
Beberapa hari setelah peristiwa naas yang menimpa Shezi, Rex pun menemui kedua orangtuanya dan bicara tentang keinginannya menikahi Shezi.
Bukannya melonjak gembira mendengar pernyataan Rex, Ramon dan Lanni justru bungkam sambil saling menatap bingung.
" Ayah dengerin Aku ngomong kan...?" tanya Rex setelah beberapa saat menunggu respon kedua orangtuanya.
" Iya denger. Ibu juga denger kan...?" tanya Ramon sambil menoleh kearah sang istri.
" Iya...," sahut Lanni sambil mengangguk.
" Terus gimana dong...," kata Rex tak sabar.
" Sebentar Rex, Kamu ga lagi ngeprank Kami kan...?" tanya Ramon.
" Ga lah Yah. Masa hal serius kaya gini Aku bikin bercanda. Aku serius mau nikahin Shezi Yah...," sahut Rex sungguh-sungguh.
" Ehm, tapi masalahnya Shezi mau ga nikah sama Kamu ?. Bukannya hubungan Kalian kaya Tom and Jerry yang selalu berdebat kalo ketemu...?" tanya Lanni sambil menatap Rex lekat.
" Itu kan dulu, sekarang udah ga lagi kok Bu...," sahut Rex cepat.
" Masa sih, kok Ibu ga percaya ya...," kata Lanni sambil bersandar ke sandaran sofa.
Rex terdiam karena sulit meyakinkan kedua orangtuanya itu.
Bukan tanpa alasan Ramon dan Lanni bersikap seperti itu. Selama ini Rex kerap menghindar saat mereka mencoba mengetuk pintu hatinya dengan menceritakan kelebihan Shezi. Apalagi belakangan mereka juga tahu jika Rex dan Shezi layaknya kucing dan tikus saat bertemu.
Suasana kembali hening karena Ramon, Lanni dan Rex terdiam dengan pikiran masing-masing.
" Begini aja. Coba sebutkan dua alasan kenapa Kami harus melamarkan Shezi untuk Kamu Rex...," kata Ramon setelah terdiam beberapa saat.
" Kenapa masih perlu alasan juga Yah. Apa niat tulusku menikahi Shezi ga cukup buat jadi alasan...?" tanya Rex gusar.
" Maaf Rex. Tapi Ayah sulit menerima niat baikmu itu kalo ga Kamu jelasin alasan utama Kamu mau menikahi Shezi...," sahut Ramon tegas.
" Ayah betul. Jangan sampe pernikahan yang suci dan sakral itu cuma jadi bahan mainan di tangan Kamu dan Shezi nanti...," sela Lanni.
" Aku ga sepicik itu Bu. Masa Aku mau mainin pernikahan. Apalagi pernikahan ku nanti kan bakal tercatat resmi secara militer dan negara. Aku tau resiko dari keputusan yang Aku ambil kok. Jadi Ayah sama Ibu ga perlu khawatir..., " kata Rex.
" Sejujurnya Ibu bukan khawatir sama Kamu Rex, tapi sama Shezi. Kasian kan kalo anak sebaik itu harus dapat Suami yang ga mencintai dia dengan tulus. Bisa-bisa Shezi menderita nanti...," kata Lanni.
" Ya Allah, Ibu kok tega banget sih ngomong kaya gitu. Yang anak Ibu tuh Aku atau Shezi sih...?" tanya Rex sambil cemberut.
" Bukan gitu Rex. Ibu senang kalo bisa bermenantukan Shezi. Soalnya dia anak yang manis dan menyenangkan. Sayang kan kalo anak semanis itu harus menikahi Kamu tapi tersakiti...," sahut Lanni sambil tersenyum.
__ADS_1
" Jadi maksud Ibu, Kak Lian ga semanis Shezi...?" tanya Rex mencoba memprovokasi sang kakak.
" Oh beda dong. Kalo Lian itu Anak Ibu yang cantik, imut dan pinter. Ibu sayang sama Lian lebih dari apa pun karena dia kan darah daging Ibu...," sahut Lanni cepat hingga membuat Lilian tersenyum.
" Aku juga sayang sama Ibu...," kata Lilian tiba-tiba sambil memeluk Lanni dari belakang dengan erat. Lilian juga mendaratkan ciuman di pipi sang ibu hingga membuat Lanni tersenyum bahagia.
" Pas banget Kamu datang. Gama mana...?" tanya Lanni sambil membalas pelukan Lilian.
" Aku di sini Bu...!" sahut Gama lantang sambil menutup pintu.
" Alhamdulillah akhirnya lengkap juga. Kebetulan Kalian datang, Ibu sama Ayah butuh saran Kalian nih...," kata Lanni.
" Saran apaan Bu...?" tanya Gama setelah mencium punggung tangan sang mertua.
" Rex mendadak minta nikah. Dia maksa Ayah sama Ibu buat ngelamarin cewek untuk jadi Istrinya...," sahut Lanni sambil melirik kearah Rex.
