
Setelah perjalanan sempat terhenti karena ulah Shezi dan Rex, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di depan kost-an Shezi.
Sebelum turun dari mobil Shezi sempat menoleh kearah Nyai Hadini dan tersenyum padanya.
" Senang bertemu denganmu Nyai, terima kasih telah membantuku pulih lebih cepat...," kata Shezi dengan tulus.
" Sama-sama Shezi...," sahut Nyai Hadini sambil tersenyum.
Kemudian Shezi turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rex hingga membuat pria itu kesal. Rex nampak mengerutkan keningnya karena merasa tak nyaman saat Shezi mengabaikannya.
" Sampe kapan Kita di sini Rex ?. Shezi udah masuk ke dalam rumah sejak tadi lho...," tegur Nyai Hadini.
Ucapan Nyai Hadini menyadarkan Rex dari lamunannya. Rex nampak menghela nafas panjang lalu melajukan mobil milik sang ayah perlahan.
" Ga usah kesel gitu Rex. Harusnya yang marah kan Shezi karena Kamu udah menciumnya tanpa permisi tadi...," kata nya Hadini sambil mengulum senyum.
" Aku kan ga sengaja Nyai, itu refleks karena kondisi mendesak...," sahut Rex sambil meraba bibirnya.
" Mendesak tapi kok minta lebih...," sindir Nyai Hadini sambil tertawa.
" Siapa bilang Aku...," ucapan Rex terputus karena saat ia menoleh Nyai Hadini sudah raib entah kemana.
Rex hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Entah mengapa perasaan Rex malam ini sedikit berbeda dari biasanya. Rex pun menginjak pedal gas untuk mempercepat laju mobil agar bisa tiba di rumah lebih cepat.
Sementara itu di kamarnya Shezi nampak kesal saat mengingat bagaimana cara Rex menciumnya tadi.
Shezi yang saat itu baru saja selesai mandi nampak melintas di depan Agnes yang sedang mengambil air minum di dapur.
" Ck, gimana cara ngilangin rasa ini sih...," gumam Shezi sambil mengusap bibirnya dengan handuk.
" Digosok terus Zi, lama-lama lecet tuh bibir. Lagian kenapa digosok begitu sih, emangnya Lo abis dicium cowok yang ga Lo suka ya...?" tanya Agnes sambil menuang air dalam gelas.
Ucapan lugas Agnes membuat Shezi berhenti menggosok bibirnya. Ia pun menoleh kearah Agnes yang saat itu tengah meneguk air minum dari gelas.
" Tau darimana Lo kalo Gue abis dicium sama cowok yang ga Gue suka...?" tanya Shezi hingga membuat Agnes terkejut dan tersedak.
__ADS_1
" Jadi Lo beneran abis dicium sama cowok Zi...?!" tanya Agnes antusias.
" Ck, ga usah lebay deh. Cowok ini bukan cowok istimewa di hidup Gue. Jadi Lo ga usah kepo pake mau cari tau siapa orangnya...," sahut Shezi dengan enggan.
Agnes tertawa mendengar jawaban Shezi. Entah mengapa menggoda Shezi dengan tema lawan jenis merupakan keasyikan tersendiri untuk Agnes.
" Apa cowok itu pernah ke sini Zi...?" tanya Agnes.
" Belum pernah...," sahut Shezi berbohong.
" Jadi Gue belum pernah liat dong...," kata Agnes sambil cemberut.
" Kan Gue udah bilang supaya Lo ga kepo. Karena percuma Lo nebak siapa orangnya kalo Lo aja belum pernah ketemu sama dia...," sahut Shezi sambil berlalu.
" Gue Kirain cowok yang dulu nganterin Lo pulang dari Rumah Sakit Zi...!" kata Agnes lantang.
" Bukan...!" sahut Shezi sambil menutup pintu kamar.
" Masuk akal sih. Mana mungkin Shezi nolak ciuman cowok seganteng dan sekeren itu...," gumam Agnes sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Rupanya Shezi memilih jalan damai dengan Nato dan keluarganya. Hal itu jelas membuat Rex kecewa. Namun Rex mencoba memaklumi sikap Shezi mengingat hubungan kekeluargaan yang Shezi dan Nato miliki.
