
Pembunuh Bayaran itu memandu Xie Yan ke lokasi Pembunuh Bayaran.
"Apa ini benar tempatnya?" Tanya Xie Yan dengan ragu. Dia melihat Bangunan biasa yang bahkan orang orang mengira hanya bangunan kurang layak pakai.
"T-Tentu saja, tidak mungkin aku berbohong!" Balasnya dengan cepat takut Xie Yan akan menghajarnya.
Xie Yan kemudian masuk sendiri kedalam Pavilliun itu sedangkan Pembunuh bayaran itu diperintahkan Xie Yan untuk menunggu diluar.
Sebelum Xie Yan masuk, dia menggunakan Topeng seribu wajahnya. Dia menggunakan Wajah seperti seorang Pria Tua.
Dia kemudian memasuki Gedung itu. Saat pertama kali dia masuk, Xie Yan merasakan Aura Membunuh yang cukup kuat. Bukan hanya itu saja, Xie Yan juga dapat merasakan banyak orang yang mengawasinya di kegelapan. "Menarik, Sepertinya Pavilliun Pembunuh ini cukup hebat. Bahkan ini hanya cabang tapi setiap anggotanya sangat profesional." Batin Xie Yan.
"Siapa dan Tingkat berapa?" Terdengar suara dengan Nada serak. Xie Yan melihat Meja dengan Pria Tua disana. "Hmm..Mungkin dia adalah Tetua cabang Pavilliun ini." Gumam Xie Yan yang dapat mengetahui Pria Tua didepannya memiliki Ranah Dewa Langit Rendah. "Jika aku bertarung dengannya itu tidaklah masalah." Pikir Xie Yan.
Dia kemudian mendekat ke arah Pria Tua yang duduk layaknya Resepsionis. "Aku ingin membunuh..." Kata Xie Yan diam.
"Kau!" lalu dia tiba tiba Xie Yan mengarahkan serangan ke Pria Tua itu.
Sontak Pria Tua itu langsung menghindar dengan cepat. Walaupun Xie Yan tidak menggunakan kekuatannya dan hanya membuat Pria Tua itu terkejut.
"Siapa Kau! Beraninya kau mencari masalah Pavilliun Pembunuh!" Kata Pria tua itu cukup terjekut dengan serangan barusan. jika dia lengah sedikit saja maka lehernya mungkin saja hilang.
"Tidak perlu tahu siapa identitasku, tapi karena kalian Pavilliun Pembunuh berani mengangguku maka akan kulenyapkan kalian dari Kota Hua ini." Kata Xie Yan yang masih menyamar sebagai Pria Tua.
"Sombong! Apa kau berpikir Pavilliun ini akan mudah dimusnahkan!" Katanya kemudian menjentikkan jarinya.
100 orang muncul lalu mengelilingi Xie Yan. Dia melihat Topeng tersebut hampir sama dengan Pembunuh yang mencoba membunuhnya. Xie Yan memperkirakan ada 50 Topeng Peringkat Perunggu dan 50 Topeng Peringkat Silver.
"Menarik...Pavilliun Pembunuh memang seperti yang kudengar. Sangat kuat!" Kata Xie Yan memuji lawannya.
"Ck...Ck...Ck...Apa kau terkejut? Ya itu mungkin. Katakan siapa kau dan mengapa kau mencoba membunuh ku!" Kata Tetua Cabang Pavilliun.
"Hahaha...Ya, aku memang sedikit terkejut tapi apa kau berpikir kalian bisa mengetahui identitasku?" Balas Xie Yan.
Tetua itu sangat kesal dengan Keras kepala Xie Yan dan langsung memerintahkan Bawahannya untuk membunuh Xie Yan. "Cih...Bunuh dia!" Perintahnya.
Beberapa Topeng Perunggu dan Topeng Silver menyerang Xie Yan bersamaan.
Xie Yan kemudian menggunakan teknik pedang jari darahnya.
Jleb! Jleb! Jleb!
__ADS_1
Teknik Xie Yan bergerak seperti ular menusuk tepat ke arah jantung Pembunuh bayaran hanya dalam beberapa detik.
Anggota Pavilliun yang lain melihat ini sangat terkejut, bahkan Tetua itu yang sudah tenang mulai dikejutkan oleh Xie Yan. "Sial, Apa yang kalian tunggu. Bunuh dia!" Teriak Tetua itu kepada Bawahannya.
Walaupun takut dengan Teknik Xie Yan, Mereka tetap mendengar Tetua itu lalu menyerang Xie Yan bersama.
Dalam keadaan terkepung, Xie Yan membuka mulutnya lebar lebar lalu...
ROOAARRRR....
