Hanya tinggal kulit pembalut tulang. Kulitnya pun nampak dipenuhi luka berlendir yang berbau menyengat.
Di sampingnya tampak piring dan gelas kosong yang telah diselimuti sarang laba-laba pertanda jika ayah Luna sudah lama tak makan atau pun minum.
" Subhanallah..., mengenaskan sekali nasibnya...," batin Rex.
Suara pintu terbuka nampak mengejutkan ayah Luna. Matanya yang terpejam itu nampak terbuka. Senyum pun tersungging di bibirnya meski pun lebih mirip seringai menakutkan.
" Kakek, Kamu kah itu...?" tanya ayah Luna dengan suara bergetar.
" Iya ini Aku...," sahut sang dukun sambil menutupi hidungnya dengan ujung baju.
Sikap sang dukun jelas membuat ayah Luna tersinggung. Namun ia berusaha maklum karena ada hal penting yang ia harapkan dari dukun tua itu.
" Apa yang Kamu bawa kali ini Kek...?" tanya ayah Luna.
Pertanyaan ayah Luna membuat sang dukun berdecak sebal. Ia melengos tanpa mau menatap ayah Luna.
" Memangnya Kamu mengharap apa ?. Ga usah mimpi mendapatkan sesuatu kalo Kamu aja ga bisa memberi sesuatu. Begitu lah perjanjiannya...," kata sang dukun.
" Tapi sekarang Aku sakit Kek. Jangankan untuk mencari tumbal, untuk makan minumku sendiri aja sulit...," sahut ayah Luna dengan mata berkaca-kaca.
" Lalu kenapa Kamu ga minta tolong sama keluargamu ?, kemana mereka semua. Bukannya mereka juga ikut menikmati kekayaan yang Kamu dapat. Jadi sudah seharusnya mereka yang merawatmu kan...," kata sang dukun.
" Mereka pergi Kek. Mereka emang orang ga tau diri yang cuma bisa mengeruk hartaku. Dan di saat Aku sakit mereka justru meninggalkan Aku begitu saja...," sahut ayah Luna lirih.
__ADS_1
" Bapak bohong !. Bapak yang udah ngusir Ibu sama saudaraku yang lain. Bapak itu selalu memaki Kami dengan kata-kata kotor yang menyakitkan. Dan Saya lihat bagaimana Ibu menangis diam-diam di dapur tiap kali Bapak selesai memakinya...!" sela arwah Luna sambil menatap marah kearah ayahnya.
Rex hanya bisa mengangguk tanda mengerti. Meski suara Luna terdengar lantang namun sayangnya tak akan sampai ke telinga ayahnya dan dukun itu.
Tiba-tiba dukun itu menatap nanar kearah sudut kamar. Ia bergeser perlahan menuju pintu seolah ingin melarikan diri. Ayah Luna pun tahu jika ada sesuatu yang datang ke kamar itu untuk menemuinya.
" Kamu mau kemana Kek, kenapa menjauh begitu...?" tanya ayah Luna.
" Aku harus pergi karena masih ada urusan...," sahut sang dukun sambil membuka pintu lalu keluar dari kamar.
Ayah Luna menoleh saat merasakan hembusan angin kencang menerpa tubuhnya. Dan saat ia menoleh, rombongan pengangkut keranda tengah berdiri di hadapannya sambil menatap lekat kearahnya.
" Siapa Kalian...?" tanya ayah Luna.
" Kami yang selama ini membantumu. Karena Kamu tak juga menyerahkan tumbal seperti kesepakatan awal, maka Kami datang untuk menjemputmu...," sahut salah seorang pengusung keranda.
" Menjemputku, untuk apa...?" tanya ayah Luna cemas.
" Tentu saja menjadi tumbal...," sahut pengusung keranda sambil tersenyum lebar.
Senyum yang mengerikan dari wujud manusia tanpa mata dengan kulit sepucat mayat itu membuat ayah Luna menjerit ketakutan. Ia berussha bergeser dari posisinya semula untuk menjauh namun sayang usahanya gagal.
" Aku ga mau, jangan Aku...!" jerit ayah Luna.
Jeritan ayah Luna terdengar membahana di dalam rumah itu namun tak seorang pun datang untuk menolong.
Rupanya iblis sembahan ayah Luna tak menerima ayah Luna sebagai tumbal karena kondisinya yang tak layak itu. Apalagi arwah Luna yang terperangkap di sana telah berhasil kabur berkat doa tulus yang dibacakan seorang pemuka agama untuknya.
