
Kemudian Elvira mengajak Rex dan Ustadz Akbar masuk ke dalam panti. Saat itu Bu Tarsih sudah duduk menunggu dan menyambut kehadiran mereka dengan senyum mengembang.
" Assalamualaikum Bu. Ini ada Kapten Rex dan Pakde Aku...," kata Elvira sambil mendekat kearah Tarsih.
" Wa alaikumsalam..., iya Ibu udah liat Nak. Apa Ustadz yang itu yang Kamu maksud Pakdemu Vir...?" tanya Tarsih sambil menatap ustadz Akbar.
" Iya Bu. Ternyata yang Kapten Rex maksud itu Ustadz Akbar. Beliau kakaknya Papi Bu...," sahut Elvira sambil tersenyum.
" Apa kabar Bu, perkenalkan Saya Akbar. Pakdenya Elvira...," kata ustadz Akbar sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
" Iya Ustadz. Nama Saya Tarsih, salam kenal juga...," sahut Tarsih sumringah.
" Maksud tujuan Saya ke sini karena diundang sama Mas Rex Bu. Katanya Ibu minta tolong untuk meruqyah tempat ini...," kata ustadz Akbar.
" Betul Ustadz. Sekali liat aja Ustadz pasti tau kalo ada yang ga beres sama panti asuhan ini. Bukan gitu Pak Ustadz...?" tanyaTarsih sambil tersenyum kecut.
Ustadz Akbar mengangguk mengiyakan ucapan Tarsih.
" Mmm..., kalo boleh Saya ijin melihat-lihat dulu ya Bu...?" tanya Ustadz Akbar.
" Tentu saja. Tapi maaf, Saya ga bisa nemenin. Kaki Saya ga kuat kalo dipake berdiri terlalu lama. Biar Vira yang nunjukin semuanya nanti...," sahut Tarsih.
Ustadz Akbar mengangguk lalu mengikuti Elvira yang mulai memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di dalam panti itu. Rex pun mengikuti dari belakang sambil mendengarkan penjelasan Elvira.
" Di sebelah sana aula tempat Kami biasa berkumpul Pakde. Belakangan jadi ga nyaman ditempati karena sering ada benda jatuh tanpa sebab. Adik-adik ketakutan jadi ga mau ke sana lagi. Padahal sebelumnya hampir semua kegiatan besar dilakukan di aula itu lho Pakde...," kata Elvira sedih.
" Sejak kapan gangguan semacam ini terjadi Vir...?" tanya ustadz Akbar.
" Mmm..., sejak Aku nolak perjodohan yang diatur Mami Pakde...," sahut Elvira lirih namun mengejutkan ustadz Akbar.
" Mengatur perjodohan gimana maksudmu ?, sama siapa...?" tanya ustadz Akbar.
" Sama anak kenalan Mami yang katanya kaya itu Pakde. Namanya Drajat. Waktu itu Mami datang ke sini sama Drajat dan bilang kalo dia adalah calon Suami Aku Pakde. Aku nolak karena Aku ga suka sama Drajat itu. Awalnya Aku kira itu calon Suami Mami karena dia lebih pantas jadi Bapakku daripada Suamiku Pakde...," sahut Elvira gusar.
__ADS_1
" Astagfirullah aladziim. Mami Kamu tuh dari dulu ga berubah. Kenapa sih selalu harta yang ada di kepalanya. Kalo dia mau bersabar sedikit aja, pasti dia bahagia sekarang. Dia ninggalin Papimu saat Papimu susah dan bangkrut. Tapi giliran Papimu sugih, eh mendadak minta balikan. Jelas aja Papimu ga mau. Dulu miskin ditinggalin, pas kaya kok minta balik. Untung Papimu udah nikah sama Ibu tirimu itu. Sekarang kehidupan Papimu jauh lebih baik, lebih terarah dan religius juga...," kata ustadz Akbar sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar ucapan sang pakde membuat Elvira terharu. Ia sama sekali tak tahu kabar sang ayah. Sejak kabur meninggalkan rumah beberapa tahun lalu, Elvira seolah menutup diri dari semua informasi mengenai kedua orangtuanya itu. Dan saat mengetahui sang ayah bahagia, Elvira pun ikut bahagia.
" Terus gangguan apa lagi yang Kalian alami...?" tanya ustadz Akbar sambil berjalan melihat kamar-kamar yang ada di dalam panti asuhan itu.
" Adik-adik sering denger suara aneh, kadang suara orang nangis, orang lagi ribut, atau kaya orang cuci piring bahkan suara binatang buas kaya harimau yang keliling dari kamar satu ke kamar lainnya. Anehnya suara itu hanya terdengar di waktu malam dan keadaan sepi Pakde. Makanya mereka jadi kurang tidur dan mengantuk di sekolah. Nilai pelajaran mereka juga menurun gara-gara waktu tidur mereka terganggu dengan suara aneh itu Pakde...," kata Elvira menjelaskan.