Tentu saja ucapan Lanni membuat Lilian dan Gama terkejut. Keduanya menatap Rex dengan tatapan tak percaya dan itu membuat Rex kesal.
" Ngapain ngeliatnya kaya gitu sih. Belum pernah liat orang kebelet nikah ya...?!" tanya Rex dengan galak sambil melempar sendok plastik kearah Lilian dan Gama.
Lilian dan Gama berhasil menghindar sambil tertawa. Tapi sesaat kemudian keduanya mulai bersikap serius.
" Emangnya siapa yang mau dilamar Rex Bu...?" tanya Lilian.
" Shezi...," sahut Ramon dan Lanni bersamaan.
" Iya...," sahut Ramon dan Lanni.
" Kalo dia sih Aku setuju Yah. Aku suka sama Shezi, orangnya asik. Walau sedikit nyeleneh, tapi Ok lah...," kata Lilian sambil mengacungkan jempolnya.
Ucapan Lilian membawa angin segar untuk Rex. Ia tersenyum lalu memeluk Lilian erat hingga membuat sang kakak menjerit saking kerasnya pelukan Rex.
" Sakit tau...!" kata Lilian sambil memukuli punggung sang adik.
" Lepasin Rex, Lo bisa bikin Lian susah nafas...," kata Gama sambil menarik Rex agar menjauh dari istrinya.
" Posessif banget sih Lo Gam. Dia kan Kakak Gue...!" kata Rex kesal.
" Iya tau, tapi Lian tuh Istri Gue Rex...!" sahut Gama tak mau kalah.
" Sssttt..., apa-apaan sih Kalian ini. Duduk...!" kata Ramon lantang hingga membuat Rex dan Gama duduk di tempat semula.
" Udah ributnya kan ?. Sekarang gimana nih, kapan Kita mau ngelamar Shezi...?" tanya Lanni sambil menatap anak dan menantunya bergantian.
__ADS_1
Pertanyaan Lanni membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut hingga mereka menganga tak percaya.
\=\=\=\=\=
Dan kini keluarga Rex tengah berkunjung ke kost-an Shezi. Kedatangan mereka membuat Shezi panik.
" Kenapa bingung gitu sih Zi ?. Aku udah bilang kan kalo bakal ngajak keluargaku ke sini...," kata Rex membuyarkan lamunan Shezi.
" Iya sih. Tapi Aku kira Kamu bercanda...," sahut Shezi sambil menggigit bibirnya.
" Emangnya selama ini Rex ga pernah ngomong serius sama Kamu tentang keinginannya untuk menikahi Kamu Zi...?" tanya Lanni tiba-tiba.
" Maaf Bu, seinget Aku sih ga pernah ya...," sahut Shezi ragu.
Jawaban Shezi membuat semua orang terkejut. Bahkan Rex harus menerima jeweran di telinganya dari sang ibu hingga membuat Rex meringis kesakitan.
" Jadi Kamu bohongin Kita ya Rex...," kata Lanni gemas.
" Ga Bu. Tapi Aku udah bilang berkali-kali kalo Shezi itu calon istriku. Bahkan Aku juga bilang begitu di depan Budenya. Apa Kamu lupa Zi...?!" tanya Rex sambil menatap Shezi lekat.
" Emangnya Kamu serius Kapten, Aku pikir Kamu lagi bercanda...," kata Shezi tak enak hati.
" Aku serius Sheziiii...!" sahut Rex gemas.
" Ups sorry, Aku kan ga tau...," sahut Shezi hingga membuat semua orang tertawa.
" Ok gapapa. Tapi sekarang Aku serius Zi. Aku datang ke sini karena mau melamar Kamu secara resmi untuk jadi Istriku. Kamu mau kan menikah sama Aku...?" tanya Rex sambil menggenggam jemari Shezi dan menatap kedua mata gadis itu lekat.
" Maaf Kapten. Tolong kasih Aku waktu buat berpikir ya. Ini terlalu mendadak banget...," sahut Shezi.
" Tapi Aku ga bisa nunggu Zi. Aku mau jawaban Kamu malam ini juga...!" kata Rex.
" Kenapa jadi maksa gitu sih Kapten. Aku jadi takut nih...," sahut Shezi sambil menarik tangannya dari genggaman Rex.
" Ehm, maaf kalo mengganggu keromantisan Kalian. Shezi, bisa Kita bicara sebentar ?, empat mata aja...," pinta Lilian.
" Ok Kak...," sahut Shezi lalu bangkit mengikuti Lilian keluar rumah.
Di ruang tamu terlihat Lanni, Ramon dan Gama yang menggelengkan kepala melihat sikap santai Rex.
" Keliatannya Lo yakin banget kalo lamaran Lo bakal diterima Rex...," kata Gama.
" Insya Allah. Karena Gue yakin sama takdir Gue dan Shezi..., " sahut Rex sambil tersenyum.
__ADS_1
Jawaban Rex mengejutkan Ramon, Lanni dan Gama. Mereka saling menatap bingung. Namun sesaat kemudian ketiganya nampak tersenyum karena yakin jika Rex tak main-main dengan ucapannya.
\=\=\=\=\=