
"Mommy, Jesslyn mau main sama Justin dan Daddy, kita keluar ayo!"
"Sayang, kamu jangan seperti itu ya? Kan mommy sudah bilang kalau mommy ingin berdua aja sama Jesslyn. Memangnya Jesslyn enggak mau berduaan aja sama mommy?"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu kamar Bunga di ketuk, Jesslyn ingin membuka pintu namun Bunga melarang anaknya "Sayang kamu di sini aja! Biar mommy yang membuka pintunya oke?"
"Iya mommy!" Bunga beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju pintu kamar. Ia pun membuka pintu kamarnya terlihat Ara yang berdiri di depan pintu "Masuk lah!" Bunga meminta kepada sahabatnya untuk masuk. Ara pun masuk ke dalam, terlihat Jesslyn yang sangat senang melihat Ara
"Mami!" Jasslyn berlari, memeluk Ara yang dibalas pelukannya oleh Ara "Mami, Jesslyn ingin bermain dengan adik Justin namun mommy tidak beri izin. Mommy bilang ingin bersama Jesslyn saja di kamar,"
Ara membelai dan merapihkan rambut Jesslyn yang berantakan "Jesslyn mau bermain?"
"Iya mami!" Jesslyn mengangguk dengan wajah polosnya, Ara pun membiarkan Jesslyn untuk bermain "Ya sudah, sekarang Jesslyn turun ke bawah. Main sama Daddy dan adik Justin. Tapi jangan lari-lari ya sayang? Nanti Jesslyn bisa jatuh,"
"Terimakasih banyak mami! Jesslyn sayang mami!" Jesslyn memeluk Ara dengan erat dan penuh kasih sayang. Jesslyn keluar dari kamar dengan perasaan gembira
Bunga mendekati sahabatnya "Kamu apaan sih? Kenapa menyuruh Jesslyn untuk bermain? Kamu mau ya kalau Jesslyn itu membantah sama aku?" Bunga terlihat kesal namun Ara mencoba menenangkannya "Bunga kenapa kamu terlihat sangat kesal? Jesslyn itu masih anak-anak dan dia butuh bermain,"
Bunga mengatakan jika ia tidak mau karena Jesslyn, maminya terus memaksa ia menikah "Aku enggak melarang Jesslyn bermain, tapi kamu tahu kan? Setiap kali Jesslyn bermain dengan Gerry dan Justin mami selalu saja memaksa aku untuk menikah lagi. Apakah pernikahan itu semudah itu? Ara, aku tahu kamu beruntung di pernikahan kedua mu. Tapi tidak semuanya seberuntung kamu! Bagaimana jika aku menikah nanti, aku akan lebih menderita?"
Ara terdiam sejenak, namun ia tahu bukan itu alasan Bunga menolak untuk menikah lagi "Bunga aku tahu kamu, dan alasan kamu tidak mau menikah lagi karena kamu masih mencintai Jasson bukan!"
Bunga terdiam, bagaimana Ara bisa tahu semuanya? Namun ia tidak menjawab apapun "Sudah lah Ara! Kenapa kamu seperti mami yang sangat sok tau tentang hati aku?"
"Aku tahu, karena aku sahabat kamu! Aku memahami segalanya Bunga walau kamu tidak mengatakan apapun!"
Bunga pun hanya bisa diam, tidak mengatakan apapun lagi "Sudah lah Ara sebaiknya kamu jangan terlalu mengatakan apa yang ada di pikiran kamu! Karena itu semua tidak benar! Aku tidak ingin menikah karena aku memang belum ingin menikah. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Jesslyn!"
"Kamu yakin hanya itu saja?"
'"Iya, aku sangat yakin sekali!"
*******
"Daddy!" Jesslyn berteriak memanggil Gerry, ia memang sangat menyayangi Gerry yang ia anggap itu adalah Daddy-nya.
Gerry pun berjalan mendekati Jesslyn "Anak Daddy, kenapa tadi ke kamar Hem?" Gerry bertanya dengan suara yang lembut dan penuh kasih dan sayang "Iya Daddy, tadi mommy yang mengajak Jesslyn untuk ke kamar. Tapi Jesslyn maunya bermain, untung saja ada mami Ara, mami Ara yang membantu Jesslyn bisa keluar kamar hihi!"
