
Jasson me-ngerjapkan kedua matanya saat matahari yang kini memaksa masuk dari sela-sela gorden, membuat lelaki bertubuh kekar itu bangun. Namun Jasson tak memilih beranjak, apalagi saat merasakan sebuah kepala yang masih bersandar di atas dadanya juga dengan semerbak aroma manis dari parfum vanilla yang di gunakan oleh Bunga menarik Jasson untuk merasa terenyuh, mengulum senyum.
Bibir tipisnya mengecup pucuk kepala Bunga dengan lembut, menyesap semerbak ke-mabukan yang menguatkan dari tubuh Bunga. Bunga adalah candu, dan pagi ini membuat Jasson kembali di buat merasa begitu awas.
Pergumulan mereka semalam, yang sebenarnya terjadi karena frustasinya Jasson. Mungkin, ia akui sebagai hal yang amat bodoh. Bunga memang ladangnya, namun bukan berarti ia begitu seenaknya saja dan juga Jasson begitu geram dengan dirinya sendiri yang sulit menahan dan menolak gejolaknya terlebih ketika Bunga ada di dekatnya. Ia semakin tidak bisa menahan gelegar hasratnya untuk menyentuh istrinya itu.
Jasson tidak tahu dengan perasaannya sendiri namun yang pasti saat bersama Bunga membuatnya merasa nyaman dan aman. Ia menatap wajah Bunga yang begitu teduh saat tertidur.
Tiba-tiba air matanya kembali menetes, entah apa yang ada di pikiran lelaki itu. Tatapannya begitu dalam
"Aku salah Bunga, tidak seharusnya aku menikah dulu sebelum kamu mengingat semuanya dan kita akhiri ini dengan baik-baik seperti janji kita! Kemarin saat kamu sudah ingin mengalah dan melepaskan aku, aku egois tidak mau melepaskan kamu. Namun sekarang, saat kamu dalam keadaan seperti ini aku justru melanggar janji yang sudah kita sepakat-i berdua!" batin Jasson.
Pria itu mengambil ponselnya dan mematikannya ponselnya, ia tidak mau di ganggu oleh siapapun dulu. Hatinya hanya ingin mencari ketenangan untuk beberapa waktu.
"Mungkin hanya ini kesempatan aku dekat sama kamu. Jika kamu sudah mengingat semuanya kamu pasti akan membenci ku, dan hari itu pasti akan datang entah cepat atau lambat. Maafkan aku, Bunga!"
Beribu kali kata maaf lelaki itu lontarkan secara perlahan, namun ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak berani berbicara langsung, dia tidak sanggup untuk memberikan kenyataan yang begitu pahit.
Mengapa aku tidak membiarkan semuanya terungkap saat Bunga mendengarkan pembicaraan aku di telepon? ~ Jasson
Kenapa aku sangat bangsat, aku berani melakukannya namun tidak berani mengambil resikonya ~ Jasson
Menyesal pun percuma, karena semuanya sudah tidak ada artinya lagi.
Tiba-tiba senyuman di wajah Jasson muncul saat melihat Bunga yang begitu lucu menggeliatkan tubuhnya, lalu kembali memeluk Jasson, dengan kepalanya yang masih bersandar di bidang kekar milik lelaki itu.
Mungkin pernikahan mereka, adalah hal terburuk bagi Jasson. Bahkan, ia selalu bersikap kasar juga mengkhianati ketulusan istrinya. Bahkan dengan sengaja, Jasson menipu dan memanipulasi keadaan untuk terus menyakiti Bunga.
Namun, peran Bunga dalam mengikis semua gurat gelisah, rasa sesak yang di iringi dengan se-benang rasa amarah besar dari sini.
Padahal udah pagi, namun Bunga belum juga bangun. Biasanya Bunga yang terlebih dahulu bangun daripada Jasson.
Jasson masih puas menatap wajah teduh istirnya, Jasson mengangkat dagu Bunga, menatap wajah manis istrinya yang masih memejamkan mata dengan begitu lelap. Perlahan, Jasson menyatukan bibir mereka, membiarkan segala keluh kesahnya menguap hilang seiring dengan ciuman yang semakin dalam.
Bunga melenguh ketika di rasa lidah Jasson bertingkah begitu nakal. Bunga membuka matanya perlahan namun tidak menolak ciuman yang diberikan oleh suaminya. Ia justru membalas dan mengikuti permainan yang diberikan oleh Jasson. Tangannya melingkar mesra di leher kekar suaminya, lalu kembali memejamkan matanya
"Ngagetin banget sih, Jasson!" gumam Bunga masih dengan penyatuan bibir mereka.