" Tapi Shezi cukup pintar dengan menjadikan perdamaian kali ini sebagai ajang untuk memperjelas hubungannya dengan keluarga Nato...," kata AKP Taufan.
" Maksud Lo gimana Fan...?" tanya Rex tak mengerti.
" Shezi sengaja membawa kertas bermaterai berisi perjanjian yang menyatakan jika Nato berani menemuinya lagi dengan alasan apa pun, maka Shezi akan meneruskan pelaporan kasus penganiayaan ini hingga ke pengadilan...," sahut AKP Taufan.
Jawaban Taufan membuat Rex tersenyum. Dalam hati ia merasa bangga dengan kedewasaan sikap Shezi. Meski pernah disakiti, namun Shezi masih mengedepankan hubungan darah diantara sang Bude dengan almarhumah Ibunya.
" Terus gimana reaksi Nato dan Ibunya...?" tanya Rex penasaran.
" Mereka setuju begitu aja dan langsung menandatangani kesepakatan itu. Keliatannya penjara udah bikin Nato takut dan ga berani bertindak macam-macam...," sahut AKP Taufan.
__ADS_1
" Tapi kenapa Gue ga yakin kalo Nato bakal menepati janjinya ya Fan. Soalnya Gue ngeliat cinta yang besar di mata Nato untuk Shezi. Biasanya kalo cinta model begitu kan menjurus ke sikap over protektif bahkan cenderung posessif...," kata Rex.
" Mudah-mudahan sih ga Rex. Soalnya Nato keliatan kapok banget. Apalagi Ibunya juga ngancam bakal mencoret namanya dari daftar keluarga kalo Nato berani berulah lagi...," kata AKP Taufan hingga membuat Rex mengangguk.
" Terus sekarang Shezi dimana...?" tanya Rex.
" Mana Gue tau. Coba aja Lo telephon dia dan tanya dia dimana...," saran AKP Taufan.
" Ck, susah Fan. Shezi lagi ngambek sama Gue, makanya dia ga ngerespon telephon Gue...," kata Rex sambil memijit pelipisnya.
" Masa sih. Pasti gara-gara Lo melakukan sesuatu sama dia, iya kan...?" tanya AKP Taufan.
" Iya sih. Ada kejadian darurat dimana Gue ga sengaja nyium dia...," sahut Rex salah tingkah hingga membuat Taufan tertawa.
" Ga sengaja atau emang niat...?" goda AKP Taufan sambil menaik turunkan alisnya.
Bukannya menjawab, Rex justru tertawa keras. Taufan pun menepuk pundak sang sahabat sambil menyatakan dukungannya.
" Ayo Rex, kejar dia. Shezi itu cewek yang baik. Dan Gue yakin dia cocok sama Lo...," kata AKP Taufan.
" Thanks suportnya Bro. Tapi waktu Gue mau jadian sama Aksara Lo juga bilang kaya gitu. Sebenernya Lo tulus ga sih Fan...?" tanya Rex sambil menatap sahabatnya itu dengan tatapan curiga.
" Masa sih, kok Gue lupa ya Rex. Tapi yang penting Lo tau kalo Gue care sama Lo. Siapa pun pasangan Lo nanti, asal Lo bahagia Gue pasti ikut bahagia..., " sahut AKP Taufan bijak.
" Ck, ngeles aja Lo kaya Metromini...," kata Rex sambil mencibir hingga membuat AKP Taufan kembali tertawa.
Sesaat kemudian Rex mengikuti saran sahabatnya itu. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Shezi. Di saat yang bersamaan Shezi juga tengah berusaha menghubungi Rex.
" Assalamualaikum Zi, tolong jangan tutup dulu. Ada yang mau Aku omongin sama Kamu. Penting Zi...!" kata Rex cepat karena khawatir Shezi menolak bicara dengannya.
" Wa alaikumsalam. Ok, kapan dan dimana...?" tantang Shezi hingga membuat Rex tersenyum.
" Biar Aku jemput aja ya...," kata Rex mencoba menawarkan diri.
" Ga usah. Kasih tau aja waktu dan tempatnya, insya Allah Aku bakal datang...," sahut Shezi di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Rex menatap layar ponselnya sambil mengerutkan keningnya karena tak percaya Shezi mengakhiri pembicaraan mereka begitu saja.
\=\=\=\=\=