Salvira mendekati cucunya, ia merasa kasihan dengan cucunya itu
"Sayangnya Oma, kamu di larang sama mami kamu untuk bermain?" Jesslyn mengangguk, dengan sorotan mata yang sangat menggemaskan "Nyonya, sebaiknya kita tidak membahas apapun lagi didepan Jesslyn. Dan mengenai nyonya Bunga, mungkin beliau ingin memiliki waktu untuk berpikir!"
Salvira memikirkan ucapan Gerry, apa yang dikatakan oleh lelaki itu memang ada benarnya.
"Saya tidak mau mengatakan apapun didepan Gerry, namun kalian tahu jika saya sayang menyayangi cucu saya Jesslyn! Saya tidak mau Jesslyn merasa kesepian seperti itu!"
Gerry mengerti, namun ia tidak mau membahas apapun lagi "Daddy, ayo kita bermain!" Kini Gerry bermain dengan Jesslyn dan Justin sebelum ia berangkat ke kantor.
*******
Di kamar, Bunga memilih untuk bersiap-siap pergi ke kantor daripada menjawab semua omong kosong sahabatnya itu "Bunga, hari ini kita enggak usah ke kantor ya? Kita lebih baik pergi bersama mami membawa anak-anak saja,"
__ADS_1
"Jika kamu ingin pergi, kamu saja! Aku banyak pekerjaan di kantor Ara! Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku!"
Ara tahu Bunga hanya beralasan saja, ia menghindar untuk bertemu atau berbicara dengan maminya Salvira.
"Tapi kan bisa kamu kerjakan nanti pekerjaan kantor, lebih penting anak atau kantor?"
Bunga menatap Ara dengan kesal "Kamu jangan seperti mami deh! Aku enggak suka, atau sekalian aja aku bawa anak aku pergi dari rumah ini! Bosen tahu, kalian selalu saja memaksakan kehendak kalian! Aku udah besar, dan sudah punya anak. Aku tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk ku dan anakku, enggak perlu kalian atur-atur lagi!"
Bunga seperti kehilangan kesabarannya, selama ini ia memilih Bungkam dan mengalah namun Ara dan maminya terus saja memojokkan dirinya seakan ia tidak memperdulikan bagaimana masa depan anaknya jesslyn
"Ara aku tahu, sekarang kamu sudah memiliki keluarga yang utuh tidak seperti aku! Tapi bukan berarti kamu bisa membandingkan kehidupan kita berdua, aku senang karena kamu dan Gerry hidup bahagia. Kita selalu berkumpul, namun bukan berarti kamu bisa menjudge tentang kehidupan aku dong!"
Ara memeluk sahabatnya dan meminta maaf, ia tahu saat ini Bunga sedang sensitif dan yang perlu ia lakukan hanyalah meminta maaf "Maafkan aku Bunga, jangan marah-marah lagi ya? Nanti cantik kamu hilang loh!" Ara menggoda sahabatnya, membuat Bunga tersenyum tipis "Udah lepasin aku! Aku bukan anak kecil lagi!"
"Kita masih muda tahu, umur kita juga belum tiga puluh tahun. Nikmati dong masa muda, kita kan ini mamud,"
"Mamud? Apa itu.?"
"Huh dasar kampungan! Mama muda loh Bunga! Kitakan walau sudah punya anak namun masih seperti anak gadis yang berusia belasan tahun!" Ara berdiri di depan cermin menatap dirinya yang begitu cantik, bahkan jauh lebih cantik saat dia masih gadis dulu.
"Kamu bukannya cantik tapi sok cantik!" Ledek Bunga kembali, namun Ara dengan bangganya mengatakan jika dirinya sangat cantik
"Kau lihat Bunga, aku sangat cantik! Bahkan kau kalah dengan ku. Tapi tidak apa-apa kita berdua ini kan mama muda yang sangat kece!"
Bunga menggelengkan kepalanya "Jika suami mu tahu, dia pastinya tidak menyangka mimpi apa mendapatkan istri yang sangat aneh seperti mu!"
Ara terkekeh geli, namun ia tahu jika Gerry sangat mencintainya begitu juga dengan ia yang sangat mencintai Gerry.
Walau sudah menikah dengan Gerry hampir empat tahun, Gerry tidak menceritakan bahagia buruknya mami Monica kepada dirinya. Karena ia tidak mau menjelek-jelekkan keluarganya sendiri.
