
Tanpa ia sadari air matanya menetes, segera ia menyeka air matanya "Apa ini? Untuk apa aku menangis? Dia bukan siapa-siapa ku dan tidak seharusnya aku menangis untuknya,"
Bunga memilih pergi dari tempatnya sekarang, sebab jika ia tetap di situ hatinya akan semakin sakit melihat kedekatan Gerry dengan Monica.
Bunga menghubungi staf kantor, meminta agar menyiapkan ruangannya yang baru. Mereka pun mengikuti semua perintah dari Ara. Karena perusahaan sementara Ara yang handle dan itu sudah di umumkan langsung oleh Bunga dan Salvira selaku pemilik perusahaan itu sendiri. Jadi, semua karyawan mengikuti semua arahan yang Ara berikan
Tok! Tok!
"Masuk!"
"Maaf Bu, ruangan yang ibu perintahkan sudah tersedia," ujar salah satu staf. Ara pun mengucapkan terimakasih, sebelumnya ia sudah menyusun semua barang-barang yang akan ia pindahkan.
Gerry masuk ke dalam ruangan "Nona, apa yang anda lakukan? Mengapa anda mengemasi semua barang-barang Anda?" Ara tidak menjawab, ia langsung membawa barang-barangnya keruangan yang akan ia tempati.
Gerry pun tak lagi bertanya apapun kepada Ara ia ingin membantu namun Ara mencegahnya "Tidak usah! Saya bisa sendiri!"
Gerry tidak mengerti, mengapa tiba-tiba sikap Ara berubah drastis kepadanya. Apakah ia memiliki masalah? Namun Gerry tidak bertanya, lebih lagi ada staf lain yang membantu Ara.
*********
Ara kini berada di ruangan barunya, ia juga mengucapkan banyak terimakasih kepada staf yang membantunya, terlihat anak-anak memang namun ini yang terbaik menurutnya.
Ia tidak mau terus menerus satu ruangan dengan Gerry, Akan membuatnya semakin sulit melupakan pria itu.
"Mulai sekarang, aku harus bisa menghilangkan perasaan ku kepadanya, jangan ada lagi perasaan apapun kepadanya. Ingat dia sudah memiliki pujaan hatinya sendiri, aku tahu gimana rasanya jika kekasih yang kita cintai di ambil oleh wanita lain. Dan aku tidak akan melakukan itu kepada Monica, walau aku tidak dekat dengannya. Namun aku tidak ingin!"
Ara kembali mengingat masa-masa sulit pernikahannya dulu dengan mantan suami "Apakah aku tidak pantas bahagia?" Gumamnya dengan pelan.
*******
"Sayang, kamu sebaiknya istirahat saja di kamar ya? Mami akan menemani kamu di sini," Bunga mengangguk, ia memegang perutnya yang sedikit sakit "Ada apa nak? Apakah perut kamu sakit?"
Bunga menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit "Bunga sayang, ada apa nak?"
"Tidak apa-apa mi, mungkin karena Bunga tadi keluar berjalan. Jadinya, terasa sangat sakit. Sudah mami jangan khawatir ya?"
"Sayang, bagaimana mami tidak khawatir? Kamu terlihat kesakitan, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!"
Salvira mengajak anaknya ke rumah sakit, namun Bunga menolak dengan lembut "Mami jangan! Bunga tidak ingin ke rumah sakit, Bunga hanya ingin di rumah saja bersama mami, mama dan Ara,"
"Sayang, Ara tadi pergi ke kantor. Mami sudah memintanya untuk di rumah saja namun ia menolak karena banyak pekerjaan di kantor,"
Bunga merasa kasihan dengan sahabatnya "Kasihan Ara, dia harus mengerjakan tugas yang seharusnya Bunga kerjakan mami."
"Sayang, mami juga sudah mengatakan kepada Ara untuk tidak terlalu banyak mengerjakan sesuatu, namun kamu tahu Bagaimana anak itu bukan? Dia sangat keras kepala, mami juga tidak mau dia kelelahan karena stres mengurus pekerjaan kantor,"
Bunga tersenyum mungkin Ara bersemangat ke kantor karena ada Gerry di sana "Mami, mungkin pekerjaannya terasa ringan karena ada seseorang yang spesial di kantor,"
"Oh, maksud kamu nak Gerry?" Bunga mengangguk dengan cepat sambil tersenyum, Salvira juga tersenyum "Iya sayang, mami juga merasa mereka itu sangat cocok. Namun seringkali Ara bersikap galak dengannya, semoga saja dia pria yang tepat untuk Ara ya?"
