
Setelah dia keluar dari Sekte Baihua, Xie Yan masih disekitar Kota Hua. Selama dia tiba di Alam atas, Xie Yan belum pernah melihat lihat Kota Hua.
Saat berjalan jalan santai, berkat Sensitif yang dimiliki Xie Yan cukup tinggi, dia merasakan tatapan tajam dengan Niat Membunuh tertuju padanya.
"Hmm...Siapa dia? Apakah aku sudah menyinggung seseorang?" Xie Yan berjalan sambil berpikir apakah dia sudah menyinggung seseorang setelah keluar dari Sekte Baihua.
Dia kemudian menyari lokasi sepi untuk mencari tahu siapa yang memiliki niat membunuhnya.
"Keluarlah! Aku sudah merasakan Niat Membunuhmu sedari awal!" Kata Xie Yan.
Wush!
Seorang Pakaian hitam dengan Pakaian Hitam muncul didepan Xie Yan, "Seperti yang diharapkan dari Murid Sekte Baihua dapat merasakan Niat Membunuhku." Katanya sedikit memuji Xie Yan.
"Siapa kau? Bagaimana kau tahu aku dari Sekte Baihua?" Tanya Xie Yan. Dia bingung karena tidak pernah menyingung seseorang seperti dihadapannya yang menggunakan Topeng Perunggu. Karena belum tahu tentang Alam Atas, Xie Yan tentu belum Mengetahui Pavilliun Pembunuh.
Dia melihat bahwa orang yang di hadapannya hanya berada di Ranah Dewa Bumi Menengah. "Orang mati tidak perlu banyak tanya!" Katanya kemudian bergerak cepat mencoba memotong Leher Xie Yan dalam sekali serang.
Xie Yan hanya menggelengkan kepalanya, Jika dia berhadapan dengannya 4 Bulan yang lalu mungkin dia akan mati, Tapi sekarang sudah berbeda.
Tring!
Seperti berbenturan besi, Xie Yan menahan ujung mata pedang milik lawannya dengan satu jari. "A-Apa!" Pembunuh itu sangat terkejut saat Xie Yan menahan serangannya hanya menggunakan Jarinya.
"Hahaha...Terkejut? Apa kau bingung mengapa aku bisa menahan seranganmu walau aku di Ranah Dewa Bumi Rendah?" Kata Xie Yan.
"K-Kau...B-Bajingan!" Ucapnya mencoba menarik kembali pedangnya.
Tapi Xie Yan tidak membiarkannya. Dia membentuk Energi Qi miliknya setajam pedang.
"Slash!"
"Arrgghhh!"
Lengan Kanan Pembunuh itu langsung terpotong dengan rapi. Sekarang Pembunuh itu tidak lagi memegang pedangnya yang sekarang ada sama Xie Yan.
Setelah Xie Yan memotong Lengannya, dia langsung mundur beberapa langkah dari Xie Yan, "Sialan...Dia bukan Dewa Bumi Rendah!" Gumamnya sambil mencoba menghentikan pendarahannya dengan Qi miliknya.
Xie Yan mengayun ngayunkan pedangnya di udara kosong, "Bukankah sekarang kau memberitahuku dari mana kau berasal?" Tanya Xie Yan.
Dibalik topeng itu, Wajahnya sedikit bingung. "Apakah dia bodoh? Kenapa dia tidak mengenali Pembunuh bayaran dari Pavilliun Pembunuh?" Pikirnya melihat ketidaktahuan Xie Yan.
Cukup lama dia diam, Tebasan cepat datang ke Arah Pembunuh Bayaran itu mengarah ke Wajahnya.
Slash!
Tidak sempat bereaksi, Pembunuh Bayaran itu hanya diam menutup matanya pasarah dengan mengira dia akan mati.
Krek! Suara retakan terdengar dari Topeng Pembunuh bayaran itu kemudian terjatuh sepenuhnya.
__ADS_1
"Oh...Ternyata kau masih muda!" Kata Xie Yan setelah melihat Wajah dibalik topengnya yang memiliki umur yang sama dengannya.
"Ha..?? A-Aku masih hidup?" Kata Pembunuh itu memegang wajahnya. Dia mengira Xie Yan barusan menebas kepalanya tapi ternyata dia hanya menghancurkan Topengnya.
"Sekarang lebih baik kau jawab sekarang atau tubuhmu akan terbelah seperti topeng itu!" Kata Xie Yan bertanya.
"Kami Pembunuh bayaran dari Pavilliun Pembunuh tidak akan pernah menjawabmu!" Ucapnya mengabaikan Xie Yan sama sekali.
"Bukankah itu kau mengatakan asalmu? Bodoh!" Batin Xie Yan
"Tapi Pavilliun Pembunuh? Apa mereka adalah organisasi?" Gumam Xie Yan.
"Hei, Siapa yang menginginkan ku mati?" Tanya Xie Yan lagi kepada Pembunuh bayaran itu.
Tapi Pembunuh bayaran itu diam saja tidak membalas pertanyaan Xie Yan. Dia langsung mengayunkan Pedang milik Pembunuh bayaran itu ke Lengan Kiri yang masih utuh.
Slash!
"Arrgghhh!" Pembunuh bayaran itu berteriak kesakitan.
"Apakau masih tidak ingin mengatakannya?" Ucap Xie Yan lagi.
"Persetan dengan mu!" Kutuk Pembunuh bayaran itu kepada Xie Yan.
"Cih...Sepertinya aku harus menggunakan cara lain." Kata Xie Yan kemudian mendekat ke Pembunuh bayaran itu.
Xie Yan tidak membalas, dia kemudian membentuk Jarum Es yang terkandung Racun ke Elemen Esnya.