"Aku yakin, kalau sebenernya ada yang Gerry sembunyikan. Tapi aku enggak tahu apa,"
Ara terlihat gusar, Bunga mendekati sahabatnya itu "Kamu kan istrinya dan aku tahu feeling seorang istri tidak pernah salah! Selidiki apa penyebab suami mu selalu menolak ke sana mungkin ada suatu hal yang ia tidak bisa ceritakan kepada mu,"
"Tapi kenapa? Aku ini kan istirnya, kenapa dia menyembunyikannya dari ku?"
"Karena itu adalah keluarganya, dan ia tidak mau keluarganya dipandang sangat buruk oleh istrinya sendiri!"
"Iya, kau memang benar sekali! Tapi aku sangat bingung apa yang sebenarnya ia sembunyikan. Pusing kepala Tante!"
Ara merapikan rambutnya yang berantakan, walau sudah memiliki anak namun Ara masih sangat menjaga penampilannya. Ia tidak mau suaminya berpaling ke wanita lain "Aku tidak mau jika suami ku berpaling dan mengincar wanita lain! Pernikahan pertama ku sudah banyak memberikan aku pelajaran yang sangat berharga dan aku tidak akan mengulanginya lagi,"
"Iya jagalah suami mu dengan baik, jangan sampai di ambil pelakor lagi haha!"
Bunga tertawa dengan keras, karena ia mengingat bagaimana dahulu rumah tangganya hancur karena orang ketiga. Ara ikut tertawa juga, masa lalu mereka sangat pahit dan itu tidak akan pernah di lupakan sama sekali
"Bunga, Ara keluar! Kenapa kalian masih saja di kamar!" Terdengar suara ketukan dari luar kamar, Bunga meminta sahabatnya untuk membukakan pintu "Mami sedang memanggil, buka lah!"
Ara berjalan ke luar untuk membuka pintu "Kalian sudah rapih mau kemana?"
"Mau ke kantor,"
"Bunga juga?" Salvira bertanya, Bunga mengangguk "Iya mami, Bunga akan ke kantor karena ada pekerjaan penting yang harus Bunga kerjakan,"
__ADS_1
"Kenapa? Apakah Gerry tidak bisa menyelesaikan atau mewakilinya? Biasanya juga bisa?"
Bunga menggelengkan kepalanya "Tidak mami! Hanya Bunga yang bisa menyelesaikannya!" Bunga berpamitan kepada maminya, sebenarnya Bunga hanya ingin menghindar dari maminya itu
"Ara, kenapa Bunga sepertinya menghindar dari mami? Apakah dia marah dengan mami?" Ara terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apapun
"Mami, sebenarnya Bunga tidak marah. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya saja, karena katanya kita terlalu memaksakan kehendak, mami sebaiknya kita jangan terlalu keras dengan Bunga dan jika Bunga belum siap untuk berumah tangga lagi, sebaiknya kita menunggu ia sampai siap saja. Ara enggak mau karena masalah ini, Bunga menjauh dari kita,"
Salvira menghela nafas dengan kasar, padahal ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya "Mami hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Mami juga ingin Bunga bahagia dengan suami barunya. Ada yang menjaga dia dengan Jesslyn,"
Ara menatap ibu sahabatnya itu yang sudah ia anggap seperti mama kandungnya sendiri
"Maaf mami, namun Bunga mengatakan tadi jika tidak semua seberuntung Ara, iya mungkin mami melihat pernikahan kedua Ara berjalan dengan baik dan sangat bahagia. Namun bagaimana jika Bunga mendapatkan lelaki seperti Jasson lagi? Bahkan jika dia lebih buruk dari Jasson? Apa tidak kasihan dengan Bunga dan Jesslyn nantinya?"
Salvira terdiam, membenarkan ucapan Ara "Iya sayang, kamu benar. Kenapa mami tidak berpikir sejauh itu? Mami hanya memikirkan keinginan mami tanpa memikirkan kedepannya, sayang terimakasih karena kamu sudah menyadari mami ya?"