"Iya mami, Bunga selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan Ara,"
Keduanya pun tersenyum dengan teduh, setelah melihat Bunga sudah tenang barulah Salvira bertanya kepada anaknya apa yang sebenarnya terjadi tadi "Sayang, mami ingin bertanya. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga membuat kamu menangis? Tapi kalau menurut kamu itu menyakitkan dan tidak perlu di jawab, kamu tidak usah menjawabnya,"
__ADS_1
Bunga melamun sejenak dengan pandangan yang kosong, lalu menatap maminya "Tadi, Ade datang ke rumah, dia meminta maaf dengan semua perbuatan yang sudah ia lakukan. Dan dia mengira jika Bunga dan Jasson telah bersama, dia mendoakan agar Bunga dan Jasson bahagia, dan dia mengatakan jika Bunga sudah menang. Dan dia kalah,"
"Lalu?"
"Setelah itu dia pergi mi, Bunga juga enggak tahu dia kemana. Mungkin dia kembali kerumahnya, dan tidak lama kemudian. Jasson yang datang ke rumah, Bunga takut jika mama Laras dan Ara melihatnya mereka akan histeris juga pasti akan ada keributan,"
"Lalu? Apa yang terjadi sayang?"
"Bunga menarik Jasson menjauh dari sekitar rumah mami, Jasson awalnya menghina Ade. Mengatakan hal-hal buruk tentang mantan istri keduanya itu, dan seperti biasa. Dia meminta kesempatan kepada Bunga,"
Salvira merapikan rambut anaknya yang berantakan, Bunga menatap maminya dengan sendu "Jasson mengira Bunga ini seperti barang, saat dia perlu ia akan menggunakannya dan di saat dia bosan, dia akan mencampakkannya lalu membeli barang baru. Bunga belum siap untuk kembali bersama Jasson mami, Bunga belum sanggup! Semuanya masih sakit untuk Bunga, dan banyak keburukan-keburukan dan sikap buruknya Jasson yang Bunga pendam sendiri tanpa mami, mama dan papa tahu,"
Salvira memeluk anaknya "Sayang, sudah ya nak? Apapun keputusan kamu, mami akan mendukungnya. Jika kamu ingin berpisah, mami yang akan mengurus semuanya. Kamu jangan sedih lagi sayang! Tidak ada gunanya kamu sedih dan menangis untuk orang-orang yang tidak menghargai kamu nak! Air mata kamu terlalu mahal untuk orang sepertinya,"
Bunga pun semakin mempererat pelukannya dengan sang mami "Bunga saat ini tidak tahu mami, apakah cinta itu masih ada atau tidak untuk Jasson. Semuanya sudah hambar, sudah jenuh dan Bunga tidak bisa merasakan apapun lagi. Bunga hanya ingin Jasson tidak membuat masalah yang akan membuat mama Laras sedih, kepergian papa David sudah membuat mama Laras terluka. Jangan lagi menambah beban untuk mama laras,"
Salvira pun melepaskan pelukan mereka, ia tahu apa yang anaknya rasakan. Walau dirinya juga terluka namun Bunga masih memikirkan penderitaan orang lain.
"Bunga enggak tega melihat mama Laras yang sepertinya tidak memiliki semangat untuk hidup, pandangannya sangat kosong. Seperti tidak memiliki tujuan hidup apapun lagi mami,"
Memang benar, kini Laras lebih banyak diam dengan pandangan yang kosong. Ia sudah kehilangan alasan untuk tetap hidup, namun Tuhan masih memperpanjang umurnya.
Bagi Laras, suaminya adalah jantung kehidupannya. Dan saat jantung kehidupannya pergi, maka Laras pun akan seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan untuk tetap hidup.
