
"Mas, tolong mengertilah dengan semua ini. Ini tidak mudah untuk kita semua, terutama Bunga. Saya hanya tidak ingin Bunga merasa stres di usia kandungannya yang masih muda, saya hanya seorang ibu yang selalu berharap kebahagiaan anak saya. Mungkin, jika papinya Bunga masih ada di sini semua ini tidak akan terjadi," Salvira mengatakan itu dengan nada yang berat, hatinya terasa sesak sekali namun ia harus kuat demi anaknya
"Mbak Salvira, maafkan saja. Saya hanya tidak ingin membuat keluarga ini selalu saja bertengkar! Saya hanya ingin membuat Bunga merasa damai!"
"Bunga merasa damai, jika kita semua berkumpul di sini. Jika mbak Laras dan mas David pergi dari rumah ini, saya yakin jika anak saya tidak akan nyaman,"
"Mbak Salvira, maafkan saya. Namun kita enggak akan damai jika Ara masih di sini," ucapan Laras membuat Salvira mengerti
"Maafkan saya, biar Ara saja yang pergi dari rumah ini!" Ara yang merasa hanya menumpang di rumah sahabatnya pun memilih untuk keluar dari rumah sahabatnya, ia tahu jika dirinya hanya membuat kekacauan saja. Salvira merasa tidak terima "Tidak! Ara tidak akan kemana-mana, karena Ara juga anak saya. Dan apa yang Ara katakan memang tidak ada yang salah, namun mengapa Ara harus pergi? Maaf mbak Laras, namun saja tidak setuju dengan opini Anda!"
Salvira merasa sangat marah, dan ia meminta kepada Bunga untuk tetap tinggal! "Saya tidak mau ada yang keluar dari rumah ini! Dan kamu Ara! Ini perintah dari mami, mami enggak akan membiarkan kamu untuk pergi dari rumah ini kamu mengerti?"
"Sudah lah mi, memang Ara yang membuat masalah ini menjadi runyam! Lebih baik Ara mengalah dan pergi!"
"Kamu lupa dengan ucapan mami? Jika kamu adalah anak mami, mengapa anak mami harus pergi?"
__ADS_1
David yang melihat suasana menjadi runyam, membuat jantungnya terasa sangat sakit, ia pun memegang dadanya.
Buak!
Laras, Salvira dan Bunga kaget melihat David yang jatuh tak sadarkan diri.
"Papa!"
"Om David!"
Ketiganya mendekat ke arah David, Laras menggoyangkan tubuh suaminya "Papa tolong bangun! Maafkan mama! Mama yang memperpanjang masalah ini, tolong bangun papa!"
Salvira meminta Ara untuk menghubungi dokter, Ara pun langsung menghubungi dokter agar datang ke rumah Bunga
"Papa, tolong bangun!" Laras menggoyangkan kembali tubuh suaminya, meminta suaminya untuk bangun.
__ADS_1
"Papa!" Bunga berlari menuruni anak tangga, dia yang mendengar kebisingan tadi membuat dirinya melihat apa yang sedang terjadi. Bunga mendekat ke arah ayah mertuanya
"Papa, apa yang terjadi? Tolong hubungi ambulans!"
Bunga meminta kepada siapapun itu untuk menghubungi ambulans, terlihat dirinya yang sangat panik melihat kondisi papa mertuanya "Mama, mami apa yang sebenarnya terjadi sama papa?"
Bunga yang melihat David tak sadarkan diri membuatnya trauma akan kejadian yang menimpa papinya dulu.
Bunga hanya ingin papanya segera di bawa ke rumah sakit
Liu...! Liu....!
Suara ambulans berbunyi, Bunga berlari ke arah depan untuk membuka pintu. Ia pun mempersilahkan petugas ambulans untuk masuk untuk membawa papa mertuanya ke rumah sakit "Pak, tolong papa mertua saya! Cepat bawa dia ke rumah sakit, saya tidak mau sesuatu terjadi kepada papa mertua saja. Tolong cepat pak!"
Petugas ambulans pun langsung mengangkat tubuh David, membawanya masuk ke dalam mobil ambulans. Bunga memilih ikut di mobil ambulans bersama dengan Laras.
__ADS_1
Sedangkan Ara dan Salvira pergi menggunakan mobil pribadi