
Kemudian Rex melihat pemilik tangan itu mengacungkan pistol yang dibawanya ke kepala Feri. Itu lah sebabnya mengapa Feri terlihat pasrah dan mengikuti alur cerita yang dibuat oleh pria itu.
" Jalan terus keluar kota...!" perintah pria di kursi belakang itu.
" I... iya...," sahut Feri sambil menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya kearah pintu gerbang tol.
Mobil melaju cepat membelah jalan raya menuju pinggiran kota. Feri fokus menatap ke depan tanpa sekali pun berani melirik kearah Zada yang terkulai pingsan di sampingnya.
Setengah jam kemudian pria itu meminta Feri keluar dari jalan tol menuju sebuah perkampungan. Jalan yang berbatu sedikit menyulitkan Feri hingga membuatnya menoleh kearah pria yang duduk di kursi belakang itu.
" Apa ga ada jalan lain Bang ?. Jalan di depan sana rusak banget. Kalo dipaksa maju, bisa-bisa bannya bocor dan Kita ga bisa lanjutin perjalanan lagi...," kata Feri sambil menoleh kearah pria itu.
Saat itu lah Feri bisa melihat jelas wajah pria itu. Pria yang sedang mengamati Zada itu terkejut lalu berusaha menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Rupanya ia tak ingin dikenali oleh Feri yang bisa membuat indentitasnya diketahui nanti.
" Jangan liat atau Lo bakal tau akibatnya...!" bentak pria itu.
" I... iya. Maaf Bang. Jadi gimana Bang...?" tanya Feri ketakutan sambil mengalihkan tatapannya kearah depan.
" Berhenti aja di sini. Bantu Gue bawa cewek itu keluar...," kata pria itu sambil membuka pintu belakang.
Feri mengerutkan keningnya karena bingung. Namun Feri akhirnya paham kenapa pria itu membutuhkan bantuannya. Rupanya kaki pria itu pincang hingga tak mudah untuk mengangkat Zada.
" Cepat...!" kata pria itu sambil mengacungkan pistolnya kearah Feri.
" Iya Bang...!" sahut Feri lalu bergegas turun.
Setelahnya Feri membuka pintu dan menggendong Zada lalu mengikuti langkah pria itu. Ternyata pria itu menuju ke sebuah rumah kosong. Kondisi rumah itu masih cukup terawat. Meski sebagian cat dinding dan kusennya sudah mengelupas, namun rumah itu bersih.
" Masuk...!" kata pria itu sambil membuka pintu.
__ADS_1
Feri masuk lalu meletakkan tubuh Zada di lantai karena memang tak ada perabotan apa pun di sana.
Setelah meletakkan Zada di lantai, Feri mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Namun yang dilakukan Feri membuat pria itu marah lalu memukul Feri hingga Feri jatuh terjengkang di lantai.
" Ngapain masih di sini ?. Pergi sana !. Ingat, Gue bakal cari Lo sampe ke ujung dunia sekali pun kalo Lo berani ngasih tau tempat ini sama orang lain...!" kata pria itu sambil menendang tubuh Feri sekali lagi.
" Ampun Bang, iya iya Saya pergi...!" kata Feri sambil membuka pintu rumah lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Pria itu menutup pintu dengan kasar hingga mengejutkan Zada yang tengah pingsan itu.
Perlahan Zada membuka matanya dan terkejut saat melihat dirinya berada di sebuah tempat yang asing. Lebih mengejutkan karena saat itu tak ada seorang pun selain dia dan pria yang juga asing baginya.
Pria itu sedang berdiri di balik pintu dan membelakangi Zada. Perlahan pria itu membalikkan tubuhnya dan Zada pun terkejut saat mengenali pria itu.
" Apa kabar cantik...?" tanya pria itu sambil tersenyum sinis.
Zada tak menjawab. Ia bergegas bangkit lalu menjauh dari pria itu.
Zada masih membisu. Ia mulai menangis ketakutan dan itu membuat Tako tertawa. Namun di sela tangisnya Zada bisa melihat jika cara berjalan Tako jauh berbeda dengan dulu. Tako yang sekarang adalah pria cacat. Rupanya kaki kiri Tako mengalami cidera entah karena apa hingga membuatnya tak bisa berjalan normal.