Jasson mengubah posisi yang awalnya tertidur kini terduduk, mengangkat tubuh lemas Bunga berada kedalam pangkuannya untuk kembali menyatukan kedua bibir mereka.
Bunga bahkan belum sadar sepenuhnya, rasa kantuk masih menyerang hebat dirinya. Sedangkan Jasson, masih gencar bermain dengan lidah mereka.
"Hmmm."
Bunga menjadi tergelitik tak kala tangan Jasson yang melingkari pinggang rampingnya dengan begitu senduktif. *******-******* yang beralih menjadi begitu sangat liar.
Bunga kwalahan, dan Jasson cukup mengerti untuk mengakhiri permainan lidah mereka. Lalu mengecup bibir tipis yang begitu merah dengan lembut. Hanya sebuah kecupan namun berulang-ulang
"Udah bangun?" Bisik Jasson manja di telinga Bunga saat lelaki itu merapikan rambutnya, membuat Bunga merinding. Ia pun mengangguk
__ADS_1
Tok....! Tok....! Tok....!
Keduanya kaget, mereka pun segera memakai pakaiannya. Entah siapa yang berani mengganggu ketenangan mereka berdua.
Setelah memakai pakaian, Bunga beranjak dari tempat tidur. Membuka pintu, ternyata itu adalah sahabatnya
"Lama banget sih bukanya, Ayo ikut! Mami dari tadi nyariin kamu!"
Bunga yang belum menjawab sudah di tarik saja oleh Ara untuk ke bawah menemui maminya.
Jasson yang melihat Ara pun mendengus kesal "Dasar pengacau, bisa-bisanya ia mengganggu suami istri yang sedang melakukan ritual!"
Bagaimana Jasson tidak kesal, di saat keduanya sudah melayang. Malah ada saja yang menggangu.
Bunga turun ke bawah, dengan perasan yang gelisah.
"Mami panggil Bunga?" Tanya Bunga kepada ibunya
"Iya, duduk sini nak!"
Bunga pun duduk di samping maminya, namun Bunga merasa tidak nyaman karena ia belum menggunakan Bra
"Ada apa mami?" Bunga pun mengendalikan suaranya yang ter-enga-engah agar tidak ada yang tahu kegiatan yang ia lakukan sebelumnya.
"Sayang kamu sakit? Kenapa berkeringat?" Laras bertanya dengan polosnya seperti tidak mengerti, Bunga pun kebingungan
Mata Salvira menuju ke dada anaknya, kini ia sadar jika anaknya tidak memakai pengaman untuk gunung sintalnya.
"Ya sudah kamu kembali saja dulu ke kamar, panggil Jasson ke sini!"
Setelah mendengar perintah dari maminya Bunga pun langsung menuju kamar.
"Mami tadi panggil Bunga kenapa sekarang menyuruhnya kembali ke kamar?""
Salvira menjewer kuping Ara perlahan "Dasar anak nakal! Kamu pasti sedang menggangu Bunga kan? Kamu mengerti apa yang mami katakan,"
Ara terkekeh kecil, ia pun meminta maaf kepada ibu sahabatnya itu dengan manja "Maafkan Ara mami. Tapi, mami tadi memanggil Bunga. Jadi Ara langsung menggedor kamar Bunga dan menariknya ke sini,"
Salvira menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah Ara. "Lain kali jangan begitu ya? Bisa copot jantung Bunga dan Jasson nanti!"
Mami, Ara memang sengaja! Ara enggak mau Bunga memiliki anak dari lelaki bajingan seperti Jasson! ~batin Ara
"Iya nak Ara, itu kan privasi sahabat kamu masa kamu seperti itu enggak sopan tahu!" Laras pun merasa kesal dengan Ara, padahal itu kesempatan untuk Jasson dan menantunya semakin dekat. Namun mengapa sahabat dari menantunya itu mengacaukan segalanya.
Ara menatap jengah, ia tahu jika ibunya Jasson membuat rencana yang besar. Padahal Ara tidak tahu jika mamanya Jasson sudah berubah dan menyadari perbuatannya.