" Ok, Pakde mengerti. Sebaiknya Kita sholat berjamaah Ashar nanti di aula itu ya Nak. Tolong kasih tau semua penghuni panti agar semua ikut sholat. Perempuan yang sedang berhalangan karena tamu bulanan tetap hadir dan berdzikir aja nanti...," kata ustadz Akbar.
" Siap Pakde...," sahut Elvira sambil bergegas memberi tahu penghuni panti dan meninggalkan tamunya begitu saja.
" Terus gimana sama biawak itu Ustadz...?" tanya Rex.
" Kita urus nanti setelah Kita menyingkirkan gangguan di panti ini Mas Rex...," sahut ustadz Akbar cepat.
Rex mengangguk tanda mengerti. Kemudian Rex dan ustadz Akbar kembali ke ruang tamu untuk menemui Tarsih yang masih duduk menunggu di sana.
\=\=\=\=\=
Melihat anak asuhannya menjerit tak terkendali membuat Tarsih dan pengurus panti cemas. Beruntung Rex membantu menenangkan mereka.
" Jangan panik ya, semua tetap tenang dan lanjutkan dzikir Kalian. Menjauh dari teman yang kerasukan biar Kalian ga ikut kerasukan nanti...!" kata Rex mengingatkan.
Anak-anak panti tampak menuruti ucapan Rex. Mereka menepi ke pinggir aula dan melanjutkan berdzikir. Kemudian Rex membantu ustadz Akbar untuk menenangkan anak-anak yang kerasukan.
Setengah jam kemudian semua anak-anak itu pun siuman.
" Insya Allah gangguan pada tempat ini sudah pergi. Kita berhasil mengusirnya bersama-sama tadi...," kata ustadz Akbar dengan rendah hati.
" Apa gangguan itu ga bakal balik lagi Ustadz...?" tanya seorang pengurus panti yang merupakan juru masak di panti itu.
" Insya Allah ga Bu. Apa selama ini makanan yang disajikan selalu cepat basi Bu...?" tanya ustadz Akbar.
__ADS_1
" Betul Ustadz. Saya sampe bingung cara ngakalinnya. Saya juga capek karena harus berkali-kali masak. Biasanya lauk yang dimasak siang kan bisa tahan sampe makan malam. Karena khawatir basi, jadi Saya masak menjelang waktu makan aja biar makanan bisa langsung habis...," sahut sang koki kesal.
" Keliatannya ada makhluk halus yang melakukan sesuatu di dapur dan bikin semua bahan makanan cepat basi saat dimasak. Makanya usahakan baca basmalah dan berdzikir tiap kali mengolah makanan supaya bisa menetralisir pengaruh yang sengaja ditebar oleh makhluk halus suruhan itu. Berdzikir dalam setiap kesempatan itu ringan dan besar pahalanya lho Bu...," kata ustadz Akbar mengingatkan.
" Baik Ustadz..., " sahut sang koki.
" Sekarang semua kembali ke tempat masing-masing dan ga usah takut lagi ya. Dan ingat pesan Saya tadi...," kata ustadz Akbar.
" Baik Ustadz, makasih...," kata semua orang bersamaan.
" Sama-sama...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
Semua penghuni dan pengurus panti keluar dari aula. Hanya tersisa Elvira, Tarsih, Rex dan ustadz Akbar di aula itu.
" Setelah ini Saya akan membantu menetralisir gangguan yang dialami Elvira ya Bu...," kata ustadz Akbar hingga membuat Tarsih terkejut lalu menoleh kearah Elvira.
" Ada apa lagi Ustadz ?, memangnya Kamu kenapa Vir ?. Apa ada sesuatu yang terjadi tapi Kamu ga mau cerita sama Ibu...?" tanya Tarsih dengan nada kecewa.
" Maaf Bu, Aku ga bermaksud merahasiakan semuanya dari Ibu. Aku cuma ga mau nambah beban pikiran Ibu karena Ibu udah lumayan pusing sama masalah gangguan di panti selama ini...," sahut Elvira sambil mengusap lengan Tarsih dengan lembut.
" Tapi sekarang semuanya udah selesai. Apa Kamu masih ga mau cerita juga Vir...?" tanya Tarsih penuh harap.
Elvira menghela nafas panjang lalu mulai menceritakan kejadian mistis yang ia alami.
" Tadi aja waktu mau masuk panti Aku ngeliat biawak itu lagi Bu. Ukurannya jumbo alias lebih gede dari biasanya. Aku sampe takut dan ga berani masuk ke sini tadi. Untung Pakde sama Kapten Rex datang dan nganterin Aku ke sini...," kata Elvira di akhir ceritanya.
" Ya Allah, kasian banget Kamu Nak...," kata Tarsih sambil menatap Elvira dengan tatapan iba.
" Makanya Pakde mau bantuin Aku supaya ga dikejar biawak jadi-jadian itu lagi Bu...," sahut Elvira.
" Jadi apa yang sebenarnya terjadi Ustadz...? " tanya Tarsih.
Ustadz Akbar nampak menghela nafas seolah berat menceritakan yang terjadi. Tarsih, Rex dan Elvira tampak masih setia menunggu jawaban ustadz Akbar sambil menatap lekat kearah sang ustadz.
__ADS_1
bersambung