
"Kamu sadar enggak, jika mertua mu melihatmu. Maka kita akan akan menghadapi masalah!"
Jasson terlihat sangat takut, Ade tak memperdulikan ucapan kekasihnya "Aku tidak perduli! Yang aku perduli kan, papa dari anakku selalu bersamaku!"
Jasson mengajak Ade untuk menjauhi rumahnya, jika mertuanya melihat. Dirinya akan mengalami masalah!
Ade mengikuti kekasihnya dan pergi. Bunga menatap suaminya yang ketakutan pergi dari rumah, ia hanya tersenyum "Apakah kelembutannya hanya sandiwara?" Ara tiba-tiba berada di belakang Bunga. Ia mengangguk, apalagi yang harus ia tutupi jika sahabatnya sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri?
Bukannya Bunga yang membuka aib Jasson, namun Jasson yang memperlihatkan sendiri keburukannya di depan orang lain
"Aku tidak mengerti, mengapa Jasson tega melakukan ini kepadamu? Dan untuk apa ia bersandiwara?"
Hust!
Bunga meminta sahabatnya untuk diam,"Tenang lah Ara! Jika kau seperti ini, mami akan mendengarnya!"
"Tapi, mami harus tahu bagaimana dia!"
Bunga menggeleng, ia tersenyum manis. Memperlihatkan lesung pipinya "Jangan khawatir, mami akan mengetahui itu jika sudah waktunya!"
Ara tidak mengerti apa yang Bunga katakan "Apa maksud mu?"
"Nanti kamu akan paham dan mengerti, untuk saat ini nikmati saja permainannya!"
Bunga mencubit pipi Ara perlahan, ia juga meminta kepada Ara untuk bekerja di kantornya. Ara awalnya ragu, namun Bunga meyakinkan sahabatnya itu.
"Aku percaya dengan kemampuanmu, ayo bersiaplah!"
Ara pun bersiap-siap untuk pergi kekantor bersama Bunga.
Bunga menatap lurus ke depan, andai ia bisa lebih lama menikmati "Terus lah berbohong dan menikmati sandiwara mu, Jasson! Kau mungkin bisa memanipulasi dunia, tapi kau terus meracuni wujud mu! Tubuh, pikiran dan jiwa! Juga hidupmu, pembohong sepertimu tidak akan pulih," Bunga tersenyum sinis sambil bergumam.
Ia tidak percaya, jika Jasson akan menjadi seseorang yang begitu licik dan pembohong.
__ADS_1
"Aku sudah siap!" Bunga kaget saat Ara begitu cepat bersiap-siap "Kau ini seperti hantu saja, membuat ku kaget!"
Ha-Ha-Ha!
Ara tertawa, membuat kuping Bunga terasa sangat sakit. Bunga memukul temannya dengan penuh kasih dan sayang "Sakit tau!" Bunga begitu manja kepada Ara, keduanya sangat dekat seperti saudara sendiri.
"Aku berharap, kita berdua selalu bahagia!"
Bunga mengangguk, matanya berkaca-kaca. Keduanya saling berpelukan seakan memberikan kekuatan satu sama lain.
Mengapa keduanya memiliki nasib pernikahan yang buruk?
"Tidak ada seorang wanita yang ingin menjadi janda atau terluka di dalam rumah tangganya. Namun itu sudah menjadi garis tangan kita, di usia muda. Sudah menjadi janda seperti ku, dan aku berharap agar Jasson bisa sadar, aku tidak ingin kalian berpisah. Namun aku ingin kalian hidup bahagia tanpa adanya orang ketiga"
Bunga terdiam, ia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya. Saat ini, ia harus lebih tegar dari Ara karena Bunga tahu jika sahabatnya sedang mengalami kerapuhan.
Air mata dan kepedihan mengisi hari-hari yang begitu menyakitkan untuk keduanya, terutama untuk Ara.
"Ini bukan kesalahan mu, bukan kesalahan kita sebagai wanita. Mereka para pria yang tidak pernah bersyukur! Lihat lah mantan suamiku, kami menikah karena disadari oleh rasa cinta. Dan sekarang, dia memperlakukan ku dengan sama!"
"Namun tidak semua pria seperti itu, Ara! Hanya saja kita kurang beruntung bertemu dengan lelaki yang tidak tepat, aku percaya suatu saat kau akan mendapatkan kebahagiaan. Dan, kamu memiliki keluarga yang sesuai dengan impianmu."
