
"Sebaiknya kamu istirahat di sini!" Jasson meminta Bunga untuk istirahat saja, namun saat Jasson ingin pergi. Bunga menarik tangannya "Kamu mau pergi kemana?"
Jasson terdiam, ia ingin berbicara dengan kekasihnya namun Bunga menahan. Jika saja Bunga tidak hilang ingatan, mungkin ia akan menepis tangan Bunga dan pergi tanpa mengabaikan istrinya itu.
Jasson terdiam "Aku ingin kamu istirahat saja! Aku akan bersama kerabat yang lainnya. Tidak enak, lagipula istri teman ku datang, aku harus bertemu dengannya sebentar!"
Bunga pun tak melarang, ia membiarkan suaminya untuk pergi. Jasson segera meninggalkan Bunga.
Namun saat ia turun, ia sudah tidak melihat kekasihnya lagi "Kemana dia?"
Salvira mengatakan jika wanita itu sudah pulang sejak tadi. Wanita paru baya itu pun meminta menantunya untuk istirahat dan menemani anaknya itu "Lebih baik kamu ke kamar saja, menjaga istri mu. Mami tidak mau Bunga sendirian!"
Jasson mengangguk, ia melihat mamanya yang tidak ada
Jasson mengira jika mamanya sudah menangani kekasihnya itu. Setidaknya Jasson merasa lega, pria itu pun pergi ke kamar Bunga.
Terlihat Bunga sedang melamun duduk di tepi ranjang, Jasson mendekatinya "Memikirkan apa?"
Bunga menggeleng "Aku tidak tahu! Mengapa aku seperti orang bodoh yang tidak mengingat apapun? Bahkan aku tidak mengingat siapa namaku, aku ingat apapun! Mengapa bisa terjadi seperti ini? Bahkan walau kalian sudah menjelaskan siapa diri kalian, aku merasa kita sangat asing. Dan, Jasson apakah kita pernah saling mencinta?"
Jasson bungkam, ia bingung apakah harus jujur atau tidak "Sudah lah, jangan memikirkan hal yang membuat kepala mu sakit. Jika tidak ada cinta, mana mungkin kita menikah,"
Jasson berbohong kepada Bunga, apalagi yang bisa ia katakan? Jasson hanya ingin, semuanya baik-baik saja
Bunga tanpa sengaja melihat ke arah album pernikahannya dengan Jasson. Ia beranjak dari tempat duduknya, melihat ke arah album tersebut "Ini pernikahan kita?"
Jasson pun menghampiri Bunga lalu mengangguk, Bunga menatap wajahnya saat menggunakan gaun pernikahan. Terlihat sangat cantik, wajah penuh kebahagiaan.
"Melihat gambar ini, aku tahu pasti aku sangat mencintai mu. Dan sangat terlihat aku begitu bahagia," wanita itu tersenyum, matanya kembali tertuju kepada Jasson yang begitu datar.
__ADS_1
"Lalu, mengapa wajah mu sangat datar. Seperti tidak bahagia, atau seperti sangat terpaksa. Apakah pernikahan kita karena keterpaksaan?"
"Ti-tidak! Aku tidak tahu jika photography nya sudah mengambil gambar kita. Ia tidak memberikan kode, dan pada saat itu aku begitu lelah." Jasson terpaksa berbohong, sebenarnya ia sudah sangat lelah dengan sandiwara ini.
Jasson kembali mengingat ucapan mamanya, ia belum siap harus kehilangan papanya.
"Oh begitu, tapi apa kau mencintaiku?"
Bunga menatap Jasson, pria itu terdiam dan keduanya saling bertatapan.
Jasson pun mengangguk, Bunga yang melihat respon Jasson langsung tersenyum "Maafin aku ya? Aku sudah melukai hati mu, padahal kau sangat mencintai ku. Namun aku begitu payah, melupakan diri ku, maaf kan aku!"
"Sudah, ini semua bukan lah kesalahan mu!"
Jasson memeluk Bunga, Bunga menangis di pelukan suaminya. Mengapa saat Bunga menangis di pelukannya membuat Jasson merasa hatinya teriris? Begitu sakit, seakan di sayat-sayat?
Biasanya Jasson tidak pernah perduli dengan air mata Bunga. Namun saat Bunga menangis di pelukannya seperti ini ia langsung merasa sakit.
"Sudah jangan menangis, lebih baik kita istirahat saja!"