Itu terjadi karena ibu Luna dan saudaranya curiga dengan menghilangnya Luna. Mereka ingat, saat Luna dinyatakan menghilang, tak lama berselang sang ayah memiliki banyak uang untuk membangun rumah dan membeli banyak barang bagus. Hal yang tak pernah dilakukan sang ayah sebelumnya.
Namun saat mereka mengeluhkan hilangnya Luna, sang ayah nampak tak peduli. Karena itu diam-diam mereka mendatangi seorang ulama dan meminta bantuan agar bisa menemukan Luna. Sang ulama memimpin doa untuk menemukan keberadaan Luna dan itu berimbas baik untuk Luna.
Doa yang tulus pun mampu membuat ikatan iblis itu lepas dan Luna pun bebas. Namun sayangnya iblis itu terus mengejar Luna sambil membawa tubuh sang ayah yang sekarat itu untuk memberi peringatan agar Luna mau kembali.
" Jadi sosok dalam keranda itu Ayahmu...?" tanya Rex.
" Iya. Tapi Saya ga mau kembali ke sana...," sahut arwah Luna.
" Kamu tak akan kembali ke sana karena di sana bukan tempatmu. Ada tempat lain yang lebih layak untukmu dan Saya akan membantumu pergi ke sana...," kata Rex.
" Terima kasih Rex...," kata arwah Luna dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama. Sekarang bisa kan Kita kembali...?" tanya Rex.
__ADS_1
" Tentu saja...," sahut arwah Luna dan sedetik kemudian Rex telah kembali ke kamar rawat inap Shezi.
Rex membuka matanya perlahan dan melihat semua mata tengah menatap kearahnya.
" Aku baik-baik saja...," kata Rex.
" Alhamdulillah..., " sahut semua orang sambil tersenyum.
Kemudian Rex menceritakan semua yang dilihatnya tadi kepada keluarganya itu. Lanni adalah orang yang paling terpukul. Ia nampak terisak mendengar cerita Rex.
" Jadi begitu rupanya. Terus apa yang mau Kamu lakukan sekarang Rex...?" tanya Lanni sambil mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
" Sebenarnya Tante Luna udah bisa pergi kalo Kita membantunya. Dan makhluk pengusung keranda itu ga akan bisa mengejarnya lagi karena mereka berbeda alam...," sahut Rex.
" Bagus. Ayo Kita lakukan sekarang...!" kata Lanni antusias.
" Iya Bu. Tapi sebaiknya Ibu berwudhu lagi ya supaya bisa lebih khusu saat mendoakan Tante Luna nanti...," pinta Rex.
" Ok...," sahut Lanni cepat lalu bergegas ke toilet diikuti Lilian.
Tak lama kemudian Rex dan keluarganya melakukan sholat sunah dua rakaat dipimpin Ramon. Setelahnya mereka berdoa untuk Luna. Bersamaan dengan doa yang dilantunkan, arwah Luna nampak berdiri di sudut ruangan.
Jika sebelumnya Luna tampil dalam balutan kain, saat ini ia tampil bebas tanpa lilitan kain.
" Tolong sampaikan pada Ibumu jika Aku menyayanginya tanpa syarat. Berbahagialah selalu. Aku pergi dan terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah dia dan Ramon berikan untukku. Terima kasih atas doa yang Kalian kirimkan untukku. Sekarang Aku harus pergi karena cahaya itu sudah datang menjemput ku...," kata arwah Luna sambil menatap ke atas.
" Iya Tante, pergi lah...," sahut Rex sambil tersenyum.
Setelah doa berakhir, Rex menyampaikan pesan Luna kepada sang ibu. Lanni kembali menangis mendengarnya.
" Tapi yang terpenting adalah terror pengusung keranda itu ga akan ada lagi kan Rex...?" tanya Ramon.
" Harusnya sih gitu Yah. Kan yang mereka kejar juga udah ga ada...," sahut Rex cepat.
" Tapi siapa tau mereka iseng dan sengaja nakutin warga Rex...," sela Gama.
" Kalo mereka mau iseng paling ngejar Shezi Gam...," sahut Rex santai sambil melirik kearah Shezi.
" Eh, kok gitu. Saya ga mau ya Kapten. Kapten...!" panggil Shezi lantang.
Rex mengabaikan panggilan Shezi dengan keluar dari kamar hingga membuat gadis itu mencak-mencak di atas tempat tidur. Tentu saja sikap Shezi membuat semua orang kembali tertawa.
bersambung
__ADS_1
bersambung