
Justin pun mulai memahami semuanya, Ara begitu iri melihat Bunga. Mengapa anaknya sangat mendengarkan Bunga? Bukannya ia membenci sahabatnya, namun sebagai ibu bukannya wajar memiliki sedikit kecemburuan saat melihat anaknya lebih dekat dan mendengarkan ucapan orang lain daripada dirinya? Terlebih lagi saat ini Ara sedang mengandung, ia jauh lebih sensitif daripada biasanya.
Ara pun masuk kedalam, menarik Justin agar pelukannya Justin dan Bunga terlepas. Tentu membuat Bunga terkejut "Ada apa Ra?"
Ara tidak menjawab, ia segera membawa Justin menjauh dari Bunga. Bunga mengikuti keduanya membuat Ara semakin kesal "Tolong Bunga! Justin ini anak aku, dan biarkan aku yang menyelesaikan segalanya kepada anak ku!"
Bunga terkejut, untuk pertama kalinya Ara terlihat kesal kepadanya. Salvira, Gerry dan Jesslyn pun menghampiri "Mami, kenapa mami marah kepada mom? Apa salah mommy kepada mami?" Sebagai anak tentu saja Jesslyn merasa tidak terima jika ibunya diperlakukan sangat tidak baik, Ara tidak menjawab. Ia membawa Justin pergi meninggalkan mereka
"Ada apa dengan Ara? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini?" Salvira juga bingung, biasanya Ara tidak pernah bersikap tidak baik kepada Bunga.
"Kalian jangan khawatir! Saya akan berbicara kepada Ara," ujar Gerry yang mengejar istrinya. Sedangkan Salvira memeluk Bunga. Terlihat Bunga yang sedih dengan tindakan Ara barusan.
"Mami, kenapa Ara tiba-tiba seperti itu? Apakah Bunga melakukan kesalahan?"
Salvira mencoba menenangkan anaknya "Tidak sayang, mungkin saja Ara sedikit sensitif karena kehamilannya. Itu hal biasa dilalui oleh wanita yang sedang mengandung,"
Salvira mencoba menghibur anak kesayangannya Bunga, sudah banyak kesedihan yang dilalui Bunga dan Salvira tidak mau anaknya kembali sedih lagi.
"Mommy jangan bersedih, ada Daddy yang akan menegur mami!"
Bunga pun mengangguk, mengajak anaknya masuk kedalam. Namun pikirannya berkecamuk, ia tidak merasa tenang sama sekali. Hatinya gelisah dengan semua perubahan sahabatnya secara tiba-tiba
"Sayang, kamu jangan sedih lagi ya? Kita harus memahami Ara kamu lihat tadi bagaimana Justin tidak menerima kabar bahagia ini, lalu dia berlari pergi dari rumah. Mungkin hal itu yang membuat Ara sedikit trauma sehingga sikapnya menjadi seperti itu secara tiba-tiba, kita harus mengerti ya nak?"
Bunga menatap maminya dan mengangguk, kini ia mulai tenang dan bisa berpikir dengan jernih "Sayang, saat Jesslyn memutuskan berlari dan pergi dari rumah kamu pasti akan melakukan hal yang sama sayang, mami yakin itu karena mami juga seorang ibu nak,"
"Iya mami, seharusnya Bunga bisa memahami Ara bukan malah bersedih seperti ini,"
Salvira tersenyum dan memeluk Bunga juga Jesslyn "Mami jangan sedih lagi! Nanti Jesslyn ikut sedih,"
"Iya sayang, mami enggak akan sedih lagi demi kamu,"
Mereka kini tersenyum bahagia. Bunga juga mengajak anaknya untuk berjalan-jalan disekitar hotel. Pasti sangat menyenangkan. Jesslyn mengangguk setuju, Salvira juga menemani anak dan cucunya. Ia takut jika Bunga dan Jesslyn akan bertemu dengan Jasson lagi. Hatinya tidak akan tenang, melepaskan anak dan cucunya.
*******
"Mami, indah sekali pantainya," terlihat Jesslyn sangat gembira membuat pemandangan pantai tersebut, ia juga berlari serta menari dipinggir pantai "Jesslyn sayang, hati-hati nak!"
Jesslyn tidak mendengarkan ucapan maminya, ia masih berlari sambil tertawa bahkan Bunga dan Jesslyn jaraknya mulai jauh
Bruak!
__ADS_1
"Aduh!" Pekik Jesslyn yang terjatuh, ia menabrak seseorang, wanita paru baya itu pun membantu Jesslyn untuk berdiri
"Jesslyn,"
Bunga yang melihat anaknya dari jauh pun berlari mendekati anaknya, ia kaget saat mengetahui jika yang menabrak anaknya adalah Jasson dan ibunya Jasson.