Laras hanya ingin Jasson dan Bunga menyatu dan Jasson menyadari cinta tulus dari istri pertamanya itu
"Sudah mbak, mungkin Ara enggak tahu. Enggak apa-apa! Ara juga seperti itu karena saya yang memintanya untuk memanggil Bunga,"
__ADS_1
Salvira sudah menganggap Ara seperti anak kandungnya sendiri, ia pun membela Ara.
Laras bungkam, jika besannya sudah membela wanita itu apalagi yang bisa ia lakukan.
Ara tersenyum puas
Haha, lihat lah wanita tua! Ucapan mu tidak di perlukan di rumah ini, kau dengan anak mu sama saja, hanya bisa menyakiti dan menipu Bunga dan maminya! Dasar bermuka seribu, bahkan kalian lebih parah dari orang-orang bermuka dua! ~batinnya menatap sinis ke arah Laras.
David merasa jika Ara tidak menyukai keberadaannya dengan keluarga.
"Mbak, saya mau katakan kalau kami akan pulang ke rumah saja. Saya tidak enak kalau terus-terusan menumpang di sini,"
"Mas David, mbak Laras jangan pergi. Kalian tetap lah di sini sampai Bunga kembali pulih, saya juga harus pergi ke Singapura untuk melakukan penerbangan bisnis yang ada di sana. Saya minta kalian tolong jaga anak saya, jika kalian pergi. Bunga akan sendirian di rumah, Jassin dan Ara kan bekerja di kantor. Saya mohon mbak dan mas tetap lah di sini,"
Mami kenapa mami pergi? Kasihan Bunga jika tinggal dengan ibu mertua yang licik seperti Tante Laras ~batin Ara berteriak
"Mi, kenapa mami pergi? Maksud Ara apakah itu tidak bisa di gantikan saja oleh orang kepercayaan mami? Bunga saat ini sedang butuh mami, butuh semuanya. Jika mami pergi, siapa yang akan menjaga Bunga?"
"Sayang, ini harus mami sendiri yang handle tidak bisa orang lain. Jika pun bisa, hanya Bunga yang bisa melakukannya namun kamu tahu saat ini kondisi dari Bunga bagaimana. Jika dulu, mami meminta Bunga yang mengurusnya namun sekarang Bunga sakit dan tidak bisa. Jadi mami yang harus turun tangan langsung!"
Ara menggerucutkan bibirnya, Salvira memegang bahu Ara dengan lembut
"Kamu jangan khawatir sayang, ada mama dan papa mertuanya Bunga di sini. Dan ada kamu juga! Mami percaya kalian bisa menjaga dan menyayangi Bunga dengan baik di sini. Mami hanya sebentar, jika mami lama dan tidak kembali mami yakin Bunga akan bahagia bersama kalian,"
"Ah mami! Mami jangan berbicara seperti itu dong! Ara enggak mau mendengar mami mengatakan hal seperti itu lagi! Mami harus segera kembali, untuk Bunga, untuk Ara juga. Kalau enggak ada mami, siapa lagi yang akan menjaga dan melindungi kami di sini mi? Dunia ini tipu-tipu, dan orang-orang akan seenaknya memperlakukan orang lain yang tidak punya ibu!"
Ara Mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca, ia sangat menyayangi ibu dari sahabatnya itu.
Salvira memeluk Ara, ia pun menyayangi Ara seperti anaknya sendiri "Sudah jangan menangis nak! Mami hanya sebentar dan mami akan kembali untuk kalian,"
"Mami janji ya? Setelah urusan mami selesai, mami harus lekas kembali?"
"Iya, mami janji! Dan mami minta tolong kamu jagain Bunga ya, jangan biarkan siapapun menyakiti hatinya. Jadilah wanita kuat dan bar-bar untuk melindungi kakak mu. Mami percayakan ini semua kepada anak bungsu mami yang satu ini,"
Mendengar ucapan Salvira membuat Ara terharu, ia menangis senggugukan di pelukan wanita paru Bayah itu
"Ara enggak salah dengar mi?"
"Enggak sayang! Kamu enggak salah dengar, kamu adalah anak mami, kamu adiknya Bunga!"
*************##############*********
Note Author :
Halo semuanya apa kabar? Semoga sehat ya kakak-kakak. Terimakasih sudah sedia membaca karya author yang berjudul "Lihat Aku, Jasson!"
Jika suka dengan cerita ini, mohon dukungannya dengan cara like, komen dan favorit kan ya kak biar enggak ketinggalan ceritanya.
Like dan komen gratis kok, untuk menambah semangat author menulis setiap bab-nya.
__ADS_1