Keduanya saling melepaskan pelukan satu sama lain, Jasson mengira jika perduli ya sebagai seorang sahabat sudah kembali. Sebelum mereka menikah, Jasson juga tidak bisa melihat air mata Bunga.
Jasson membimbing Bunga untuk tidur di atas kasur, ia pun membaringkan tubuhnya di samping Bunga.
Jasson tiada henti menatap Bunga yang seperti tidak berdaya. Ia membelai dan merapikan rambut Bunga yang berantakan.
"Tidur lah!"
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Bunga memejamkan kedua matanya. Jasson masih fokus menatap Bunga yang begitu pulas tertidur.
__ADS_1
Ia kembali mengingat kekasihnya Ade. Dan mencari keberadaan ponselnya berada "Dimana aku meletakkan ponsel ku?" Jasson merasa kebingungan. Jika orang lain yang menemukan ponselnya sangat berbahaya. Apalagi ibu mertuanya, Karena Jasson memasang wallpaper poto ia berdua dengan Ade.
Jasson berlari ke bawah untuk mencari ponselnya. Dirinya dalam bahaya jika salah satu keluarga Bunga yang menemukan ponselnya terlebih dahulu, dan jika papanya Jasson yang menemukan ponselnya juga pasti akan sangat fatal.
Jasson berdoa agar tidak ada yang menemukan ponselnya.
"Jasson, kenapa kamu terlihat terburu-buru? Kamu sedang mencari apa?"
Jasson kaget dengan pertanyaan salah satu tantenya Bunga. Ia merasa kebingungan, dahinya bercucuran keringat. "In-ini Tante, Jasson mencari. Ti-tidak apa-apa kok Tante, Jasson mau kembali ke kamar dulu!." Ujarnya dengan terbata-bata. Ia segera pergi meninggalkan semua orang di bawah
"Kau mencari ini?" Jasson kaget melihat Ara berada didepan kamarnya, memberikan ponsel itu kepada Jasson.
"Bagaimana bisa ini ditangan mu?"
"Jadi kau ingin ini ditemukan oleh keluarga mu yang lain? Atau oleh mami? Baik lah, akan aku berikan!" Saat Ara ingin pergi Jasson mencegahnya "Jangan! Terimakasih," ia langsung merampas ponselnya dari tangan Ara.
Ara menatapnya dengan tatapan jengah, melipatkan kedua tangannya di dada.
"Gambar kalian begitu mesra, manis banget ya bibir dia sampai kamu menikmati kecupan itu, hingga menjadikannya di wallpaper ponsel mu?"
"Lancang sekali kau membuka ponsel ku!" Jasson terlihat sangat marah, namun Ara menatapnya lebih tajam "Mau aku teriak dan beritahu gambar itu ke semua orang?"
Jasson bungkam, ia menciut dengan ucapan Ara. Karena pria itu tahu, jika Ara tidak hanya mengancam saja. Ara pasti akan melakukannya!
"Jika kau takut, lebih baik ganti wallpaper mu! Biarkan itu menjadi pajangan di galeri mu! Ingat ya, sahabat ku sedang sakit. Dan ia kehilangan ingatannya, aku tidak ingin ia melihat itu dan hatinya hancur. Jika kau ingin Bunga tahu, sekarang saja beritahu didepan semua orang! Jangan kau sakiti lagi sahabat ku!"
"Cukup! Kau terlalu banyak bicara, aku akan menggantinya, tidak perlu memberitahu atau mengatur ku!"
"Bagus, jika sekali lagi aku melihat wallpaper yang menjijikan itu, akan ku tunjukkan langsung kepada mami Salvira. Aku ingin melihat ayahmu kejang-kejang lalu tiada melihat kelakuan bajingan anaknya!"
__ADS_1
"Berani sekali ku mengatakan hal buruk tentang papaku!" Jasson menjambak rambut Ara dengan penuh amarah, namun Ara menendang Junior milik Jasson menggunakan lututnya.
Jasson meringis kesakitan, ia segera melepaskan tangannya dari rambut Ara. Wanita ini sungguh bar-bar sekali "Jangan berani kau menyentuh ku, walau hanya selesai rambut sekalipun! Aku bisa saja mematahkan burung mu itu! Kau mengira aku wanita lemah? Haha, kau salah Jasson! Jika kau ingin menguji kesabaran ku, maka buat lah tingkah mu lagi. Dan aku pastikan, kau besok memakai rok, karena burung mu telah hilang!"