Lihat Aku, Jasson!

Lihat Aku, Jasson!
Lihat Aku, Jasson! Bab 80


__ADS_3

Jangan terkecoh Bunga, ini hanya jebakan! ~batin Bunga


"Sayang, tolong sekali ini saja!"


Bunga pun mengalah, mengangguk "Baik lah, kita akan menonton sekarang!"


Bunga tidak tega dengan suaminya, lagipula ia mengatakan kepada dirinya sendiri jika dirinya tidak akan terkecoh dengan ucapan Jasson.


Bunga dan Jasson kembali menunggu film di mulai "Makasih sayang kamu mau menghabiskan waktu dengan aku,"


Bunga tidak menjawab, Jasson memandangi wajah Bunga betapa bodohnya ia baru menyadari cintanya dengan Bunga.


"Jasson, tolong jangan memandangi ku seperti itu,"


Jasson terkekeh kecil "Emangnya kenapa? Kamu kan istri ku?"


Bunga mengangguk, memang benar Jasson masih menjadi suaminya dan sebagai seorang istri ia harus bisa melayani suaminya


Pintu teater dua telah di buka, bagi anda yang telah memiliki karcis di persilahkan untuk memasuki ruangan


Jasson dan Bunga langsung memasuki teater tersebut, jantung Bunga sudah berdegup kencang. Seakan keduanya sedang berpacaran, bahkan tangannya keringat dingin. Jasson semakin menggenggam tangan istrinya dengan erat.


Bunga bingung dengan sikap suaminya, mengapa Jasson kembali membuat hatinya gundah


"Tuhan, tolong kuat kan hati ku, aku tidak ingin terjebak lagi dengan permainan Jasson! Nak, tolong mama. Jantung mama mau lepas rasanya," batin Bunga dengan ragu


Keduanya pun duduk sesuai dengan karcis mereka


********


Ade yang sedang bersantai mendapatkan notif WhatsApp dari adiknya


Kakak ku yang malang, kasian sekali nasib kamu. Kamu sibuk menunggu suami mu di rumah sedangkan suami mu sedang berpacaran dengan istri pertamanya. Lihat lah keduanya begitu mesra


Ade melihat Poto yang telah di kirim oleh ratu adiknya, hatinya merasa sedih dan kesal. Mengapa Jasson melakukan ini kepadanya? Ia merasa bersalah dengan ucapannya dengan Jasson sedangkan Jasson enak-enak dengan istri pertamanya.


Apakah dia lebih berharga? Sedangkan Jasson tidak pernah lagi membawanya untuk sekedar pergi.


Ia pun meneteskan air mata, dadanya sesak mengapa Jasson melakukan itu kepadanya. Emosinya memuncak


"Kau sangat keterlaluan Jasson! Aku membenci mu!"


*******


Salvira masih menunggu anaknya "Sudah jam segini kenapa Bunga belum pulang ya?"


"Mbak Salvira, mengapa terlihat sangat cemas?" Laras bertanya, Salvira menoleh ke arah besannya

__ADS_1


"Tidak mbak, saya memikirkan Bunga yang sedang pergi."


"Pergi kemana dia?"


"Katanya sih mau bertemu Jasson, tapi jam segini kenapa belum pulang ya? Saya takut Bunga kenapa-kenapa,"


"Saya memahami khawatir mbak sebagai seorang ibu, namun Jasson suaminya Bunga mbak. Tidak mungkin Jasson mencelakakan istrinya sendiri,"


Laras sedikit tersinggung dengan ucapan besannya.


"Maaf ya mbak, tapi pada kenyataannya Jasson tega menyakiti hati anak saya. Kita semua tahu bagaimana Jasson menyiksa batin anak saya! Saya tidak mau berdebat dengan masalah ini, namun mbak tahu sendiri bagaimana hancurnya anak saya,"


David yang mendengar pertengkaran itu pun bertanya kepada istrinya "Mama, ada apa?"


Salvira meminta maaf kepada besannya "Maafkan saya mbak Laras, saya tidak bermaksud mengungkit kesalahan Jasson..namun saya masih panik dengan Bunga, semoga mbak mengerti dengan kegelisahan saya,"


Setelah mengatakan itu, Salvira berlalu ke kamar.


"Ma, kenapa lagi? Kenapa mbak Salvira terlihat kesal?"


"Begini pa, mbak Salvira mengatakan jika Jasson dan Bunga pergi. Dan mama mengatakan jika Jasson tidak akan menyakiti Bunga, mama hanya enggak mau besan kita merasa khawatir. Lagipula, Bunga kan pergi bersama suaminya,"


"Mama enggak mu mengatakan itu? Apa yang mbak Salvira katakan itu memang benar. Wajar jika ia khawatir dengan anaknya, ma. Papa tahu jika mama sangat menyayangi Jasson. Namun bukan berarti mama harus menutup mata untuk semua kesalahan yang sudah Jasson perbuat ma!"


Laras terdiam, bagaimana pun ia seorang ibu, tidak akan terima jika anaknya di salahkan oleh orang lain


"Mama apa mama tidak memikirkan perasaan mbak Salvira? Dia juga seorang ibu, yang sakit melihat anaknya di khianati bahkan sampai di madu, kenapa mama tidak merasakan kesakitan mbak Salvira sebagai seorang ibu,"


Laras pun pergi meninggalkan suaminya "Sudah lah pa, percuma bicara sama papa. Papa tidak akan bisa memahami segalanya!"