"Hai anak cantik, apakah kamu baik-baik saja?" Jasson bertanya kepada Jesslyn, Salvira pun mendekati mereka. Ia tidak kalah terkejutnya dengan sang anak. Kegelisahan dan ketakutannya kini menjadi kenyataan.
"Cucu nenek!" Laras memeluk Jesslyn dan menangis dipelukan Jesslyn, namun Jesslyn menepis dan menjauhkan tubuhnya dari Laras
"Maaf nenek, namun Oma dan mommy melarang Jesslyn untuk dekat dengan orang asing, namun sebelumnya Jesslyn mau mengucapkan terima kasih banyak karena nenek dan om sudah membantu Jesslyn. Maaf jika kenakalan Jesslyn, akhirnya kita menjadi seperti ini,"
Laras dan Jasson menatap Jesslyn dengan mata yang berkaca-kaca, Jesslyn tumbuh menjadi anak yang cantik dan sangat pintar. Tidak salah, karena itu semua ajaran dari Bunga dan ibunya Salvira.
"Sayang, kamu sebaiknya membawa Jesslyn kembali ke hotel,"
Salvira meminta anaknya untuk membawa sang cucu kembali ke hotel, namun Bunga tidak mau "Tidak mami, sebaiknya mami yang membawa Jesslyn ke hotel. Bunga harus menyelesaikan urusan yang selama ini tertahan selama bertahun-tahun,"
Bunga menatap Jasson dengan penuh tidak kesukaan. Mengapa mereka datang untuk mengusik ketenangan hidup mereka setelah sekian lama mereka menghilang?
Salvira pun mengerti maksud anaknya ia mengajak Jesslyn untuk kembali ke hotel "Jesslyn sayang, ikut Oma yuk kesana?"
Jesslyn mengangguk, ia pun menatap Jasson dan Laras sebelum pergi. Setelah itu berjalan mengikuti Salvira menjauh dari mereka.
Bunga menghela nafas panjangnya "Enggak, Bunga enggak menjauhkan Jesslyn dari mama dan Jasson. Tetapi, Bunga hanya mengikuti kalian yang menjauh dari anak Bunga selama bertahun-tahun ini. Apa mama lupa? Kalau mama dan Jasson bahkan hampir lima tahun lebih ini tidak pernah sedikit pun menanyakan kabar anak Bunga. Mama dan Jasson jangan kan memberikan nafkah untuk jesslyn, bahkan kalian tidak perduli apa jenis kelamin anak Bunga, lalu sekarang? Mama dan Jasson datang seakan berkuasa untuk anak Bunga?"
Bunga tersenyum sinis kepada mantan suami dan mantan mertuanya itu. Ia tidak menyangka, jika keduanya masih sama seperti dulu yang hanya egois dan memikirkan diri mereka sendiri.
"Sayang, kamu jangan memikirkan diri kamu sendiri Bunga! Bagaimana pun Jesslyn itu adalah anaknya Jasson, Jasson ini adalah ayah biologisnya Jesslyn. Walau kamu sudah memiliki keluarga baru, namun kamu enggak bisa merubah kenyataan jika Jasson adalah papanya Jesslyn!"
Bunga hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia tahu tidak ada gunanya jika berdebat dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa bersalah sama sekali "Iya ma, Bunga tahu. Jika Jasson adalah papa biologisnya Jesslyn namun apakah Jasson pernah melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang papa?"
"Sayang, bagiamana Jasson bisa melakukan tugasnya sebagai seorang papa jika mereka aja tidak pernah bertemu,"
"Masalah pertemuan, itu karena niat dari mama dan Jasson. Karena nyatanya, Bunga tidak pernah pindah dari rumah itu, kalian bisa datang kapan saja kerumah Bunga jika ingin melihat Jesslyn. Itu bukan lah alasan ma, dan nyatanya memang mama dan Jasson yang tidak meringankan langkah kaki kalian untuk menemui Jesslyn," Bunga mengatakan itu dengan santai dan tersenyum
Bukannya ia benci dengan Jasson apalagi ibunya Jasson namun ucapan Laras membuat emosi Bunga memuncak.
