
"Kakak selama ini menyayangi dan menjaga aku. Tapi aku justru menjerumuskan kakak ke hal-hal yang menyakitkan. Aku sangat jahat sama kakak!"
Ade tidak mau adiknya semakin larut dalam kesedihan "Sudah kakak katakan jika ini semua bukan kesalahan mu! Kamu jangan menyalahkan diri mu sendiri! Sudah ya?"
Namun tidak bisa Ratu melupakan segalanya. Ade meminta adiknya untuk pulang ke rumah "Lebih baik kamu pulang ke rumah dan istirahat! Kakak enggak mau kamu sakit karena terus saja menjaga kakak?"
Ratu menolak "Tidak kak! Aku enggak akan membiarkan kakak sendirian di sini! Enggak ada yang menjaga Kaka, biarin aku menjaga kakak di sini! Biarin aku berbakti sama kakak."
"Hei kenapa kamu mengatakan itu? Kamu sudah banyak berbakti kepada kakak! Kamu bahkan selalu melakukan apapun demi menjaga kakak,"
Sebenarnya Ade yang terluka dengan ini semua, namun Ratu lebih merasa terluka dan bersalah. Karena dia semuanya seperti ini
"Kak, aku sangat menyayangi kakak!"
"Kakak juga sangat menyayangi kamu!"
******
Jasson memukul pohon besar yang ada di hadapannya, ia tidak menyangka jika Ade bisa melontarkan kata perpisahan kepadanya
"Dia yang sudah mengkhianati ku namun ia bersikap seperti di khianati!"
Kini Jasson tidak tahu harus kemana ia pun terpaksa pergi kerumah lama kedua orang tuanya yang kecil. Hanya itu tempat ia berteduh dan berlindung "Saat ini aku tidak punya siapapun! Mama marah dengan ku, begitu juga dengan Bunga. Dan sekarang, aku diceraikan oleh Ade. Aku tidak memiliki tempat sekarang selain rumah mama dan papa,"
Jasson terlihat sangat sedih, ia merasa semua ini karma yang ia perbuat dengan Bunga "Aku bersalah dengan Bunga, bahkan saat aku telah mengkhianati dan banyak menyakitinya dia tidak mengatakan apapun. Dia selalu bersikap baik kepada ku, bahkan dia tidak pernah mengkhianati ku seperti yang Ade lakukan."
Jasson kini menyadari kesalahannya kepada Bunga, betapa bodohnya ia menyakiti dan mengkhianati wanita yang selama ini tulus kepadanya "Aku sangat bersalah. Dan aku menyesal, namun apakah ada kesempatan kedua untuk ku? Bunga, apakah kau bisa memaafkan aku sayang?"
*********
Keesokan paginya, Bunga seperti biasa. Suasana di rumah masih diliputi dengan kesedihan karena kepergian David papa mertuanya.
Laras terlihat kosong, bahkan kehilangan selera makan. Bunga meminta mama mertuanya untuk makan "Ma, mama makan ya? Nanti mama bisa sakit jika enggak makan dan itu akan membuat papa merasa sedih ma!"
__ADS_1
Laras tidak menjawab, sulit baginya untuk menelan makanan itu "Kemarin, kita makan bersama dengan papa dengan penuh canda dan tawa. Mama juga masih minum teh bersama papa, namun sekarang?"
"Mbak, saya tahu berat bagi mbak untuk melewati ini semua. Saya juga pernah merasakan apa yang mbak rasakan. Bahkan saya melihat suami saya yang terletak dengan darah,"
Jika mengingat itu, Salvira tidak akan sanggup "Mami sudah lah! Mami jangan mengingat masa-masa menyakitkan itu!"
"Mbak, kita harus bisa melanjutkan hidup. Kita harus bisa kuat demi anak-anak kita. Mbak mengatakan jika mbak menyayangi Bunga seperti anak mbak sendiri bukan? Jika begitu, tetap lah tegar demi Bunga. Apa mbak tidak mau melihat Bunga melahirkan cucu kita nantinya?"
Laras menatap besannya dengan mata yang berkaca-kaca
"Tante, maafin Ara jika kemarin-kemarin Ara selalu membuat masalah dengan Tante. Tante tahu alasan Ara kemarin bukan?"