"Tidak mami! Ini bukan karena Ara, namun Bunga lah yang berpikir jauh lebih logis. Ia hanya tidak mau jika itu terulang lagi. Mami, mungkin Bunga bisa menerima dirinya menderita karena sebuah pernikahan namun ia tidak sanggup jika Jesslyn anaknya ikut menderita jika mendapatkan ayah sambung yang tidak tepat,"
"Tapi sayang, kita bisa mencari yang terbaik untuk Bunga dan ayah sambung yang baik untuk Jesslyn,"
"Mami, terkadang ayah kandung saja sanggup menyakiti anaknya sendiri. Apalagi hanya sekedar ayah sambung? Kita enggak bisa menjamin apakah lelaki itu baik atau tidak! Bahkan kita enggak tahu apakah lelaki itu benar-benar tulus atau hanya ingin hartanya Bunga saja?"
Salvira setuju dengan Ara, ia berjanji tidak akan memaksa anaknya untuk menikah lagi. Terdengar suara mobil Bunga yang menjauh dari halaman rumah "Mami tahu, sebenarnya Bunga ke kantor bukan untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Namun ia ingin menghindar dari mami bukan?"
"Tidak mami! Mami jangan salah paham dengan Bunga! Bunga hanya tidak mau jika nantinya mami semakin kesal jika ia di rumah. Ia tidak mau jika di rumah ini ada keributan lagi, jadi lebih baik ia keluar dari rumah untuk mengindari keributan yang terjadi. Namun Bunga tidak marah kok sama mami, mami jangan salah paham ya?"
Walau Ara sudah memberikan penjelasan namun Salvira sangat tahu bagaimana sifat anaknya itu. Ara dan Salvira pun memutuskan untuk turun ke bawah bersama Justin dan Jesslyn
Jesslyn berlari ke arah Omanya "Oma, kenapa mommy ke kantor? Padahal tadi mommy janji sama Jesslyn akan bermain dengan Jesslyn dan tidak akan ke kantor, namun kenapa mommy berbohong?"
Terlihat Jesslyn sangat sedih, Salvira dan Ara saling pandang. Keduanya pun berusaha untuk menghibur Jesslyn yang sangat manja dan menggemaskan itu "Sayang, sebenarnya mommy juga tidak mau ke kantor. Namun ada pekerjaan yang sangat penting, mommy harus datang sayang, kalau mommy tidak datang. Maka mommy akan di anggap tidak di siplin,"
Jesslyn tidak mau mendengarkan penjelasan dari neneknya itu, baginya mommynya lebih mementingkan pekerjaan kantor daripada dirinya "Lebih berharga pekerjaan, daripada Jesslyn!"
"Tidak sayang! Tidak seperti itu, mommy bekerja juga untuk Jesslyn. Agar Jesslyn bisa sekolah dan membeli mainan, pakaian yang sangat bagus. Kalau mommy tidak bekerja, mommy tidak akan mendapat uang, dan bagaimana bisa untuk membeli kebutuhan Jesslyn?" Ara pun memberikan pengertian kepada anak sahabatnya itu
"Tapi mami, mami tidak ke kantor hanya Daddy saja. Dan Daddy yang sudah membelikan semuanya untuk Justin,"
Mendengar jawaban Justin, membuat Jesslyn semakin sedih "Kenapa Daddy tidak bekerja untuk Jesslyn? Hanya untuk Justin saja? Apakah Daddy bukan Daddy-nya Jesslyn?"
Pertanyaan Jesslyn membuat Salvira merasa sedih, ia sedih melihat cucunya yang sepertinya membutuhkan sosok ayah.
Jika Jesslyn memiliki ayah, pastinya Bunga tidak harus turun tangan untuk urusan kantor lagi
"Kenapa Oma, kenapa Daddy?"
"Sayang, kenapa Jesslyn mengatakan itu? Jesslyn kan anaknya Daddy! Anak kesayangan Daddy! Jesslyn tidak boleh mengatakan itu ya sayang? Daddy nantinya sedih banget kalau mendengar Jesslyn berbicara seperti itu,"
Gerry memasang wajah sedihnya, membuat Jesslyn merasa bersalah "Daddy jangan sedih, Jesslyn sangat sayang dengan Daddy!"
"Daddy juga sangat menyayangi kamu sayang!"
Keduanya berpelukan dengan erat, Justin yang tidak mau kalah juga memeluk Daddy-nya "Daddy Justin juga mau dipeluk,"
__ADS_1