******


Film telah selesai, Jasson dengan senang mengajak istrinya makan terlebih dahulu "Sebelum kita pulang. Kita makan ya?"


"Tidak usah Jasson! Aku takut mami dan yang lainnya cemas. Dan Ade, pasti sudah menunggu mu,"


Jasson baru mengingat istri keduanya "Sudah lah sayang! Saat ini aku ingin bersama mu, setiap hari aku bersamanya dan hanya hari ini aku ingin dengan mu, pasti dia mengerti."


"Kamu yakin?"


Jasson mengangguk "Anak ini juga butuh aku sebagai papanya," mata Bunga berkaca-kaca mendengar ucapan Jasson.


"Terimakasih J-jasson, setidaknya kamu ingat dengan anak ini,"


"Aku ingat, karena dia anak ku. Maafkan aku Bunga, karena aku kau dan anak kita menderita. Aku menyesal,"


"Sudah lah Jasson! Semuanya sudah terjadi, aku tidak mau kamu terus merasa bersalah dengan semua ini. Aku yakin, kau bisa membahagiakan istri kedua mu dengan anak yang ia kandung,"

__ADS_1


Bunga tidak mau lagi menuntut apapun, Jasson mengalah. Ia pun mengajak Bunga untuk pulang ke rumah.


Sesampai di rumah, Laras melihat anaknya yang mengantarkan Bunga pulang "Anak ku!"


Sudah lama Laras merindukan anaknya, ia langsung keluar dari rumah.


Jasson terkejut, melihat kedua orang tuanya yang masih tinggal di rumah Bunga


"Mama?"


Bunga tidak mau mengangguk antara ibu dan anak itu "Kalian bicara lah di dalam. Aku masuk dulu,"


Jasson melirik ke arah istrinya, Laras mendekati sang anak


"Sayang, mama sangat merindukan kamu. Kamu kenapa enggak pernah menemui mama?"


"Mama, mama masih di sini dengan papa?"


Laras mengangguk "Iya sayang, Bunga tidak pernah mengusir kamu. Dan semenjak kepergian kamu, papa kamu jatuh sakit. Bunga mengurusnya dengan baik, bahkan hingga saat ini. Bunga tidak pernah membenci mama, padahal dia tahu jika mama telah menyakitinya namun ia tetap menganggap mama sebagai seorang ibu."


Mendengar itu membuat Jasson terharu, Bunga begitu baik. Bahkan dia tidak menelantarkan kedua orang tuanya walau sudah tahu Jasson mengkhianati-nya


"Sungguh nak, Bunga adalah istri yang baik dan terbaik untuk mu. Dia bukan hanya mencintai kamu saja, namun dia menyayangi dan mencintai mama dan papa. Saat kamu pergi, papa memutuskan untuk pergi, papa mu malu dengan perbuatan mu. Namun Bunga mencegah kami, bahkan ia selalu mengingatkan papa, jika papa dan mama tidak bersalah,"


Jasson semakin merasa bersalah, Begitu tulusnya Bunga dengan ia dan keluarganya


"Maafin Jasson ma, Jasson selalu membuat mama dan Papa sedih. Jasson tidak bisa membahagiakan kalian, bahkan saat Jasson pergi. Jasson tidak bisa membawa kalian bersama Jasson. Jasson tidak berguna menjadi anak, bahkan untuk papa berobat saja Jasson tidak ada uang,"


Berulang-kali Jasson meminta maaf kepada mamanya, Laras memeluk anaknya dengan erat "Sudah sayang! Jangan mengatakan itu. Kamu anak mama, anak satu-satunya kesayangan mama. Ini semua kesalahan mama, karena mama tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk kamu,"


Jasson menggelengkan kepalanya "Tidak mama! Jangan menyalahkan diri mama seperti itu, Jasson sedang berusaha menjadi anak yang baik ma. Jasson akan membawa mama dan papa!"


Jasson mencium kedua tangan mamanya. Bunga menghampiri suami dan ibu mertuanya


"Kamu enggak perlu merasa khawatir Jasson! Aku akan menjaga mama dan papa di sini..tidak akan aku biarkan mereka merasa kekurangan, mereka akan menjadi keluarga ku. Jangan khawatir, bagaimana pun mereka itu nenek dan kakeknya anak ku, tidak akan ku biarkan mereka jauh dari mereka,"


Jasson melihat ke arah istirnya


"Terimakasih banyak Bunga! Terimakasih karena kamu masih mau bersedia menjaga mama dan papa ku."


Bunga mengangguk, Jasson pun berpamitan pulang


"Sayang, kamu mau kemana? Jangan pergi lagi nak?"


"Maafin Jasson ma, namun Jasson harus pergi! Mama jaga diri baik-baik di sini,.jagain papa juga. Jangan biarkan papa sakit ya ma?"


"Sayang,"

__ADS_1


"Ma, menurut Bunga mama harus menghargai keputusan Jasson dan Bunga,"


__ADS_2