*******
Salvira berencana mengajak besannya untuk ke psikiater agar besannya bisa meluapkan semua kesedihannya. Tidak di pendam seperti ini namun Bunga tidak setuju,.ia tidak tega melihat ibu mertuanya harus dibawa ke psikiater
"Mi, orang-orang akan menganggap mama Laras tidak waras nantinya, Bunga tidak mau mami!"
"T-tap-tapi ma, Bunga belum siap! Bunga juga enggak sanggup melihat mama Laras nantinya akan di tangani oleh psikiater,"
"Kamu harus siap kalau ingin mama Laras kembali seperti dulu,"
Bunga memikirkan ucapan maminya "Sayang, mami sedih melihat mama mertua kamu seperti itu terus nak, mami ingin ibu mertua kamu seperti dahulu. Agar kita bisa tersenyum dan bahagia seperti dulu."
"Mbak, saya tidak gila dan saya masih waras,"
Bunga dan Salvira kaget mendengar suara Laras "Mama,"
Bunga segera bangkit mendekati ke arah ibu mertuanya itu "Saya masih paham dan mengerti apa yang kalian katakan, apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Saya tahu semuanya mbak, hanya saja saya tidak ingin melakukan apapun. Saya hanya ingin menyendiri menenangkan hati saya, saya ingin berpikir lebih lama agar saya tahu ini semuanya nyata. Kepergian suami saya nyata, saya tidak gila mbak! Saya hanya menginginkan dan membutuhkan waktu menyendiri saja. Mungkin cukup lama, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun namun itu yang akan membuat saya tenang. Bukan pergi ke psikolog!"
Laras sejak tadi berdiri di depan kamar Bunga, awalnya dia berniat untuk mengajak menantunya mengobrol ringan. Agar mengurangi rasa bosan dan kesedihannya, namun saat ia sampai di kamar menantunya ia mendengarkan segala percakapan Bunga dengan Salvira.
"Mbak, jangan salah paham namun bukan begitu maksud saya,"
"Iya mama, mama tidak akan ke psikiater. Mama tenang saja ya?" Bunga tersenyum ke arah ibu mertuanya, Laras pun berpamitan kepada menantu dan besannya untuk kembali ke kamar "Bunga, mbak Salvira. Saya ke kamar dulu ya?"
Bunga dan Salvira pun mengangguk, setelah Laras pergi, Salvira merasa bersalah "sayang, ibu mertua kamu pasti akan salah paham dengan maksud mami,"
Bunga menggelengkan kepalanya "Tidak mami! Mama tidak marah dengan mami atau pun salah paham. Jika mama marah, pasti mama akan mengatakannya langsung. Kita tahu bagaimana sifat mama Laras kan mi? Jadi mami jangan khawatir ya?"
Bunga mencoba menghibur maminya "Ya sudah sayang, kamu sekarang istirahat ya? Mami tidak mau karena masalah ini kamu menjadi sakit, ingat janin yang ada di perut kamu, kehamilan kamu sudah memasuki empat bulan nak. Besok kita akan USG ya?"
__ADS_1
Bunga mengangguk "Iya mami, semuanya Bunga serahkan ke mami saja. Bunga tahu apa yang mami lakukan, itulah yang terbaik untuk Bunga dan cucu mami ini," Bunga memegang perutnya yang masih rata, karena ia juga kurus. Jadi kehamilannya tidak terlalu kelihatan
"Ya sudah nak, sekarang kamu berbaring ya?" Salvira membantu anaknya untuk berbaring di tempat tidur, Bunga menuruti ucapan maminya. Dan memejamkan matanya
Salvira tersenyum, walau anaknya sudah besar namun Salvira masih menganggap Bunga seperti putri kecilnya dulu
"Sayang, mami sayang sekali sama kamu nak," batinnya. Ia menatap anaknya yang tertidur dengan pulas, saat tertidur Bunga tampak sangat menggemaskan wajahnya. Begitu bersinar, dan sangat teduh.
"Mengapa wanita sebaik kamu di sakiti oleh Jasson sayang? Mami tidak pernah mengira jika kamu akan mengalami kesakitan dan kepedihan atas pernikahan kamu sayang," batinnya.
