Kidung Petaka

Kidung Petaka
225. Dipaksa Menjenguk


__ADS_3

Shezi akhirnya kembali ke apotik setelah sepuluh hari cuti bekerja. Ia disambut Dina dan Tia di depan apotik. Ketiganya saling memeluk sambil melompat bagai tiga anak kecil.


" Akhirnya Lo masuk kerja juga Zi. Gimana kaki Lo, udah gapapa kan...," kata Tia sambil mengamati kaki kiri Shezi.


" Alhamdulillah. Kalo dipake lompat kaya barusan sih sakit, tapi kalo buat jalan aja mah Ok...," sahut Shezi sambil meringis.


" Ya Allah, masih sakit ya Zi. Sorry kalo tadi ngajakin Lo lompat-lompat...," kata Dina dengan nada menyesal.


" Gapapa. Tapi tolong jangan ajakin Gue lompat atau lari untuk sementara ini yaa...," pinta Shezi penuh harap.


" Ok Zi...!" sahut Dina dan Tia bersamaan kemudian ketiganya tertawa.


" Terus naik apa ke sini Zi...?" tanya Dina.


" Terpaksa naik ojol. Abis dokter bilang Gue ga boleh bawa motor dulu...," sahut Shezi sambil tersenyum kecut.


" Udah gapapa. Ikutin aja aturan dokter biar cepet sembuh...," kata Dina.


" Iya...," sahut Shezi cepat.


" Kita ngobrol di dalem aja yuk guys...," ajak Tia sambil bersiap membantu Shezi melangkah.


" Ok...," sahut Shezi dan Dina bersamaan.


Kemudian ketiganya masuk ke dalam apotik. Dina menutup pintu lalu berbalik menyusul Tia dan Shezi.


Dari kejauhan sepasang mata nampak menatap nanar kearah Shezi. Pemilik sepasang mata itu adalah pria bernama Nato yang merupakan sepupu Shezi.


Nato tersenyum saat melihat Shezi. Ia nampak membasahi bibirnya pertanda ia sangat menginginkan Shezi.


" Jadi kabar itu ga salah. Ternyata Kamu emang sembunyi di sini Zi Sayang...," gumam Nato sambil menstarter motornya.


Sesaat kemudian Nato melajukan motornya meninggalkan apotik tempat Shezi bekerja.


\=\=\=\=\=


Sudah dua hari Aksara dirawat di Rumah Sakit Sentosa. Namun Rex tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Jangankan untuk menjenguk Aksara, menanyakan kabarnya pun tak Rex lakukan.


Hal itu membuat Itje dan Azam bertanya-tanya. Aksara yang mulai pulih pun tak bisa menjawab pertanyaan kedua orangtuanya itu.


" Kenapa selama Kamu dirawat di sini Rex ga pernah jenguk Kamu Sa...?" tanya Azam.


" Rex sibuk Pa...," sahut Aksara asal.


" Oh ya. Sesibuk apa sih sampe ngejenguk Kamu aja ga sempet...," sindir Itje sambil meletakkan potongan mangga di atas piring.


" Mama...," kata Azam mengingatkan sang istri.

__ADS_1


" Iya iya, maaf Pa. Mama keceplosan...," sahut Itje sambil mengusap lengan suaminya.


Azam tersenyum mendengar kalimat Itje. Istri yang biasanya pemarah itu kini tampak lebih lembut dan sabar. Dalam hati Azam menyukai perubahan istrinya itu.


" Kenapa ga coba Kamu hubungi aja Sa. Papa kangen sama Rex. Kan udah lama Papa ga ketemu dan ngobrol sama Rex...," kata Azam sambil memasukkan potongan mangga ke dalam mulutnya.


Aksara nampak gusar mendengar permintaan sang papa. Ia tahu kondisi papanya belum stabil. Karena Aksara tak ingin menambah beban pikiran sang papa, ia pun memutuskan menghubungi Rex.


" Iya, Aku telephon Rex dulu ya Pa...," kata Aksara sambil bergeser menjauh dari kedua orangtuanya.


Dengan ragu Aksara mendial nomor telephon Rex. Tak lama kemudian terdengar suara Rex di seberang telephon.


" Assalamualaikum, Iya kenapa Sa...?" tanya Rex.


" Wa alaikumsalam. Kamu dimana Rex...?" tanya Aksara.


" Lagi di luar nih. Kenapa...?" tanya Rex.


" Mmm..., Papa mau ketemu sama Kamu...," sahut Aksara setengah berbisik.


" Ketemu sama Aku, ada apa ya...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.


" Kata Papa sih kangen mau ngobrol sama Kamu...," sahut Aksara cepat.