Jleb!
Dia menusukkan jarum itu tepat ke arah Jantung Pembunuh bayaran itu seperti menggunakan Akupuntur.
Awalnya Pembunuh bayaran itu bingung tidak merasakan sakit dari Jarum Es yang ditusuk Xie Yan, tapi lama kelamaan dia mulai merasakan seperti terbakar didadanya.
"Aaarrrgghhh! A-Apa ini!" Pembunuh itu berteriak dengan kuat.
Wajah Pembunuh, Kulit dan Urat urat dalam tubuhnya mulai berubah warna menjadi kehijauan akibat Es yang terkandung Racun mematikan.
Pembunuh Bayaran itu terus berteriak, dia belum pernah merasakan Siksaan seperti ini. Selama di Pavilliun Pembunuh, mereka dilatih untuk tetap bertahan dengan berbagai siksaan.
Tapi sekarang, ini jauh berbeda dengan apa yang mereka dilatih. Dia merasakan tubuh maupun jiwanya seperti tercabik cabik.
"A-Ampun! A-Aku Menyerah!" Katanya dengan terbata bata yang merasakan Racun milik Xie Yan.
Hanya dengan Jarum kecil membuat Wajah Dewa Bumi menengah setengah mati. "Bagus...Apakah kalian harus disiksa dulu baru ingin berbicara? Bukankah kalian terlihat seperti masokis?" Ejek Xie Yan kemudian menarik kembali Racun didalam tubuhnya.
Setelah beberapa menit, Pembunuh bayaran itu sudah kembali tenang. Dia menatap Xie Yan dengan penuh ketakutan.
"S-Sebenarnya aku tidak tahu siapa yang menginginkanmu mati..." Katanya dengan ketakutan.
__ADS_1
"Haaa....??" Xie Yan terkejut dengan jawaban Pembunuh itu. Dia kemudian mengangkat pedang miliknya ke atas mencoba membelah Pembunuh bayaran itu. "Sampah! Kau menghabiskan waktuku saja! Kalau begitu mati lah..." Kata Xie Yan mulai menurunkan ayunannya.
"Tunggu...Tunggu..." Teriak Pembunuh bayaran itu menghentikan Xie Yan.
"Aku memang tidak tahu karena hanya menerima perintah, tapi seseorang mengetahuinya!" Katanya untuk menenagkan Xie Yan agar tidak membunuhnya.
Xie Yan menghentikan niatnya untuk membelah Pembunuh Bayaran itu. "Jelaskan, siapa itu?" Xie Yan meminta menjelaskan.
"Dia adalah Tetua Pavilliun Pembunuh cabang Hua. Tadi pagi seseorang memintanya untuk membunuh anda. Jadi mungkin saja Tetua Pavilliun tahu siapa yang menyewa." Pembunuh Bayaran itu menjelaskan kepada Xie Yan.
"Sepertinya Organisasi kalian sangat Hebat. Di Kota ini bahkan hanya cabang?" Kata Xie Yan.
"A-Apakah anda tidak mengetahui tentang Pavilliun Pembunuh?" Tanya Pembunuh Bayaran itu berhati hati takut menyinggung Xie Yan.
Xie Yan menggelengkan kepalanya, "Tidak...aku lahir di Sekte Baihua dan tidak pernah mengetahui dunia luar." Kata Xie Yan berbohong.
Pembunuh bayaran itu mengagguk paham mengapa Xie Yan akhirnya tidak mengetahui siapa sebenarnya dia. Dia kemudian menjelaskan Tentang Pavilliun Pembunuh yang memiliki Pusat di Kekaisaran Ruby dan berbagai macam.
Dia menjelaskan seluruh tentang Pavilliun Pembunuh kepada Xie Yan.
Setelah menjelaskan panjang lebar, Xie Yan akhirnya mengetahui tentang Pavilliun Pembunuh yang memiliki reputasi mengerikan di Kekaisaran Ruby.
"Jadi setiap Cabang akan memiliki satu orang Tetua untuk menjalankannya?" Tanya Xie Yan.
"Benar...Kebetulan Tetua yang menjaga cabang di Kota Hua merupakan seorang Pembunuh Tingkat Platinum." Balasnya.
"Hmm...Platinum itu berarti dia berada di Dewa Langit?" Gumam Xie Yan cukup yakin bisa mengalahkan Dewa Langit asalkan lawannya tidak berada di Dewa Langit Puncak.
"Bawa aku ke Pavilliun Pembunuh!" Pinta Xie Yan membuat Pembunuh Bayaran itu terkejut dengan permintaannya barusan Karena dengan kesana sama dengan bunuh diri.
"Ada apa!?" Xie Yan berkata dengan Aura Membunuh yang cukup kuat.
Deg!
Jantung Pembunuh bayaran itu langsung berdetak dengan cepat, bahkan tubuhnya bergetar tidak henti henti saat merasakan Aura Membunuh milik Xie Yan, "I-Ini bahkan lebih mengerikan dari pada Tetua." Batinnya bergetar.
"Oh, aku lupa!" Kata Xie Yan lalu melepaskan Energi Qi miliknya ke dalam Tubuh Pembunuh bayaran itu. "Aku meletakkan Energi Qi milikku kedalam jiwamu! Jika kau berani menusukku dari belakang maka jiwamu akan hancur." Kata Xie Yan mengancam Pembunuh bayaran itu lalu memberikan Pill Regenerasi agar mempercepat pertumbuhan lengannya.
Pembunuh bayaran itu mengangguk dengan Wajah dipenuhi keringat lalu memandu Xie Yan ke Pavilliun Pembunuh.
......
......_________________________......
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terimakasih dan selamat membaca...
:)
__ADS_1