Kidung Petaka

Kidung Petaka
222. Sombong Banget...


__ADS_3

Rex mengikuti kemana arah wanita itu bergerak dengan matanya. Shezi hanya duduk menunggu sambil ikut mengamati wanita itu dari kursi rodanya.


Wanita itu adalah Itje, Mama Aksara. Dia terlihat panik dan memanggil beberapa perawat yang ada di loby. Dua perawat nampak menghampiri lalu bergegas mengikuti Itje sambil membawa sebuah kursi roda.


" Kok kursi roda sih. Pake tempat tidur dong. Suami Saya pingsan dan ga mungkin duduk di kursi roda...!" kata Itje lantang.


" Kalo mau cepat pake yang ada aja dulu ya Bu. Tempat tidurnya letaknya jauh dari sini. Yang penting kan pasiennya keangkat dan bisa segera ditangani...," kata seorang perawat dengan santun.


" Ga bisa !. Suami Saya harus langsung dapet penanganan yang baik. Saya ga mau kalo cuma diangkat pake kursi roda. Suami Saya pingsan bukan cacat...!" kata Itje marah.


" Sekarang yang penting pasien cepet ditolong dulu Bu, jangan ngeributin pake apa dibawa. Toh udah sampe Rumah Sakit pasti segera dibantu sesuai kebutuhannya nanti. Kalo Ibu terus ngeributin kursi roda, yang ada sakit Suami Ibu tambah parah. Emangnya Ibu mau kaya gitu...?!" kata seorang perawat pria dengan tegas.


Itje terdiam lalu bergegas ke parkiran untuk menunjukkan letak mobilnya. Melihat dua perawat itu kesulitan mengeluarkan tubuh Azam yang pingsan, Rex pun tergerak membantu.


Itje nampak terpaku melihat kehadiran Rex yang sigap menggendong Azam lalu meletakkannya di atas kursi roda.


" Makasih ya Mas...," kata kedua perawat itu bersamaan.


" Sama-sama..., " sahut Rex sambil tersenyum kemudian berbalik dan melangkah menuju Shezi yang duduk menunggu di depan loby.


" Makasih udah bantu Suami Saya ya Rex...!" kata Itje lantang.


" Sama-sama Tante...," sahut Rex tanpa menoleh.


Itje nampak tak enak hati melihat sikap Rex yang nampaknya masih tak terima dengan sikap dan ucapannya dulu. Namun itu hanya sesaat. Karena setelahnya ia berjalan cepat menuju receptionist untuk mengurus administrasi pengobatan suaminya.


" Kita pergi sekarang...," kata Rex sambil mulai mendorong kursi roda Shezi.


" Ok...," sahut Shezi cepat.


Namun baru beberapa meter melangkah Rex berhenti karena mendengar keributan di meja receptionist. Rupanya Itje marah karena penanganan suaminya tertunda karena masalah administrasi.


Lagi-lagi Rex tergerak untuk membantu dan meninggalkan Shezi sendiri.


" Ada apa Suster...?" tanya Rex.

__ADS_1


" Ini Mas. Ibu ini minta Suaminya ditangani langsung sama dokter Erwin, tapi saat ini dokter Erwin lagi dalam pesawat menuju Bali. Ibu ini ga mau dokter lain dan maksa supaya Kami nelephon dokter Erwin. Terus Ibu ini juga minta ruang rawat inap kelas satu tapi bayar depositnya kurang. Saya sarankan ditangani dokter lain dan ruangan kelas tiga aja tapi Ibu ini menolak...," sahut petugas receptionist yang memang telah mengenal Rex sebagai adik suster Lilian.


" Depositnya kurang berapa Suster...?" tanya Rex sambil mengeluarkan dompetnya.


" Satu juta dua ratus ribu rupiah Mas...," sahut petugas receptionist.


" Ini Saya bayar. Tolong kasih ruangan yang Ibu ini minta ya. Dan soal dokter Erwin, Saya minta tolong dibantu. Coba hubungi dokter Erwin nanti dan tanyakan solusinya...," kata Rex bijak.


" Baik Mas...," sahut petugas receptionist sambil tersenyum.


" Sama-sama...," sahut Rex lalu berbalik dan bersiap pergi.


Namun kali ini Itje berhasil menghadang langkah Rex dengan berdiri tepat di depannya.


" Saya ga suka berhutang sama Kamu Rex. Saya bakal ganti uang yang Kamu pinjamkan tadi...!" kata Itje dengan ketus.