Rex terdiam dan itu membuat Aksara cemas. Ia menunggu pria itu bicara dengan hati berdebar.


" Maaf, Aku belum...," ucapan Aksara terputus karena Rex memotong cepat.


" Itu bisa bikin Papa Kamu salah paham sama Aku Sa...," kata Rex dengan nada bicara sedikit tinggi.


" Iya, maaf...," sahut Aksara lirih.


" Kapan Kamu mau ke sini Rex...?!" tanya Azam tiba-tiba dengan suara lantang dan terdengar oleh Rex.


Rex menghela nafas panjang lalu menjawab permintaan Azam melalui Aksara.


" Tolong sampein sama Papa Kamu, insya Allah Aku jenguk Beliau nanti. Sekarang Aku masih harus ngelanjutin tugas Aku. Gitu aja ya Sa, Assalamualaikum...," kata Rex tegas lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Aksara nampak mematung sambil menatap layar ponselnya. Kedua mata Aksara nampak berkaca-kaca mendapati sikap Rex yang tak lagi sehangat dulu. Namun Aksara sadar jika kesalahannya lah yang telah membuat hati Rex berubah.


" Gimana Sa, apa kata Rex...?" tanya Azam membuyarkan lamunan Aksara.


" Dia janji bakal ke sini setelah tugasnya selesai Pa. Ga bisa ngobrol banyak, soalnya lagi tugas di luar...," sahut Aksara sambil melangkah ke tempat tidur dan berbaring di sana.


Azam dan Itje saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Rex tiba di Rumah Sakit Sentosa saat malam hari di luar jam besuk. Ia menemui Lilian dan minta sang kakak menemaninya menjenguk Azam.


" Maaf Rex Kakak ga bisa. Ada operasi dadakan dan Kakak harus stand by di ruang operasi...," kata Lilian tak enak hati.


" Lama ga Kak...?" tanya Rex.


" Paling lama dua jam. Apa Kamu mau nunggu Kakak selesai bantuin operasi atau...," ucapan Lilian terputus saat Rex memotong cepat.


" Kelamaan Kak. Ya udah gapapa, Aku sendirian aja. Kakak pulang jam berapa...? " tanya Rex.


" Aku shift malam Rex. Besok pagi baru pulang. Emang Kamu mau nungguin Kakak pulang...?" tanya Lilian sambil mengulum senyum.


" Makin lama dong Kak. Aku langsung balik aja nanti. Kebetulan Ibu juga nitip beli obat nih...," sahut Rex.


" Obat apaan...?" tanya Lilian yang ingat jika sang ibu sedang dalam kondisi fit belakangan ini.


" Obat yang kata Ibu cuma ada di apotik tempatnya Shezi kerja...," sahut Rex sambil melengos.


Ucapan Rex membuat Lilian tertawa karena ia tahu apa niat sang ibu menyuruh Rex membeli obat di apotik itu.


" Udah Kak, ketawa mulu. Aku jenguk Om Azam dulu ya...," pamit Rex.


" Aksara juga kan Rex...," goda Lilian.


" Iya iya, Aksara juga...," sahut Rex sambil berlalu.


Lilian nampak tersenyum melepas kepergian sang adik. Sesaat kemudian ia melangkah menuju ruang operasi.


Rex pun tiba di kamar rawat inap Azam dan Aksara. Dia disambut dengan hangat di ruangan itu. Itje yang biasanya selalu ketus pun nampak ramah, jauh berbeda dari sebelumnya.


" Kenapa ga pernah ke rumah Rex ?. Biar pun Sara jauh, tapi Kamu kan bisa berkunjung sesekali...," kata Azam sambil menatap Rex dan Aksara bergantian.


" Maaf, Saya lagi banyak tugas Om...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Rex betul Pa. Lagian Rex udah ga harus ke rumah Kita sejak hubungan Kami berakhir...," kata Aksara dengan suara tercekat.


Ucapan Aksara mengejutkan Azam tapi tidak dengan Itje, wanita itu terlihat biasa saja saat mendengar pengakuan Aksara.


" Ya Allah, Om ga tau soal ini. Kalo Om tau pasti Om ga bakal maksa Kamu ke sini. Maafin Om ya Rex...," kata Azam tak enak hati.


" Gapapa Om, meski pun hubungan Kami berakhir tapi Saya dan Aksara masih berteman baik kok...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Maafin Tante ya Rex. Tante udah bikin hubungan Kamu sama Sara berantakan. Tapi Tante janji ga bakal ganggu lagi. Ke depannya Tante bakal mendukung semua rencana Kalian yang tertunda itu...," kata Itje sungguh-sungguh.


Aksara dan Rex saling menatap sejenak kemudian tersenyum hingga membuat Azam dan Itje ikut tersenyum.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2