Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 144


__ADS_3

"Tenangkan diri kamu sayang! Jangan terlalu emosi seperti ini, ingat kamu sedang mengandung sekarang!"


Ara menghela nafas dengan kasar "Kamu suruh aku tenang? Lihat, Bunga gemetar ketakutan seperti ini, kenapa mereka tidak membiarkan Bunga dan yang lainnya hidup bahagia? Setelah bertahun-tahun dia pergi sekarang dia menganggu kita,"


"Siapa mami?"


Pembicaraan terhenti, saat Jesslyn datang dan bertanya "Mami, siapa yang sudah menganggu ketenangan mommy? Apakah om dan nenek tadi?"


Ara kaget mendengar ucapan Jesslyn, itu tandanya Jesslyn sudah bertemu dengan Jasson dan Laras.


"Sayang, kamu ketemu dengan siapa tadi?" Ara jongkok untuk menyeimbangi tinggi gadis kecil itu "Ara tadi enggak sengaja menabrak nenek itu dengan anaknya, dia juga tadi mengatakan jika Jesslyn adalah cucunya, mommy siapa dia?"


Bunga terdiam, tidak sanggup menjawab pertanyaan anaknya. Apakah Jesslyn harus mengetahui semua ini sekarang?


Bunga mengangguk "Iya sayang, dia adalah nenek kamu," jawab Bunga dengan suara yang tidak rela. Salvira, Ara dan Gerry terkejut dengan jawaban Bunga


"Bunga, apa yang kau katakan?"


"Sayang, kamu sadar dengan ucapan kamu?" Dengan berat hati Bunga mengangguk, ia pun sadar dengan ucapannya lagipula cepat atau lambat Jesslyn akan mengetahui siapa Jasson dan ibunya itu.


"Sayang, kamu mengatakan ini pasti karena kamu lelah. Sebaiknya kamu istirahat di kamar saja, dan Jesslyn sayang. Jangan dengarkan ucapan mommy kamu ya? Sebaiknya kamu ikut Oma berjalan-jalan,"


Salvira ingin membawa Jesslyn pergi, namun Bunga mencegahnya "Tidak mami! Ini sudah waktunya Jesslyn mengetahui segalanya,"


"Bunga, jangan gila kamu!"


Ara juga bingung dengan sahabatnya, namun Bunga sudah yakin dengan keputusannya "Jesslyn semakin hari semakin besar, lagipula lebih baik dia tahu dari mulut Bunga daripada dari mulut orang lain,"


Terdengar suara hancur dan sakit yang dikeluarkan oleh Bunga, namun ia harus kuat. Jesslyn belum mengerti semuanya "Mommy, Jesslyn bingung. Mommy bilang, nenek itu adalah neneknya Jesslyn. Namun Jesslyn tidak pernah melihatnya baru tadi, dan nenek dari siapa?"


Pertanyaan Jesslyn sudah membuat semua orang kebingungan, Bunga menangis, memeluk anaknya "Maafkan mommy sayang, jika jawaban mommy nantinya akan membuat kamu terluka,"


"Hentikan Bunga, jangan gila kau! Apa kau sadar dengan perbuatan mu sekarang?"


Bunga melepaskan pelukannya dari sang anak, berdiri dan menatap Ara, dan maminya secara bergantian "Iya, aku sadar dan sangat sadar sekarang! Apa kalian tahu? Mereka ingin mengambil hak asuh Jesslyn, mereka akan membawa masalah ini ke pengadilan, dan merebut Jesslyn anakku dari ku,"


"Mommy, ada apa? Apa itu hak asuh? Kenapa mommy, dan siapa yang ingin mengambil Jesslyn dari mommy?" Jesslyn menangis, meminta penjelasan dari ibunya, ia masih sangat kecil untuk memahami masalah yang rumit seperti ini.


Jesslyn mendekati Gerry yang selama ini ia anggap sebagai papanya "Daddy, jelaskan ada apa? Kenapa mommy mengakan itu? Apa hak asuh. Dan mengapa mommy mengatakan jika mereka ingin merebut Jesslyn? Siapa yang mau merebut Jesslyn?"


Suasana semakin tidak terkendali, di satu sisi ada Bunga yang ketakutan anaknya diambil dan di satu sisi ada Jesslyn yang membutuhkan semua jawaban itu.


"Bunga tenangkan diri kamu sayang! Jangan seperti ini, Jesslyn masih sangat kecil untuk memahami semuanya,"


Bunga menggelengkan kepala dengan cepat "Tidak mami! Jika tidak sekarang, kapan lagi? Kapan lagi Jesslyn harus mengetahui semuanya? Apa menunggu mereka yang menjelaskan segalanya dan merebut Jesslyn dari aku?"


"Tidak akan ada yang bisa merebut Jesslyn dari kamu! Kamu jangan seperti ini sayang?"

__ADS_1


Bunga terlihat seperti orang gila, ia mendekati Jesslyn "Sayang, Daddy itu bukan papa kamu! Daddy hanya papanya Justin. Dan suaminya mami Ara, Daddy itu sebenarnya paman kamu!"