Xie Yan berteriak menggunakan Auman Naganya. Semua yang berada diruangan itu mendengar Auman Naga itu langsung diam membeku, bukan hanya itu, Kuping mereka juga mulai mengalami pendarahan. Begitu juga dengan Tetua itu merasakan sakit dikupingnya.
Slash!
Jleb! Jleb! Jleb!
Disaat mereka semua diam, Xie Yan sudah bergerak tidak membiarkan kesempatan dimana mereka masih terdiam merasakan auman naga itu.
Dia langsung mengarahkan Teknik Jari darahnya dan menusuk mereka dalam sekali serang.
"Arghhh!"
"Tidaaakk!"
"Tidaaakk!"
"Ampunnn!"..."Kami Menyerah!"
Xie Yan tidak peduli sama sekali dengan kesedihan dari Pembunuh ini. Jika dia tidak memiliki Kekuatan dan meminta pengampunan mungkin mereka juga sama tidak pedulinya Karena disini yang kuatlah yang dapat hidup.
Tetua yang melihat semua bawahannya mulai berjatuhan langsung berteriak marah dan menerjang ke arah Xie Yan, "Sialan! Pavilliun Pusat tidak akan pernah melepaskan mu!" Teriak Tetua itu mengarahkan Telapak tangannya dengan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Merasakan Energi yang cukup kuat, Xie Yan langsung mencoba memukul Telapak Tangan milik Tetua Cabang Pavilliun dengan Pukulan Lengan Kirinya.
BOOMM!
Telapak tangan dari Dewa Langit Rendah dan Pukulan Dewa Langit Rendah saling berbenturan sehingga membuat Anggota lain terlempar mundur hanya dengan merasakan anginnya.
Beruntungnya bangunan Tempat mereka bertarunh tidak hancur karena sudah dilapisi oleh Array khusus Pavilliun Pembunuh dan Array ini bahkan juga menghilangkan suara bertarung agar tidak terdengar keluar bangunan.
Setelah benturan itu, Tetua itu mundur enam langkah sedangkan Xie Yan hanya mundur dua langkah. "Hahaha...Bagus, Seperti yang diharapkan dari Tetua Cabang Pavilliun Pembunuh." Puji Xie Yan dengan bersemangat.
__ADS_1
"Matilah kau!" Anggota Pavilliun mencoba menyerang Xie Yan dari belakang setelah beradu dengan Tetua.
Jleb!
"Cih, dasar sampah! Jika ingin membunuh dari belakang sebaiknya kau diam tidak berteriak seperti tadi!" Ucap Xie Yan.
Dia melihat sekarang hanya tersisa 20 lagi anggota Pavilliun Pembunuh, 5 Topeng Silver dan 15 Topeng Perunggu. Xie Yan sudah menghabisi 80 Orang hanya dalam beberapa menit.
"Lihat, Sekarang Anggotamu bahkan sudah berkurang banyak. Tidak mungkin Cabang ini akan terus berlanjut." Kata Xie Yan memprovokasi Tetua itu.
Diprovokasi oleh Xie Yan, dia tetap tenang tapi di hatinya sangat ingin membunuh Xie Yan. Tapi dia tahu tidak mungkin bisa mengalahkan Xie Yan setelah benturan terjadi.
Tetua itu merasakan Lengan Kanannya sudah patah disaat beradu dengan Lengan Kiri Xie Yan. Dia juga melihat bahwa Xie Yan bahkan tidak mengalami sedikitpun goresan.
"Sial...Apa cabang kami pernah menyinggung Pak Tua ini?" Pikir Tetua itu mencoba mengingat setiap target yang dia bunuh.
"Apa aku harus menggunakan Pill itu?" Gumam Tetua itu melihat setiap anggotanya yang tersisa.
...
Diluar Bangunan Pavilliun,
Pembunuh bayaran yang mencoba membunuh Xie Yan sangat penasaran apa yang sedang terjadi di dalam.
Dia beripikir jika Xie Yan mati dibunuh oleh Tetua mungkin dia akan tetap mati akibat gagal melakukan misinya, dan jika Tetua itu dibunuh oleh Xie Yan tidak mungkin dia melepaskan Seseorang yang mencoba membunuhnya.
"Argh! Siapapun yang menang aku tetap mati tapi jika Pria itu menang mungkin aku masih bisa bernegosiasi." Gumam Pembunuh itu.
"Sial! Hariku sangat sial bertemu dengan Target yang mengerikan." Batinnya merasa menyesal.
Karena penasaran, dia berjalan mendekat mencoba untuk melihat sedikit apa yang sedang terjadi didalam.
"I-ini..." Saat dia melihat sedikit, dia tidak bisa bergetar saat melihat mayat berserakan di Ruangan itu. "I-Ini pembantaian." Ucapnya dengan nada bergetar.
......
......_______________________......
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terimakasih dan selamat membaca...
__ADS_1
:)