"Iya, aku berharap kamu juga bahagia tanpa adanya Jasson."
Bagaimana bisa Bunga merasa bahagia jika ia sudah menaruh harapan dan dunianya kepada Jasson?
Bunga hanya mengangguk saja tanpa mengatakan apapun lagi. Ia tidak mau membuat sahabatnya kecewa.
"Ayo!"
Bunga mengajak Ara untuk masuk kedalam mobil, wanita cantik itu langsung melajukan pegal gasnya.
Bunga dan Ara melihat Jasson yang sedang berdebat dengan Ade "Lihat lah, suamimu sedang berdebat dengan selingkuhannya!"
__ADS_1
"Biar kan saja, aku tidak mau mengganggu mereka berbicara. Aku berharap, agar Jasson bisa menyelesaikan masalahnya sendiri!"
"Kau benar, Bunga. Namun mengapa kau masih bertahan? Maksud ku, pernikahan mu sangat menyakitkan. Mengapa kamu selalu membiarkan diri mu menderita? Jangan memaksakan sesuatu yang membuat mu menderita, Bunga! Dahulu, saat aku ingin terlepas dari suamiku ia tidak membiarkannya. Bahkan mengurung dan menyiksaku! Namun kau tidak! Ada mami di rumah, kau akan mudah jika ingin terlepas darinya,"
"Sudah lah, Ara. Aku tidak ingin membahas apapun lagi! Biarkan saja, di saat waktunya sudah tepat. Aku dan Jasson akan berpisah dengan sendirinya. Aku dan Jasson sudah memiliki kesepakatan bersama, dan kami akan menyelesaikan kesepakatan itu hingga waktunya tiba!"
"Namun mau sampai kapan kau dan dia terus bersandiwara di depan mami? Apa kamu tidak kasihan terus membohongi mami?"
Bunga bungkam, ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan dari sahabatnya. Bunga hanya memikirkan tentang kesehatan ayah mertuanya dan juga perasaan maminya.
*********
Huft!
Laras merasa kesal, semenjak besannya tinggal bersama dengan menantunya. Ia tidak bisa lebih luas untuk kerumah menantunya
"Mau sampai kapan mbak Salvira terus tinggal bersama anak dan menantu kita?" Laras bertanya kepada suaminya David. David hanya menggeleng "Biar kan saja lah ma! Itu juga rumahnya Bunga. Dan yang memberi rumah itu juga mbak Salvira, ia berhak atas rumah itu dan kapan pun ia ingin tinggal itu haknya!"
"Iya papa itu benar, namun kan jika besan kita terus di sana. Mama itu enggak nyaman loh pa! Apalagi ucapan mbak Salvira itu sangat menyakitkan. Dia seperti tidak suka jika kita datang kerumah Bunga!"
"Bukannya mbak Salvira tidak suka, namun ia merasa risih. Dan memang benar dong ma, hanya karena untuk makan kita kerumah menantu kita. Mama sih malas sekali untuk masak!"
"Bu-bukannya mama malas memasak papa! Tapi biar kita itu hemat, lagipula kan Jasson hanya tinggal berdua dengan istrinya, pasti makanan mereka itu mubazir. Daripada terbuang, ya lebih baik kita makan di sana kan?"
David hanya menggeleng pusing, mengapa istrinya sangat perhitungan? "Sekarang, di rumah Jasson itu sangat ramai. Lebih baik kita di rumah saja, sudah lah ma! Jangan memperpanjang masalah yang tidak seharusnya di permasalahkan! Papa juga bisa memberikan mama makan kok, jangan membuat papa malu dong!"
Laras cemberut, merasa tidak terima dengan apa yang suaminya katakan.
"Aku harus memaksa Jasson memiliki anak dengan Bunga. Agar Jasson memiliki warisan dan berkuasa di rumah itu!"
Laras memikirkan sesuatu, ia tidak ingin jika Bunga yang menguasai rumah itu
Laras menyayangi Bunga namun ia lebih menyayangi harta warisan Bunga dan keluarganya. Laras juga tidak siap jika harus hidup susah lagi "Ini kesalahan papa, yang selalu memanjakan mama dan Jasson. Dan sekarang saat papa tidak memiliki apapun. Kalian tidak bisa menerima kehidupan kita yang sekarang."
__ADS_1