
Taxi berhenti tepat di depan panti asuhan dimana Elvira tinggal. Karena hari masih sore, Elvira menawarkan Rex untuk mampir.
" Makasih udah bantuin Saya lagi hari ini Kapten...," kata Elvira dengan tulus.
" Sama-sama Bu Elvira...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Apa Kapten mau masuk...?" tanya Elvira sambil membuka pintu Taxi.
" Memangnya boleh...?" tanya Rex.
" Boleh...," sahut Elvira sambil tersenyum.
" Ok, Saya bayar Taxi dulu ya...," kata Rex yang diangguki Elvira.
Kemudian Rex dan Elvira melangkah bersama menuju ke dalam panti. Saat itu Elvira tak mengenakan sepatu. Ia bahkan membuang sisa sepatunya ke tong sampah di depan panti.
Saat memasuki area panti terdengar suara anak-anak sedang tertawa. Rex melihat anak-anak panti yang berusia sekitar tujuh hingga lima belas tahun sedang bermain di halaman samping. Saat melihat kedatangan Elvira, mereka berhenti bermain lalu menoleh kearah Elvira.
" Kakaaakk...!" panggil anak-anak panti sambil melambaikan tangan.
Elvira balas melambaikan tangan sambil tersenyum. Kemudian ia mengajak Rex masuk ke ruang tamu.
" Silakan duduk Kapten. Saya panggil Ibu panti dulu ya...," kata Elvira.
" Ok, makasih Bu...," sahut Rex.
Elvira mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Rex nampak tersenyum mengingat Elvira melangkah tanpa sepatu sejak tadi.
Namun senyum Rex memudar saat ia melihat asap hitam menyelubungi atap di salah satu bangunan panti. Rex bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Namun saat ia keluar rumah, asap hitam itu lenyap begitu saja. Padahal jika melihat kondisi asapnya yang tebal menghitam, mustahil rasanya bisa hilang begitu cepat.
" Kayanya ada yang ga beres...," gumam Rex.
" Kapten Rex...!" panggil Elvira dari dalam rumah.
" Saya di sini Bu Elvira...!" sahut Rex sambil bergegas masuk ke dalam rumah.
Elvira terlihat sedang memapah seorang wanita tua yang berdiri sambil menggunakan tongkat. Wanita itu nampak tersenyum kearah Rex.
" Kenalin ini Ibu Saya, namanya Bu Tarsih. Saya bilang Ibu Saya karena Ibu Tarsih ini yang merawat Saya sejak kecil...," kata Elvira.
__ADS_1
" Assalamualaikum Bu. Kenalkan saya Rex, temannya Bu guru Elvira...," kata Rex dengan santun sambil mencium punggung tangan Tarsih.
" Wa alaikumsalam. Senang melihat teman Elvira sesantun ini...," sahut Tarsih sambil tersenyum.
" Kapten Rex ini juga ikut waktu Aku tugas ke Afrika Bu...," kata Elvira sambil membantu Tarsih duduk di atas kursi.
" Oh ya. Jadi Kalian sudah kenal cukup lama dong...," sahut Tarsih yang diangguki Elvira dan Rex.
Setelah membantu Tarsih duduk, Elvira masuk ke dapur untuk menyeduh kopi. Dan saat itu lah terdengar jeritan anak-anak dari luar panti hingga membuat Rex terkejut. Ia bergegas bangkit untuk keluar namun dicegah oleh Tarsih.
" Ga usah keluar Mas Rex...!" kata Tarsih hingga mengejutkan Rex.
" Tapi gimana sama anak-anak itu Bu...?" tanya Rex bingung.
" Anak-anak gapapa kok, mereka baik-baik aja...," sahut Tarsih cepat.
" Tapi suara jeritan itu...," ucapan Rex terputus karena Tarsih memotong cepat.
" Abaikan suara itu Mas Rex. Kami udah biasa denger suara aneh kaya gitu di sini. Kadang suara anak nangis, kadang suara anak menjerit, kadang suara auman harimau, pokoknya macam-macam deh. Tiap kali dicek ga ada apa-apa. Makanya Saya minta Mas Rex abaikan suara itu...," kata Tarsih.
" Sejak kapan ada suara-suara aneh kaya gitu Bu...?" tanya Rex sambil kembali duduk di tempat semula.
" Sejak Elvira menolak lamaran keluarga yang dijodohkan dengannya...," sahut Tarsih setengah berbisik.
" Apa cuma Ibu yang denger suara itu...?" tanya Rex.
" Anak-anak juga. Tapi anehnya Elvira ga denger apa pun. Makanya dia suka marah dan bilang kalo Kami mengada-ada...," sahut Tarsih sambil tersenyum kecut.
" Ibu bilang Elvira menolak dijodohkan. Emang siapa yang mengatur perjodohan Elvira...?" tanya Rex penasaran.