"Terserah sayang, tapi mama dan Jasson akan mengajukan hak asuh anak ke pengadilan! Jasson berhak atas Jesslyn,"
Seperti disambar petir, ucapan Laras tentu saja membuat Bunga terkejut. Namun ia berusaha untuk tenang "Dengan senang hati mama, Bunga tunggu pertemuan kita di pengadilan,"
__ADS_1
Bunga berjalan menjauh dari Jasson dan Laras. Laras tidak menyangka jika Bunga sudah sangat berubah, tidak seperti dulu yang hanya mengangguk apa ucapannya "Lihat lah Jasson! Jika kamu tidak cepat mengambil langkah. Maka kamu akan kehilangan anak kamu Jesslyn, Bunga terlihat seperti menantang mungkin itu karena suami barunya,"
Jasson mulai terpancing dengan ucapan mamanya "Sayang, kamu harus mendengarkan apa yang mama katakan! Ini semua demi kebaikan kamu, kalau kamu enggak mengambil langkah itu kamu akan kehilangan Jesslyn. Kamu lihat saja tadi bagaimana Bunga dan maminya ingin menjauhkan Jesslyn dari kita. Bahkan mereka tidak basa-basi untuk memperkenalkan kita kepada Jesslyn,"
Laras masih emosi, Jasson menenangkan mamanya "Mama, sudah lah! Jangan emosi seperti itu. Jasson tidak mau nanti mama akan sakit,"
"Nak, bagaimana mama tidak emosi seperti itu? Lihat lah! Kita diperlakukan seperti orang asing, seharusnya mereka bisa menghargai kita. Jika saja Bunga dan maminya memperkenalkan kita kepada Jesslyn, mama akan berpikir seribu kali untuk merebut hak asuh Jesslyn. Tapi sekarang, mama sudah sangat yakin sekali!"
"Ma, sebaiknya kita pulang saja!"
Laras menoleh dan menatap anaknya "Kamu enggak salah bicara?"
Jasson mengangguk "Kita akan kembali kemana Jasson dahulu dibesarkan!"
Mendengar ucapan anaknya, membuat Laras tersenyum senang "Keputusan kamu tepat sayang, kita akan semakin muda untuk mengajukan hak asuh Jesslyn,"
Jasson mengangguk, kini ia sudah terpengaruh dengan ucapan mamanya. Karena menurutnya apa yang dikatakan oleh mamanya Laras itu memang benar
"Jasson akan menuruti semua yang mama katakan, karena memang semua itu benar. Jika Jasson tidak bertindak sekarang, maka Jasson akan kehilangan Jesslyn untuk selamanya,"
Laras memeluk anaknya dengan erat, ia bangga dan terharu dengan ucapan anaknya itu "Akhirnya sayang, kamu mendengarkan ucapan mama. Mama mengatakan dan melakukan ini demi kebahagiaan kamu sayang, mama tidak akan memaksa kamu untuk menikah lagi. Namun Jesslyn akan menemani kamu karena tidak selamanya mama hidup,"
"Ma, tolong jangan mengatakan hal seperti itu lagi ma, Jasson enggak bisa hidup tanpa mama! Tolong ma jangan katakan seperti itu ma,"
Terlihat buliran air mata yang jatuh dari mata Jasson, ia sangat mencintai mamanya dan tidak mau kehilangan orang tuanya untuk kedua kalinya. Dia sudah pernah kehilangan papanya itu semua karena kebodohannya di masa lalu dan sekarang ia tidak akan mau terjadi untuk kedua kalinya.
*******
Bunga berjalan menuju hotel dengan nafas yang terengah-engah. Bahkan ia berjalan dengan langkah yang gemetar, Ara dan Gerry yang melihat Bunga kehilangan keseimbangan berjalan langsung mendekat dan memegang Bunga
"Bunga, ada apa?" Ara terlihat panik melihat kondisi sahabatnya, ia juga membantu Bunga untuk duduk. Sedangkan Gerry, mengambil segelas air putih untuk Bunga minum. Gerry memberikan segelas air putih itu kepada istrinya Ara terlebih dahulu. Lalu Ara meminta sahabatnya untuk minum "Bunga, kamu minum dulu!"
Bunga mengambil segelas air putih dengan tangan yang gemetar, ia menyeruput perlahan. Lalu memberikannya kembali kepada Ara.
"Ada apa Bunga? Kenapa kamu seperti ini? Katakan kepada ku?"
Bunga menatap Ara dan memeluk sahabatnya "D--dia mau, mau merebut Jesslyn ku," ujar Bunga dengan nada yang gemetar, ia pun menatap Ara dengan mata yang berkaca-kaca
"Siapa? Siapa yang mau merebut Jesslyn dari kita Bunga?"
"J--jasson,"
__ADS_1
Ara terkejut mendengar ucapan Bunga, ia terlihat emosi mendengar dan melihat sahabatnya ketakutan seperti ini "Kurang ajar! Kenapa dia membuat masalah lagi setelah sekian lama pergi sih? Aku harus menemuinya sekarang!"
Namun Gerry melarang istrinya "Tenangkan diri kamu sayang! Jangan terlalu emosi seperti ini!"