Jesslyn kaget, dia tidak terima dengan kenyataan ini "Nak, Daddy hanya papanya Justin. Dan papa kandung kamu sebenarnya adalah paman tadi, dan nenek itu adalah nenek kamu. Ibunya dari papa kamu!"


"Papa Jesslyn? Tapi kenapa papa dan nenek pergi mom?"


Dada Bunga terasa sesak, bahkan ia kesulitan bernafas. Salvira tidak mengerti dan tidak bisa mengendalikan suasana lagi. Bunga meremas kuat tangannya untuk menahan sesak di dadanya.


"Papa dan mommy sudah lama berpisah, semenjak kamu ada diperut mommy,"


"Kenapa mommy dan papa berpisah? Dan kenapa mommy enggak memberitahu papa Jesslyn, mommy jahat! Mommy jahat! Jesslyn benci sama mommy!"


Jesslyn yang tidak bisa menerima kenyataan itu pergi meninggalkan Bunga dan yang lainnya, Gerry pun mengejar Jesslyn.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Perbuatan kamu ini bisa membuat mental jesslyn hancur. Kamu sendiri yang mengatakan kepada mami jika kamu memikirkan tentang mental anak kamu, dan sekarang kamu sendiri yang membuka semua rahasia ini. Mami sangat bingung dengan kamu!"


Bunga tidak menjawab, ia hanya terisak menyandarkan kepalanya di dinding, dengan tubuh yang perlahan terjatuh tanpa adanya kekuatan.


Ia hanya bisa menangis dengan tatapan mata yang kosong "Mami, ini bukan saatnya menyalahkan Bunga. Sebaiknya, mami mengejar Jesslyn biar Ara yang menemani Bunga," ujar Ara yang ikut menangis, hamilnya kedua ini membuat Ara jauh lebih sensitif..


Salvira dengan perasaan kesal pun mengejar cucunya, ia juga tidak mau Jesslyn kenapa-kenapa. Berita itu pasti membuat hati Jesslyn hancur bukan main, ia tidak tahu hal apa yang bisa dilakukan oleh anak sekecil itu


Sedangkan Ara, ia memeluk Bunga dengan penuh kasih sayang "Bunga, tenangkan diri mu!"


"M----m-mereka, me-mereka ingin mengambil ana-anakku,"


"Bunga, demi Jesslyn kau harus kuat! Jangan lemah seperti ini Bunga! Itu akan membuat mereka sangat bahagia, kau harus kuat Bunga! Demi Jesslyn!"


Ara memeluk erat sahabatnya, memberikan kekuatan "Kau dengar? Jasslyn membenci ku tanpa mengetahui semuanya. Dia menganggap aku ini ibu yang sangat jahat, karena sudah menjauhkannya dari papa kandungnya,"


Bunga semakin terisak, Ara merasakan sakit dan penderitaan sahabatnya "Kau harus kuat Bunga, kau wanita kuat. Aku tahu, kau bisa melewati semua ini, ini adalah ujian menuju kebahagiaan mu kelak Bunga. Tolong lebih kuat lah, demi Jesslyn. Jika kau lemah, kita akan benar-benar kehilangan Jesslyn. Tolong Bunga, gunakan akal sehatmu lagi, gunakan akal sehat mu untuk mendapatkan Jesslyn kita, kau harus kuat untuk melawan manusia tidak tahu diri seperti jasson dan ibunya itu Bunga, aku mohon! Bangkit, dan gunakan akal sehat mu,"


Ucapan Ara seperti tamparan untuknya, jika ia menginginkan Putri kesayangannya itu, maka Bunga harus menggunakan akal sehatnya. Ia enggak boleh lemah, karena kelemahannya akan membuat Jesslyn akan pergi menjauh darinya untuk selamanya, Bunga tidak akan rela kehilangan anaknya. Apalagi kalah untuk manusia seperti Jasson dan Laras yang hanya memikirkan diri mereka sendiri.


Bunga menghapus air matanya, ia bersikap seperti baik-baik saja namun hal itu justru membuat Ara dan Gerry merasa khawatir dengan keadaan Bunga "Demi Jesslyn, aku akan kuat dan melawan mereka semua. T--tapi, Jesslyn memang harus mengetahui semua kebenaran ini! Agar dia tahu apa yang selama ini mamanya rasakan. Jika aku tetap diam, Jesslyn akan selalu menyalahkan aku karena sudah menjauhkan dia dari papa dan juga neneknya,"


"Maaf nona jika saya lancang, namun apakah itu tidak akan menganggu mental jesslyn nantinya?"


Bunga menggelengkan kepalanya "Tidak! Itu tidak akan membuat mental jesslyn hancur. Jika aku diam, maka Jasson dan mamanya akan mengatakan kebohongan demi kebohongan untuk membuat Jesslyn membenci ku,"


Ara dan Gerry pun mendukung keputusan Bunga, wanita itu segera mengejar anaknya untuk menjelaskan segalanya kepada Jesslyn.