Ia tidak mau mengeluarkan suara, karena ia tahu jika ia mengeluarkan suara akan membuat anaknya terbangun. Salvira pun berbaring di samping anaknya, ia memeluk Bunga dengan lembut
Seperti layaknya seorang ibu yang mencurahkan segala kasih sayangnya kepada sang anak. Walau Bunga sudah menikah, namun baginya Bunga tetap peri kecilnya yang akan selalu ia jaga hingga akhir hayatnya.
Jika saja suaminya masih hidup, mungkin penjagaan atas Bunga akan lebih ketat. Suaminya pasti akan lebih mengkoreksi calon suami Bunga yang lebih teliti
Salvira mengingat saat anaknya Bunga masih sekolah, bahkan teman saja harus di koreksi dengan baik oleh suaminya.
Flashback
"Papi, Mami. Bunga pulang," ujarnya dengan suara yang manja, Bunga membawa salah atau teman cowoknya pulang ke rumah. Yaitu Jasson
"Jasson, kenapa kamu setiap hari datang ke rumah? Apakah kedua orang tua kamu tidak marah?" Tanyanya dengan ketus
"Papi, kenapa berbicara seperti itu kepada Jasson? Jasson ini adalah sahabat Bunga papi,"
"Ara juga sahabatnya kamu, kenapa hanya Jasson saja? Kemana Ara?"
"Isss papi, tadi Bunga sudah mengajak Ara. Namun ia tidak mau ikut, katanya mau mengerjakan tugas sekolah."
"Jika benar begitu, sebaiknya Jasson pulang sekarang. Kerjakan tugas sekolah Jasson, dan Bunga juga akan belajar mengerjakan tugas sekolah!"
"Tapi Papi, hari ini Bunga dan Jasson ingin menonton bioskop,"
"Tidak sayang! Ini kan bukan hari libur. Papi tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi jika itu hari Biasa. Kalau hari libur tidak masalah bagi papi, sekarang Jasson kamu pulang saja!"
"Baik papi,"
Jasson segera pergi, walau Bunga dan Jasson udah bersahabat sejak lama. Namun papinya Bunga tidak membebaskan anaknya pergi bersama Jasson, baginya tidak ada yang bisa menjaga putrinya sebaik dia.
Bunga masuk ke dalam kamar dengan cemberut, namun Bunga tidak pernah membantah papinya. Salvira ingin menemani anaknya, namun suaminya melarang
"Mami, jangan! Biarkan Bunga masuk kamar sendirian. Dia akan mengerjakan tugas sekolahnya di dalam kamar, kalau mami ikut ke kamar. Bunga bisa membujuk mami, lalu? Mami luluh, terus mami membujuk papi dan membiarkan dia pergi menonton bioskop. Tidak!"
"Papi, kenapa sih sama anak sendiri keras banget seperti itu. Sesekali kan tidak masalah, lagipula Bunga pergi dengan Jasson. Kita sudah mengenal Jasson dan keluarganya sejak lama, apa yang harus papi khawatirkan?"
"Tidak mami! Memang kita sudah mengenal Jasson dan keluarganya sejak lama, namun entah kenapa papi sangat ragu jika Jasson bisa menjaga Bunga dengan baik. Papi tidak bisa melepaskan anak papi sembarangan walau itu hanya untuk bermain! Namun jika bersama dengan Ara, jangan kan sekedar menonton bioskop. Ke pantai pun papi dengan lega melepaskan Bunga,"
Flashback End!
Salvira tersadar dari lamunannya, ia sangat ingat suaminya selalu saja tidak memberikan izin jika Bunga dan Jasson pergi bersama jika hanya berduaan tanpa Ara. Dan sekarang Salvira mengerti semua ucapan suaminya, dan apa yang suaminya katakan itu benar.
Jasson tidak bisa menjaga anak mereka Bunga "Kenapa mami tidak memikirkan setiap ucapan papi? Jika mami mendengarkan papi, mungkin semua ini tidak akan terjadi," gumamnya dengan pelan.
__ADS_1
Suaminya jauh bisa lebih merasakan mana yang terbaik untuk anaknya Bunga dan mana yang tidak. Padahal saat itu Jasson dan Bunga masih sangat remaja, namun suaminya sudah bisa merasakan itu semua