Kidung Petaka

Kidung Petaka
69. Melapor...


__ADS_3

Gama melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Di sampingnya terlihat Lilian yang duduk sambil mengamati pergelangan tangannya yang membiru.


" Sakit ga...?" tanya Gama sambil terus menatap ke jalan raya di depannya.


" Lumayan...," sahut Lilian cepat.


" Emangnya apaan sih yang diributin sampe heboh banget kaya gitu...?" tanya Gama.


" Ga tau, ga jelas...," sahut Lilian dengan enggan.


" Belum nikah aja udah kasar apalagi sampe nikah. Bisa-bisa dibunuh Lo sama si Riko...," kata Gama kesal.


" Gue ga ada hubungan apa-apa kok sama dia. Jadi ga mungkin Gue nikah sama dia...!" sahut Lilian lantang.


" Bagus !. Jangan nikah sama dia atau cowok manapun kecuali Gue...," kata Gama sambil menatap Lilian lekat.


Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Lilian mendengus kesal lalu membuang pandangannya kearah lain. Lilian merasa ucapan Gama hanya lelucon konyol yang membuatnya pusing.


" Dasar sableng...," gumam Lilian namun masih bisa didengar oleh Gama dan membuatnya tersenyum.


Tak lama kemudian mereka tiba di kantor polisi. Gama turun dari mobil lalu melapor di pos tentang maksud kedatangannya ke sana. Para polisi nampak antusias mendengar penjelasan Gama dan mempersilakan Gama masuk ke divisi pelayanan masyarakat.


" Kalo boleh tau siapa yang menghubungi Bapak...?" tanya salah seorang polisi dengan santun.


" AKP Taufan...," sahut Gama cepat hingga membuat kedua polisi di hadapannya saling menatap.


" Mungkin ini tamu yang beliau katakan tadi...," sela seorang polisi.


" Oh ya. Kalo gitu tunggu sebentar ya Pak, biar Kami melapor dulu...," kata sang polisi muda.


" Baik, silakan...," sahut Gama sambil tersenyum.


Dua polisi muda itu berlalu meninggalkan Gama dan Lilian di ruangan itu. Gama pun melirik kearah Lilian yang masih memijit ringan pergelangan tangannya.


" Coba Gue liat...," kata Gama sambil menarik lembut tangan Lilian.


Lilian tak menolak dan membiarkan Gama melihat lebam di tangannya itu. Gama tampak mengerutkan keningnya saat melihat pergelangan tangan Lilian yang membiru.

__ADS_1


" Ini pasti keseleo, harus diurut. Kalo ga, bisa-bisa malah ga bisa digerakin nanti...," kata Gama.


" Ga perlu, Gue bisa nanganin ini nanti. Lo ga lupa kan kalo Gue ini perawat...," sahut Lilian.


" Tapi kalo mau, Kamu bisa bikin laporan sekalian Li biar orang yang menganiaya Kamu jera...!" kata Taufan tiba-tiba.


Gama dan Lilian menoleh kearah Taufan yang berdiri di ambang pintu. Keduanya tersenyum lalu berdiri menyambut kedatangan Taufan sambil mengulurkan tangan.


Gama, Lilian dan Taufan pun saling berjabat tangan. Mereka terlibat pembicaraan santai sejenak sebelum akhirnya masuk ke topik utama.


Dua polisi muda yang tadi menemani Gama dan Lilian adalah petugas yang memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka. Taufan hanya duduk sambil mengamati kedua tamunya.


Setelah Gama selesai memberi keterangan, ia pun menunggu di luar ruangan ditemani Taufan.


Saat itu lah Taufan mengatakan sesuatu yang membuat Gama tersipu malu.


" Dari rekaman kamerw CCTV Gue bisa ngeliat apa yang Lo lakuin sama Lian...," kata Taufan sambil tersenyum simpul.


" Emangnya Gue ngelakuin apa, bukan apa-apa kok...," sahut Gama sambil melengos.


" Apaan sih Lo. Gue lakuin itu karena mau nyegah dia supaya ga masuk ke kios yang terbakar itu...," sahut Gama salah tingkah.


" Tapi ga harus meluk juga kali. Gue malah curiga kalo sebenernya Lo punya perasaan berbeda sama Lian...," kata Taufan.


" Ck, jangan mengada-ada deh Fan. Ntar kalo dia tau bisa-bisa Gue yang dimusuhin...," sahut Gama sambil berdecak sebal.