" Iya Tante. Ga diganti juga gapapa kok, Saya ikhlas. Saya membantu karena Saya menghargai Tante dan Om sebagai orangtua Aksara...," sahut Rex datar.


" Jangan besar kepala Kamu Rex. Uang segitu ga ada apa-apanya buat Anak Saya. Dia itu dokter hebat, kerja di Rumah Sakit terkenal, karirnya bagus dan penghasilannya juga besar. Jadi Saya pastikan uang Kamu bakal diganti dua kali lipat nanti. Denger kan Rex, dua kali lipat...!" kata Itje sambil menunjukkan dua jari tangannya di depan wajah Rex.


" Iya Saya percaya. Sebaiknya sekarang Tante temenin Om Azam dulu ya. Kalo Tante teriak-teriak di sini malah jadi tontonan orang. Selain itu kasian yang di belakang Tante, mereka juga mau ngurus keperluan keluarganya yang sakit dan perlu dirawat lho Tante...," kata Rex sambil menatap ke barisan orang yang berdiri mengantri di belakang Itje.


Rex menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut. Kasak kusuk pun terdengar dari dalam antrian. Sebagian besar membicarakan kebaikan Rex yang tak direspon dengan baik oleh Itje.


" Padahal udah dibantuin. Bukannya terima kasih malah marah-marah. Dasar perempuan stress...," gerutu seorang pengunjung.


" Iya. Sombong banget ngomongnya. Katanya Anaknya dokter hebat dan kerja di Rumah Sakit terkenal. Tapi kenapa justru dibawa ke sini ?. Harusnya kan ke Rumah Sakit tempat anaknya kerja itu...," kata salah seorang pengunjung wanita dengan sinis.


" Mungkin Rumah Sakit tempat anaknya kerja ga mau nerima karena tingkah laku Ibunya yang arogan itu Bu...," sahut seorang pria.


" Iya betul. Wah jadi kasian deh sama Anaknya kalo punya Ibu model gitu...," kata wanita itu sambil mencibir.


Rex pun mengabaikan ucapan para pengunjung di dalam antrian itu lalu bergegas melangkah untuk menemui Shezi.


Tiba di depan loby Rex tampak kebingungan mencari Shezi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri karena tak menjumpai Shezi di tempat ia tinggalkan tadi.

__ADS_1


" Cari siapa Mas...?" tanya seorang pria.


" Cari perempuan yang pake kursi roda di sini Pak. Bapak liat ga...?" tanya Rex.


" Wah kalo pasien pake kursi roda kan banyak Mas, namanya juga Rumah Sakit. Bisa lebih spesifik ga Mas ?. Warna bajunya kek, atau ciri-ciri fisik lainnya gitu...," kata pria itu sambil menggaruk kepala.


" Mmm..., pake baju putih, celana panjang biru, rambutnya...," ucapan Rex terputus saat matanya melihat Shezi tengah berada di dekat sebuah Taxi.


Saat itu supir Taxi nampak sedang berusaha membantu membuka pintu mobil dan bersiap memapah Shezi untuk masuk ke dalam Taxi.


" Shezi tunggu...!" panggil Rex.


" Udah ketemu Mas...?" tanya pria itu.


" Udah Pak, tuh di sebelah sana. Saya permisi ya Pak, makasih...," sahut Rex cepat sambil bergegas mendatangi Shezi.


" Iya Mas...," sahut pria itu sambil menatap punggung Rex yang menjauh.


Saat tiba di samping Taxi, Rex segera mengambil alih tangan Shezi dari genggaman tangan sang supir Taxi.


" Biar Saya aja Pak...," kata Rex.


" Baik Mas...," sahut supir Taxi lalu menepi.


Kemudian Rex mengalungkan lengan Shezi ke lehernya untuk memudahkannya memapah gadis itu.


" Kenapa Kamu ga tunggu Saya Zi...?" tanya Rex.


" Saya ga mau jadi beban Kapten. Bukannya Kapten lagi bantuin orang tadi ya. Keliatannya Ibu itu punya arti penting di hidup Kapten...," sahut Shezi sambil tersenyum.


Namun senyum Shezi memudar saat Rex menoleh cepat dan menatap kedua matanya dengan tajam.


Saat Rex dan Shezi tengah saling menatap, sebuah suara menyapa hingga membuat keduanya terkejut.


" Apa kabar Rex...?" sapa seorang wanita.

__ADS_1


Rex dan Shezi menoleh ke sumber suara dan terpukau melihat dokter Aksara yang nampak berdiri anggun dengan senyum manis menghias wajah cantiknya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2