"Iya Ara, saya tahu. Dan saya yang terlalu membesar-besarkan masalah itu padahal apa yang kamu katakan itu memang benar! Jasson bersalah, dan cinta buta saya sebagai seorang ibu yang menutupi segala kesalahan anak saya!"
Setelah berfikir dengan tenang dan memahami segalanya ia menyadari jika Ara tidak lah bersalah. Namun Laras yang bersalah, cinta butanya yang begitu besar kepada anaknya membuat Laras tidak menyadari kesalahan sang anak.
Ara beranjak dari kursinya mendekati Laras, ia pun memeluk Laras dengan erat "Tante jangan merasa sedih lagi, mulai sekarang Ara akan berusaha menjadi wanita lebih baik dan menjaga ucapan Ara. Ara sangat menyayangi om David dan Tante. Tolong jangan menganggap Ara sebagai musuh,"
"Jika dari awal Tante bisa menyadari kesalahan yang Jasson lakukan. Mungkin ini semua tidak akan terjadi, Tante tidak menyalahkan siapapun namun maaf, saya tidak bisa jika tidak harus sedih. Saya sangat sedih karena suami saya telah meninggalkan saya seorang diri!"
"Tidak tante! Tante tidak sendirian!"
"Iya ma, mama enggak sendirian,"
"Mbak laras, apa yang Ara dan Bunga katakan itu benar! Mbak tidak sendirian, ada saya, Bunga dan Ara di sini. Kita akan saling menjaga dan menyayangi. Bahkan kita akan merawat anak Bunga bersama-sama di rumah ini!"
Laras menatap Bunga, Ara dan Salvira satu persatu dengan gantian "A-apakah saya masih pantas tinggal di sini?"
Ujarnya dengan suara yang berat, Bunga dan Salvira mengatakan jika rumah ini juga rumahnya Laras.
"Ma, ini rumah kita semua. Dan mama pantas tinggal di sini begitu juga dengan mami, Bunga, dan Ara. Kita adalah satu keluarga,"
*****
__ADS_1
"Bunga sayang, keluar lah tolong!"
Bunga, Laras, Ara dan Salvira kaget, suara yang tidak asing di telinga mereka.
"Jasson!" Ujar keempatnya dengan serentak, mereka segera keluar.
Saat Bunga membuka pintu, Jasson langsung berlutut di kaki Bunga "Sayang, tolong maafkan aku. Kembali lah dengan ku! Aku tidak mau bercerai dengan mu,"
Bunga kaget, ia melangkahkan kakinya ke belakang menjauh dari Jasson
"Ngapain kamu ke sini? Anak kurang ajar!"
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Jasson, Laras saat ini sangat marah dan kecewa dengan anaknya bahkan ia tidak mau melihat wajah Jasson kembali "Pergi kamu! Apa kamu enggak cukup puas membuat mama dan kami semua menderita? Iya? Kurang puas kamu Jasson! Kamu sudah membunuh papa mu, kenapa kamu enggak bisa membuat kami merasa tenang? Kenapa?"
Laras menarik-narik kera baju anaknya, Bunga pun menenangkan ibu mertuanya "Mama tenang lah! Tolong kendalikan diri mama! Jangan mengotori tangan mama dengan hal seperti ini!" Bunga pun membawa ibu mertuanya ke kamar, ia takut kesehatan ibu mertuanya turun drastis
"Bunga tolong dengarkan aku sayang! Aku sudah bercerai dengan Ade!"
Bunga menghentikan langkahnya sejenak, tanpa melihat ke arah Jasson
Benar kah yang Jasson katakan? Atau ini hanya tipuan semata Jasson lagi?
*****
"Sayang, ini serius. Aku ingin kita bersama seperti dahulu. Aku ingin kita menjalin pernikahan dengan kebahagiaan, aku sudah bercerai dengannya,"
"Bohong! Dasar lelaki buaya, omong kosong! Jika Lo bercerai, lalu bagaimana dengan anak yang ada di kandungan pelakor itu?" Ara bertanya dengan penasaran.
"Dia keguguran, dan anak yang di kandungnya Ternyata adalah anak orang lain. Dia sudah mengkhianati ku,"
"Bagus! Pengkhianat seperti mu memang pantas mendapatkan itu semua! Itu semua karma yang kau dapatkan dari menyakiti sahabat ku!"
__ADS_1