**********


"Oma, kenapa mommy jahat hiks,"


Jesslyn menangis dipelukan Salvira, Salvira mencoba menenangkan cucunya itu "Tidak sayang! Mommy tidak jahat! Mommy sangat menyayangi Jesslyn,"

__ADS_1


"Jesslyn sayang,"


Jesslyn melepaskan pelukannya dari sang nenek, ia melihat mommynya yang berjalan mendekati dirinya "Jesslyn enggak mau bicara sama mommy!"


Bunga mengambil nafas dengan nada yang sesak, lalu perlahan membuangnya "Jesslyn ingin tahu semuanya bukan? Bagaimana Jesslyn bisa tahu kalau Jesslyn enggak mau mendengarkan penjelasan mommy sayang?"


Jesslyn yang masih senggugukan pun mengatakan jika ia ingin mengetahui semua kebenarannya "Cepat katakan mommy! Jesslyn ingin mendengar semuanya,"


"Bunga, jangan nak!"


Salvira mencoba menghentikan anaknya, bukannya ia tidak mau anaknya membela diri namun ia tidak mau mental cucunya akan terganggu "Nak, Jesslyn masih kecil untuk mengetahui segalanya. Jangan rusak mental anak kamu sayang, hanya demi ego kamu,"


"Oma, Jesslyn enggak kenapa-kenapa. Jesslyn mau tahu, kenapa mommy dan papa tidak bersama, kenapa ada Daddy?"


Salvira terdiam, ia tidak sanggup menjelaskan segalanya. Begitu juga dengan Bunga, namun bukannya Jesslyn harus memahami segalanya?


Ara mendekati Jesslyn, ia yang akan memberitahu semuanya kepada Jesslyn. Namun sebelum itu, ia meminta izin kepada Salvira dan Bunga. Bunga mengangguk setuju


"Sayang, kalau mommy yang mengatakan itu. Pasti Jesslyn mengatakan nanti jika mommy hanya membela diri mommy sendiri bukan?"


Jesslyn mengangguk "Mami yang akan memberitahu kamu sayang, dulu mommy dan papa kamu adalah sahabat dari kecil. Mereka berteman, seperti kamu dan Justin, bedanya. Kalau kamu dan Justin itu kakak adik, sedangkan mommy dan papa kamu itu sahabatan. Berteman, seperti mami dan mommy,"


"Lalu?"


"Lalu mereka menikah, tapi mommy enggak tahu kalau papa sudah memiliki kekasih. Dan papa kamu diam-diam menikah dengan wanita lain. Lebih tepatnya, papa kamu menduakan mommy. Sebab itu, mommy dan papa kamu berpisah nak saat mommy sedang mengandung kamu,"


"Apakah papa jahat?"


Ara menggeleng "Tidak sayang! Baik mommy atau papa tidak ada yang jahat, mereka hanya memang tidak ditakdirkan bersama. Bukannya mommy tidak mau mengatakan segalanya kepada kamu, tapi mommy enggak mau kalau Jesslyn benci sama papa Jesslyn sayang. Sebab itu, mommy memilih untuk merahasiakan rasa sakitnya sendiri sayang, kamu paham kan maksud mami?"


Jesslyn mengangguk, Ara kembali menceritakan segalanya secara detail tentang kejadian di setiap kejadian di masa lalu. Hal itu membuat Bunga mengingat disetiap rasa sakit dan kepedihannya di masa lalu.


"Jesslyn sayang, mami mengatakan ini bukan untuk membuat Jesslyn sedih, tapi mami ingin Jesslyn memahami segalanya sayang. Ini bukan lah kesalahan dari mommy, karena mommy menyayangi Jesslyn, sangat menyayangi dan mencintai Jesslyn. Mommy enggak mau kamu merasakan apa yang dialami oleh mommy nak, dan sekarang papa kamu datang untuk menjauhkan kamu dari Kami semua,"


Jesslyn terbengong, ia mengatakan jika tidak ada yang akan bisa menjauhkannya dari mommy-nya itu. Jesslyn berjalan dan mendekati Bunga. Ia langsung memeluk ibunya "Jesslyn sangat menyayangi mommy, maafin Jesslyn mommy dan Jesslyn enggak akan membiarkan siapapun memisahkan kita,"


Bunga menangis mendengar ucapan anaknya, ia sangat bahagia memiliki anak baik dan begitu pengertian seperti Jesslyn.


"Mommy juga sangat menyayangi kamu sayang,"


"Maafin Jesslyn mommy, dan Jesslyn enggak akan biarin papa memisahkan kita,"


Keduanya berpelukan dengan erat. Salvira, Ara dan juga Gerry tersenyum melihat pemandangan dihadapan mereka.


"Sayang, jangan tinggalin mommy. Mommy sangat menyayangi kamu sayang, mommy enggak bisa tanpa kamu,"


Bunga mencium seluruh wajah anaknya dengan penuh cinta dan rasa sayang sebagai seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2