
Setelah mengantri cukup lama, Xie Yan dan Muli bisa masuk kedalam Kota Jin dengan membayar 10 Batu energi tingkat bintang untuk satu orang.
Xie Yan dam Muli pun akhirnya melewati gerbang besar Kota Jin tersebut. Tidak lama-lama, Mereka berdua langsung menuju ke arah Colosseum yang lokasinya tepat di tengah-tengah kota.
Setiba-nya disana, Xie Yan terkagum dengan Colosseum yang sangat besar tersebut. Ini merupakan pertama kalinya dia melihat Colosseum.
"Sangat besar bukan...?" Kata Muli. "Colossum ini dapat menampung penonton hingga ratusan ribu orang." Muli menjelaskan sambil meneguk-kan arak.
Xie Yan mengagguk, "Kalau begitu ayo kita masuk." Kata Muli yang sudah tampak tidak sabar menyaksikan petarungan di Colosseum tersebut.
Mereka berudua pun melangkah ke pintu masuk coloseum yang juga cukup padat. Untuk masuk ke colossum bukanlah gratis dan Xie Yan harus mengeluarkan 40 Batu energi tingkat bintang.
"Bahkan biaya masuk-nya saja sudah sangat mahal." Kata Xie Yan kepada Muli setelah melewati pintu masuk.
Walaupun Xie Yan memiliki sedikit lebih banyak Batu energi yang sudah dia rampas, baginya biaya masuk sangat-lah mahal.
"Tentu saja, lagi pula tempat ini dikhususkan hanya untuk orang-orang elit." Jelas Muli.
Mereka-pun mengambil tempat duduk mereka yang berada di barisan-barisan tengah.
Didalam Colosseum, Xie Yan merasa dia berada di sebuah stadion yang dipenuhi dengan orang-orang.
Saat Xie Yan dan Muli tiba, di arena petarungan sudah berlangsung cukup lama dan juga beberapa orang saling bertaruh ditempat yang sudah di sediakan oleh panitia Colosseum.
Bahkan Muli sudah menaruh taruhan-nya dengan cepat disaat baru saja duduk.
"Yah, Ini cukup menarik..." Kata Xie Yan yang terus memperhatikan orang yang sedang betarung di arena.
"Benarkan! Apa kamu tidak ingin memasang taruhan-mu?" Tanya Muli.
Xie Yan menggelengkan kepalanya. "Masih belum..." Jawabnya dengan singkat.
"Apa yang menggunakan kalung besi itu seorang budak?" Xie Yan bertanya saat memperhatikan salah satu orang yang sedang bertarung di arena menggunakan kalung besi pada bagian lehernya.
Muli mengaggukkan kepalanya, "Kalung yang dibuat oleh Pavilliun angin untuk budak petarung mereka dan jika seseorang sudah mencoba melepaskan-nya dengan paksa maka kalung itu akan meledak." Balas Muli.
"Huh...Bukankah Pavilliun Angin terlalu kejam?" Kata Xie Yan.
"Yah, Kamu memang benar itu memang cukup kejam tapi rata-rata budak disini seorang penjahat atau orang yang tidak mampu membayar hutang-nya kepada Pavilliun Angin." Ucap Muli.
__ADS_1
Saat baru mengatakan hal itu, Muli berdiri dari tempatnya dan tertawa bahagia. "Hahahahaha! Aku menang!" Teriaknya dengan penuh semangat karena petarung yang dipilih oleh Muli telah memenangkan petarungan.
Xie Yan hanya bisa menggelengkan kepala-nya melihat tingkah Muli tersebut.
"Hmmm...." Pandangan Xie Yan terfokus ke suatu tempat penonton yang cukup terpisah dengan penonton lainnya.
"Bukankah itu...Babi gemuk yang ada di Kota Hea? Jadi dia sudah disini ya." Gumam Xie Yan. "Aku penasaran bagaimana reaksinya saat tahu aku disini."
...
"Karena pemenang barusan tidak dapat melanjutkan pertarungan-nya maka kita lanjutkan pertarung selanjutnya." Kata Wasit Colosseum tersebut.
"Disebelah kiri arena, sudah ada seorang kultivator dengan ranah Dewa Sejati Menengah*1..." Saat Wasit mengucapkan hal itu, seorang pria keluar dari suatu tempat dan berjalan ke arena.
Wasit itu kemudian melanjutkan kata-katanya lagi. "Disebelah kanan, lawan yang dipilih langsung oleh Panitia Colosseum. Dia adalah Seorang Siluman yang ditangkap oleh Pavilliun Angin saat sedang terluka."