" Tapi Gue ngeliat dari kaca mata penyidik lho Gam...," kata Taufan mencoba meyakinkan.


Ucapan Taufan membuat Gama naik pitam. Ia pun menoleh kearah Taufan dengan tatapan kesal.


" Eh, Lo kan polisi. Harusnya menyelidiki kasus kejahatan, bukan malah sibuk nyelidikin masalah perasaan Gue. Dasar breng**k Lo !. Untung Lo perwira, kalo ga udah pengen Gue hajar aja Lo...!" kata Gama kesal.


Taufan pun tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Gama. Walau dalam hati ia kecewa karena gagal mendekati Lilian, namun ia merasa terhibur melihat tingkah Gama.


Tak lama kemudian Lilian selesai memberi keterangan. Ia terlihat mendatangi Gama dan Taufan yang masih terlibat pembicaraan santai itu.


" Udah...?" tanya Gama.

__ADS_1


" Udah. Balik yuk...," ajak Lilian yang diangguki Gama.


Kemudian Gama dan Lilian pun pamit untuk pulang. Namun langkah mereka terhenti karena Taufan kembali mengingatkan luka di pergelangan tangan Lilian.


" Ini cuma luka kecil. Apa bisa dilaporkan Mas...?" tanya Lilian ragu.


" Bisa, apalagi kalo disertai hasil visum...," sahut Taufan.


" Ga perlu membesar-besarkan masalah. Ini cuma salah paham aja kok...," kata Lilian.


" Tapi menurut penglihatanku sebagai aparat penegak hukum, tindakan temanmu itu bisa tergolong tindak kriminal Li. Kan Kalian ga punya hubungan apa pun yang membuat dia punya hak menyakiti Kamu. Walau sebenarnya dalam sebuah hubungan, apa pun namanya, tetap ga dibenarkan melakukan tindak kekerasan. Secara pribadi Aku khawatir laki-laki itu bakal melakukan sesuatu yang lebih g*la nanti. Beruntung ada Gama tadi, jadi niatnya untuk menyakiti Kamu lagi terhalang. Andai ga ada Gama atau orang lain yang nolongin Kamu, mungkin Kamu udah ada di suatu tempat dalam keadaan ga bernyawa...," kata Taufan dengan mimik serius.


Ucapan Taufan membuat Gama dan Lilian gusar. Kemudian Gama menoleh kearah Lilian dan berusaha membujuk gadis itu agar mengikuti arahan Taufan.


" Sebaiknya ikutin kata Taufan aja. Mencegah lebih baik daripada mengobati, iya ga...?" tanya Gama.


" Betul. Laporan ditampung dan dia ga langsung ditangkap kok. Dia bakal ditangkap saat melakukan tindakan serupa. Dengan cara ini keamanan Kamu lebih terjamin karena ada polisi yang bakal mengawasi gerak geriknya...," kata Taufan bijak.


" Ok deh, kalo gitu Aku setuju. Terus terang Aku juga mulai ga nyaman tiap kali ngeliat dia...," sahut Lilian akhirnya hingga membuat Gama dan Taufan tersenyum.


" Kalo gitu Kalian bisa ke Rumah Sakit untuk meminta visum. Lebih cepat lebih baik karena keliatannya lebam di tanganmu makin melebar Li...," kata Taufan.


" Iya Mas. Aku bakal ke Rumah Sakit sekarang...," sahut Lilian cepat.


Kemudian Gama dan Lilian segera pergi ke Rumah Sakit yang direkomendasikan Taufan.


Mengingat Riko dan Lilian sama-sama karyawan di Rumah Sakit Sentosa, maka Taufan menyarankan agar Lilian melakukan visum di Rumah Sakit lain untuk menjamin data yang diperoleh bisa lebih akurat.


" Rumah Sakit lain bisa netral karena ga terbebani dengan status Kalian...," kata Taufan saat Lilian menanyakan alasannya memilih Rumah Sakit lain.


\=\=\=\=\=


Setelah melaporkan aksi penganiayaan kecil yang dilakukan Riko, kehidupan Lilian pun lebih tenang. Ia tak khawatir Riko akan melukainya karena ia yakin polisi sedang mengawasi pergerakan Riko.


Sementara itu kasus ledakan kios mie ayam itu mulai mendapatkan titik terang. Semua tak lepas dari keterlibatan Rex dan Gama di sana.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2