" Ibu kandungnya Mas. Elvira itu bukan yatim piatu seperti yang dia bilang Mas Rex. Keluarga Elvira dulu adalah salah satu donatur tetap di panti ini. Sejak kecil Elvira sering datang ke sini bersama kedua orangtuanya saat mereka memberi santunan. Namun sayang kedua orangtuanya bercerai saat Elvira remaja. Kemudian Elvira Saya tawari tinggal di sini karena Saya ga tega ngeliat dia keluyuran tanpa arah...," kata Tarsih.
" Kenapa keluyuran tanpa arah ?. Bu Elvira kan bisa memilih tinggal sama salah satu orangtuanya...?" tanya Rex tak mengerti.
" Elvira ga mau memilih ikut Papi atau Maminya. Makanya Elvira kabur dan sembunyi di sini beberapa waktu. Papinya kecewa tapi beliau maklum dan tetap membiayai hidup Elvira tanpa sepengetahuan Elvira. Jadi Elvira hanya tau Saya lah yang membiayai pendidikannya hingga tamat kuliah..," sahut Tarsih sambil tersenyum mengingat masa remaja Elvira.
Pembicaraan terhenti saat Elvira datang dengan membawa tiga buah cangkir berisi kopi dan teh manis hangat.
" Maaf cuma ada kopi Kapten...," kata Elvira sambil meletakkan cangkir kopi di hadapan Rex.
__ADS_1
" Alhamdulillah, ini lebih dari cukup Bu. Makasih...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Lagi ngomongin apaan sih, serius banget...?" tanya Elvira sambil menatap Rex dan Tarsih bergantian.
" Ngomongin Kamu...," sahut Tarsih santai.
" Kenapa Aku, emangnya ga ada hal lain yang bisa jadi bahan obrolan...?" tanya Elvira tak suka.
" Bukan tentang Kamu tapi tentang suara aneh yang didengar Ibu dan anak-anak panti...," kata Rex menengahi.
" Oh suara itu. Kenapa dibahas sih Bu, itu kan ga penting...," kata Elvira.
" Ga penting tapi lumayan ganggu...," sahut Tarsih kesal.
" Aku tau maksud Ibu. Aku juga tau kalo suara itu ada sejak Aku menolak keinginan Mami. Kalo Ibu merasa terganggu, lebih baik Aku pergi aja...," kata Elvira sambil bangkit dari duduknya hingga mengejutkan Tarsih dan Rex.
" Bukan itu maksud Ibu Vira. Kalo suara aneh itu bisa dinetralisir kan lebih baik daripada membuat Adik-adikmu gelisah tiap hari. Ibu juga ga mau Kamu pergi dalam keadaan marah dan terpaksa. Bahaya Nak...," kata Tarsih sedih.
Kedua mata Elvira nampak berkaca-kaca mendengar ucapan Tarsih. Kasih sayang Tarsih yang tulus itu selalu berhasil menyentuh hatinya. Elvira pun memeluk Tarsih dengan erat sambil meminta maaf berkali-kali. Tarsih balas memeluk Elvira sambil mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
" Ehm, maaf kalo lancang. Apa ga sebaiknya minta bantuan seseorang yang paham hal ghaib untuk meruqyah tempat ini...?" tanya Rex hati-hati setelah Tarsih dan Elvira saling mengurai pelukan.
" Saya mau Mas Rex. Tapi Saya ga kenal orang yang bisa meruqyah...," sahut Tarsih cepat.
" Mungkin Kapten bisa bantu Kita Bu...," sela Elvira hingga mengejutkan Tarsih.
" Jadi Kamu setuju kalo tempat ini diruqyah Nak...?" tanya Tarsih dengan wajah berbinar.
" Iya Bu...," sahut Elvira sambil tersenyum.
" Kalo gitu bisa secepatnya kan Mas Rex...?" tanya Tarsih penuh harap.
" Mmm..., Saya ga janji bisa secepatnya ya Bu. Insya Allah Saya bicarakan dulu dengan Ustadz yang akan meruqyah nanti. Karena biasanya beliau sibuk dan sulit ditemui, jadi Saya harap Ibu mau sedikit bersabar...," sahut Rex.
" Insya Allah Saya sabar Mas Rex. Menunggu dalam waktu lama aja Saya bisa, masa cuma menunggu seminggu atau dua Minggu Saya ga bisa...," kata Tarsih sambil tertawa.
Ucapan Tarsih membuat Rex dan Elvira ikut tertawa. Sesaat kemudian Rex pamit undur diri dan Elvira pun mengantarnya hingga ke gerbang panti. Melihat keakraban Rex dan Elvira membuat Tarsih bahagia.
" Andai Kamu mendapat pasangan sebaik dia, Ibu pasti bisa pergi dengan tenang Nak...," gumam Tarsih sambil tersenyum.
__ADS_1
Di depan sana Rex dan Elvira terlibat pembicaraan serius. Sesekali Elvira nampak menoleh ke belakang seolah ada sesuatu yang membuatnya khawatir.
bersambung