" Dulu Kamu juga menangis sama seperti sekarang. Tapi bedanya sekarang Kamu adalah gadis dewasa yang sangat menarik. Cantik, berbakat dan tentu saja se*i...," kata Tako sambil membasahi bibirnya dengan ujung lidahnya.
Menyadari bahaya mengancam dirinya, Zada pun mulai mencari celah untuk lari. Ia berlari cepat menuju pintu lalu menarik handle pintu sekuat tenaga.
Jika Zada menduga Tako akan kesulitan mengejarnya, ternyata ia salah. Tako dengan sigap mengejar Zada lalu menarik rambut panjang Zada hingga gadis itu menjerit kesakitan.
" Menjerit lah Zada !. Jeritan ini lah yang menghantui ku setiap malam. Manggaung di telingaku hingga bikin Aku ga bisa tidur. Aku selalu penasaran dan membayangkan bagaimana jeritanmu saat Aku menikmati tubuhmu nanti...!" kata Tako lantang sambil mulai merobek pakaian Zada.
Zada menjerit sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Tako. Sedangkan Tako nampak beringas dan ingin segera melampiaskan hasratnya.
__ADS_1
Di saat kritis itu terjadi lah sesuatu yang di luar nalar. Tako yang sedang mendekap Zada yang nyaris telan*ang itu tiba-tiba terjengkang ke lantai seolah ada yang menariknya. Setelahnya tubuh Tako terpental membentur dinding dengan keras. Saking kerasnya membuat Tako mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Tako mengerang kesakitan karena merasa tulang rusuknya patah. Ia menatap nanar kearah Zada yang kini nampak berusaha menutupi tubuhnya itu dengan sisa pakaiannya yang masih menempel di tubuhnya.
Namun gerakan Zada justru memancing hasrat Tako. Dengan cepat Tako bangkit dan mengabaikan rasa sakitnya lalu berjalan menghampiri Zada.
" Berhenti di sana...!" jerit Zada hingga mengejutkan Tako.
Bukan hanya jeritan Zada yang mengejutkan Tako tapi karena saat itu tubuh Zada diselimuti debu halus berwarna warni seolah menghalangi tatapan Tako pada tubuh telan*ang Zada.
Setelah keterkejutan Tako hilang, pria itu kembali merangsek maju untuk menuntaskan hasratnya.
Saat itu lah Rex melihat debu warna warni yang semula melingkupi tubuh Zada bergerak cepat membentuk sebuah sosok menyerupai manusia. Sosok itu berdiri menghadang langkah Tako dengan kedua tangan terkembang dan salah satunya memegang parang besar. Rex tahu jika sosok itu adalah Nyai Hadini.
Melihat sosok wanita cantik berdiri di hadapannya membuat Tako terkejut, begitu pun Zada. Namun Zada merasa lega melihat posisi wanita itu berdiri menghadang langkah Tako yang hendak mendekatinya. Saat itu Zada mengerti jika wanita asing itu berpihak padanya.
" Siapa Kau...?!" tanya Tako di tengah keterkejutannya.
" Kau tak perlu tau siapa Aku. Yang harus Kau tau sekarang adalah bertobat, minta ampun kepada Tuhan karena sebentar lagi Kau tak akan punya kesempatan...," sahut Nyai Hadini dingin namun tak membuat Tako gentar.
" Kau mengancamku ?. Tapi gapapa karena ini jadi makin menarik. Udah lama Aku ga menikmati perempuan. Dan kedatanganmu ke sini adalah bonus untukku...," kata Tako sambil menatap liar kearah Nyai Hadini dan Zada.
" Pergi lah, tinggalkan tempat ini...," kata Zada.
Nyai Hadini menoleh kearah Zada lalu tersenyum.
" Terima kasih karena telah mengkhawatirkan Aku. Tapi Aku ga akan pergi karena Aku akan mengakhiri semuanya sekarang...," sahut Nyai Hadini.
Mendengar pembicaraan Zada dan Nyai Hadini membuat Tako mendengus kesal lalu merangsek maju untuk menggapai Nyai Hadini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=