"Oohhhh..." Saat wasit mengatakan seorang siluman, para penonton berteriak heboh karena sangat jarang seorang siluman akan dijadikan lawan bertarung.
Reaksi Xie Yan juga berubah mendengar hal itu, dia mengerutkan dahinya. "Bahkan seorang siluman...?" Gumam Xie Yan.
Tidak lama kemudian, seseorang dengan tampilan kulit biru pucat dengan tanduk kecil didahinya dan memiliki gigi taring melangkah masuk ke dalam arena.
Berjalan di arena, Wajah Siluman itu tampak kesal. "Tch! Berani nya manusia-manusia ini menjadikan ku budak." Kata Siluman itu.
Melihat Siluman itu yang berjalan ke arena, Xie Yan berdiri dari tempatnya dan mengepalkan tangannya dengan erat. "Siluman Bajingan itu..." Kata Xie Yan ingin melesat masuk ke dalam arena.
Tentu saja dia mengenal Siluman yang berada di arena itu karena sebelum-nya dia yang membuatnya hampir mati jika bukan karena An Chyou menyelamatkan-nya.
"Hei...Apa yang mau kamu lakukan." Muli menepuk bahu Xie Yan. "Sepertinya kamu memiliki dendam dengan Siluman itu, tapi kamu tidak boleh masuk ke arena begitu saja." Ucap Muli memberitahu.
Xie Yan kembali menenangkan dirinya dan menahan untuk tidak masuk ke dalam arena. Dia kemudian menatap Muli, "Kamu benar. Jadi bagaimana aku bisa bertarung di arena?" Tanya Xie Yan.
Pertanyaan Xie Yan membuat Muli cukup terkejut, dia tidak menyangka Xie Yan ingin bertarung di arena. "Apa kamu yakin?" Muli memastikan sekali lagi.
Xie Yan mengagguk membenarkan-nya. "Kalau begitu kamu bisa mendaftarkan ditempat itu..." Muli menunjuk ke suatu tempat.
Dia kemudian mengeluarkan sekantong Batu energi. "Ini ada 1.000 Batu Energi tingkat bintang dan saat giliran-ku aku ingin kamu memasang taruhan untuk ku." Kata Xie Yan menyerahkan kantung tersebut kepada Muli.
Muli menerima kantung tersebut, "Baiklah." Jawabnya.
__ADS_1
Setelah menyerah-kan batu energi itu, Xie Yan sudah langsung pergi ketempat pendaftaran untuk bertarung.
...
Kembali Di arena, Siluman itu tersenyum menatap lawan-nya yang seorang Kultivator manusia.
"Huh, Apa yang kau tersenyum-kan Siluman sialan?" Ucap seorang Kultivator tersebut.
"Kekekekeke, akan kubuat semua manusia disini ketakutan." Kata Siluman itu tertawa.
"Kalau begitu, Pertarungan dimulai..." Kata Wasit Colosseum tersebut.
Siluman itu langsung melesat cepat ke arah Kultivaor manusia dengan mengarah-kan cakar di jari-jari-nya.
Bagi Kultivator manusia itu, Kecepatan Siluman yang menjadi lawan-nya sedikit lebih cepat darinya.
Dia langsung mengangkat pedang yang ada di tangan-nya menghalau cakar dari Siluman tersebut.
Tring~
Pedang dan Cakar Siluman itu saling beradu. Walau masih bisa menghalau serangan cepat Siluman, Kultivator manusia itu selalu di buat mundur saat dia menangkis serangan Siluman tersebut.
Tring~ Tring~
"Kekekeke...Apa manusia hanya tahu bertahan saja?" Tawa Siluman itu.
Selama dimulai-nya pertarungan, Kultivator manusia masih belum bisa melancarkan serangan balik.
"S-Sialan..." Tangan Kultivator manusia itu sudah bergetar hebat. Dia merasa kekuatan siluman itu terus menerus meningkat.
"K-Kalau begini terus maka aku akan mati." Kultivator manusia tersebut mulai merasakan ketakutan.
"Tch, Ini sangat membosankan..." Siluman itu berdecak kesal. "Kalau begitu kau sekarang bisa mati!" Kata Siluman itu menambah kecepatan-nya jauh lebih cepat dari sebelumnya.
......
...[Jangan lupa dukungan kalian dengan,...
...LIKE > GIFT > VOTE > RATE 5!]...
__ADS_1